Share

15. Sabar 2

last update Last Updated: 2025-12-20 14:15:12

"Mbak temani," ucap Haya lagi. "Kita ke sana bisa alasan untuk diskusi atau apa. Dan ternyata kita mergoki mereka."

Hening. Sumpah Nadia malas sekali. Sudah tidak mau tahu tentang mereka. Capek sekali sakit hati.

"Bagaimana, Nadia?"

"Baiklah, Mbak."

"Ganti baju, Mbak jemput kamu."

Telepon ditutup. Nadia keluar kamar untuk bicara dengan ibunya. Kebetulan Bu Isti sedang menyuapi Adam sambil nonton kartun. Dia bicara lirih pada sang ibu. Adam hanya memperhatikan tanpa tahu apa yang mereka bicarak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
udah ke gep nih kira² Gavin masih ngeles gk y?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   215. Sahabat 3

    Foto wisudanya Nadia menjadi pusat perhatian, karena di sana ada almarhum Pak Lukman. Pria luar biasa yang akhirnya menjadi suami sahabatnya hingga tutup usia.Ketika senja hampir tiba, Bu Terry pamitan. Bu Isti mengantarkan sampai mereka masuk ke taksi online yang dipesan Selina."Hati-hati," ucap Bu Isti."Iya. Makasih banyak, Is. Kapan-kapan kita bisa bersilaturahmi lagi," jawab Bu Terry sembari melambaikan tangan. "Ya." Bu Isti memandang taksi itu hingga berbelok di ujung depan sana. Kemudian menghela napas panjang memandang semburat jingga di langit senja. Persahabatan yang dulu terputus, kini membaik lagi setelah tiga dekade lebih. Kalau dia tidak memaafkan, hanya akan menjadi beban dalam dada. Yang berlalu biarkan berlalu. Toh, dia pernah menjadi istri dan ibu yang sangat bahagia bersama lelaki bernama Lukmanto. Yang meratukannya, menyayangi Nadia layaknya putri sendiri."Tadi itu Terry ya, Mbak?" tanya Bulek Sari yang menghampiri sang kakak di depan teras."Iya. Sama Selina.

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   214. Sahabat 2

    Selina pun diam. Serasa permasalahannya tak habis-habis. Dia juga belum menikah. Bahkan punya pacar pun tidak. Usianya semakin bertambah. Sudah 35 tahun sekarang. Setiap ada yang mendekati, hanya lelaki iseng yang tak ada keseriusan dalam perbincangan mereka. Takut juga kalau gagal lagi.Taksi sampai juga di depan pagar rumah Bu Isti. Matahari siang itu cukup terik. Makanya suasana sepi dan rumah itu tertutup rapat. Apa Bu Isti tidak libur mengajar? "Sel, kelihatannya sepi. Apa Isti belum pulang mengajar?" tanya Bu Terry saat mereka berdiri di depan pintu pagar."Aku juga nggak tahu, Ma. Bentar, aku tekan belnya." Selina mengulurkan tangan untuk menekan bel di balik tembok pagar.Beberapa saat setelah bel berbunyi, pintu rumah terbuka. Muncul wanita mengenakan gamis rumahan warna army dan jilbab hitam.Begitu melihat siapa yang berdiri di luar pagar, Bu Isti mematung. Kaget juga melihat siapa yang datang. Padahal dia sudah tidak kepikiran kalau Bu Terry akan menemuinya."Isti," suara

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   213. Sahabat 1

    NADIA- 78 Sahabat "Pa, Mama minta di antar ke rumah Bu Isti." Selina memberitahu Pak Haris di bengkel. Saat pulang kerja ia mampir ke sana. Hari Sabtu, Selina kerja setengah hari."Antarkan saja kalau Mama sendiri yang mau, Sel.""Rencananya sepulang dari sini kuantarkan, Pa."Pak Haris manggut-manggut. "Bagaimana kerjaanmu?""Ya, butuh adaptasi lagi di tempat baru, Pa. Tapi Alhamdulillah, aku mendapatkan kerjaan yang lebih baik daripada sebelumnya.""Hati-hati kalau kerja.""Ya. Kalau gitu aku pamit dulu, Pa. Nanti mau langsung nganterin Mama."Selina pulang mengendarai motornya. Sudah sebulan ini dia bekerja sebagai staf di sebuah instansi swasta. Setelah menjadi kasir supermarket selama dua tahun, lalu berhenti karena mengurusi mamanya yang sering jatuh sakit. Sekarang baru mendapatkan pekerjaan lagi atas bantuan dari Dira.Setelah jatuh bangun dan tak ada lagi ada pegangan finansial yang cukup, baru hatinya sadar tentang kesalahan demi kesalahannya di masa lalu. Untung masih ada

