Beranda / Romansa / Ada Kembar Empat Di Balik Selimut / Part 6 Kekasih Gelap Sang Suami

Share

Part 6 Kekasih Gelap Sang Suami

Penulis: Luisana Zaffya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-02 09:00:37

Rhea sengaja menyewa dua apartemen yang saling berdekatan. Berjaga-jaga jika Dario mendatanginya dan agar lebih mudah baginya untuk menemani si kembar. Hanya Calvin, Carl, Caleb, dan Caileylah satu-satunya hal yang membuatnya bisa tetap waras di tengah semua masalah hidup yang datang padanya. Yang membuatnya tak bisa menyerah pada Enrio.

“Ini tempat yang bagus. Wanita itu tidak akan bisa datang lagi, kan?”

Rhea mengangguk. “Aku sudah memastikan keamanan tidak mengijinkan siapa pun datang berkunjung tanpa sepengetahuanku.”

“Kecuali ayah mereka?” goda Anin menyenggol pundak Rhea.

Ekspresi wajah Rhea seketika membeku. Kemiripan si kembar dengan Dario tentu saja tak terelakkan. Pria itu menidurinya hanya satu kali, tapi lihatnya berapa banyak yang dihasilkan oleh Dario. Tak ada yang bisa Rhea ingat pada malam itu selain hatinya yang terasa diiris. Cara Dario begitu kasar dan menyakitinya. Memang sengaja.

Akan tetapi, semua kesakitan itu sudah tak terasa lagi melihat wajah putra dan putrinya yang tumbuh dengan ceria. Tersenyum menyambut kedatangan dan melenyapkan semua penat yang memenuhi kepala dan lelah di seluruh tubuhnya. Juga mengurangi rasa bersalahnya telah menggunakan kartu Dario. Toh biaya anak pria itu yang ia bayar.

“Aku akan menyewa dua pengasuh untuk membantumu.”

“Ck, tidak perlu, Rhea. Aku tidak bisa mempercayai orang asing.”

“Kau pasti kesulitan menjaga mereka. Mereka sudah mulai ke mana-mana dan aku tidak bisa datang ke sini setiap malam.” Terutama Dario yang nyaris setiap malam menyuruhnya ke apartemen pria itu atau tiba-tiba saja pria itu sudah ada di dalam apartemennya.

Anin terdiam, tampak mempertimbangkan.

“Aku akan membiarkan kau sendiri yang memilih mereka.”

Anin pun mengangguk. “Pergilah, kau sudah terlambat.”

Rhea bangun terduduk, menghampiri boks bayi yang berjajar di sisi ruangan dan mencium kening masing-masing dengan hati-hati. 

“Tunggu.” Anin beranjak sambil memegang syal merah muda di tangannya. “Sepertinya kau harus menutupinya.” 

Wajah Rhea memerah. Mengalungkan syal tipis tersebut di lehernya dan menyimpulnya sebelum berjalan keluar dari apartemen. Dario tak pernah melewatkan kesempatan untuk meninggalkan jejak di leher dan dadanya. Di mana pun pria itu ingin.

Suara klakson menyambutnya yang baru saja melewati pintu putra. Menemukan mobil Dario menunggu di halaman gedung.

“Masuklah.”

“T-tapi aku harus ke kantor.”

“Well, aku tidak bertanya.”

Rhea pun membuka pintu dan duduk di samping Dario. Membawa mobil ke tengah lalu lintas yang padat. Pandangan Rhea mengarah ke depat, pada dua mobil dengan model serupa tersebut. Ia yakin ada dua juga di belakang, yang mengiringi ke mana pun Dario pergi.

Ya, setelah berhasil menyingkirkan Enrio, tentu saja pria itu yang menjadi penerus Carlos Group, dengan puluhan cabang perusahaan yang hampir ada di setiap daerah. Dan tentu saja pria itu memiliki musuh-musuh yang menginginkan kematiannya.

Carlos Group berkembang pesat sejak Dario menjadi pemimpinnya. Bukan tanpa alasan. Dengan kekejaman dan kebengisan Dario, pria itu bisa dengan mudah menghancurkan usaha seseorang dengan tanpa hati.

