مشاركة

Pertemuan Kedua

مؤلف: zuyyinald
last update تاريخ النشر: 2026-09-28 11:11:35

Gadis itu bisa merasakan tubuh pria tinggi itu membeku seketika. Ia sempat melihat manik mata si pria asing yang berwarna cokelat gelap menatapnya, sebelum kemudian Anaia memejamkan mata rapat-rapat.

“An, kamu–”

Gendang telinga Anaia menangkap suara Dean tepat beberapa meter di belakang mereka. 

“Permisi, Mas.” Tak lama, Anaia mendengar Dean kembali berucap. Kali itu, suaranya sudah jauh lebih tenang, tidak lagi nyaring seperti sebelumnya. 

Begitu Anaia mendengar langkah kaki Dean menjauh, ia buru-buru menarik tubuhnya mundur. Kakinya yang lemas hampir saja membuat posisinya oleng. Dengan napas terengah-engah, Anaia menundukkan kepala dalam. 

"Maaf..." bisik Anaia lirih. “Maaf, Kak, aku–”

Ucapan Anaia berhenti saat ia melihat sepasang mata tajam itu menatapnya, tampak dingin dan menyeramkan.

Anaia langsung menundukkan kepala, bersiap menerima hinaan atau apa pun. 

Akan tetapi, pria asing itu justru memutar tubuhnya dan melangkah pergi ... meninggalkannya di sana.

------

Langkah kaki Anaia menyeret pelan di atas trotoar yang lengang. 

Pedestrian kawasan itu tampak begitu sunyi, dinaungi rimbun pepohonan kota yang bergeming kaku tanpa diusap angin. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memancarkan pendar kuning yang memantulkan bayangannya sendiri. Tidak ada riuh pejalan kaki lain, tidak ada percakapan santai—hanya ada dirinya sendiri. 

“Bodoh, bodoh….”

Ia terus-menerus merutuki dirinya.

Kesialannya ternyata tidak berhenti dengan sebuah pertemuan dari mantan kekasihnya yang gila, tapi juga berlanjut sampai ia mencium pria asing entah siapa. Meski bagian terakhir itu memang kesalahannya sendiri.

Tapi itu jugalah yang paling menghantamnya saat ini. Perasaan malu dan hina atas tindakannya menyeret orang asing masuk ke masalahnya. 

Bagaimana ini? 

Ia harus bagaimana setelah ini? 

Bagaimana kalau mereka semua bertemu lagi di masa depan? Bagaimana jika Anaia tanpa sengaja telah menyenggol salah satu putra konglomerat berpengaruh di kampus itu dan membuatnya kehilangan beasiswa?

Bagaimana jika nantinya Dean dan pria asing itu terlibat perkelahian–atau yang lebih buruk lagi, sepakat membuat hidup Anaia sengsara selama perkuliahan?

Anaia menggigit bibirnya kuat-kuat, hanya untuk menghilangkan rasa kebas yang menjalar hingga ke sampai ke tenggorokannya.

Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar. Anaia merogoh dan menatapnya lama.

“Ya, Bu?” Anaia berucap setelah menekan opsi jawab.

“Kamu sudah selesai urusan kampusnya? Ke tempat kerja Ibu, ya. Ini... Ibu sudah mau selesai, kok.”

Anaia menghirup napas dalam-dalam, lalu memaksakan sebuah senyum meski tidak bisa dilihat oleh ibunya. 

“Ya, Bu. Anaia ke sana. Udah selesai kok semuanya.”

Ia kembali menaiki bus untuk menuju kawasan perumahan elit, sesuai alamat yang dikirimkan ibunya.

Setelah berjalan selama sekitar dua puluh menit dari halte terdekat, sampailah ia di sebuah gerbang besi menjulang tinggi. Ini adalah tempat ibunya bekerja sebagai kepala asisten rumah tangga. 

Bangunan utama bergaya modern minimalis itu berdiri anggun di tengah halaman rumput yang luas dan tertata rapi. Hanya berselang beberapa meter dari sana—masih di dalam pagar dan halaman yang sama—berdiri sebuah paviliun khusus yang menjadi tempat tinggal Marni dan Anaia. Meski berdampingan rapat, kemewahan rumah majikannya itu tetap memberi jarak yang canggung bagi Anaia. 

Sebelum menginjakkan kaki di area dalam, Anaia berhenti di dekat bak cuci tangan outdoor. Ia membasuh mukanya berulang kali dengan air dingin, berusaha menghilangkan bekas sembab dan memutar ingatan pahit tadi jauh-jauh. Setelah memastikan penampilannya tidak lagi berantakan dan bajunya rapi, ia melangkah masuk ke salah satu pintu samping.

Sesosok wanita paruh baya bermuka ramah langsung menyambutnya dengan senyuman. “Anaknya Bu Marni, ya?”

“Eh, iya, Bu.”

“Masuk saja, ada di ruang tengah lagi beberes.”

Anaia melangkah canggung. Setiap detail ruangan yang ia lewati membuatnya terpana. Marmer mengkilap,, lampu kristal gantung yang elegan, serta deretan lukisan berbingkai emas membuat rumah ini lebih pantas disebut hotel bintang lima—atau mungkin malah lebih mirip istana.

“Ibu!” sambut Anaia yang setengah berlari dan menghambur memeluk Marni dari belakang.

“Ssst! Eh, kamu ngagetin Ibu saja. Jangan kenceng-kenceng suaranya, An. Nggak enak sama Bu Rhea,” bisik Marni pelan sambil menepuk lengannya.

“Hehe... habisnya Ana kangen, Bu.”

Ibunya menggeleng heran, menatap anak gadisnya dengan raut geli. “Biasanya nggak pernah bilang begitu kamu,” cibir Marni pelan. “Pulang sekarang kita?”

Belum sempat Anaia menjawab, ketukan langkah kaki yang teratur menggema dari arah tangga utama. Di saat yang bersamaan, siku Anaia tidak sengaja menyenggol sebuah figura foto di atas meja. Bingkai itu terjatuh dengan bunyi gemeretak pelan. 

Anaia berjengkit. Dengan cepat ia membetulkan posisi bingkai itu kembali ke tempat semula, lalu menegakkan tubuhnya sembari memasang senyum canggung.

“Eh... siapa ini?” gumam wanita itu pelan. 

Marni yang berniat meletakkan alat kebersihan yang baru saja ia gunakan langsung menghentikan aktivitasnya seketika. Marni mengusap tangannya ke apron, lalu berjalan cepat menghampiri wanita yang baru saja turun dan berdiri di sana.

“Maaf, Bu Rhea. Saya... nggak mengabari Ibu dulu. Ini anak saya, Anaia. Dia baru saja dari kampus dan menjemput saya ke sini.”

Wanita paruh baya yang dipanggil Bu Rhea itu berdiri anggun di ambang pintu lounge. Penampilannya sungguh menawan untuk usianya. Anaia bisa melihat kulitnya bersih terawat, rambutnya ditata ikal halus yang jatuh elegan di pundak, serta pakaian rumah bernuansa pastel yang memancarkan aura kemewahan tanpa perlu berusaha keras. Senyum di bibirnya tampak tenang sekaligus lembut.

“Oh... yang... kuliah di UCM juga, ya?” Wanita itu mendekat beberapa langkah.

Anaia secara refleks menundukkan kepalanya sopan. “Iya, Bu.”

“Siapa tadi namanya?”

“Anaia.”

Wanita itu tersenyum. Ada sorot mata yang dalam dan hangat, membuat Anaia merasa dibaca lebih dari seharusnya oleh wanita yang tinggi semampai itu. Tangan Rhea terulur lembut, mengusap pundak Anaia pelan. “Cantik.”

Anaia mengangguk canggung, menyembunyikan rasa gugupnya.

“Makasih... Bu.”

“Oh ya, Anaia. Anak saya juga kuliah di sana. Jurusannya sama dengan kamu. Mungkin.. dua tingkat lebih tinggi.” Rhea menatap Anaia sebentar, lalu beralih menatap Marni.

Anaia hanya mengangguk. Ia bisa menebak betapa Tristan pasti punya penampilan yang tak jauh berbeda dengan ibunya. 

Anaia tidak menyangka Bu Rhea akan bersikap semanis ini. Ia jadi tidak lagi merasa canggung dan takut karena wanita ini punya aura yang menenangkan, sama sekali tidak mengintimidasi seperti kebanyakan orang kaya yang dikenalnya.

“Marni,” panggil Rhea santai saat mereka akhirnya berbalik menuju pintu setelah berpamitan pulang.

“Ya, Bu?”

Bu Rhea menghampiri keduanya. “Saya punya satu unit apartemen yang di dekat kampus UCM itu kan sedang kosong. Dulu ada penghuninya, tapi sekarang sudah pindah. 

Wanita itu kembali bergumam. “Hmm.. tapi tempatnya tetap harus ada yang menempati supaya tidak berdebu dan terbengkalai.”

Marni mengerutkan dahi, tampak ragu. “Maksudnya bagaimana, Bu Rhea?”

Rhea kembali menatap Anaia dengan binar ramah. “Maksud saya.. daripada Anaia harus bolak-balik naik angkutan umum, bukannya lebih baik Anaia tinggal di apartemen itu saja. Lumayan, kan, bisa hemat waktu dan tenaga untuk kuliah.”

Anaia terbelalak, buru-buru menggelengkan kepala. “Eh, nggak usah, Bu. Nanti malah merepotkan. Saya bisa naik transportasi umum, kok.”

“Sama sekali nggak merepotkan, Anaia,” potong Rhea lembut.

“Kamu nggak perlu memusingkan biaya sewa atau apa pun. Biaya pemeliharaan tetap dari saya. Yang perlu kamu lakukan cuma satu. jaga tempat itu, urus baik-baik agar tetap terawat dan tidak terbengkalai. Lagipula, Marni sudah seperti keluarga sendiri buat saya..”

Sorot mata wanita di hadapannya kembali jatuh di mata Anaia, dalam. Seperti sedang mencoba menelusuri wajahnya, seperti ada sesuatu yang sedang ia coba terjemahkan. Tapi lagi-lagi Anaia masih tidak mengerti.

Marni menatap anaknya lalu menatap majikannya dengan rasa haru yang tak tertahan. “Terima kasih banyak, Bu Rhea. Maturnuwun sanget...”

Rhea membalasnya dengan senyuman hangat, menuntaskan tawaran yang tak bisa ditolak itu dengan satu tepukan pelan di bahu Anaia.

Ia hanya menatap ibunya dengan sorot bingung, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

------

Pagi baru saja terbit ketika Marni dan Anaia tiba di gedung apartemen megah yang berjarak hanya sepuluh menit dari kampus UCM. Sepanjang perjalanan, ibunya tidak berhenti berbicara.

“Nanti kalau sudah di dalam, langsung sapu sama lap ya, An. Jangan biarkan ada debu sedikit pun.” Ibunya berkata. “Ingat, Bu Rhea itu sudah baik sekali sama kita. Kamu harus berterima kasih dan berbuat baik. Jangan aneh-aneh di sini, jaga kebersihan tempat orang. Ingat budi baik beliau, ya?”

“Iya, Bu. Ibu sudah bilang ini seratus kali,” jawab Anaia pelan. 

Sesampainya di gedung, ibunya langsung pamit karena harus memasak untuk majikannya.

Sementara itu, Anaia menekan lift  ke lantai nomor 12.

Bunyi denting nyaring menandakan lift telah sampai di lantai tujuan. Pintu besi tu terbuka, memperlihatkan koridor apartemen yang tenang.

Anaia melangkah keluar, mengagumi interior sekelilingnya sembari menggeret kopernya. 

“Nomor 12, nomor 12,” gumam Anaia, mencari nomor kamar apartemennya. “Ah, ini–”

Tiba-tiba, pintu di seberang unit apartemen yang akan dihuninya terbuka, membuat Anaia menoleh.

Tubuhnya mendadak membeku. 

Di hadapannya sekarang berdiri seorang pria dengan kemeja yang sedikit tergulung di bagian lengan. Wajah bergaris rahang tegas itu tampak dingin dan angkuh.

Pria yang sama, yang ia seret ke dalam ciuman lancang di koridor di hari penerimaannya kemarin!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Bermain-main

    Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Kenapa Harus Peduli?

    Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunju

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Dinginnya Malam

    "Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Celaka!

    Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Pria Itu

    Pria itu menatap Anaia dengan ekspresi tak terbaca, sementara Anaia tampak canggung.“Eh, K-Kak–”Tanpa menunggu Anaia menyelesaikan ucapannya, pria itu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Anaia yang masih berdiri di lorong depan unit apartemennya.Pikirannya melayang pada kejadian di koridor sore kemarin. Ia berkali-kali menggeleng dan mendesah kesal, mencoba mengusir bayangan di bibirnya.Niatnya untuk langsung bersih-bersih menguap. "Kok bisa... dia tinggal di sini juga?" gumamnya lirih.—---Spanduk besar "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di lapangan utama. Anaia mendongak dengan napas terengah-engah setelah berlari mati-matian mengejar gate yang hampir ditutup. Dengan pita biru tua fakultas teknik di lengan, ia menyelinap masuk ke barisan kelompoknya.“Erin, ya?” ucap gadis berkuncir kuda di sebelahnya.“Bukan. Bukan Erin.” jawab Anaia.“Aku Erin!” Gadis di sebelah kirinya mengangkat tangan lalu menjabat heboh gadis pertama.“Yang di grup, kan? Ah... beda ya sama

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Pertemuan Kedua

    Gadis itu bisa merasakan tubuh pria tinggi itu membeku seketika. Ia sempat melihat manik mata si pria asing yang berwarna cokelat gelap menatapnya, sebelum kemudian Anaia memejamkan mata rapat-rapat.“An, kamu–”Gendang telinga Anaia menangkap suara Dean tepat beberapa meter di belakang mereka. “Permisi, Mas.” Tak lama, Anaia mendengar Dean kembali berucap. Kali itu, suaranya sudah jauh lebih tenang, tidak lagi nyaring seperti sebelumnya. Begitu Anaia mendengar langkah kaki Dean menjauh, ia buru-buru menarik tubuhnya mundur. Kakinya yang lemas hampir saja membuat posisinya oleng. Dengan napas terengah-engah, Anaia menundukkan kepala dalam. "Maaf..." bisik Anaia lirih. “Maaf, Kak, aku–”Ucapan Anaia berhenti saat ia melihat sepasang mata tajam itu menatapnya, tampak dingin dan menyeramkan.Anaia langsung menundukkan kepala, bersiap menerima hinaan atau apa pun. Akan tetapi, pria asing itu justru memutar tubuhnya dan melangkah pergi ... meninggalkannya di sana.------Langkah kaki An

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status