Beranda / Romansa / Ada Kembar Empat Di Balik Selimut / Part 4 Seharusnya Tak Pernah Kembali

Share

Part 4 Seharusnya Tak Pernah Kembali

Penulis: Luisana Zaffya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 08:59:40

“Kau menyukainya?”

“Bukan tipeku, tapi aku sedang ingin mencoba sesuatu yang lain.”

Rhea berusaha membuang wajahnya ke samping ketika Mona memaksa kepalanya menghadap Dario. Memastikan pria itu melihat wajahnya.

“Berapa yang bisa kau berikan untukku?”

“Berapa yang kau inginkan?” Langkah Dario berhenti tepat di antara kedua wanita itu. “Juga kerugian karena dia kabur dari siapa pun itu.”

Mata Mona bersinar terang, melepaskan tangannya dari Rhea untuk mengambil ponselnya. “Seratus juta.”

Rhea membelalak dengan angka tersebut. Terlalu kecewa hanya demi angka itu, wanita itu menjual dirinya pada siapa pun.

Dario menyeringai. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. “Nomor?”

Mona mengucapkan deretan angka yang diketik oleh Dario diponselnya.

“Aku membayarnya sepuluh kali lipat. Sepertinya itu cukup untuk membuatmu berhenti mengusik hidupnya.” Dario menunjukkan angka satu dengan banyak nol di belakangnya. Yang membuat Mona membelalak penuh takjub.

Mata Mona bersinar dengan serakah saat tertawa dan mendorong Rhea pada Dario. “Kau bebas memilikinya sampai kapan pun, dan katakan kalau kau sudah mulai bosan dengannya.”

Dario menangkap pinggang Rhea sebelum wanita itu terjungkal.

“Aku harus menemui Anton dan mengembalikan uangnya. Kalian bisa pergi.”

Rhea masih tak berani menoleh ke samping meski Mona sudah menghilang dari tempat parkir tersebut. Tak tahu apa yang harus dikatakannya untuk semua uang yang dihamburkan Dario dengan begitu mudahnya pada keserakahan ibu tirinya tersebut. Terima kasih? Rasanya kata-kata itu tidak sepadan dengan uang satu milyar yang diberikan Dario.

“Kau hanya akan diam di sana?”

Rhea menoleh, melihat Dario yang sudah berdiri di samping mobil hitam yang terparkir di samping mereka.

“Aku membayarmu bukan untuk mengamati kau berdiri seperti patung saja, kan?”

Rhea segera tersadar. Menyadari betapa tolol dirinya berpikir pria itu membutuhkan kata terima kasih darinya. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak muncul …”

“Seribu kata maafmu tak ada gunanya. Sekarang kau kembali muncul di hadapanku.” Dario mendengus. “Jadi, apa boleh buat. Masuk.”

Rhea menelan ludahnya akan perintah yang tak bisa ditolaknya tersebut. Dengan langkah pelan, wanita itu membuka pintu penumpang dan naik ke dalam. Pakaiannya yang serba minim tersebut membuatnya sulit mendapatkan posisi duduk yang pas tanpa membuat tubuhnya terlihat telanjang. Belahan dadanya yang semakin turun saat ia mencoba menarik ujung minidress tersebut, tetapi saat menaikkan bagian atasnya, pahanya nyaris memperlihatkan celana dalamnya.

Dario mendecakkan lidah mengamati ketidak nyamanan Rhea. “Seperti ini caramu hidup?”

Rhea tak bisa menyangkal. Bagaimana cara mereka bertemu baru saja, memangnya apa lagi yang akan ada di pikiran pria itu. Transaksi yang dilakukan Dario dan Mona bukan nilai yang sedikit. Sekarang, ia tak peduli apa yang akan dilakukan Dario padanya. Jantungnya berdegup kencang ketika mobil berbelok ke area hotel. Gedung tinggi dan megah itu tak pernah terasa semenakutkan seperti yang dirasakannya saat ini.

Satu dua kali Rhea menghela napas tanpa suara untuk menenangkan perasaannya. Setidaknya Dario tidak setua teman Mona yang hidung belang itu. Hanya itu yang bisa dipikirkan kepalanya untuk membuatnya merasa lebih baik.

Dario turun lebih dulu, mengernyit melihat Rhea yang masih terduduk kaku dengan wajah pucat. “Turun.”

Rhea tersentak, menoleh pada Dario yang sudah membuka pintu di sampingnya. Tergelagap, dia mengajukan pertanyaan yang konyol. “D-di sini?”

“Kau berharap aku membawamu ke tempatku atau ada tempat yang lebih baik dari ini? Tempatmu mungkin?”

Wanita itu menggeleng dengan cepat. Tidak boleh di apartemennya. Dan gelengannya lagi-lagi mendapatkan cemooh dari Dario. Ia turun, membiarkan pria itu mengarahkan langkahnya memasuki lobi hotel. Berhenti sejenak di resepsionis dan masuk ke dalam lift yang membawa mereka langsung masuk ke dalam ruangan terbaik di gedung ini. 

“Jadi apa kelebihan yang kau miliki untuk memuaskanku?”

Wajah Rhea tak bisa lebih merah padam lagi dengan pertanyaan menohok tersebut. Kepalanya tertunduk dalam merasakan Dario yang berdiri di samping tempat tidur, yang dipenuhi dengan kelopak bunga mawar berwarna merah. Pria itu mulai melepaskan jaket dan melemparnya ke ujung ranjang, sementara tatapannya yang berhenti mengamati Rhea yang sibuk meremas ujung mini dressnya. Sibuk berpikir apa yang harus dilakukannya.

Dario mendecih, menyambar siku Rhea dan membawa wanita itu ke dalam kamar mandi, berhenti di bawah shower. “Pertama, kau harus membersihkan tubuhmu, aku tak suka meniduri wanita kotor yang sudah disentuh pria lain.”

Rhea tergagap saat air dingin mengguyur kepalanya. Saat kedua tangannya berusaha mengusap wajah, tangan Dario memutar tubuhnya dan menarik resleting di sepanjang punggungnya. Menurunkannya dengan satu sentakan lalu mendorong tubuhnya ke dinding.

“D-dario?” pekik Rhea meraskan dada Dario yang menghimpitnya.

“Ya.” Wajah Dario mulai tenggelam di cekungan lehernya. Menyapukan bibir di leher Rhea saat kedua lengannya mendekap tubuh telanjang wanita itu. “Nama itu yang seharusnya kau sebut saat aku memasukimu.”

Napas Rhea tersekat keras, air matanya luruh bersama air dingin. Tak ada jalan keluar baginya saat Dario berhasil menangkap bibirnya. Menciumnya dengan kuat dan membuatnya kehilangan ritme bernapasnya. Sesekali memberinya kesempatan untuk mengambil napas saat bibir pria itu bermain-main di leher dan dadanya. Sesekali ia mengernyit dengan remasan kasar tangan pria itu dada dan pantatnya. Saat napas pria itu mulai memberat, Dario mengangkat pinggang Rhea dan melingkarkan kedua kaki wanita itu di pinggangnya. Memaksa Rhea memegang tubu Dario agar tidak terjatuh.

“Berapa banyak pria yang sudah menikmati tubuh ini, eh?” Mata Dario terbuka, mengunci kedua mata Rhea yang dibasahi air mata dan air dingin. Ck, apakah berwajah seperti itu akan membuatnya berhenti? Tentu saja tidak. Ia sudah sejauh ini, hasratnya sudah sampai di ubun-ubun. Hanya butuh satu dorongan, dan tubuh keduanya menyatu. Satu fakta bahwa dirinya adalah pria pertama wanita ini sudah membuatnya cukup puas.

Ada keterkejutan yang melintasi wajah wanita itu, sebelum kemudian dirinya kembali melumat bibir Rhea dan memejamkan mata. Menikmati setiap kehangatan yang mulai memenuhi dirinya, menghujam lebih ke dalam di tubuh wanita itu.

Satu pekikan sempat lolos dari bibir Rhea, tetapi kemudian dibungkam oleh pagutan dalam Dario. Mata pria itu sempat terbuka, menatap kesakitan yang muncul di wajah Rhea, tetapi hasratnya sudah diujung, dan ia tak akan berhenti hanya karena wanita itu tidak merasa nyaman, kan? Ini salah satu cara yang bisa dipikirkannya untuk menyiksa wanita itu. Seharusnya Rhea Andrea memang tak pernah kembali ke hidupnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 50 Sumpah Enrio

    ‘Bagaimana cara dia terlibat dengan proyek itu?’ Rhea menarik napas dengan perlahan. ‘Awasi saja perkembangannya. Pastikan saja dia tidak mengambil manfaat yang tak dibutuhkan hanya karena pernikahan Angela dan Enrio.’Rhea mengetuk pintu setelah Dario mengakhiri panggilan tersebut. Mendorong pintu dan berjalan masuk dengan ketenangan yang terjaga. “Makan malammu.”Dario menutup berkas dan mematikan layar komputer. Menyingkirkan semua yang ada di depannya untuk nampan yang dibawa Rhea. “Anak-anak?”“Sudah tidur setelah makan.”Dario mengangguk singkat. Menangkap lengan Rhea sebelum membalikkan badan. “Temani aku.”Rhea membeku, memberikan satu anggukan dan duduk di kursi di depan meja. Tak ada perbincangan apa pun selama Dario menandaskan isi piring dan cangkir kopinya. “Aku akan membawanya ke dapur.”“Biarkan saja.”Rhea kembali duduk di kursinya. Dario meletakkan nampan tersebut ke sudut meja, menatap lurus p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 49 Ibu Enrio

    Angela mengernyit, menatap Enrio yang memberinya anggukan singkat sebelum kemudian berpaling pada Rhea. Yang sama terkejutnya dengan Angela.Rhea menatap wanita paruh baya tersebut. Sejak mengenal Enrio dan berhubungan dengan pria itu, Enrio memang cukup tertutup tentang ibunya. Dan dari gosip yang pernah didengar dan tak sepenuhnya ia percaya, mengatakan bahwa ibu Enrio sudah mati dalam sebuah kecelakaan. Bahkan ada yang mengabarkan kalau wanita itu telah bunuh diri.Hubungan ibu Dario dan ibu Enrio memang tidak cukup baik. Sama seperti pertikaian antara Dario dan Enrio. Selebihnya, dirinya tak tahu apa pun.“Saya sangat senang bertemu dengan Anda, nyonya Renata.”“Panggil saja mama.” Renata merangkum wajah Angela dengan lembut. “Kau sangat cantik. Lebih cantik dari yang kubayangkan.”Rhea seketika merasa berada di tempat yang tidak tepat. Sejenak ia membalas tatapan Enrio lalu melangkah ke samping. Dan ia baru mendapatkan langkah p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 48 Wanita Itu

    Dengusan dingin yang membalasnya tentu saja bukan milik Enrio. Wajah Rhea terdongak dan meneguk ludahnya yang terasa pekat dengan ketegangan di wajah Dario. "D-dario?""Ya, sangat jelas ini aku, istriku.""A-aku ... kupikir kita salah kamar.""Ini memang kamar untuk kita.""T-tapi ...""Kenapa? Kau tak suka kejutannya?" Dario menelengkan kepalanya ke samping. Ya, memang ia sudah memesan ruangan ini dengan pengaturan sebaik mungkin untuk pasangan yang baru menikah."J-jadi ini memang ..." Rasa panas menyebar ke seluruh permukaan wajah Rhea.Dario tersenyum, sedikit merundukkan wajah untuk menyapukan ciuman di bibir Rhea. Bersamaan dengan denting pintu lift yang terdengar di belakangnya. "Aku harus mengurus sesuatu. Kau bersiaplah.""B-bersiap?"Dario mengambil kantong putih yang tepat berada di samping mereka. Menggenggamkan kantong tersebut di tangan Rhea.Rhea tak perlu membuka kanto