Entah bagaimana pria itu tiba-tiba muncul di daerah ini, menjadi pemimpin tertinggi di tempatnya bekerja. Tempat paling aman yang bisa didapatkannya. Dan yang terutama, dekat dengan rumah sakit besar yang bisa merawat Enrio dengan peralatan yang bagus dan cukup canggih. Jauh dari induk perusahaan tempat Dario berkecimpung.

‘Kita akan menikah.’ Dario membuka kotak beludru berwarna merah yang baru saja dikeluarkannya dari dalam saku celana. Berisi sepasang cincin.

‘Tidak, aku tidak mau menikah denganmu. Aku tidak sudi menikah denganmu!’ Rhea berusaha memberontak. Tetapi dua pengawal Dario yang mencekal kedua tangannya memastikan tubuhnya tidak mana-mana. Terutama ketika Dario menangkap rahangnya dan mencengkeram dengan kekuatan yang tak ditahan-tahan.

‘Well, aku tidak bertanya.’ Dario terkekeh. Pria itu menunjukkan gambar Enrio yang terikat di kursi dan kepalanya jatuh terlunglai ke samping. Matanya terpejam dan tubuhnya tak bergerak. ‘Pilihannya hanya ada dua, kau melihatnya mati di tanganku atau menikah denganku. Dan aku tahu kau akan memilih yang mana, jadi aku tak perlu bertanya.’

‘Di mana Enrio? Apa yang kau lakukan padanya?!’

‘Kau akan melihatnya. Setelah cincin ini terpasang di jarimu.’

Air mata Rhea mengalir. Satu isyarat ringat Dario dan dua pengawal pria itu membawanya memasuki gereja. Saat keluar dari tempat itu, ia sudah menyandang status sebagai istri Dario Carlos. Pria itu menyeretnya ke hotel dan menidurinya. Paginya, Rhea terbangun telanjang di balik selimut saat Enrio masuk. Pria itu melihat semua yang dilakukan Dario padanya dan terlambat baginya untuk mencegah Enrio mendatangi suami satu harinya. Ketika ia sampai di rumah Dario untuk menyusul Enrio, ruang tamu dipenuhi pecahan kaca dan darah di mana. Wajah Dario babak belur, yang meyakinkan dirinya bahwa kondisi Enrio lebih parah lagi. Dan itulah terakhir kali mereka bertemu.

Suara klakson menyentakkan lamunan Rhea, wanita itu mengangkat wajahnya dan mobil Dario berbelok ke samping dengan tajam. Berhenti di bahu jalan dan pria itu mengumpat marah. “Kau tidak mendengar panggilanku?!”

Sekarang Rhea sepenuhnya terkejut. Apakah kemarahan pria itu karena dirinya? “A-aku?”

Dario melepaskan sabuk pengaman pria itu, sabuk pengaman Rhea lalu menarik lengan dan memindahkan tubuh wanita itu ke pangkuannya sebelum sempat memberontak.

“Apa yang kau lakukan, Dario?” Rhea menahan dada Dario saat pria itu mencoba merapatkan diri. Dan pria itu memang gila ketika mencoba menginginkannya di tengah jalan seperti ini.

“Kau tahu apa yang kulakukan.” Kali ini Rhea tak bisa menolak keinginannya. Kekuatan prianya sama sekali bukan tandingan wanita itu. Geliat tubuh wanita itu malah membangunkan sesuatu di dalam tubuhnya. Rasa lapar yang tidak ada hubungannya dengan makanan. Dan ia menginginkan Rhea sekarang juga.

Oh, sialan. Ia bukankah orang yang akan tidur dengan wanita manapun yang menginginkannya. Ia tak membutuhkan validasi apa pun untuk menjadi pria paling diinginkan para wanita. Tetapi istrinya ini sukses membuat gairahnya meledak setiap kali mereka saling berinteraksi. Bahkan hanya karena sebuah panggilan yang tak didengar, harga dirinya sudah serasa diinjak-injak. Mencoreng reputasinya sebagai seorang pria yang tak bisa diabaikan wanita mana pun.

