Se connecterSuara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.
Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan. "Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak. "A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya. "Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas. Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sedangkan Vanesa memegang tangan kirinya. Mereka menyeret Embun secara paksa untuk berjalan mengikuti langkah mereka. Jalur yang mereka lewati mengarah menuju area taman belakang gedung fakultas yang sepi. "Aku mau dibawa ke mana?" tanya Embun penuh rasa takut. "Nggak usah banyak tanya!" bentak Vanesa sambil menarik tangan Embun lebih kencang. Di taman belakang, terlihat Jesica sedang duduk di sebuah kursi taman bersama teman-teman satu gengnya. Tempat itu memang sering dijadikan lokasi berkumpul bagi mahasiswi senior tingkat akhir yang nakal namun memiliki pengaruh besar di kampus. Angel, Vanesa, dan Maudi langsung membawa Embun mendekat ke arah Jesica. Brukkkkk! Maudi mendorong tubuh Embun dari belakang hingga Embun terjatuh bertekuk lutut tepat di hadapan Jesica. "Kita udah bawa dia ke sini, Jes, sesuai perintah lo," kata Angel melapor. Jesica bangkit dari duduknya. Ia berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap Embun dengan pandangan merendahkan. "Aku mau diapain, Kak?" Embun memberanikan diri bertanya sambil mendongak sedikit. "Diam lo! Nggak usah sok nanya!" bentak Vanesa sambil menoyor kepala Embun dari belakang hingga Embun kembali menunduk pasrah. "Ambil tasnya!" titah Jesica. Vanesa langsung merebut paksa tas ransel yang melingkar di punggung Embun. Embun hanya bisa diam tanpa bisa melawan. "Tumpahin semua isinya!" perintah Jesica lagi. Vanesa membalikkan tas milik Embun dan mengocoknya dengan kasar. Dalam sekejap, seluruh isi tas itu berhamburan di atas tanah taman. Buku-buku tebal, tempat pensil, hingga ponsel murahan milik Embun berserakan. "Ambil ponselnya dan kasih ke gue!" kata Jesica. Vanesa mengambil benda tersebut lalu menyerahkannya kepada mahasiswi seniornya itu. Jesica segera mengutak-atik ponsel Embun, membuka folder galeri foto dan video. Ia ingin memastikan sesuatu. Jesica takut Embun diam-diam merekam adegan tak senonoh dirinya bersama Semesta di toilet kampus saat jam jeda tadi. Jika rekaman itu ada dan tersebar sampai ke pihak dekanat atau keluarganya, posisi Jesica sebagai putri donatur kampus akan terancam. "Lo nggak ngerekam gue sama Semesta pas di toilet tadi, kan?" ancam Jesica. "Enggak, Kak! Aku sama sekali nggak ngerekam Kakak sama Semesta!" jawab Embun bersungguh-sungguh. "Lo nggak bohong?" "Enggak, Kak! Aku nggak bohong!" "Tapi lo udah kurang ajar banget diam-diam ngintipin kita!" seru Jesica kesal. "Maaf, Kak. Aku nggak sengaja, aku cuma__" "Gue bakal kasih lo hukuman!" potong Jesica cepat. "Jangan, Kak! Tolong jangan hukum aku!" mohon Embun. Byurrrrr! Sebelum Embun selesai bicara, Angel tiba-tiba menyiramkan ember berisi air bekas pel selasar ke atas kepala Embun. Air keruh dan kotor itu mengalir basah dari ujung rambut hingga membasahi pakaian perkuliahan Embun. Gelak tawa langsung meledak dari orang-orang di sana. Bagi mereka, melihat Embun tersiksa adalah sebuah hiburan yang menyenangkan. "Rasain! Makanya jangan suka jadi penguntit!" celoteh Vanesa tertawa puas. Embun tak kuasa menahan rasa sedihnya, air matanya mulai menetes bercampur dengan air pel yang basah. "Dih, cengeng banget! Gitu aja menangis!" ejek Maudy. "Enaknya kita kasih hukuman apa lagi nih biar makin seru?" tanya Jesica pada teman-temannya. "Udah, Kak ... tolong jangan hukum aku lagi," pinta Embun memohon iba. "Enak aja! Belum seru kalau cuma gini," balas Jesica. Siska, salah satu teman Jesica, menunjuk ke arah selokan kecil di dekat taman. "Gimana kalau kita siram kepala dia pakai air comberan?" "Nah, bagus tuh ide lo!" ujar Jesica setuju. "Van, lo ambil air comberan itu terus siram ke kepalanya!" "Kok gue sih, Jes? Jijik banget airnya bau," protes Vanesa. "Lo mau bantah perintah gue?" ancam Jesica tajam. Vanesa terpaksa menurut walau dengan wajah bersungut-sungut. Ia mencari wadah bekas, lalu dengan jijik mengambil air comberan yang hitam dan berbau menyengat itu. Vanesa membawa wadah tersebut mendekati Embun. Semua orang yang ada di sana menutup hidung karena tak kuat menahan bau busuk dari air tersebut. "Sekarang disiramnya, Jes?" tanya Vanesa. "Ya sekarang lah, bodoh!" bentak Jesica. Vanesa baru saja hendak menyiramkan air tersebut, tetapi gerakannya terhenti saat melihat seseorang berjalan melintas di dekat taman. "Ada Semesta," cetus Vanesa pelan. Semua mata beralih menatap Semesta yang sedang berjalan santai menuju area parkiran belakang kampus untuk mengambil motornya. Seperti biasa, Semesta melintas tanpa memedulikan sekitarnya. Ia melihat sekilas Embun yang sedang dirundung, namun ekspresinya tetap datar tanpa empati. Semesta memang tidak pernah ikut membenci atau merundung Embun secara langsung, tetapi ia juga tidak pernah berkeinginan untuk menolong siapa pun. "Hai, Semesta!" sapa Jesica dengan suara manis sambil mendekati Semesta dan menggelayut di lengannya, menahan langkah cowok itu. Semesta hanya melirik dingin tanpa mengukir senyum sedikit pun. "Gimana kalau siang ini kita lanjutin yang tadi di toilet? Kita bisa ke hotel milik Papa gue," bisik Jesica manja. "Gue udah nggak nafsu sama lo!" jawab Semesta ketus sambil menghentakkan tangannya, melepas rangkulan Jesica. Mahasiswi lain yang mendengar jawaban itu berjuang keras menahan tawa. Jesica merasa sangat malu dan kesal karena ditolak secara terang-terangan di depan yang lain. "Kak Semesta!" tiba-tiba terdengar suara melengking dari arah belakang. Alin, mahasiswi baru semester satu yang sedang populer di kampus karena parasnya yang sangat cantik, berlari menghampiri Semesta. Tanpa ragu, Alin langsung merangkul lengan Semesta dengan manja. "Siang ini Kak Semesta jadi kan ke kosan aku?" tanya Alin. Semesta hanya mengangguk pelan. "Ayo pergi sekarang," ajak Alin gembira. Mereka berdua melangkah pergi menuju parkiran motor, meninggalkan Jesica yang menahan amarah. Karena merasa kesal dan dipermalukan, Jesica melampiaskan emosinya kepada Embun. "Van, siram sekarang!" perintah Jesica kasar. Tanpa ampun, Vanesa mengguyurkan air comberan itu tepat ke atas kepala Embun. Embun hanya bisa memejamkan mata dan menerima perlakuan jahat tersebut. Ia sadar ia hanyalah seorang diri di kampus ini, tidak punya kekuatan untuk melawan mereka yang membencinya.Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan
"Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan
Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,
"Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest
Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam
Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed