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 47 Ancaman Paul

    Rhea tercekat napasnya sendiri. Menatap keraguan yang melekati tatapan Seth. "Kenapa dengan golongan darahmu?""Golongan darahku A-, dan mereka B. B+, B-, atau B saja tapi mereka memiliki golongan darah yang sama. Apakah mungkin aku anak angkat keluarga ini?""Apa yang kau bicarakan, Seth? Kau tidak mabuk, kan?"Seth menggeleng dengan lesu, kemudian menjatuhkan kepalanya di punggung sofa sambil memasang muka cemberut yang dibuat-buat. "Pikiranku lebih aneh lagi saat mabuk.""Oh ya?""Hanya pemikiranku saja. Aku selalu menjadi orang yang asing di tengah paman Enrio dan Dario. Mereka ... seolah tidak sama denganku.""Apa maksudmu?""Kau tahu, kakek dan nenek memiliki mata hijau. Itulah sebabnya paman Dario, paman Enrio dan papaku juga memilikinya. Dan kau bisa lihat mereka." Seth menunjuk keempat kembar. Yang memang memiliki manik hijau meski dengan cara yang berbeda. Ada yang terang seperti milik Caiiley, sediki

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 46 Permohonan Rhea

    “Kau terlihat seperti bersungguh-sungguh,” gumam Dario tak peduli.“Aku memang.” Rhea merasakan matanya yang mulai perih dan kembali terbatuk. “Meskipun Enrio berusaha membujukku, aku sudah memutuskan keputusanku dan tak akan merubahnya. Aku tak mungkin menukar cintaku dengan si kembar. Aku akan mulai melupakan perasaan cintaku padanya.”Mata Dario memicing tajam.“Kumohon percayalah padaku.”“Kau terlalu banyak memohon, Rhea. Kau tak berpikir aku akan bosan mendengarnya?”“Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan?”“Apa pun?”Rhea mengangguk dengan cepat.“Tak masalah jika aku ingin anak darimu, kan?”Rhea membelalak. “A-anak?” Suaranya tercekat keras.“Kau tahu, anak adalah ikatan yang tak akan diputuskan dengan mudah. Yang akan selalu mengingatkan batasan untukmu saat kau lupa diri.”“T-tapi …”Dario melepaskan pegangannya, tubuh Rhea kembali tenggelam dan berusaha

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 45 Pengaturan Diam-Diam Angela

    Dario melirik tak tertarik pada wanita yang sudah berdiri telanjang di hadapannya tersebut. Jubah tidurnya teronggok di lantai, melingkari kedua kaki jenjang tersebut. Well, harus diakuinya, wanita itu memiliki tubuh yang sempurna. Lekukan yang begitu menggoda dan ukuran dada yang membuat pria manapun meneteskan air liur. Tak lebih kecil dari yang dimiliki Rhea, tetapi milik Rhea terasa pas di tangannya.Sial, kenapa dia memikirkan Rhea? Matanya kembali menatap manik si wanita yang berpose memamerkan kesempurnaan tubuh dan wajahnya. Sangat tahu bagaimana cara menyenangkan seorang pria, dan lagi-lagi ia tak suka berselera pada wanita yang terlalu menginginkannya. Kepolosan Rhea selalu memberinya kepuasan dan saat ini juga, dirinya membayangkan membawa wanita itu ke tempat tidur. Dan sebaiknya bayangan ini tidak bertahan lama karena ia ingin segera melaksanakannya.“Berapa dia membayarmu?”Senyum si wanita membeku, dan seketika menyadari ketidak tertari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status