Harus ia akui, wanita itu mencintai saudaranya. Tetapi seharusnya wanita itu mengerti bahwa dirinyalah suami wanita itu. Bukan saudaranya yang sudah mati. Sudah membusuk di dalam tanah.

“Apa yang membuatmu begitu tenggelam dalam lamunanmu hingga tak mendengar panggilanku?”

“Akh.” Rhea memekik ketika jemari Dario menyusup di antara helaian rambut di belakang kepala dan menjambaknya hingga kepalanya terdongak.

“Kekasihmu yang sudah mati?”

Mata Rhea terpejam. Dario menarik syal di lehernya dan mengendus kulit telanjangnya. Dalam sekejap, kancing kemejanya sudah dilepas dan pengait branya di buka.

“Apakah tiga tahun belum cukup bagimu untuk merelakannya?”

Rhea tak heran kenapa Dario berpikir kalau Enrio sudah mati. Mobil Enrio meledak sebelum jatuh ke jurang. Meski tak ditemukan jasadnya, semua orang mengira pria itu memang sudah mati. Tak ada satu pun yang tahu kalau ialah yang mengeluarkan Enrio sebelum mobil itu meledak. Dan tak perlu ada siapa pun yang tahu.

Akan tetapi, sampai kapan rahasia ini akan tersimpan? Dengan Dario yang kembali ke hidup mereka. Rhea tak bisa memastikannya. Namun ia akan berusaha untuk menyembunyikannya serapat yang bisa diusahakannya.

“Melihatmu menjadi pel*curku dari atas sana, aku yakin ini akan menjadi hadiah terbaik untuknya.” Dario menangkap bibir Rhea. Melumatnya dalam-dalam dan bergerak turun merasakan wanita itu yang mulai kehabisan napas.

“T-tunggu, Dario.” Rhea berusaha mengeluarkan suaranya di tengah napasnya yang terengah. “K-kau belum menggunakan pengaman.”

Dario menggeram, kesal karena kesenangannya diganggu. Tetapi di tengah gairahnya yang mendidih, masih tersisa pikiran warasnya. Ia membuka laci mobil yang ada di sampingnya. Untuk pertama kalinya, ia menyimpan benda itu di dalam mobilnya.

Satu sentakan dan tubuh keduanya menyatu, kedua tangannya menahan pinggang Rhea. Menggerakkan tubuh wanita itu seperti yang diinginkannya, sesuai irama yang dibutuhkannya untuk mencapai puncak kenikmatannya. Meledak di dalam tubuh Rhea.

*** 

“Apa kau tak punya ponsel?!” Suara Shalen yang nyaring menusuk telinga. “Setidaknya kau bisa memberitahuku kalau terlambat datang. Dan dua jam, itu bukan terlambat, Rhea.”

“Maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengulanginya.”

Shalen mendengus. “Karena ini pertama kalinya, ini akan menjadi peringatan terakhirmu.”

Rhea mengangguk.

“Kembali ke tempatmu. Berikan laporan di mejamu tepat sebelum makan siang. Kau hanya boleh istirahat kalau laporanmu selesai.”

Sekali lagi Rhea mengangguk dan kembali ke mejanya. 

“Seharusnya kau menghubungiku sebelum datang. Aku akan menyuruhmu menunggu, paling lama setengah jam lagi, saat tuan Henri selesai meeting.”

Rhea tak berpikir sejauh itu. Dario menurunkannya di basement, tanpa berpikir kalau dirinya hanya karyawan biasa yang tidak bisa seenaknya datang ke kantor kapan pun seperti yang pria itu lakukan.

“Dia tidak akan berani membentakmu kalau ada tuan Henri. Sebesar apa pun kesalahanmu.”

Rhea tak menanggapi. Ia mulai membuka laporan yang sudah ditumpuk di meja dan menyalakan komputernya saat tubuh Genna menjulurkan kepala ke arahnya. Mengendur aroma tubuhnya. “Apa yang kau lakukan?”

“Kau menggunakan parfum?”

Rhea nyaris tersedak ludahnya sendiri. “P-parfum?”

