Share

Kenapa Harus Peduli?

Author: zuyyinald
last update publish date: 2026-09-28 11:17:25

Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.

Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.

Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala.

"Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.

Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.

Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.

Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar  takut gelap biasa.

Oh.. kenapa ia harus peduli?

Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunjukkan pukul satu malam, menatap datar pada tubuh yang kini terbaring dengan posisi miring, terlelap di ranjangnya. Pandangannya berhenti cukup lama pada jari-jari kurus dan pipi yang tirus--- yang seperti kurang gizi itu.

Lalu ia mengesah pelan.

Tristan menggaruk belakang kepalanya gusar, lalu merebahkan punggungnya ke sofa. Tak berapa lama, ia terlelap dengan jaket tipis yang membungkus tubuhnya.

-----

Cahaya matahari yang mulai membias lewat gorden membawa kesadaran bagi Anaia.

Matanya mengerjap pelan, menyipit saat pupilnya menyesuaikan diri dengan suasana yang terasa asing. Saat penglihatannya membaik, ia mendapati dirinya tengah menatap langit-langit kamar yang didominasi warna abu-abu.

Tidak ada hiasan berlebih; hanya ada sebuah rak buku tinggi di sudut ruangan yang tertata rapi, lemari pakaian berdesain drop-ceiling, serta meja kerja kayu gelap dengan dua monitor besar yang masih dalam keadaan mati.

Suasana kamar itu begitu rapi, dingin.

Lalu, sebuah aroma lembut menyusup ke indra penciumannya. Bau gurih roti yang terpanggang berpadu dengan aroma mentega meleleh. Wangi itu menembus kehangatan selimut, memancing lambungnya yang kosong hingga menimbulkan rasa lapar yang samar.

Terkejut, tubuhnya langsung terduduk cepat dan menemukan tubuhnya terbalut kaos kebesaran. Anaia mengerjap lagi. Ia sadar, baru ingat ia berada di unit Tristan.

Berapa lama ia terlelap di sini?

Lalu, di mana Tristan tidur semalam jika Anaia berads di ranjang pria itu?

Anaia akhirnya berdiri, beranjak keluar. Begitu melangkahkan kaki ke area tengah, matanya langsung tertuju pada sesosok tubuh tinggi yang berdiri membelakanginya di dapur minimalis. Tristan tengah menelateni beberapa lembar roti di atas meja konter—membalik, mengoleskan saus, dan menatanya dengan gerakan tenanga terpana sesaat. Ia hanya tidak menyangka Tristan tipe seperti itu.

Aroma roti panggang isi telur yang baru saja diangkat dari pan kini berembus makin kuat. Harum lelehan keju dan gurihnya telur dadar lembut yang mengepulkan uap hangat itu benar-benar menggugah seleranya. Tanpa bisa ditahan, perut Anaia berbunyi cukup nyaring.

Tristan tak bergeming, tapi tangannya cekatan memindahkan roti panggang itu ke atas dua buah piring keramik polos. Ia membawa piring-piring itu ke meja makan kecil, lalu menggeser salah satunya mendekati tempat Anaia berdiri.

"Hm? Buatku?" Mata Anaia melebar, berpindah menatap piring dan wajah Tristan bergantian.

Tristan tak menjawab. Tapi sesuatu di mata pria itu membuat Ania tersenyum tipis.

"Thanks Tristan. Kamu baik banget."

Kalimat itu membuat gerakan Tristan terhenti sejenak, menatap Anaia sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya kembali.

Anaia ikut duduk di hadapannya, mengambil potongan roti panggang hangat itu dan menggigitnya penuh nikmat. Rasa gurih-manis mentega dan lembutnya telur langsung memenuhi rongga mulutnya. Sambil mengunyah, lidahnya yang memang tak bisa diam mulai bekerja.

"Kamu memang jarang ngomong ya?" tanya Anaia di sela kunyahannya.

Tristan diam, fokus mengunyah bagian rotinya sendiri tanpa berniat membalas.

"Tristan, awalnya aku kira kamu itu serem banget. Semua orang bilang gitu. Tapi, enggak loh. Menurutku kamu baik."

"Bisa diam dan lanjutin makannya aja nggak?" sahut Tristan ketus, tatapannya tajam menusuk dari balik poninya yang belum tertata rapi.

"Galak banget sih..." gumam Anaia pelan sambil memayunkan bibir. "Iya..." desisnya lagi, memilih menatap piringnya sendiri agar tak makin disemprot.

Tristan yang ternyata sudah mengenakan kemeja rapi dengan bagian lengan digelung setengah hingga memperlihatkan garis lengannya yang kokoh, menyambar sisa rotinya. Pria itu berdiri dari kursi dan memakannya berdiri sambil menyambar ponsel yang berdering di atas konter.

"Ya pak?" Pria itu sesekali.menoleh, menatap Anaia.

"Oke. Makasih pak."

"Tas kamu udah diambilin. Kamu bisa balik ke unitmu sendiri setelah ini."

"Really? You're so kind.." puji Anaia.

Tristan berdecak keras. "Sekali lagi kamu ngomong kayak gitu, aku buat kamu nggak bisa apa-apa selama bimbingan pelantikan nanti ya," ancam Tristan dengan nada dingin yang tak main-main.

Ia melangkah mendekati pintu, membelakangi Anaia. Namun sebelum benar-benar melangkah keluar, Tristan kembali menoleh sekilas. "Aku nggak sebaik itu," ucapnya lagi sebagai bentuk penegasan.

Sekitar satu jam berlalu setelah Anaia menylesaikan sarapannya dan Tristan mengambil tas Anaia dari lobby. Mereka berdua bergegeas ke luar. Anaia sudah akan beranjak hendak kembali hendak kembali ke unitnya begitu sekuriti membawakan tasnya. Tiba-tiba ponsel Anaia berdering.

Anaia berhenti dan tak berkutik.

Nama "Dean" tertera di layar ponsel Anaia yang berada di meja.

Tristan sempat melirik nama itu sekilas.. sebelum Anaia cepat-cepat menyambar ponselnya dengan wajah pucat dan panik.

-------

-----

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Bermain-main

    Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Kenapa Harus Peduli?

    Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunj

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Dinginnya Malam

    "Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Celaka!

    Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Pria Itu

    Pria itu menatap Anaia dengan ekspresi tak terbaca, sementara Anaia tampak canggung.“Eh, K-Kak–”Tanpa menunggu Anaia menyelesaikan ucapannya, pria itu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Anaia yang masih berdiri di lorong depan unit apartemennya.Pikirannya melayang pada kejadian di koridor sore kemarin. Ia berkali-kali menggeleng dan mendesah kesal, mencoba mengusir bayangan di bibirnya.Niatnya untuk langsung bersih-bersih menguap. "Kok bisa... dia tinggal di sini juga?" gumamnya lirih.—---Spanduk besar "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di lapangan utama. Anaia mendongak dengan napas terengah-engah setelah berlari mati-matian mengejar gate yang hampir ditutup. Dengan pita biru tua fakultas teknik di lengan, ia menyelinap masuk ke barisan kelompoknya.“Erin, ya?” ucap gadis berkuncir kuda di sebelahnya.“Bukan. Bukan Erin.” jawab Anaia.“Aku Erin!” Gadis di sebelah kirinya mengangkat tangan lalu menjabat heboh gadis pertama.“Yang di grup, kan? Ah... beda ya sama

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Pertemuan Kedua

    Gadis itu bisa merasakan tubuh pria tinggi itu membeku seketika. Ia sempat melihat manik mata si pria asing yang berwarna cokelat gelap menatapnya, sebelum kemudian Anaia memejamkan mata rapat-rapat.“An, kamu–”Gendang telinga Anaia menangkap suara Dean tepat beberapa meter di belakang mereka. “Permisi, Mas.” Tak lama, Anaia mendengar Dean kembali berucap. Kali itu, suaranya sudah jauh lebih tenang, tidak lagi nyaring seperti sebelumnya. Begitu Anaia mendengar langkah kaki Dean menjauh, ia buru-buru menarik tubuhnya mundur. Kakinya yang lemas hampir saja membuat posisinya oleng. Dengan napas terengah-engah, Anaia menundukkan kepala dalam. "Maaf..." bisik Anaia lirih. “Maaf, Kak, aku–”Ucapan Anaia berhenti saat ia melihat sepasang mata tajam itu menatapnya, tampak dingin dan menyeramkan.Anaia langsung menundukkan kepala, bersiap menerima hinaan atau apa pun. Akan tetapi, pria asing itu justru memutar tubuhnya dan melangkah pergi ... meninggalkannya di sana.------Langkah kaki A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status