LOGIN"Cry , just cry I want to see you cry."he cooed in my ears and then he starts thrusting in and out of me angressively. I couldn't scream anymore as I was too weak to make a sound. my eyes transformed into a dam of water and tears blurred my vision pouring down my cheeks like rain. I was already feeling like a slave for him, cause I willingly submitted to his want. He wanted me to cry and that I did, cause I had no choice. As I jerked under him, I felt as though I was in torment, hell, purgatory infact anything worst. I wanted this to stop but it didn't. He kept thrusting in and out of me till I could no longer take the pains. Was this the sex people call fun? Or was he just doing this to turture me? Each pains he inflicted on me, made me feel his burning urge to get his revenge. Whatever my father did to him must be very cruel and it filled me with Guilt. I felt so guilty that I didn't want to beg him, cause I stupidly thought I deserve this. What happens when the daughter of the most powerful Alpha is captured by another Alpha and turned into a slave for the sake of revenge?
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG"Ava!" “Dacianna!" We both yelled at the same time wearing stupefied expressions as if disbelieved to see each other. Well I was disbelieved. I mean my best friend Ava, is the least person I expected to see here. No scratch that, I'd completely even long lost hope that I'll ever see her again. Disbelieved turned into excitement as we both dived each other into a breathtaking hug. We hugged each other like our life depended on us since the tightness from the hug even restricted our airflow and eventually we were both crying. “I’ve missed you so much Ava” “Me too, Only the moon goddess knows how much I’d yearned to see you again. I thought...I thought those lads killed you already...I’m sorry daciana I missed you.” “Me too, me too ava...” We cried so much, tears of joy for seeing each other and that was how things became emotional, reminiscing and repeating to each other how we'd missed each other. "What are you doing here?" Ava asked first as we broke the hug. "No, I should b
“Uhm are you sure this is a Good idea?.” That’s like the hundredth time I’m trying to kick against the fact that we’re going out. Like out of the pack house.Rena had earlier took permission from Wallace to hang out with me promising to take care of me and keep an eye on me. Well not like that last part was necessary because I’ll never do something that’ll get her in trouble.Right now, we’re in her own room right here in the pack house and we’re sorting out the best outfit to wear to the party.“C’mon dacianna, unless you’ve other plans to escape which will get me in trouble with Lowell then this is the best idea.” She dump the gown she was checking out on the heap of clothes already on the bed and turns to face me. “Everyone could see you as a slave girl but to me you’re royalty and you deserve to live a little. Go out! Have fun with me like best friends do. Plus now that the Alpha isn’t around, it’s the perfect time to finally go out.”She said with an enthusiastic smile.My mind
"What my father do to your pack, what did he to Lowell!" Tension iced the atmosphere as I said that."You do know Adophus is evil right?" After a long silence "Yes..." I agreed which is the honest truth."He simply took advantage of his powers sometime ago to oppress our pack. He made Lowell's father a victim of his sheer cruelty and also some members of this pack. I can't explain everything to you but he really hurt Lowell and our pack in general."I still didn't get the full story but I didn't push any further. Connecting the dot with what the Luna had told me, it could be possible that my father killed Lowell's father. My father had always been a monster anyway "Don't be sad daciana. It's not your fault that your father have to be Adophus. You haven't done anything wrong as far I am concerned" Wallace picked my palm and caressed it and that was when I realized I've pulled a doleful look once Wallace was done."Why are you so different from Lowell?" I voiced out as Wallace was car
Daciana POV, Unlike every other days the sky is Alluring tonight because the stars are shining so bright and decorating the moon which is getting fuller by the day. And that only means one thing; the festival of peace is drawing near. But something seems off, No one had even talk about it here. Not rena, Pryanka, Wallace or even the maids around. Its as if they don't celebrate it here. Whether they does celebrate or not, the fact remains; I don't know my fate on that day. Each passing day reminds me of my family especially Ava. We would always stay out late nights to discus it till the D-day. But since it's impossible that I'll get to see them again, the least I could do is stay out late to watch the moon till I get tired just as I am doing now. And did I mention that, I haven't Bart an eye on Alpha Lowell ever since that night of the sex? Today is making it the sixth day and I haven't seen him. It's not like I care though. I mean he could go and hang himself for all I c
"Don't worry I'll inform all the alphas and set tomorrow Aside for the introduction. I too can't wait to meet that slave girl of yours.." Micheal said and I wanted to object to that when the sound of the door opening interrupted me. "Alpha" Wallace dashed in with a panic look on his face. "The Lycan
"that mark symbolizes leadership. According to history and child born with that mark means the moon goddess has favors that child and had given him the crown of rulership, hence he's to rule over all packs as the Alpha of all Alphas." She said and her head was bowed all through. "So you mean the des
"But...but she told me that was you, she said was rena." "I'm very sure she did that because she wanted you to fall for her, she quote aware that I'm friends with you so she used my identity to dupe you..." she said and I felt my arm balled on my thighs, my jaw clenched tight as anger burns through
"I heard that you've been holding Adolphus daughter hostage, you didn't just capture her but you turned her into your slave. How true is that?" She asked and sipped from her drink which was right beside her in the side stool. "What? How did you know that mum?" I frowned. "Does it matter? Just answer
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews