Beranda / Romansa / Ada Kembar Empat Di Balik Selimut / Part 5 Kesepakatan Dengan Sang Suami

Share

Part 5 Kesepakatan Dengan Sang Suami

Penulis: Luisana Zaffya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 09:00:08

Sendirian dan telanjang di balik selimut, pagi itu Rhea bangun dengan pegal di seluruh tubuh. Terutama di bagian pangkal pahanya. Ia belum pernah bangun dengan tubuh separah ini seumur hidupnya. Dario benar-benar tak memberinya jeda untuk beristirahat, memaksanya untuk melayani hasrat pria itu yang tak ada habisnya.

Cahaya terang dari dinding kaca di samping mengejutkannya. Tubuhnya terlonjak bangun dan menyambar ponsel di nakas. Jam tujuh, ia harus segera ke rumah sakit dan langkahnya membeku menemukan sebuah kartu di meja. Berwarna hitam dengan inisial DC.

Rhea mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan tak menemukan tanda-tanda keberadaan pria itu. Wanita itu pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengenakan pakaian di dalam kantong putih yang ada di atas meja, lengkap dengan pakaian dalam dan flat shoes yang pas di kakinya. Tanpa memikirkan bagaimana semua itu pas di tubuhnya, Rhea bergegas turun dan mendapatkan taksi yang membawanya ke rumah sakit.

“Maafkan aku, Rhea.” May menggeleng pelan, tatapan tak berdaya dan penuh simpati itu menyambut Rhean begitu masuk ke ruang perawatan Enrio.

Kedua kaki Rhea melemah, air matanya jatuh. Tetapi kakinya masih berjalan ke samping ranjang Enrio. Menatap pria itu yang masih terpejam erat. “Aku akan bicara dengan dokter Miller. Sekali ini saja.”

May menggeleng lagi. Memegang pundak Rhea dan meremasnya pelan. “Dokter Miller mengatakan tidak bisa membantu lagi. Kondisinya semakin hari semakin buruk.”

Tubuh Rhea jatuh terduduk di kursi. Menggenggam tangan Enrio yang dingin. “Tapi dia masih hidup.” Suaranya mulai terisak.

“Rumah sakit sudah melakukan yang terbaik. Begitu pun dengan para dokter. Napasnya hanya mengandalkan semua mesin ini. Kemungkinan untuk bangun juga sangat sedikit. Nyaris tidak ada.”

“Dia masih bernapas dengan mesin ini, kan? Kalau begitu biarkan dia bernapas …”

“Semuanya tergantung padamu, Rhea. Mungkin memang sudah saatnya kau harus melepaskannya. Sudah tiga bulan kau tidak membayar …”

Rhea menggeleng, dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya. Kemudian ia teringat kartu yang ditinggalkan Dario. Kedua tangannya bergerak-gerak merogoh saku bajunya. Mengeluarkan ponsel dan kartu itu masih ada di sana. “Gunakan ini.”

May mengernyit, menatap kartu berwarna hitam metalik yang diulurkan Rhea padanya. “Apa ini?”

Rhea merasakan kelegaan yang teramat luar biasa begitu kartu hitam tersebut digesek, pembayaran disetujui dan semua biaya perawatan Enrio yang tertunggal seketika terlunasi. Tetapi ia harus segera mengembalikan kartu tersebut pada Dario. Gajinya bulan ini juga baru masuk ke rekeningnya, ia akan menggunakan pembayarannya tersebut untuk melunasi uang yang digunakan rumah sakit.

*** 

Pekerjaannya selesai lebih cepat dan Shalen tidak memberinya tugas-tugas yang membuatnya harus terjebak di kantor. Jadi ia meninggalkan meja kerjanya tepat jam lima sore, berjalan ke basement dan menunggu di tempat parkir khusus, melihat mobil Dario yang masih terparkir di sana. Artinya pria itu belum meninggalkan gedung.

Hampir dua jam Rhea menunggu dengan panik, ia harus segera pulang tetapi juga harus mengembalikan kartu Dario. Pandangannya mengamati mobil-mobil di basement yang sudah sunyi tersebut. Sepertinya semua karyawan sudah meninggalkan kantor, tak lebih dari sepuluh mobil yang tersisa. Dan tampaknya semuanya berwarna hitam dan satu model.

Rhea melirik jam di ponsel. Setengah jam lagi, jika Dario belum muncul juga, mungkin ia akan mencoba peruntungan besok atau kegilaan mengharuskannya menemui pria itu di ruangannya di lantai atas. Tapi tak akan melakukannya. Tidak sembarang orang yang bisa naik ke ruangan tersebut.

Baru saja pikiran itu muncul di benaknya, pintu lift di samping kirinya berdenting terbuka dan satu-satunya penghuni adalah Dario. Jantung Rhea berdetak kencang, kakinya hampir melumpuh dengan tatapan tajam pria itu yang langsung mengarah padanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Seorang pria tinggi besar tiba-tiba berdiri di samping Rhea yang terkejut, hendak bergerak menghadang wanita mungil itu sebelum tangan Dario terangkat dan pria besar serta tiga yang lainnya menjauh.

“Ada apa?”

Perhatian Rhea teralih dari empat pengawal Dario pada sang tuan. Mengulurkan kartu yang sudah disiapkannya di tangan. “Aku ingin mengembalikan ini.”

Dario mendengus. “Aku yakin wanita itu tidak memberimu sepeser pun, kan? Dan tampaknya kau begitu membutuhkan uang hingga harus dijual seperti itu.”

Rhea menelan ludahnya. Ia memang membutuhkan uang. Sangat membutuhkan. Tapi …

“Lagipula aku memberiku itu untuk berjaga-jaga.”

“Berjaga-jaga?”

Dario maju dua langkah, merangkum sisi wajah Rhea dan ibu jarinya mengusap bibir lembut wanita itu dengan lembut. “Aku tak suka istriku menjual tubuhnya hanya demi bertahan hidup. Jadi dapatkan saja itu dariku.”

Rhea merasa harga dirinya dikoyak, tetapi itulah yang dirinya lakukan. Bahkan tak ada penolakan apa pun saat bibir pria itu menggantikan ibu jari di bibirnya. Menyapukan lumatan yang panjang.

“Rasanya masih manis,” bisik Dario. Hanya satu ciuman dan gairahnya tersulut begitu saja. “Kita pergi sekarang.”

Mata Rhea menbelalak, tubuhnya diseret menuju mobil Dario. “Pergi?”

“Kau tak berpikir semua pembayaran kemarin hanya untuk satu malam, kan?”

Rhea menelan ludahnya. Tubuhnya jatuh terduduk di jok depan dan dalam sekejap, Dario sudah duduk di sampingnya. Betapa bodoh dirinya berpikir kalau semua pembayaran tersebut hanya untuk satu malam.

“Di mana kau tinggal?”

Pertanyaan Dario mengejutkan lamunan Rhea. Tempat tinggal? Seluruh tubuh Rhea membeku. Tidak, Dario tidak boleh tahu tempat tinggalnya.

“Sangat merepotkan jika harus ke hotel setiap aku ingin menggunakanmu.” Dario melirik wajah pucat Rhea. “Dan akan lebih repot lagi jika seseorang melihatku keluar hotel bersamamu, kan?”

Rhea menelan ludahnya yang terasa pekat. Ah, ya. Dario menikahinya hanya untuk menyiksa Enrio. Tak ada siapa pun yang tahu mengenai pernikahan mereka, yang tentu saja akan mencoreng wajah pria itu.

“Tapi sepertinya itu juga bukan tempat yang bagus, kan?” Dario mengamati penampilan Rhea dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sangat jauh berbeda dibandingkan penampilan wanita itu tiga tahun yang lalu. “Gunakan kartu itu untuk mendapatkan tempat dengan privasi yang bagus. Aku tak ingin ada gosip yang beredar karena keamanan tempat tinggalmu yang tidak memadai.”

Rhea tak menjawab. Wajahnya yang tertunduk menatap kartu yang tergenggam erat di tangannya. Ia juga membutuhkan tempat yang bagus agar ibu tirinya tidak kembali menemukan anak-anaknya. Dan begitu saja kesepakatan itu terjadi. Ia harus menjual tubuhnya pada suaminya sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 4

    Dario mendengus tipis dan memalingkan mukanya. “Kau sama sekali tak menarik untuk mendapatkan perhatianku, Angela.” “Kau akan memberikannya padaku, kan? Atau setidaknya meminjamkannya untukku?” tanya Angela pada Rhea. Kemudian suaranya berubah penuh permohonan dan kedua tangan di depan dada. “Aku berjanji akan bersikap lebih baik pada mantanmu dan ini terakhir kalinya aku membeli tas itu.” “Jangan coba-coba kau, Rhea,” hardik Dario. “Itu hadiah dariku? Suamimu. Dia bukan siapa-siapamu.” Rhea menatap Dario dan Angela bergantian. “Aku tak mungkin menggunakan semuanya, Dario. Warna dan modelnya sama.” “Apa?!” Angela melompat berdiri. Matanya membeliak tak percaya saat menatap Dario dan Rhea? “Tiga-tiganya kau yang membelinya?! Dan itu hanya ada tiga di muka bumi ini.” Rhea hanya meringis malu. Ini bukan pertama kalinya Dario memberinya hadiah yang diincar oleh Angela. Tapi ia merasa curiga saat minggu lalu Dario

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 3

    Beberapa bulan kemudian … Begitu mobil berhenti, Dario lekas turun untuk membuka pintu penumpang. Menggunakan tangannya untuk dijadikan pegangan Rhea yang dengan hati-hati bergerak turun. “Sepertinya acaranya sudah dimulai.” Dario hanya membalas dengan gumaman kecil, pandangannya sibuk mengawasi kaki Rhea yang melangkah di sampingnya. Memastikan gaun panjang yang dikenakan wanita itu tidak membuat jalan wanita itu terganggu. “Kau tak mendengarku?” “Aku sudah bilang, seharusnya kau mengenakan gaun yang satunya lagi. Kita kembali ke mobil, tadi aku meminta pelayan meletakkannya di mobil untuk berjaga-jaga.” “Aku baik-baik saja, Dario.” “Bagaimana kalau gaunmu tersangkut di tengah-tengah kau melangkah, hah? Lalu kau jatuh dengan perut sebesar ini,” gerutu Dario. “Ini salahnya, menggelar pernikahan saat kau sedang hamil.” Rhea hanya menghela napas rendahnya. Tanganny

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 2

    “Sepuluh minggu tiga hari.” Dokter menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Angela. Yang masih tengah menggerak-gerakkan alat di kulit perutnya. Mendengarkan penjelasan dokter tentang berat, ukuran, dan bentuknya yang mulai sempurna. Juga gejala-gejala kehamilan yang mulai dirasakannya. Yang paling melegakan, kandungannya tumbuh dengan baik.“Setelah anak ini lahir, aku akan mempertimbangkan untuk bercerai denganmu. Dan kita akan membicarakan tentang kesepakatan apa pun …”“Apa maksudmu?” Langkah Enrio seketika terhenti, tubuhnya berputar menghadap wanita itu untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya adalah memang kata-kata yang baru saja diucapkan oleh wanita itu.“Aku hanya tak ingin keluargaku memanfaatkanmu lebih banyak lagi setelah perbuatan Paul pada anak Dario. Kali ini kesepakatan …”“Berhentilah bicara atau kau akan membuat anakku tertekan,” penggal Enrio dengan suara penuh penekanan.“A-apa?”“Bercerai

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Extra Part 1

    “Semuanya?”Eric mengangguk dengan mantap. “Ya, Tuan. Semuanya.”“Dan dia yang melakukannya?”“Ya, Tuan.”“Kenapa kau tidak bisa mempercayai kebaikan orang, Dario?” sela Rhea dengan nada gusar. “Orang, bukan Enrio,” koreksi Dario penuh penekanan. Lalu melemparkan tatapan tajam dan penuh curiganya pada Rhea. “Baru beberapa saat yang lalu kau mengatakan agar aku tak meninggalkanmu dan sekarang kau terdengar membelanya, Rhea. Apa yang dikatakannya padamu?”“Hanya beberapa hal.”“Dan apakah itu?”Rhea beralih pada Eric, yang kemudian berpamit keluar setelah mendapatkan tatapan tajamnya. “Aku tahu kau tak akan mempercayainya, jadi aku tak berminat mengatakannya padamu.”“Dan kau lebih mempercayai dia dibandingkan suamimu sendiri?”“Saat membicarakan soal kepercayaan, kau tahu aku lebih mempercayai Enrio, Dario. Kami saling mengenal sudah hampir sepuluh tahun, berkencan selama lima tahun s

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 68 Jangan Tinggalkan Aku (END)

    Ruangan tersebut begitu sunyi ketika Seth melangkah masuk. Ia menutup pintu dengan perlahan. Memastikan tak memecah kesunyian yang begitu pekat. Begitu melewati sekat kaca yang memisahkan ruang untuk pengunjung dan ruang perawatan, pandangannya langsung mengarah pada ranjang pasien yang di samping dinding kaca. Di sampingnya, Rhea duduk dengan kepala berbaring di tepi ranjang.Pamannya masih tampak begitu tenang dengan mata terpejam. Luka goresan kaca mobil yang mengenai wajah sempurna sang paman sudah mengering. Operasi tiga hari yang lalu juga berjalan dengan lancar meski sang paman sempat mengalami pendarahan yang begitu hebat. Kondisi vitalnya juga normal. Tetapi entah kenapa paman berengseknya itu tak juga membuka mata. Membuat Rhea lebih menderita lagi, yang tak bisa diterimanya.“Bangun, Rhea,” bisik Seth sambil menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.“Kau sudah datang lagi?” Rhea mengucek matanya dan menatap wajah Seth yang tampak sega

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 67 Akhir Keangkuhan Sang Mertua

    Suara tamparan tersebut bergema di seluruh ruangan. Menciptakan keheningan yang begitu menegangkan. Saat kepala Angela terdongak dengan pipi kanannya yang memerah, air mata menggenang di kedua mata.“Siapa yang menyuruhmu untuk bersikap lancang seperti ini, hah?” Mata Renata terlihat memerah, nyaris seperti darah. “Kau hanya perlu menjadi menantu yang patuh. Itu satu-satunya cara kau bisa bertahan sebagai istrinya. Saat Dario mati, kau tahu siapa yang akan menjadi penguasa Carlos Group, kan? Aku hanya perlu menjentikan jari untuk menghancurkan keluargamu.”“Kenapa kau masih tak menyadari posisimu, hah? Kau hanyalah pengganti. Kau hanyalah batu loncatan bagi putraku yang sangat berharga untuk sampai di puncak kejayaannya.” Renata menjambak rambut Angela hingga kepala wanita itu terdongak ke atas. “Hanya Rhea satu-satunya wanita yang akan membuat Enrio bahagia.”Air mata Angela mengalir lebih deras, meskipun begitu tak ada suara isakan yang keluar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status