Share

2

Author: Wintersnow
last update publish date: 2021-04-15 17:59:58

Dengan perasaan malu, aku harus mengakui kalau ucapan Nenek memang ada benarnya.

Sesampainya di kota, aku nyaris melupakannya kalau tak ada amulet yang selalu bergantung di leherku.

Kota ini benar-benar menyita perhatianku seolah ada aura magis yang menyelubunginya.

Dulu, kami tinggal di desa terpencil di hutan. Jauh dari tetangga maupun keramaian.

Di kota ini, jalan-jalan begitu ramai. Banyak toko yang menjual barang-barang yang asing bagiku.

Boneka, gaun, perhiasan, sepatu, bahkan sampai makanan.

Gedung-gedung dengan kaca mengkilap menjulang tinggi dan kereta kuda yang terparkir di depannya. Aku tak pernah melihat kereta kuda sebanyak itu.

Jalannnya dibuat dari batu-batu berwarna kelabu sehingga saat hujan tiba, aku tidak akan menemui genangan air atau lumpur yang bisa merusak sepatuku. 

Oh, juga lampu-lampu di jalan yang menerangi saat malam tiba terlihat seperti parade kunang-kunang.

Semuanya begitu indah.

Kami tinggal di rumah yang cukup besar untuk berempat. Tapi tak lama kemudian, Ayah memperkerjakan beberapa orang untuk membersihkan rumah, memasak bahkan seorang kusir untuk kami. 

Aku juga memiliki banyak teman yang menyenangkan. Kadang-kadang mereka mengundangku untuk minum teh atau sekedar berbelanja gaun. 

Singkat kata, kehidupanku saat itu sesempurna mimpi.

Tapi seperti mimpi lainnya, aku harus terbangun.

Bermula setelah pesta ulang tahun sekaligus debutante pertamaku di usia tujuh belas tahun. 

Pertama kalinya aku melepas amulet dari Nenek dan meletakkannya di laci.

Ibu membelikanku sebuah kalung dengan bandul dari batu safir. Warnanya serasi dengan warna mataku sekaligus gaun yang kupakai.

Pesta itu dihadiri teman-temanku, kolega dan kerabat dari keluargaku.

Bukan rahasia umum, bahwa ini juga menandakan bahwa aku sedang mencari calon suami.

Usiaku sudah dianggap cukup untuk membangun rumah tangga.

Ayah mengenalkanku dengan beberapa kandidat yang tentu saja memiliki hubungan dengan koleganya. Beberapa dari mereka sedikit menarik perhatianku karena paras mereka.

Tapi hanya itu saja.

Tidak ada yang benar-benar kusukai.

Pesta berakhir beberapa menit sebelum tengah malam.

Aku kelelahan karena berdansa lebih dari sepuluh lagu. Kakiku seolah-olah bisa patah kapan saja. Sepatu hak tinggi yang kupakai hanya memperparah nyeri di kedua tumitku.

Aku melepas gaun dan berganti dengan piyama. Kulepas kalung itu dan kembali memasang amulet pemberian Nenek.

Kupandangi pantulan diri di cermin dan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Nenek sekarang.

Mungkin usianya sudah delapan puluhan.

Aku yakin sekali ia masih hidup dengan  sehat. Aneh sekali membayangkan beliau sakit.

Nenek memiliki tubuh dan stamina yang kuat. Beliau masih sanggup menebang kayu dan mencari makanan di hutan. Sejauh yang kuingat ia tak pernah memakan daging. Mungkin karena itulah, hewan-hewan di hutan menghormatinya. 

Aku pernah melihatnya duduk di pinggir sungai bersama seekor beruang besar bewarna cokelat. 

Nenek memberikan setoples madu dan beruang itu menjilatinya dengan rakus. Beliau mengajaknya berbincang tapi beruang itu nampak sibuk dengan makan siangnya. 

Saat toples itu bersih, beruang itu menggeram sekali dan pergi begitu saja. 

Barulah, aku yang bersembunyi di semak belukar berani mendekatinya.

Aku mencium batu hijau itu dan naik ke ranjang.

Begitu pagi tiba, aku benar-benar terkejut.

Masih dengan gaun tidurku, aku terduduk di tanah yang keras. 

Tempat yang harusnya adalah kamarku berubah menjadi hutan lebat. 

Lebih lebat dari hutan di kampung halamanku.

Pohonnya begitu rapat hingga aku tak bisa melihat apa yang ada didepan. Entah jalan setapak atau tepi juranglah yang menyambutku di depan.

Terik matahari tertutup dedaunan rimbun sehingga tak terasa menyengat kulit.

Kakiku terasa aneh saat menginjak tanah yang kasar dan keras.

"Ayah? Ibu?" Aku memanggil mereka tapi tak kudengar apapun selain  gema suaraku sendiri.

Jantungku berdebar dengan kencang. Kuingatkan diriku agar tidak panik dan mulai berpikir alasan yang logis kenapa aku bisa berakhir di hutan ini.

Tapi tak ada hal yang bisa kupikirkan.

Untuk menambah masalah yang kuhadapi, perutku tanpa rasa malu berbunyi pelan. Aku mengutuk diriku yang masih bisa merasakan kelaparan di saat seperti ini.

Jadi kuputuskan untuk mencari makan dan sekaligus jalan keluar dari hutan ini.

Tapi belum sempat aku melangkah, gelombang kepanikan menyerangku. Terdengar suara langkah yang menginjak dedaunan kering dan menerobos pepohonan.

Manusiakah itu?

Atau hewan buas?

Jangan-jangan sebelum aku sempat menemukan makanan, ia akan menjadikanku sarapan paginya.

Tapi kepanikan itu berubah menjadi kelegaan saat pemilik langkah itu muncul dari balik pepohonan.

Seorang laki-laki seumuran denganku. Wajahnya putih dengan rambut hitam dan mata hijau gelap. Ada bintik-bintik di kedua pipinya.

Seketika aku mengenalinya.

Kami jelas tak pernah bertemu. Tapi aku mengenalnya begitu saja. Karena dia adalah bagian masa kecilku.Tokoh utama dari dongeng yang diceritakan nenekku.

Dia adalah Maxwell Ignatius De Albertine, pangeran terkutuk yang dibuang keluarganya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Abby and Her Amulet   28

    Aku berkedip dua kali sebelum berkata, “Aku tak mau bermain dengan anak ingusan. Jadi kembalikan kucing itu sekarang atau aku akan pakai kekerasan.”Kubuka kepalan tanganku, menunjukkan sebuah lingkaran api kecil. Aku tidak yakin dengan akurasi serangannya, tapi kupastikan ini akan sakit jika terkena kulitnya, “Kembalikan kucing itu. Sekarang.”Aku memastikan suaraku setegas mungkin tapi sepertinya tidak berhasil karena peri itu malah tertawa dan menggendong kucing hitam itu dengan erat, “Coba saja, Abigail. Aku tahu kamu tidak akan berani. Sejak dulu selalu begitu, ‘kan?”Sejak dulu? Apa maksudnya? Aku yakin benar kami tidak pernah bertemu selain di hutan ini.“Bagaimana kalau begini saja, kita main lima menit dan setelahnya aku kembalikan kucing ini padamu. bagaimana?”“Tidak ada permainan. Kembalikan saja kucingnya. Lagipula, kenapa terusmengajakku bermain? Aku sibuk.”Peri hutan itu mencemberutkan ujung bibirnya dengan wajah sendu, “Aku tak punya teman.”“Kudengar kau sering mencu

  • Abby and Her Amulet   27

    "Abby, boleh aku tahu apa yang kau bicarakan pada Herion soal kuil suci Quarlm? Tidak cerita juga tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja,” katanya saat kami sedang menyusuri pinggir hutan untuk menemukan jembatan kayu di atas sungai Ahn.Kami memutuskan untuk langsung berangkat karena tidak ada penginapan di daerah sekitar sini juga karena kuil itu terletak tidak jauh dari sungai. Atau setidaknya itu yang tergambar di perkamen milik Groki.“Bukan masalah besar, Herion hanya berkata kalau mungkin kita perlu melewatinya,” balasku malas. Enggan membalas apa yang kulihat di lemari Herion atau suara teriakan yang memintaku untuk menemukan Tusban atau untuk menolong mereka. Bukan karena apa-apa, tapi dia juga punya masalahnya sendiri.Lagipula Tusban tetap aman dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kecuali, mungkin, isi perut Ezra. Terakhir kami berpamitan, laki-laki itu masih memuntahkan katak dari mulutnya “Ada baiknya kau memikirkan nasibmu sendiri. Sebentar lagi kau akan jadi petapa

  • Abby and Her Amulet   26

    Ada jeda sebentar sebelum kami berdua menemukan suara. Groki tidak hanya mengatakan bahwa Maxwell sendiri yang tahu bagaimana cara mematahkan kutukan, namun Groki tahu siapa Maxwell sebenarnya.“Saya turut berduka cita atas yang menimpa anda. Mm, anda lebih suka dipanggil Maxwell?”“Yah, bagaimanapun Itu nama saya. Tolong bersikap biasa saja. Dan soal kutukan itu saya tidak mengerti.”Groki mengangguk sebelum ia duduk di sofa yang berbentuk jamur raksasa, “Aku masih muda saat kutukan itu dijatuhkan padamu. Baginda raja memerintahkan semua penyihir serta peramal untuk mengatasi kutukan itu. Beliau sangat khawatir. Saat itu, penyihir suci sedang tidak ada di tempat dan kami semua berusaha begitu keras sampai akhirnya beliau menyerah dan yah, kau yang paling tahu kelanjutannya.”Maxwell mendengus saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk tidak berkomentar. “Saat itu sedang terjadi banyak kekacauan jadi mungkin saja kau mendengar banyak desas-desus. Tapi aku percaya akan hal itu. Ba

  • Abby and Her Amulet   25

    Kami berangkat pagi sekali sebelum menyewa kereta kuda menuju Hutan Pinus. Sejak semalam, Maxwell dan aku tidak banyak bicara. Kami hanya bicara seperlunya dan membuat perjalanan kami diliputi keheningan sementara tanganku terus memegang amulet.Kereta kuda berhenti tepat di papan nama hutan yang ditulis di atas kayu yang agak lapuk. Maxwell maju lebih dulu dan aku mengikutinya. Jarak pepohonan yang rapat membuat suasana hutan menjadi suram dan gelap meskipun aku yakin ini baru pukul delapan pagi.Dari kejauhan, kami bisa melihat menara tinggi yang dicat dengan warna pastel yang menyala. Maxwell mendengus, “Firasatku buruk. Menara itu kelihatan seperti kue ulang tahun untuk anak lima tahun. Siapapun yang ada di dalamnya, aku… tak yakin.”“Memangnya kapan firasatmu pernah baik? Lagipula, menaranya terlihat imut. Aku suka.”Ia memutar bola matanya, “Mungkin ini termasuk hal-hal yang hanya dimengerti oleh para penyihir. Yah, kurasa Fabio benar. Para penyihir ini memang agak.. tidak biasa

  • Abby and Her Amulet   24

    “Kau yakin?” tanya Maxwell untuk kesekian kalinya setelah kami keluar dari Ausbant dan kembali ke perpustakaan. “Kita ini sedang membicarakan Grische si tukang pembuat kesialan. Bagaimana kalau kita malah dituduh mencuri dan malah dijebloskan di penjara?”“Tinggal kabur saja, apa susahnya? Lagipula kau bisa berubah jadi kucing terbang itu dan kita bisa cari cara untuk menyelinap ke tempat arsip kuno. Setidaknya percaya dirilah sedikit, kita sudah pernah menghadapi naga. Apalagi yang perlu kita takuti?”Maxwell bersungut-sungut saat berkata, “Abby, aku serius.”“Aku juga. Lagipula hanya ini satu-satunya cara yang kupikir bisa dicoba. Kecuali kau punya ide lain, aku akan mendengarkannya.”Laki-laki itu hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun saat kami akhirnya kembali ke perpustakaan. Petugas perpustaakan yang sama dengan sebelumnya menyambut kami dengan senyum samar saat kami pergi menuju konternya.Tanpa ragu, aku langsung menunjukkan token burung hantu padanya, “Apa ini bisa

  • Abby and Her Amulet   23

    Aku melongo saat melihat kuda terbang di langit pagi pada kota Tusban. Atau kelinci bersayap atau kucing berkaki enam. Perjalanan tiga hari dari desa Blackthorn itu terasa seperti mimpi jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di depanku.Aku melirik Maxwell yang nampak biasa saja ketika kami melewati gerbang setelah menunjukkan identitas pengenalnya. Karena aku tak punya kartu identitas, dia harus membayar ekstra untuk menjadi penjaminku.“Kenapa tidak bilang kalau banyak hewan aneh disini?”Maxwell mengangkat alisnya, “Kau sudah melihat, ogre, laba-laba raksasa, dan juga harpy, tapi masih terkejut melihat kuda terbang?”Oh, jadi maksudnya ini normal. Maxwell kemudian melanjutkan jika hewan-hewan disini dulunya liar dan akhirnya diternakkan dan dipelihara oleh para penyihir disini. karena Tusban memiliki populasi penyihir yang paling besar, secara otomatis hewan-hewan itu akan tinggal disini karena kekuatan sihir bisa membantu menjinakkan mereka.Setelah kami memesan dua kamar d

  • Abby and Her Amulet   5

    Entah dari mana aku mendapatkan keberanian itu, tapi tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya. "Maxwell Ignatius de Albertine, aku sudah bertekad agar kau bisa menikah dengan seorang gadis manusia dan memiliki anak-anak manusia juga. Kau harus hidup bahagia dan terbebas dari kutukan sialan itu l

  • Abby and Her Amulet   4

    Maxwell mengangkat sebelah alisnya saat aku menyeruput sisa sup kentang buatannya dari mulut mangkuk.Entah karena lapar atau dia memang pandai memasak, tapi rasa supnya enak sekali. Aku bahkan tak menolak saat ia menuangkan sisa sup dari panci kepadaku."Kau tak bisa terus menggunakan

  • Abby and Her Amulet   3

    "Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan namanya keras-keras."Aku.. aku.. sebenarnya..

  • Abby and Her Amulet   1

    Namaku Abigail Montlace. Semua orang memanggilku Abigail atau si bungsu dari keluarga Montlace.Tapi nenekku memanggilku Abby. Aku sangat menyukai nama itu. Sebenarnya aku menyukai apa saja yang dikatakan nenek.Beliau adalah pendongeng yang hebat. Cara penyampaiannya benar-benar bagus s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status