FAZER LOGINMasa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.
“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.
“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”
“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”
Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.
“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”
Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.
“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.
Dugaan Anaia tepat. Tristan Putra Adyatma—komdis galak di kampusnya—adalah anak kandung Bu Rhea.
Tristan tak menghiraukan ibunya dan terus melangkah menuju pintu depan.
“Tristan.”
“Nggak lapar, Ma.”
“Mama bilang ke sini.”
Usai tatapan sengit sang ibu, Tristan akhirnya menurut. Suasana meja makan mendadak kaku, hanya diisi denting sendok. Tristan menatap Anaia dingin, membalik piringnya, lalu mulai makan tanpa bersuara.
“Jadi... gimana? Kalian udah ketemu, kan?” tanya Bu Rhea membuka percakapan. Ia tahu mereka bertetangga di apartemen miliknya. “Anaia ini pinter banget loh, Tris. Dia masuk UCM jalur beasiswa. Padahal kamu tahu kuotanya nggak banyak.”
“Hmm.” Tristan bergumam dingin.
“Jadi kalian udah ketemu di kampus? Anaia... gimana, Tris? Lancar, kan?”
Tristan memicing sinis ke arah Anaia. “Nyusahin.”
Anaia tersedak napasnya sendiri dan buru-buru meminum air. Tubuhnya menegang, takut kejadian di koridor terbongkar.
“Baru masuk hari pertama udah hampir pingsan,” sahut Tristan santai.
Anaia bernapas lega.
“Aduh, kok bisa, An? Kamu belum sarapan?” tanya Bu Rhea cemas.
“Anaia... punya anemia, Bu. Kebetulan hari pertama haid juga. Jadi ya... begitu,” potong Anaia membela diri.
“Hmm... jadi kamu apain dia sampai begini? Kamu pasti suruh-suruh Anaia dengan tugas berat, kan, Tristan? Mama udah denger ya dari teman-teman kamu kalau di kampus kamu itu galak. Tris, jawab—”
“Bu Rhea... Kak Tristan yang tolong Anaia. Dia nggak galak, kok,” potong Anaia cepat.
Gerakan sendok Tristan terhenti. Ia mematung menatap piringnya.
“Benar, itu?” Bu Rhea memastikan.
Anaia mengangguk. Ia mengingat cerita Deby di UKS bahwa Tristan yang menggendong dan menunggunya.
Malam makin larut. Pukul delapan, Anaia berpamitan. Namun Bu Rhea mencegahnya.
“Tris, kamu juga mau ke apartemen, kan? Antar Anaia sekalian, ya.”
Tristan menghela napas kesal. “Tapi, Ma...”
“Dia tinggal di seberang unit kamu.”
“What? Mah, Kok bisa?” Tristan berkerut curiga, namun tatapan tajam ibunya menyuruhnya diam.
“Oke,” ucapnya pasrah.
Bu Rhea tersenyum puas lalu menggenggam tangan Anaia. “Hati-hati, ya.”
Anaia mengekor di belakang Tristan menuju parkiran. Tristan menyodorkan helm tanpa bersuara. Motor besar itu membelah jalanan malam Jakarta dengan kecepatan tinggi, membuat Anaia terpaksa memegang erat jaketnya.
Di tengah jalan, hujan deras mengguyur Sudirman. Angin dingin menusuk tulang. Tanpa jas hujan, Tristan menerobos lebatnya air hingga mereka tiba di basement apartemen dalam keadaan basah kuyup.
Air menetes dari pakaian mereka saat berjalan melintasi koridor dingin.
“Jangan geer, ya. Ini terakhir kalinya kamu bisa merepotkan. Mama yang suruh, jangan salah paham,” ucap Tristan sinis saat pintu lift terbuka di lantai dua belas.
Anaia mendesah tak terima, lalu mempercepat langkahnya.
“Aku nggak salah paham,” potong Anaia. “Soal yang di kampus kemarin... aku beneran minta maaf. Aku cuma panik dan nggak ada pilihan lain—”
Tristan berhenti mendadak lalu berbalik tajam.
“Panik terus bisa sembarangan nyeret orang ke masalah kamu?” tembak Tristan dingin. “Dan kamu pikir aku peduli?”
“Tristan, aku cuma—”
“Jangan pernah libatkan aku lagi sama urusan nggak jelas kayak gini,” potong Tristan tanpa ampun, lalu berjalan ke pintu unitnya.
“Tristan.” panggil Anaia kesal.
Namun, langkah Anaia terhenti di depan unit nomor 11. Tangannya meraba pinggang. Tas selempang berisi ponsel, dompet, dan kartu aksesnya tertinggal di sofa rumah Bu Rhea.
Anaia panik melihat Tristan yang sudah berdiri di depan pintu unit 17. Dengan ragu, ia melangkah mendekat.
“Tristan.” ucap Anaia terengah dengan suara menciut.
Tristan menoleh malas, tangannya sudah memegang gagang pintu.
“Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses...” ucap Anaia memohon.
Tristan terpejam rapat dan menghela napas berat. Ia menyandarkan badan ke dinding koridor, menatap Anaia kesal, namun di saat yang bersamaan seolah berusaha menahannya.
—--
Layar ponsel yang menampilkan ancaman Dean terus terngiang di kepala Anaia sepanjang sisa kuliah sore. Fokusnya buyar total. Dosen di depan kelas yang menjelaskan teori pengolahan limbah sama sekali tak masuk ke dalam kepalanya."An, lo.. kenal dekat sama Kak Tristan, ya?" bisik Erin tiba-tiba dari sampingnya, menyikut lengan Anaia pelan.Anaia tersentak. "Hah? Eng-enggak. Kenapa emang?""Nggak sih, lo.. agak merinding aja dari tadi. Anak-anak senior di barisan panitia pada lihat kelompok kita terus. Terutama Kak Tristan," desis Erin sambil pura-pura mencatat slide. "Hati-hati deh, An. Kak Tristan itu terkenal dingin banget, tapi pengagumnya banyak. Banyak cewek senior yang naksir tapi mental semua.."Anaia makin meremas penanya. Bukan cuma Tristan, batinnya pahit. Ada satu orang lagi yang lebih mengganggunya. Seserang yang siap bikin hidupnya hancur.Pukul empat sore, perkuliahan berakhir. Mahasiswa berhamburan keluar gedung. Anaia sengaja mengulur waktu di dalam kelas hingga ruangan
Cengkeraman tangan Tristan di pergelangan Dean begitu kuat hingga Anaia bisa melihat jari-jari Tristan yang menegang. Sementara Dean meringis pelan, matanya melotot menatap Tristan yang berdiri menjulang di sampingnya."Gue tanya sekali lagi," suara Tristan rendah, tapi sarat ancaman. "Kalau dia memang mainan gue, apa urusannya sama lo?""Tristan..." gumam Anaia tercekat. Punggungnya masih merapat ke dinding beton koridor, jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar.Dean berusaha menarik tangannya, tapi kuncian Tristan tak bergeming sedikit pun. "Lepasin. Ini urusan gue sama Anaia. Lo nggak berhak ikut campur karena lo nggak tahu apa-apa !"Tristan tertawa sinis. "Memangnya gue peduli?" Bukanya melepas, kini tangannya justru semakin kuat mencegkeram Dean. "Gue sama sekali nggak peduli urusan apa yang lo maksud tadi." Tristan menghempaskan tangan Dean ke udara hingga pria itu terseret satu langkah ke belakang. Tristan melangkah maju, memangkas jarak sampai D
Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam
Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunju
"Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac
Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan







