LOGINAnaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah.
"Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.
Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.
Brak.
Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.
Ia menatap layar ponselnya.
Dean (8 missed call)
Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.
Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.
Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam, dan nametag besar di dada.
"Eh, Anaia!"
Erin berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Sebagai rekan satu kelompok, Erin langsung memeriksa tugas Anaia.
"Kelas B Tekling kelompok satu sampai lima! Kumpul di sebelah sayap kanan!" panggil tim penugasan melalui pengeras suara.
Erin dan Anaia bergabung dengan Kelompok 4 bersama delapan anggota lainnya.
Usai tugas makalah kelompok dan esai individu dikumpulkan secara estafet, mata Anaia menangkap sosok Tristan di barisan senior. Seorang panitia menepuk pundak Tristan sebelum pria itu melangkah mendekati barisan maba.
"Kaitannya dengan tugas yang udah kalian kerjakan.." Tristan berhenti, melirik Anaia sekilas. "Ada yang tahu isu lingkungan apa yang lagi booming akhir-akhir ini?"
Anaia mengangkat tangan antusias bersama tiga orang lainnya.
Tristan menunjuk seorang mahasiswi di Kelompok 1. "Kamu."
Mahasiswi itu berdiri tegap. "Isu mikroplastik di muara sungai, Kak. Penelitian terbaru menunjukkan kontaminasi mikroplastik sudah masuk ke dalam rantai makanan ikan komersial di pesisir kota besar akibat pengelolaan limbah rumah tangga yang buruk."
"Oke. Bagus."
Tristan mendekat ke Kelompok 4. Anaia mengamati gerak-geriknya dengan saksama.
"Menurut kalian, apa esensi kita kasih tugas ini ke kalian?"
Hanya Anaia yang mengacungkan tangan. Namun Tristan bergeming hingga seorang mahasiswa di barisan lain ikut mengangkat tangan.
"Ya, kamu." Tristan menunjuk mahasiswa Kelompok 5.
"Esensinya adalah membentuk pola pikir kritis buat kita, maba Teknik Lingkungan agar tidak hanya menghafal teori, tetapi juga peka terhadap penerapan solusi nyata di masyarakat sejak awal perkuliahan, Kak."
Bahu Anaia melorot. Ia memanyunkan bibirnya.
"Kasian banget dicuekin.." kekeh Erin sambil menyenggol punggung Anaia.
Kelas Pengantar Teknik Lingkungan berakhir. Usai dosen keluar, mahasiswa berhamburan memenuhi lorong.
Sebelum bergabung dengan Deby dan Erin di kantin pukul dua siang, Anaia menyerahkan berkas beasiswa ke ruang administrasi. Ten menit kemudian, ia keluar dengan perasaan lega. Namun senyumnya mendadak pudar saat Dean muncul dari balik pilar tangga.
"Dean?" ucap Anaia tercekat, langkahnya terhenti.
Dean mendekat dengan raut keruh. "Kenapa teleponku nggak diangkat?"
Anaia menghela napas lelah. "Sorry Dean tapi bukannha udah jelas? Aku bilang kita udah selesai dan aku nggak butuh penjelasan apa-apa lagi.
"An..."
"Udah ya, aku mau pergi dulu." ucapnya lalu berbalik.
"An!"
Sebelum Anaia melangkah jauh, Dean menarik kasar lengannya, memutar tubuhnya, lalu memojokkannya ke dinding koridor yang sepi. Punggung Anaia menghantam beton keras, menyengat belikatnya dengan rasa nyeri.
"Sombong kamu, An."
Anaia mematung, melirik ke belakang Dean berharap ada orang lewat.
"Dean, sorry. Aku nggak bisa."
"Kenapa?" Kekehan sinis keluar dari mulut Dean. "Kamu pikir aku percaya akal-akalan kamu kemarin?"
Kening Anaia berkerut.
"Kamu pikir aku percaya Tristan Putra itu pacar kamu?" Dean tertawa mengejek.
Anaia mencoba menepis tangan Dean, menolak ditindas lagi. Namun tenaga Dean jauh lebih kuat.
"An, bilang sama aku kalau kamu bohong kan? Dia bukan pacar kamu."
"Aku nggak bohong."
"Nggak. Kamu bohong. Orang kayak Tristan nggak mungkin mau sama kamu." Dean menyeringai mengerikan. "Kecuali dia cuma mau jadiin kamu mainan." desisnya.
Habis kesabaran, Anaia mendorong Dean sekuat tenaga hingga pria itu terseret mundur. Saat Anaia hendak kabur, Dean mencengkeramnya kembali dan mengangkat satu tangannya seolah hendak memukul.
Anaia memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan tubuh ke dinding menahan sakit yang akan datang.
Namun, pukulan itu tak pernah mendarat.
Sebuah tangan besar mendadak mencengkeram pergelangan tangan Dean di udara—menahannya kaku tak bergerak.
"Kalau dia memang mainanku, apa urusannya denganmu? Kau masih berani menyentuhnya?"
-----
Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam
Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunj
"Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac
Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan
Pria itu menatap Anaia dengan ekspresi tak terbaca, sementara Anaia tampak canggung.“Eh, K-Kak–”Tanpa menunggu Anaia menyelesaikan ucapannya, pria itu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Anaia yang masih berdiri di lorong depan unit apartemennya.Pikirannya melayang pada kejadian di koridor sore kemarin. Ia berkali-kali menggeleng dan mendesah kesal, mencoba mengusir bayangan di bibirnya.Niatnya untuk langsung bersih-bersih menguap. "Kok bisa... dia tinggal di sini juga?" gumamnya lirih.—---Spanduk besar "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di lapangan utama. Anaia mendongak dengan napas terengah-engah setelah berlari mati-matian mengejar gate yang hampir ditutup. Dengan pita biru tua fakultas teknik di lengan, ia menyelinap masuk ke barisan kelompoknya.“Erin, ya?” ucap gadis berkuncir kuda di sebelahnya.“Bukan. Bukan Erin.” jawab Anaia.“Aku Erin!” Gadis di sebelah kirinya mengangkat tangan lalu menjabat heboh gadis pertama.“Yang di grup, kan? Ah... beda ya sama
Gadis itu bisa merasakan tubuh pria tinggi itu membeku seketika. Ia sempat melihat manik mata si pria asing yang berwarna cokelat gelap menatapnya, sebelum kemudian Anaia memejamkan mata rapat-rapat.“An, kamu–”Gendang telinga Anaia menangkap suara Dean tepat beberapa meter di belakang mereka. “Permisi, Mas.” Tak lama, Anaia mendengar Dean kembali berucap. Kali itu, suaranya sudah jauh lebih tenang, tidak lagi nyaring seperti sebelumnya. Begitu Anaia mendengar langkah kaki Dean menjauh, ia buru-buru menarik tubuhnya mundur. Kakinya yang lemas hampir saja membuat posisinya oleng. Dengan napas terengah-engah, Anaia menundukkan kepala dalam. "Maaf..." bisik Anaia lirih. “Maaf, Kak, aku–”Ucapan Anaia berhenti saat ia melihat sepasang mata tajam itu menatapnya, tampak dingin dan menyeramkan.Anaia langsung menundukkan kepala, bersiap menerima hinaan atau apa pun. Akan tetapi, pria asing itu justru memutar tubuhnya dan melangkah pergi ... meninggalkannya di sana.------Langkah kaki A







