Share

4

Author: Wintersnow
last update publish date: 2021-04-15 23:49:53

Maxwell mengangkat sebelah alisnya saat aku menyeruput sisa sup kentang buatannya dari mulut mangkuk.

Entah karena lapar atau dia memang pandai memasak, tapi rasa supnya enak sekali. Aku bahkan tak menolak saat ia menuangkan sisa sup dari panci kepadaku.

"Kau tak bisa terus menggunakan mantel tua itu."

Aku mengangguk. Kali ini setelah menghabiskan dua mangkuk sup, perutku takkan berulah lagi. "Sebelum itu, tolong jelaskan alasan kenapa kau ingin tapi tidak jadi membunuhku?"

"Maafkan aku. Tapi ayahku, Raja Albertine, sering mengirim mata-mata ataupun pembunuh bayaran untukku. Kupikir kau adalah salah satunya. Tapi, ternyata kau utusan penyihir suci."

"Siapa yang kau maksud penyihir suci? Jujur saja, aku memang tidak tahu bagaimana bisa ada di tempat ini. Tapi yang jelas, aku bukanlah utusan siapapun."

"Dari mana kau dapatkan kalung itu?"

"Ini hadiah perpisahan dari Nenek. Tapi benda ini bisa saja dibeli di pasar atau malah seseorang memberikannya pada nenekku. Yang jelas, aku bukan utusan penyihir suci."

"Nenekmu orang seperti apa?"

Aku menjelaskan semua hal tentang nenekku kecuali dongeng-dongennya.

Entah kenapa aku tak ingin menceritakkannya.

"Kurasa bukan Penyihir Suci. Dari yang kudengar, ia tak menikah. Apalagi memilik seorang cucu."

"Kau tak pernah bertemu dengannya?"

"Pernah saat usiaku lima tahun. Ia mengunjungiku untuk memberikan berkat. Tapi seluruh wajahnya tertutup cadar."

Aku mencoba mengingat kembali dongeng yang di ceritakan Nenek mengenai Maxwell. Cerita itu hanya bisa kuingat secara samar.

Saat Maxwell lahir, seorang ratu dari salah satu kerajaan yang dihancurkan oleh Raja Albertine memberikan kutukan tersebut kepada keturunannya sehingga ia takkan memiliki pewaris. Hal ini membuat raja mengadopsi keponakannya dan membuang Maxwell.

Tanpa sepengetahuan raja, Ibu Maxwell, Ratu Augusta Margarite de Albertine, menyuruh seorang dayang untuk menyelamatkannya dan Maxwell pun ia asuh seperti anak sendiri.

Sayangnya, entah bagaimana Raja mengetahui hal itu.

Ia mengasingkan ratu di pulau terpencil dan mulai memburu Maxwell.

Mereka lalu hidup berpindah-pindah menghindari bahaya.

Lalu saat ia menginjak umur sepuluh tahun, dayang tersebut meninggal. Maxwell yang sebatang kara itu berniat mematahkan kutukannya dan berencana hidup normal.

"Kau adalah utusan yang ketujuh."

"Maaf? Apa?"

"Setelah kematian Ibu, setiap tahun penyihir suci mengirimkan seseorang untuk membantuku."

"Darimana kau tahu kalau mereka dari penyihir itu?"

"Saat memberikan berkat kepadaku. Dia memberiku pesan bahwa utusan dengan cahaya suci akan membantuku."

Kalau begitu, cahaya yang keluar dari amulet ini...

Berarti kedatanganku kesini adalah untuk membantu Maxwell memecahkan kutukannya? Jadi, aku bisa mengetahui akhir cerita tersebut!

"Tidak perlu." Kata Maxwell seolah ia bisa menebak apa yang kupikirkan. "Aku sudah menyerah. Terakhir kali Raja Albertine mengirim orang suruhannya sekitar dua tahun yang lalu. Mungkin mereka memberi laporan bahwa aku telah mati atau semacamnya. Yang jelas, hidupku sudah tenang. Aku sudah menerima kutukan ini sebagai bagian dari hidupku."

"Tidak bisa! Kau harus bebas dari kutukanmu lalu menikah dengan seorang puteri dari kerajaan yang makmur. Lalu kalian hidup bahagia selama-lamanya."

Itulah adalah akhir paling cocok untuk seorang pangeran.

"Abby. Semua anak perempuan adalah seorang puteri bagi keluarganya. Entah dia bangsawan atau bukan, bagiku semua sama."

"Kau sudah punya gadis yang kusukai?"

Maxwell menyilangkan lengan, "Ada beberapa kucing betina yang menarik perhatianku."

"Kau tidak serius, kan?"

"Aku ini manusia separuh kucing. Jadi, pertanyaanmu kurang spesifik."

"Maksudku gadis manusia."

"Tidak ada. Maksudku, belum. Tapi kalaupun ada. Aku tak yakin mereka mau menikah dengan orang sepertiku. Itu adalah bagian dari kutukan tersebut. Tapi setidaknya, aku mungkin bisa memiliki selusin anak kucing yang lucu."

"Dan kau ingin membangun sebuah kerajaan dengan anak-anak kucing itu? Kau tahu tidak? Bisa saja kucing-kucing itu tidak hamil karenamu. Mereka bisa saja hamil dengan kucing lain tapi tetap memintamu bertanggung jawab!"

Maxwell meringis, "Maaf, aku tidak tahu kalau ini tidak lucu untukmu."

"Setidaknya berjuanglah lebih keras, Maxwell."

"Maksudmu, untuk melucu?"

"Untuk seluruh kehidupanmu!" Jawabku gemas. "Kau adalah manusia asli. Tidak seorang pun yang bisa mengubahnya. Karena itu, kau seharusnya berusaha lebih keras untuk mematahkan kutukannya."

Maxwell menatapku tanpa berkedip, "Kau tidak ingin menanyakan nasib keenam utusan penyihir suci sebelumnya? Mereka mati, Abby. Mereka semua mati konyol hanya untuk membantu orang yang bahkan tidak mereka kenal. Akan lebih baik jika aku mengantarmu pulang ke rumah. Kau berkumpul dengan keluargamu dan aku bisa menjalani kehidupanku lagi." 

"Aku bukan utusan penyihir suci! Aku tahu pasti soal itu. Jadi aku tidak akan mati semudah itu."

Maxwell menghela nafas dan beranjak dari kursinya. "Ayo kita pergi sekarang."

Aku mengekorinya, "Kemana?"

"Mencari pakaian yang pantas untukmu."

"Kau punya uang?" Aku tidak bermaksud merendahkan atau semacamnya.

Maxwell tinggal di pondok kecil yang terbuat dari kayu dan anyaman jerami sebagai atapnya. Di dalamnya hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur yang merangkap sebagai ruang tamu.

Dan sama sekali tidak barang berharga di sini. Aku bahkan tak menemukan potret ibunya di manapun.

"Ada." Jawabnya singkat sambil menutup pintu di belakangku.

"Dari mana?" Tanyaku sambil berjalan mengikutinya.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Hutan ini tidak selebat sebelumnya. Kebanyakan ditumbuhi pohon pinus juga tanaman buah berry liar. Sinar matahari kini terasa lebih bersahabat. Kuduga sekarang mungkin bahkan belum tengah hari.

"Aku menjual apa saja yang aku temukan di hutan ini."

"Kau berburu disini?"

Maxwell menggeleng, "Mereka adalah  pemilik hutan ini. Aku tak ingin mengusiknya. Bagaimanapun aku hanyalah tamu di sini. Jadi, aku mencari kayu bakar ataupun buah-buahan."

"Kau bukannya sudah lama tinggal disini?"

"Baru empat bulan. Aku selalu mencari tempat yang lebih hangat sebelum musim dingin tiba."

"Kenapa?" Kami berhenti saat sampai di pinggir sungai. Beruntungnya, ada beberapa batu besar sebagai pijakan.

"Pegang tanganku. Disini agak licin." Katanya sambil menawarkan tangannya. Aku mengenggamnya dan merasakan telapak tangannya yang kasar. Tapi ada sesuatu dalam genggamannya yang membuatku merasa tenang. "Jalan perlahan saja, ya."

"Kau belum menjawab pertanyaanku."  

"Musim dingin membuat matahari tenggelam lebih cepat dan malam terasa lebih lama dari musim lainnya. Aku tak menyukainya." 

Kami sudah sampai di seberang sungai. Sayup-sayup aku bisa mendengar keramaian. Sepertinya kami akan segera sampai di pasar.

"Keluargamu pasti mengkhawatirkanmu." Kata Maxwell kepadaku. Ia memunggungiku jadi aku tak bisa melihat ekspresinya.

Lalu terbayang wajah orang tuaku yang panik karena tak menemukanku di kamar. Kakakku akan memeriksa semua teman-temanku. Keluargaku mungkin akan menghubungi petugas keamanan dan melaporkan kehilanganku.

Besar kemungkinan, mereka telah mencetak fotoku dengan tulisan 'Dicari Orang Hilang' dan menyebarkannya ke media massa di seluruh benua. Belum-belum aku telah merindukan mereka.

Aku hampir mengatakan hal tersebut tapi urung saat melihat punggung Maxwell yang nampak kesepian.

Tak bisa kubayangkan apa saja yang telah ia lewati selama ini. Dibuang keluarganya, dikejar para pembunuh bayaran, ibu asuhnya meninggal dan semua utusan penyihir suci mati di depannya.

Sebuah keajaiban bahwa ia masih hidup dengan baik dan tetap menjaga kewarasannya.

Seandainya aku menjadi Maxwell, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Hidup sebagai manusia di pagi hari dan kucing saat malam.

Tubuhku mendadak menggigil membayangkan Maxwell dan selusin anak kucing. Aku sama sekali tak memiliki masalah dengan kucing. Hanya saja membayangkan dia dan kucing-kucing betina itu..

Tidak.. Tidak.. Maxwell tak mungkin melakukan hal itu!

Memang aku harus melakukan ini! Pertemuan ini telah ditakdirkan karena suatu hal. Yaitu mematahkan kutukannya. Bagaimanapun ia harus memiliki anak-anak manusia!

Kalau seandainya misi ini memakan waktu beberapa minggu, orang tuaku pasti takkan keberatan.

Tapi dari mana kami harus mulai? 

"Kau tahu cara mematahkan kutukan ini?"

"Entahlah."

"Kau tidak menemukan petunjuk apapun? Bahkan bersama para utusan penyihir suci?"

Dia berbalik dan menatapku lekat- lekat. Mata hijaunya terlihat menakutkan, "Kupikir kita sudah sepakat, Abby. Kau harus segera pulang! Anggap saja kita tak pernah bertemu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abby and Her Amulet   28

    Aku berkedip dua kali sebelum berkata, “Aku tak mau bermain dengan anak ingusan. Jadi kembalikan kucing itu sekarang atau aku akan pakai kekerasan.”Kubuka kepalan tanganku, menunjukkan sebuah lingkaran api kecil. Aku tidak yakin dengan akurasi serangannya, tapi kupastikan ini akan sakit jika terkena kulitnya, “Kembalikan kucing itu. Sekarang.”Aku memastikan suaraku setegas mungkin tapi sepertinya tidak berhasil karena peri itu malah tertawa dan menggendong kucing hitam itu dengan erat, “Coba saja, Abigail. Aku tahu kamu tidak akan berani. Sejak dulu selalu begitu, ‘kan?”Sejak dulu? Apa maksudnya? Aku yakin benar kami tidak pernah bertemu selain di hutan ini.“Bagaimana kalau begini saja, kita main lima menit dan setelahnya aku kembalikan kucing ini padamu. bagaimana?”“Tidak ada permainan. Kembalikan saja kucingnya. Lagipula, kenapa terusmengajakku bermain? Aku sibuk.”Peri hutan itu mencemberutkan ujung bibirnya dengan wajah sendu, “Aku tak punya teman.”“Kudengar kau sering mencu

  • Abby and Her Amulet   27

    "Abby, boleh aku tahu apa yang kau bicarakan pada Herion soal kuil suci Quarlm? Tidak cerita juga tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja,” katanya saat kami sedang menyusuri pinggir hutan untuk menemukan jembatan kayu di atas sungai Ahn.Kami memutuskan untuk langsung berangkat karena tidak ada penginapan di daerah sekitar sini juga karena kuil itu terletak tidak jauh dari sungai. Atau setidaknya itu yang tergambar di perkamen milik Groki.“Bukan masalah besar, Herion hanya berkata kalau mungkin kita perlu melewatinya,” balasku malas. Enggan membalas apa yang kulihat di lemari Herion atau suara teriakan yang memintaku untuk menemukan Tusban atau untuk menolong mereka. Bukan karena apa-apa, tapi dia juga punya masalahnya sendiri.Lagipula Tusban tetap aman dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kecuali, mungkin, isi perut Ezra. Terakhir kami berpamitan, laki-laki itu masih memuntahkan katak dari mulutnya “Ada baiknya kau memikirkan nasibmu sendiri. Sebentar lagi kau akan jadi petapa

  • Abby and Her Amulet   26

    Ada jeda sebentar sebelum kami berdua menemukan suara. Groki tidak hanya mengatakan bahwa Maxwell sendiri yang tahu bagaimana cara mematahkan kutukan, namun Groki tahu siapa Maxwell sebenarnya.“Saya turut berduka cita atas yang menimpa anda. Mm, anda lebih suka dipanggil Maxwell?”“Yah, bagaimanapun Itu nama saya. Tolong bersikap biasa saja. Dan soal kutukan itu saya tidak mengerti.”Groki mengangguk sebelum ia duduk di sofa yang berbentuk jamur raksasa, “Aku masih muda saat kutukan itu dijatuhkan padamu. Baginda raja memerintahkan semua penyihir serta peramal untuk mengatasi kutukan itu. Beliau sangat khawatir. Saat itu, penyihir suci sedang tidak ada di tempat dan kami semua berusaha begitu keras sampai akhirnya beliau menyerah dan yah, kau yang paling tahu kelanjutannya.”Maxwell mendengus saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk tidak berkomentar. “Saat itu sedang terjadi banyak kekacauan jadi mungkin saja kau mendengar banyak desas-desus. Tapi aku percaya akan hal itu. Ba

  • Abby and Her Amulet   25

    Kami berangkat pagi sekali sebelum menyewa kereta kuda menuju Hutan Pinus. Sejak semalam, Maxwell dan aku tidak banyak bicara. Kami hanya bicara seperlunya dan membuat perjalanan kami diliputi keheningan sementara tanganku terus memegang amulet.Kereta kuda berhenti tepat di papan nama hutan yang ditulis di atas kayu yang agak lapuk. Maxwell maju lebih dulu dan aku mengikutinya. Jarak pepohonan yang rapat membuat suasana hutan menjadi suram dan gelap meskipun aku yakin ini baru pukul delapan pagi.Dari kejauhan, kami bisa melihat menara tinggi yang dicat dengan warna pastel yang menyala. Maxwell mendengus, “Firasatku buruk. Menara itu kelihatan seperti kue ulang tahun untuk anak lima tahun. Siapapun yang ada di dalamnya, aku… tak yakin.”“Memangnya kapan firasatmu pernah baik? Lagipula, menaranya terlihat imut. Aku suka.”Ia memutar bola matanya, “Mungkin ini termasuk hal-hal yang hanya dimengerti oleh para penyihir. Yah, kurasa Fabio benar. Para penyihir ini memang agak.. tidak biasa

