Share

Dinginnya Malam

Author: zuyyinald
last update publish date: 2026-09-28 11:16:29

"Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.

Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.

-----

Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.

Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya.

"Sorry.." cicit Anaia lagi.

Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengacaukan sinyal. 

Sementara itu kondisi Anaia tidak lebih baik. Tetesan air hujan mengenai sebagian rambutnya hingga berantakan. Tristan yang kembali setelah tidak bisa menghubungi sekuriti menatap Anaia yang menggigil dan memeluk tubuhnya sendiri dengan merapatkan kedua tangannya. 

Tatap marah itu melembut. Tristan menghela napas, lalu berbalik dan membuka pintu dengan kartu aksesnya dan menerobos ke dalam.

"Masuk." ucap Tristan menyerupai gumaman. 

Anaia mengekor di belakang Tristan memasuki unit apartemennya. 

Begitu masuk, Anaia langsung merasakan udara hangat yang berbeda jauh dari koridor. Lampu-lampu warm yellow menerangi ruang tamu dengan perabotan minimalis bernuansa abu-abu dan kayu gelap. Kehangatan itu meresap perlahan, meski rasa canggung yang tersisa masih menghimpit dadanya.

"Tunggu di sini," ujar Tristan singkat sebelum menghilang ke balik pintu kamarnya.

Hanya butuh beberapa menit sampai Tristan kembali ke area ruang tamu. Pria itu berjalan mendekat dan meletakkannya di atas sandaran sofa. Pakaian itu berupa kaos oblong raksasa berwarna abu-abu tua yang sudah pasti akan tenggelam di tubuh kecil Anaia.

"Pakai ini dulu," ucap Tristan datar, tanpa menatap.

"Thanks..." cicit Anaia pelan

------

Tristan sudah berada di luar unitnya saat ia mulai menempelkan ponselnya di telinga. Nada sambung terdengar satu dua kali, membuat waktu seakan melambat. Sementara ia terus bergerak gelisah. "Ya pak Aris?"

Suara berisik di seberang sana membuat Tristan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Pak, bisa dengar saya?"

"Ya Mas Tristan." suara gemerisik itu terdengar lagi. 

Bunyi hujan yang menimpa terdengar makin bising. Tristan menggeser ponsel di telinganya, berusaha mengabaikan deru angin yang sesekali menembus kulitnya.

"Bisa tolong antarkan tas Anaia ke apartemen Pak? 

Di seberang telepon, terdengar desah napas berat Pak Aris sebelum pria paruh baya itu menjawab. "Waduh, Mas... bukannya saya nggak mau. Tapi di luar ini bajir kecil di depan gerbang kompleks, hujan deras sekali dari tadi. "

Tristan memijat pangkal hidungnya, agak tidak sabar. "Pakai mobil yang tingi nggak bisa, Pak? Nanti saya tunggu di basement."

"Bukan cuma soal banjirnya, Mas. Pohon mangga di dekat pos depan juga tadi sempat ada dahan besar yang patah menghalangi jalan. Saya takut terjebak di jalan," jelas Pak Aris jujur.

Belum sempat Tristan membalas, terdengar suara kresek pendek dan jeda sekian detik di telepon, sebelum suara lain mengambil alih panggilan tersebut.

"Tristan? Ini Mama." Suara mama kini terdengar langsung, tegas namun terhalang sinyal yang naik turun. "Sudah, jangan paksa Pak Aris. Mama yang minta dia tahan dulu. Di luar anginnya kencang sekali, petir dari tadi menyambar-nyambar."

"Tapi Ma, Anaia tidak membawa baju ganti sama sekali," potong Tristan pelan. "Dia cuma pakai baju yang tadi..”

"Malam ini suruh Anaia menginap di unit kamu dulu," potong mama cepat, tidak menerima bantahan. "Pakai baju kamu yang ada di lemari, cari yang ukurannya agak kecil. Suruh dia—"

Seketika itu juga, panggilan terputus menjadi dengung panjang, dan seluruh lampu di unit apartemen itu mati total. Kegelapan pekat menyapu setiap sudut ruangan dalam sekejap.

"Ma? Mama?"

Tristan menurunkan ponselnya. Layar ponsel menunjukkan sinyal yang hilang sepenuhnya. Ia berdecak pelan, mengutuk dalam hati. Tanpa membuang waktu, ia menggeser layar untuk menyalakan lampu senter ponselnya dan cahaya putih terpancar di koridor.

Ingatannya langsung tertuju pada satu hal. 

Tristan memutar badan, melangkah cepat membelah koridor menuju unit apartemennya. "Anaia?" panggilnya. Suaranya bergema samar di antara deburan air hujan yang belum reda.

Tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Cahaya senter dari tangannya menyapu kamar—memantul di atas kasur yang kosong, meja kerja yang rapi, hingga akhirnya berhenti di sudut paling jauh, di antara celah tempat tidur dan dinding.

Di sana, di atas lantai, Anaia terduduk dengan lutut tertekuk rapat ke dada. Kedua tangannya meremas kuat kemeja yang ia kenakan, kepalanya terbenam di antara kakinya. Tubuhnya bergetar hebat

Tristan bergeming di ambang pintu. Membeku.

Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, tertegun melihat pemandangan di depannya. Yang tersisa hanya keheningan kaku di antara mereka dan benturan keras petir yang kembali bergema jauh di luar.

Perlahan, senter di tangannya menurunkan arah sorotnya ke lantai agar tidak menyilaukan mata Anaia. Tristan melangkah mendekat. Setiap gerakannya pelan dan hati-hati

Ia perlahan membungkuk, berlutut di sebelah Anaia, membuat matanya sejajar dengan kepala wanita itu yang masih terbenam.

"Anaia..."

Anaia tidak mendongak, namun getaran di bahunya makin menjadi-jadi saat suara guruh lain menyambar pelan dari kejauhan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tristan melingkarkan kedua tangannya ke tubuh kecil itu... lalu menarik Anaia ke dalam pelukannya.

-----

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Bermain-main

    Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Kenapa Harus Peduli?

    Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunj

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Dinginnya Malam

    "Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Celaka!

    Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Pria Itu

    Pria itu menatap Anaia dengan ekspresi tak terbaca, sementara Anaia tampak canggung.“Eh, K-Kak–”Tanpa menunggu Anaia menyelesaikan ucapannya, pria itu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Anaia yang masih berdiri di lorong depan unit apartemennya.Pikirannya melayang pada kejadian di koridor sore kemarin. Ia berkali-kali menggeleng dan mendesah kesal, mencoba mengusir bayangan di bibirnya.Niatnya untuk langsung bersih-bersih menguap. "Kok bisa... dia tinggal di sini juga?" gumamnya lirih.—---Spanduk besar "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di lapangan utama. Anaia mendongak dengan napas terengah-engah setelah berlari mati-matian mengejar gate yang hampir ditutup. Dengan pita biru tua fakultas teknik di lengan, ia menyelinap masuk ke barisan kelompoknya.“Erin, ya?” ucap gadis berkuncir kuda di sebelahnya.“Bukan. Bukan Erin.” jawab Anaia.“Aku Erin!” Gadis di sebelah kirinya mengangkat tangan lalu menjabat heboh gadis pertama.“Yang di grup, kan? Ah... beda ya sama

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Pertemuan Kedua

    Gadis itu bisa merasakan tubuh pria tinggi itu membeku seketika. Ia sempat melihat manik mata si pria asing yang berwarna cokelat gelap menatapnya, sebelum kemudian Anaia memejamkan mata rapat-rapat.“An, kamu–”Gendang telinga Anaia menangkap suara Dean tepat beberapa meter di belakang mereka. “Permisi, Mas.” Tak lama, Anaia mendengar Dean kembali berucap. Kali itu, suaranya sudah jauh lebih tenang, tidak lagi nyaring seperti sebelumnya. Begitu Anaia mendengar langkah kaki Dean menjauh, ia buru-buru menarik tubuhnya mundur. Kakinya yang lemas hampir saja membuat posisinya oleng. Dengan napas terengah-engah, Anaia menundukkan kepala dalam. "Maaf..." bisik Anaia lirih. “Maaf, Kak, aku–”Ucapan Anaia berhenti saat ia melihat sepasang mata tajam itu menatapnya, tampak dingin dan menyeramkan.Anaia langsung menundukkan kepala, bersiap menerima hinaan atau apa pun. Akan tetapi, pria asing itu justru memutar tubuhnya dan melangkah pergi ... meninggalkannya di sana.------Langkah kaki A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status