Share

3

Penulis: Wintersnow
last update Tanggal publikasi: 2021-04-15 18:58:53

"Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."

Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar  aku mengucapkan namanya keras-keras.

"Aku.. aku.. sebenarnya.."

Kruyuk!

Perutku kali ini berbunyi sangat keras. Membuatku sangat malu. Tapi Maxwell tidak menampakkan emosi apapun.

Ia memandangku dari ujung rambut sampai kaki lalu melepaskan mantel hitam panjang yang dipakainya.

Ia masih memakai kemeja biru gelap berlengan panjang dan celana  panjang cokelat tua. Sarung pedangnya bertengger di pinggul sebelah kirinya.

"Sepertinya anda lebih membutuhkan ini dari saya. Dahan dan ranting bisa melukai lengan anda."

Aku menerima mantel tersebut dan segera memakainya. "Terima kasih."

Ia lalu melepas kedua sepatu bots warna kulitnya dan menaruhnya di depan kakiku.

Tentu saja aku menolaknya."Tidak perlu seperti ini."

"Saya tak bisa membiarkan seorang perempuan bertelanjang kaki, Nona..."

"Abigail Montlace. Panggil saja Abby."

Mata Maxwell berkedip sekali. "Saya tidak yakin bisa memanggil nama depan anda, Nona Montlace."

"Tidak. Tidak apa-apa. Saya sama sekali tidak keberatan."

"Baiklah kalau begitu, Nona Mon, ehem, Abby. Anda kelihatannya mengenal  saya jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri. Mohon ikuti langkah saya setelah anda memakai sepatu itu."

Segera kupakai sepatu yang sudah pasti kebesaran untuk kakiku. Secara mengejutkan, aku tak mencium bau keringat. Baik dari mantel atau sepatunya. Sepertinya itu adalah kelebihan yang hanya dimiliki laki-laki tampan.

"Aku sudah selesai, Maxwell."

Alisnya naik sebelah dan kalaupun ia keberatan, ia tak menampakkan apapun di wajahnya.

Maxwell mulai berjalan dan aku mengikutinya.

Beberapa kali wajahku tertampar dahan dan ranting tapi kutahan diri agar tidak mengeluh. 

"Bagaimana anda bisa sampai di sini, Nona Abby?" Tanyanya.

Oh iya! Bagaimana bisa aku lupa?

Aku kan sedang berada di hutan antah berantah. Rumahku mungkin berada ribuan kilometer dari sini. Bagaimana aku bisa lupa betapa mendesaknya situasiku saat ini?

Dasar gila!

Mungkin karena bertemu Maxwell jadi aku tidak begitu panik. Bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang familiar di tempat yang asing membuatku agak tenang. 

Walaupun tentu saja, Maxwell tidak merasakan hal yang sama denganku.  

"Saya tidak tahu. Tiba-tiba terbangun begitu saja di sini. Oh, tolong panggil Abby saja. Sepertinya kita seumuran."

Ia meliriku sebentar lalu mengalihkan pandangan ke depan. "Begitu, kah?"

Ada jeda sebentar sebelum dia bertanya lagi. "Anda berasal dari kerajaan mana? Bagaimana bisa anda mengenal saya?"

Aku terdiam dan bertanya-tanya apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya. Mana bisa kubilang kalau aku mendengarnya dari dongeng yang diciptakan Nenek?

Kecuali...

Kecuali semua dongeng itu benar adanya. 

Kemudian semuanya masuk akal. Pantas saja, Nenek tidak bisa memberitahukan akhir cerita itu. Dan itu berarti... "Apakah anda belum lepas dari kutukan tersebut?"

Kali ini langkah Maxwell berhenti. Seperempat detik kemudian ia mencabut pedang dan mengarahkannya ke daguku.

Secara otomatis, aku mengangkat kedua tanganku sebagai tanda bahwa aku tak bersenjata.

"Siapa kau sebenarnya, Abigail Montlace?" Suaranya mendadak dingin dan ia tak lagi bicara formal padaku. "Apa Raja Albertine yang mengirimmu? Aku tahu sekarang. Ini trik baru. Mengirim gadis yang kelihatannya tidak berdaya lalu mencoba menjebakku. Kalau begitu, komplotanmu bersembunyi di sekitar sini. Mereka menungguku lengah. Begitu, kan?"