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   212. I Love You 3

    Beberapa kerabat yang membawa barang hantaran, mulai dari tas mewah hingga perhiasan, nampak menghela napas lega saat mereka akhirnya bisa meletakkan barang bawaan di tempat yang disediakan.Kebahagiaan pecah di halaman rumah Nastiti. Rasa lelah, gamis yang sedikit berdebu, dan napas yang ngos-ngosan seketika terbayar oleh pemandangan lembah hijau di bawah sana. Panorama indah yang sepadan dengan segala peluh yang keluar.Desa di lereng Kelud ini memang sunyi, tapi pagi itu menjadi saksi sebuah penyatuan dua keluarga yang datang dengan penuh perjuangan.Para rombongan duduk di kursi-kursi yang sudah dipersiapkan. Menunggu calon pengantin laki-laki dirias untuk akad nikah.Bu Terry sesekali melirik pada Bu Isti yang ngobrol dengan kerabat Pak Haris. Mereka tampak akrab. Bahkan beberapa saudara Bu Terry sendiri juga menyapa wanita itu. "Setelah resepsinya Arda di Surabaya. Anterin Mama ke rumah Bu Isti, Sel," bisiknya pada Selina. "Mama, serius?""Ya." Bu Terry mengangguk.Sementara D

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   211. I Love You 2

    Jalanan terlalu curam dan sempit untuk dilalui kendaraan roda empat hingga ke titik tujuan."Kita jalan kaki dari sini, Mas?” Nadia melongok ke luar jendela, memandang tanjakan di depan yang seolah tak berujung. Arda sudah pernah cerita kalau rumah calon istrinya berada di lereng Gunung Kelud. Bukan di lereng lagi kalau begini, di tengah atau di puncak, batin Nadia. Sewaktu Arda lamaran, Nadia tidak ikut. Yang pergi waktu itu hanya Pak Haris dan beberapa orang kerabat. Karena Bu Terry juga sedang sakit.Dewa tersenyum sambil mematikan mesin. "Udara Kelud segar, Sayang. Ayo, kita turun."Yang semobil dengan Dewa, ada Nadia, tiga anak mereka beserta baby sitter dan Mbak Harti. Juga Bu Isti bersama Bulek Sari. Bu Hana memilih menghadiri acara di Surabaya saja seminggu lagi. Turun dari mobil, rombongan pengiring pengantin dari Surabaya itu segera disambut hawa sejuk yang menusuk pori-pori. Namun kesejukan itu tak mampu menutupi kecemasan para wanita yang sudah berdandan paripurna sejak

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   210. I Love You 1

    NADIA- 77 I Love YouTernyata Emir, Naima, dan keluarganya yang datang. Mereka sengaja memberikan kejutan tanpa mengabari lebih dulu. Dewa dan Emir sudah tiga tahun ini menjadi partner bisnis. Jadi mereka memang sering bertemu. Tapi tanpa mengajak keluarga, karena urusan pekerjaan. Terakhir mereka bertemu lengkap ketika Dewa mengajak Nadia ke Tulungagung sewaktu sang istri masih hamil Cantika.Suasana ruang keluarga begitu riuh dengan anak-anak. Zahra dan Aurel sekarang sudah remaja, usia 15 tahun. Cantika menempel terus pada dua remaja itu. Dia suka memiliki kakak perempuan yang sayang dan memperhatikan. Mengajaknya bermain dengan telaten. Kalau dengan dua kakak lelakinya, Cantika yang mengekori mereka. Ngalor ngidul. Di sofa utama ruang tamu, Dewa dan Emir duduk berhadapan dengan kopi yang mengepul. Tiga tahun menjadi mitra bisnis telah melunturkan sekat formalitas di antara mereka."Bulan depan kita bertemu di Blitar, Mas Emir," ujar Dewa."Share loc alamatnya nanti, Mas. Saya su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status