  • Abby and Her Amulet   24

    “Kau yakin?” tanya Maxwell untuk kesekian kalinya setelah kami keluar dari Ausbant dan kembali ke perpustakaan. “Kita ini sedang membicarakan Grische si tukang pembuat kesialan. Bagaimana kalau kita malah dituduh mencuri dan malah dijebloskan di penjara?”“Tinggal kabur saja, apa susahnya? Lagipula kau bisa berubah jadi kucing terbang itu dan kita bisa cari cara untuk menyelinap ke tempat arsip kuno. Setidaknya percaya dirilah sedikit, kita sudah pernah menghadapi naga. Apalagi yang perlu kita takuti?”Maxwell bersungut-sungut saat berkata, “Abby, aku serius.”“Aku juga. Lagipula hanya ini satu-satunya cara yang kupikir bisa dicoba. Kecuali kau punya ide lain, aku akan mendengarkannya.”Laki-laki itu hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun saat kami akhirnya kembali ke perpustakaan. Petugas perpustaakan yang sama dengan sebelumnya menyambut kami dengan senyum samar saat kami pergi menuju konternya.Tanpa ragu, aku langsung menunjukkan token burung hantu padanya, “Apa ini bisa

  • Abby and Her Amulet   23

    Aku melongo saat melihat kuda terbang di langit pagi pada kota Tusban. Atau kelinci bersayap atau kucing berkaki enam. Perjalanan tiga hari dari desa Blackthorn itu terasa seperti mimpi jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di depanku.Aku melirik Maxwell yang nampak biasa saja ketika kami melewati gerbang setelah menunjukkan identitas pengenalnya. Karena aku tak punya kartu identitas, dia harus membayar ekstra untuk menjadi penjaminku.“Kenapa tidak bilang kalau banyak hewan aneh disini?”Maxwell mengangkat alisnya, “Kau sudah melihat, ogre, laba-laba raksasa, dan juga harpy, tapi masih terkejut melihat kuda terbang?”Oh, jadi maksudnya ini normal. Maxwell kemudian melanjutkan jika hewan-hewan disini dulunya liar dan akhirnya diternakkan dan dipelihara oleh para penyihir disini. karena Tusban memiliki populasi penyihir yang paling besar, secara otomatis hewan-hewan itu akan tinggal disini karena kekuatan sihir bisa membantu menjinakkan mereka.Setelah kami memesan dua kamar d

  • Abby and Her Amulet   3

    "Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan namanya keras-keras."Aku.. aku.. sebenarnya..

  • Abby and Her Amulet   2

    Dengan perasaan malu, aku harus mengakui kalau ucapan Nenek memang ada benarnya.Sesampainya di kota, aku nyaris melupakannya kalau tak ada amulet yang selalu bergantung di leherku.Kota ini benar-benar menyita perhatianku seolah ada aura magis yang menyelubunginya.Dulu, kami tinggal di

  • Abby and Her Amulet   1

    Namaku Abigail Montlace. Semua orang memanggilku Abigail atau si bungsu dari keluarga Montlace.Tapi nenekku memanggilku Abby. Aku sangat menyukai nama itu. Sebenarnya aku menyukai apa saja yang dikatakan nenek.Beliau adalah pendongeng yang hebat. Cara penyampaiannya benar-benar bagus s

  • Abby and Her Amulet   5

    Entah dari mana aku mendapatkan keberanian itu, tapi tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya. "Maxwell Ignatius de Albertine, aku sudah bertekad agar kau bisa menikah dengan seorang gadis manusia dan memiliki anak-anak manusia juga. Kau harus hidup bahagia dan terbebas dari kutukan sialan itu l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status