"Tidak. Kau salah paham!"

Tapi Maxwell kelihatannya tidak tertarik pada penjelasanku dan bersiap menyerangku.

Lalu terjadi sesuatu yang ajaib saat pedang itu nyaris menggores leherku.  Amulet yang kupakai tiba-tiba keluar dari balik mantel dan memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.

Dalam dua detik yang membutakan mata, amulet itu kembali bertengger di leherku. Warna batunya yang tadinya hijau berubah menjadi putih bersih seperti mutiara.

Aku tak mengerti apa yang terjadi.  Tapi Maxwell segera mengembalikan  pedang itu ke tempatnya semula.

"Jadi, kau utusan penyihir suci?"

Apa dia bilang? Penyihir apa?

Wajah Maxwel mengendur. "Kenapa tidak mengatakannya sejak awal?"

Aku ingin bertanya tapi perutku bersuara lebih dulu.Membuatku lebih frustasi dari sebelumnya.

Aku memang lapar. Tapi tidak selapar itu! Kalau hanya berjalan selama satu atau dua jam, aku masih sanggup!

Untuk pertama kalinya, aku melihat senyum kecil bertengger di wajah lelaki itu. "Kurasa kita harus mengurus perutmu dulu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Abby and Her Amulet   20

    Aku hampir tak bisa menghitung berapa jumlah apel yang aku makan sambil menunggu Maxwell menebas para Ogre malang itu di dekat gua. Dia bilang karena sudah menggunakan banyak energi sihir, aku dilarang untuk membantunya.Yah, aku bahkan tidak berniat untuk mengeluh. Membunuh makhluk dengan ingus raksasa bukan masuk daftar keinginanku. Jadi kubiarkan dia melenturkan ototnya yang kaku setelah memarnya sembuh.“Senang bertemu anda lagi, Nona Abby.”Perhatianku teralihkan ke arah suara merdu itu. Grische, si elf tampan itu datang dan menghampiri dengan senyum ramah. Aku menganggukkan kepala dan karena tak mengerti harus bicara apa, kuulurkan sebutir apel untuknya, “Kau mau?”Senyum Grische semakin lebar saat mengambil apel itu dan memakannya sambil duduk di semak belukar yang ada di sampingku, “Terima kasih. Aku hampir saja pingsan karena lapar.”Mendengar hal itu, kuulurkan keranjang berisi apel padanya. Kami berencana menjualnya karena buah apel memiliki harga yang cukup mahal apalagi

  • Abby and Her Amulet   19

    Gematra sedang duduk di singgasanan batunya itu saat kami kembali. Senyumnya masih seramah sebelumnya tapi aku bisa melihat ekspresi semacam ‘Ah, kalian ternyata masih hidup?’Maxwell membungkuk sopan sebelum berkata, “Kami telah melakukan perintah anda, Dewi.”“Itu bagus sekali! Sekarang aku bisa tidur nyenyak.”Aku menahan diri untuk tidak mendengus. Tak ada rasa bangga karena hampir kehilangan nyawa untuk menjaga jadwal tidur sang dewi. Buru-buru kuambil kantung dan menunjukkan isinya padanya, “Dewi, saya mempersembahkan Persion untuk anda.”Mata ungu milik Gematra bersinar cerah. Ia menggerakkan jarinya dan kantung berisi Persion itu melayang ke arahnya, “Ah, Persi! Akhirnya kau kembali ke bentuk asalmu.”Ucapan tersebut membuat Maxwell dan aku slaing bertikar pandang. Dia bilang apa barusan?Persion mendesis lebih keras. Mungkin tersinggung karena dipandangi seperti mainan baru. Jadi dia mencoba terlihat menakutkan dengan membuka mulutnya untuk mengeluarkan api kecil sambil meng

