Masuk"Semoga mamamu sehat selalu," ujar Pak Haris pelan sambil menyesap kopinya. Ia tidak berkomunikasi dengan istrinya setelah pertengkaran hebat dua hari setelah sidang pertama perceraian mereka. Ia juga belum bertemu dengan Davin semenjak meninggalkan rumah istrinya."Suatu hari nanti jika kamu menikah, jangan pernah mengkhianati pernikahanmu, Ar. Nggak ada kebahagiaan setelah pengkhianatan."Saat berbincang-bincang, Pak Haris sempat menasehati putranya. Membagi pengalaman pahit dalam hidupnya. Walaupun ia sadar, entah Arda bisa menerimanya apa tidak. Sebab yang memberikan nasehat, adalah orang yang telah melakukan kesalahan fatal."Rencana Papa apa sekarang?""Bertemu teman Papa yang mekanik itu. Mau membahas usaha."Arda mengangguk. "Jika ada kesempatan, aku ingin bertemu Mbak Nadia, Pa."Pak Haris terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk. Dia sendiri belum punya nyali untuk bertemu dengan putrinya. Walaupun ingin sekali.Selesai ngopi dan ngobrol, mereka berpisah. Arda kembali ke k
"Ibu nggak nyangka bakalan secepat ini. Kalian baru pulang liburan, dan Tuhan langsung menitipkan amanah lagi. Soal Adam jangan khawatir, Ibu dan Bulek akan tetap bantu jagain," ujar Bu Isti.Mereka berbincang beberapa saat. Kemudian Bu Isti pamitan karena harus mengajar. Jeda beberapa menit Dewa dan Nadia juga berangkat ke kantor. Adam tinggal di sana bersama Bulek Sari. 🖤LS🖤"Masuk!" ucap Dewa saat pintu ruangannya diketuk dari luar. Pintu terkuak dan masuklah Bu Hana dengan setelan warna ungu tua. Wanita itu tersenyum pada sang putra, lalu duduk di kursi depan mejanya Dewa."Tumben, Ma. Mama, dari mana?" tanya Dewa sambil mencium tangan Bu Hana."Mama tadi belanja sama Mbak Eko. Jadi sekalian mampir sebentar. Budemu sedang di ruangan pakde. Mama bertemu Nadia tadi di mejanya. Apa istrimu sakit, kelihatan agak pucat gitu. Apa karena nggak pakai lipstik, jadi kelihatan pucat?"Dewa mengalihkan perhatian dari layar laptop dan fokus ke mamanya. "Nadia baik-baik saja, Ma. Aku juga m
NADIA- 59 Pregnant "Waktu itu kita memang sepakat untuk menunda punya anak, karena Mas bilang supaya kita bisa pacaran dulu dan lebih fokus ke Adam. Kasihan Adam juga baru 2,5 tahun." Nadia mulai cerita setelah mereka selesai salat subuh."Tapi waktu kita pergi ke Jepang, aku kelupaan minum pas hari pertama sampai di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti minum pil itu tanpa bilang pada, Mas. Aku ingin memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga untuk kado ulang tahun Mas yang ke-36. Ternyata dikabulkan oleh Allah."Dewa menarik kembali Nadia ke dalam pelukannya. Menciumi kening sang istri dengan perasaan haru dan bahagia."Seminggu sebelum menikah, aku baru selesai haid. Dan sampai hari ini aku memang belum haid lagi. Makanya aku test dua hari yang lalu. Ternyata hasilnya positif.""Pantesan saat kemarin malam kita berhubungan, kamu terkesan sangat berhati-hati. Jadi saat itu kamu sudah tahu kalau sedang hamil?""Iya. Paginya aku sudah tahu. Tapi sengaja aku diam, karena untu
"Mbak kaget, Na. Pangling banget. Kapan Pak Bos potong rambut?""Sabtu kemarin, waktu kami mengantar Adam potong rambut. Mas Dewa sekalian potong, Mbak," jawab Nadia santai, meski ia sendiri masih terpesona melihat penampilan baru suaminya."Tambah keren. Kamu memang membawa perubahan besar dalam hidup Bos, Na," ujar Mbak Ayi seraya memandang Nadia.Di meja belakang, terdengar bisik-bisik para staf."Gila, makin ganteng ya Pak Bos," bisik seseorang di meja belakang dengan suara tertahan. "Baru kali ini aku melihat Pak Dewa dengan potongan pendeknya."Sejak mereka bekerja di GUC, penampilan Dewa selalu identik dengan rambut gondrong yang diikat rapi. Jadi perubahan pagi itu benar-benar membuat mereka memandang si bos dengan tatapan berbeda."Bos tambah keren," bisik yang lain."Ssst, pelan-pelan. Ada Nyonya Bos di sana," sahut temannya sambil pura-pura sibuk dengan tumpukan dokumen. "Tapi beneran, gagahnya naik seribu persen. Terlihat lebih segar dan berwibawa," sahut yang lain.Keter
Bu Terry melihat otot-otot di lengan pria itu yang mengeras. Ketakutan mulai merayap di hatinya. Ia tahu tidak akan menang melawan dua orang ini. Dengan geraman penuh kebencian, ia tergesa melangkah pergi.Setelah Bu Terry keluar pagar, dua lelaki mengangguk hormat pada Bu Isti lantas meninggalkan rumah itu. Deru mesin mobil Bu Terry yang menjauh meninggalkan debu yang berterbangan di depan rumah. Diikuti oleh dua orang yang naik motor. Bu Isti masih berdiri bengong di teras. Saking kagetnya, ia tidak sempat menanyakan siapa mereka.Dua lelaki suruhan Dewa pun langsung pergi karena sudah dipesan sama bosnya, kalau jangan sampai bilang kalau mereka suruhan Dewa. Nanti membuat ibu mertuanya merasa tidak nyaman.Bu Isti melanjutkan menyapu. Menghapus sisa-sisa debu di teras, seolah ingin membersihkan setiap jejak negatif yang baru saja ditinggalkan oleh Bu Terry. Mantan temannya itu ternyata bukannya sadar, tapi kian menggila. Walaupun Terry tidak memberitahunya, tapi Bu Isti sudah tah
NADIA- 58 Surprise Bu Terry mencengkeram kemudi begitu kuat sehingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas menatap pintu utama rumah itu yang tertutup rapat. Halaman rumah tampak sepi. Namun pintu pagar terlihat tidak dikunci. Apa Istiana di rumah? Hari Sabtu, bisa saja dia libur mengajar.Ada rasa gengsi yang membakar dadanya. Jika ia turun dan melabrak wanita di dalam sana, rahasia kehancuran rumah tangganya akan ketahuan. Bahwa Terry, sang nyonya besar Adi Karya, baru saja didepak oleh suaminya sendiri. Lelaki yang dulu ia rebut dengan segala cara dari wanita di balik pagar itu.Cukup lama ia terdiam. Antara gengsi dan amarah. Karena sekian lama bersama, Pak Haris menceraikannya setelah pria itu tahu kalau ternyata Bu Isti melahirkan anaknya.Bu Terry terkejut saat pintu rumah terbuka. Muncul wanita cantik yang mengenakan gamis dan jilbab instan warna milo. Ia membawa sapu dan mulai membersihkan teras rumah.Dada Bu Terry berdebar. Bu Isti sempat memandang ke arah mobil m