“Tapi …” Genna mengendus lagi. “Ini parfum laki-laki.”

Rhea menarik tubuhnya menjauh. Yang membuat Genna melotot genit.

“Kau sudah punya kekasih?”

Wajah Rhea berubah merah padam.

“Dan itu yang membuatmu datang terlambat. Dua jam.” Genna terkikik, menutup mulut agar kikikannya tak terdengar ke meja karyawan lain.

“Aku harus ke toilet.” Rhea melompat berdiri, berlari dengan terburu menuju toilet. Apa yang harus dilakukannya untuk menghilangkan bau Dario di tubuhmu.

Bruukkk …

Baru saja nama pria itu muncul di benaknya, Rhea menabrak seseorang yang baru saja berbelok di ujung lorong. Tubuhnya sudah terhuyung ke belakang, tetapi lengan yang menahan pinggangnya mencegahnya jatuh terjungkal. Kepalanya perlahan bergerak naik, membelalak menemukan Dariolah yang baru saja ditabraknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 50 Sumpah Enrio

    ‘Bagaimana cara dia terlibat dengan proyek itu?’ Rhea menarik napas dengan perlahan. ‘Awasi saja perkembangannya. Pastikan saja dia tidak mengambil manfaat yang tak dibutuhkan hanya karena pernikahan Angela dan Enrio.’Rhea mengetuk pintu setelah Dario mengakhiri panggilan tersebut. Mendorong pintu dan berjalan masuk dengan ketenangan yang terjaga. “Makan malammu.”Dario menutup berkas dan mematikan layar komputer. Menyingkirkan semua yang ada di depannya untuk nampan yang dibawa Rhea. “Anak-anak?”“Sudah tidur setelah makan.”Dario mengangguk singkat. Menangkap lengan Rhea sebelum membalikkan badan. “Temani aku.”Rhea membeku, memberikan satu anggukan dan duduk di kursi di depan meja. Tak ada perbincangan apa pun selama Dario menandaskan isi piring dan cangkir kopinya. “Aku akan membawanya ke dapur.”“Biarkan saja.”Rhea kembali duduk di kursinya. Dario meletakkan nampan tersebut ke sudut meja, menatap lurus p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 49 Ibu Enrio

    Angela mengernyit, menatap Enrio yang memberinya anggukan singkat sebelum kemudian berpaling pada Rhea. Yang sama terkejutnya dengan Angela.Rhea menatap wanita paruh baya tersebut. Sejak mengenal Enrio dan berhubungan dengan pria itu, Enrio memang cukup tertutup tentang ibunya. Dan dari gosip yang pernah didengar dan tak sepenuhnya ia percaya, mengatakan bahwa ibu Enrio sudah mati dalam sebuah kecelakaan. Bahkan ada yang mengabarkan kalau wanita itu telah bunuh diri.Hubungan ibu Dario dan ibu Enrio memang tidak cukup baik. Sama seperti pertikaian antara Dario dan Enrio. Selebihnya, dirinya tak tahu apa pun.“Saya sangat senang bertemu dengan Anda, nyonya Renata.”“Panggil saja mama.” Renata merangkum wajah Angela dengan lembut. “Kau sangat cantik. Lebih cantik dari yang kubayangkan.”Rhea seketika merasa berada di tempat yang tidak tepat. Sejenak ia membalas tatapan Enrio lalu melangkah ke samping. Dan ia baru mendapatkan langkah p

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 48 Wanita Itu

    Dengusan dingin yang membalasnya tentu saja bukan milik Enrio. Wajah Rhea terdongak dan meneguk ludahnya yang terasa pekat dengan ketegangan di wajah Dario. "D-dario?""Ya, sangat jelas ini aku, istriku.""A-aku ... kupikir kita salah kamar.""Ini memang kamar untuk kita.""T-tapi ...""Kenapa? Kau tak suka kejutannya?" Dario menelengkan kepalanya ke samping. Ya, memang ia sudah memesan ruangan ini dengan pengaturan sebaik mungkin untuk pasangan yang baru menikah."J-jadi ini memang ..." Rasa panas menyebar ke seluruh permukaan wajah Rhea.Dario tersenyum, sedikit merundukkan wajah untuk menyapukan ciuman di bibir Rhea. Bersamaan dengan denting pintu lift yang terdengar di belakangnya. "Aku harus mengurus sesuatu. Kau bersiaplah.""B-bersiap?"Dario mengambil kantong putih yang tepat berada di samping mereka. Menggenggamkan kantong tersebut di tangan Rhea.Rhea tak perlu membuka kanto