  • Abby and Her Amulet   18

    Semoga di dunia ini tidak ada dewa atau dewi yang bisa membaca pikiranku. Karena baru kali ini aku merasa ingin menonjok wajah seorang dewi. Atau setidaknya memakinya.Persion, si ‘kadal’ itu mulai bergerak kesana kemari karena si kucing bersayap ini menyakarnya dari beberapa arah. Sementara serangan sihirku yang masih sulit kukendalikan, malah membuatnya semakin murka..Untunglah, Maxwell berhenti saat aku hampir saja mabuk udara.“Ini ide terburuk yang pernah kau punya,” gumamku sambil mencengkeram bulu di tengkuknya erat-erat.“Setidaknya aku punya masih punya ide yang layak dicoba. Tapi, aku akan senang jika kau mau membantu.”Yang benar saja! Apa ia tidak tahu jika mengendalikan sihir sambil menahan muntah itu sulit!Naga itu mengangkat kepala perlahan. Setiap gerakan sisiknya menggesek batu, menimbulkan suara “sraaak” yang membuat bulu kudukku meremang. Uap panas keluar dari lubang hidungnya, menciptakan kabut tipis yang berbau seperti besi terbakar.Maxwell menegang di bawahku,

  • Abby and Her Amulet   17

    Max mengusap dahinya yang penuh keringat sebelum memanggil namaku. "Abby, kau baik-baik saja? Kenapa diam saja?""Maaf, aku nyaris ketiduran." Max menyeringai saat menyadari kesinisan dalam nada bicaraku. "Sepertinya aku terlalu bersemangat. Sini, berjalanlah di dekatku. Aku masih bisa mencium bau mereka dalam sepersekian meter." Aku mengangguk dan memutuskan untuk fokus pada jalan yang kulalui. Mayat-mayat Ogre bersimpah darah jatuh berserakan di atas tanah. Baru beberapa langkah, aku menyadari sesuatu yang aneh pada mereka. "Apa benda hijau di balik lengan mereka ini?" Alis lelaki itu naik sebelah, "Benda hijau?" "Seperti kancing." Kataku sambil mengangguk. Max menggunakan pedangnya untuk menyetuh bagian tubuh yang kumaksud. Untungnya ia masih memakai sarung tangan hitam saat meraih kancing bulat bewarna

  • Abby and Her Amulet   16

    "Jadi, ini yang kau bilang keren?" Tanyaku di atas batang pohon.Iya, benar. Max duduk di sebelahku yang memegangi batang pohon besar dengan erat.Lengah sedikit, riwayatku pasti tamat akibat jatuh dari ketinggian sepuluh meter."Dari sini pemandangannya sangat keren bukan. Lagipula, kita bisa melihat keadaan kota." Katanya sambil memegangi dahan pohon yang didudukinya. "Ah, lihat! Ada di sana! Sepertinya masih aman." "Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan monster-monster yang ada di bawah kita? Aku bukan pecinta ketinggian, dasar sial!" Kupikir Max akan mengalahkan kumpulan ogre itu dalam sekali sabetan. Tapi aku salah, dia memang menyerang beberapa dari mereka.Setelah dua menit mengayunkan pedang, Max mengangkat tubuhku dan menaruhku di pundaknya sebelum mulai berlari secepat kilat meninggalkan para ogre tersebut.Tidak berhenti disitu, ia

  • Abby and Her Amulet   15

    Perjalanan menuju Tusban telah dimulai. Atau setidaknya begitu. Kami meninggalkan rumah si tetua setelah sarapan.Dia sepertinya benar-benar tak ingin merenovasi dindingnya yang hancur tersebut.Max dan aku bukannya menolak ingin membantu. Tapi kami tak bisa melakukan apapun.Meski begitu, sepanjang perjalanan ini, Max menggerutu dan terus mengataiku sebagai penyihir tanpa hati.Kubiarkan saja dia. Ini bukan pertama kalinya ia mengataiku macam-macam. Dan juga, sihir, yang masih belum kukuasai dengan benar ini, lebih mumpuni untuk menghancurkan sesuatu ketimbang memperbaiki.Max menatap langit saat kami berada di area terluar perbatasan hutan timur."Ternyata sudah tengah hari. Perasaanku saja atau kita memang berjalan lebih cepat dari sebelumnya?"Aku membungkuk agak dalam ke arah pegunungan bersalju yang baru kulewati. "Terima kasih, Dewi Fa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status