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 47 Ancaman Paul

    Rhea tercekat napasnya sendiri. Menatap keraguan yang melekati tatapan Seth. "Kenapa dengan golongan darahmu?""Golongan darahku A-, dan mereka B. B+, B-, atau B saja tapi mereka memiliki golongan darah yang sama. Apakah mungkin aku anak angkat keluarga ini?""Apa yang kau bicarakan, Seth? Kau tidak mabuk, kan?"Seth menggeleng dengan lesu, kemudian menjatuhkan kepalanya di punggung sofa sambil memasang muka cemberut yang dibuat-buat. "Pikiranku lebih aneh lagi saat mabuk.""Oh ya?""Hanya pemikiranku saja. Aku selalu menjadi orang yang asing di tengah paman Enrio dan Dario. Mereka ... seolah tidak sama denganku.""Apa maksudmu?""Kau tahu, kakek dan nenek memiliki mata hijau. Itulah sebabnya paman Dario, paman Enrio dan papaku juga memilikinya. Dan kau bisa lihat mereka." Seth menunjuk keempat kembar. Yang memang memiliki manik hijau meski dengan cara yang berbeda. Ada yang terang seperti milik Caiiley, sediki

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 46 Permohonan Rhea

    “Kau terlihat seperti bersungguh-sungguh,” gumam Dario tak peduli.“Aku memang.” Rhea merasakan matanya yang mulai perih dan kembali terbatuk. “Meskipun Enrio berusaha membujukku, aku sudah memutuskan keputusanku dan tak akan merubahnya. Aku tak mungkin menukar cintaku dengan si kembar. Aku akan mulai melupakan perasaan cintaku padanya.”Mata Dario memicing tajam.“Kumohon percayalah padaku.”“Kau terlalu banyak memohon, Rhea. Kau tak berpikir aku akan bosan mendengarnya?”“Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan?”“Apa pun?”Rhea mengangguk dengan cepat.“Tak masalah jika aku ingin anak darimu, kan?”Rhea membelalak. “A-anak?” Suaranya tercekat keras.“Kau tahu, anak adalah ikatan yang tak akan diputuskan dengan mudah. Yang akan selalu mengingatkan batasan untukmu saat kau lupa diri.”“T-tapi …”Dario melepaskan pegangannya, tubuh Rhea kembali tenggelam dan berusaha

  • Ada Kembar Empat Di Balik Selimut   Part 45 Pengaturan Diam-Diam Angela

    Dario melirik tak tertarik pada wanita yang sudah berdiri telanjang di hadapannya tersebut. Jubah tidurnya teronggok di lantai, melingkari kedua kaki jenjang tersebut. Well, harus diakuinya, wanita itu memiliki tubuh yang sempurna. Lekukan yang begitu menggoda dan ukuran dada yang membuat pria manapun meneteskan air liur. Tak lebih kecil dari yang dimiliki Rhea, tetapi milik Rhea terasa pas di tangannya.Sial, kenapa dia memikirkan Rhea? Matanya kembali menatap manik si wanita yang berpose memamerkan kesempurnaan tubuh dan wajahnya. Sangat tahu bagaimana cara menyenangkan seorang pria, dan lagi-lagi ia tak suka berselera pada wanita yang terlalu menginginkannya. Kepolosan Rhea selalu memberinya kepuasan dan saat ini juga, dirinya membayangkan membawa wanita itu ke tempat tidur. Dan sebaiknya bayangan ini tidak bertahan lama karena ia ingin segera melaksanakannya.“Berapa dia membayarmu?”Senyum si wanita membeku, dan seketika menyadari ketidak tertari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status