Beranda / Romansa / Adakah Jalan Untuk Kembali / 29. Pantang Menyerah 1

Share

29. Pantang Menyerah 1

Penulis: Lis Susanawati
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 18:23:30

NADIA

- 17 Pantang Menyerah

Ballroom hotel itu masih gemerlap. Musik mengalun lembut, para tamu perempuan menyangga piring porselen cantik berisi hidangan mahal. Namun di balik tawa dan lirikan mata mereka, ada bisik-bisik menyertai mulut yang mengunyah makanan.

"O, gitu ya ceritanya. Pantas saja dari dulu mereka ke mana-mana bareng," ucap perempuan bergaun biru sambil menyeruput minuman. Setelah mendengar cerita dari gadis yang duduk di sebelahnya Nadia tadi.

"Sebenarnya aku sudah curiga sejak dulu lagi," ujar yang lain.

"Sekarang kan kelihatan jelas. Baru cerai, langsung nikah. Masa iddah mantan istrinya saja belum genap dua minggu."

"Pantesan Selina selalu ikut tiap meeting penting. Sering nyamperin ke kantornya si Bos. Bawain makanan juga."

"Kupikir dulu murni urusan kerja," sahut rekannya sambil tersenyum miring. "Tapi kok nempelnya kebangetan."

Seorang wanita karier berambut pendek ikut menyela, "Aku tuh dari dulu dah curiga, sih. Mereka pasti ada something. Ada cerita yang ngga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Adakah Jalan Untuk Kembali    67. Pengakuan 3

    "Ya, aku tertarik," jawab Arif lugas dan langsung menyengat ulu hati Dewa. "Kayaknya dia tipe yang tenang, nggak banyak gaya. Dan aku nggak peduli dia janda. Makanya aku ngomong baik-baik sama kamu."Ada jeda. Hening yang terasa menekan. Dewa merasakan dadanya memberontak. Ini tak bisa dibiarkan. Dewa menyandarkan tubuhnya dengan gelisah. Lantas menarik napas pelan. Ia tahu jika diam saja, Arif akan terus maju. Apa ia harus mengaku kalau suka sama Nadia? Belum apa-apa pasti Arif bakalan membuat heboh. Padahal ia belum bicara apapun pada Nadia. Khawatirnya justru membuat Nadia akan menjauh. Dewa berdehem singkat. "Nadia punya pacar," ujar Dewa tegas. Ini adalah kebohongan yang dirasa Dewa cukup aman.Arif mengernyit. "Serius?""Ya. Kemarin dia pulang dari seminar di antar pacarnya."Wajah Arif terlihat kecewa. Keduanya diam beberapa lama. "Baru pacaran, kan? Berarti masih ada peluang?" Arif punya harapan."Jangan ganggu kekasih orang. Kamu juga punya pacar, kan? Mau kamu ke mana kan L

  • Adakah Jalan Untuk Kembali    66. Pengakuan 2

    "Pagi," jawab Nadia seraya membalas senyum rekan kerjanya. "Hari ini aku kesiangan, Ri."Kebetulan lagi haid, jadi Nadia tidak bangun salat subuh. Tapi malah bangun telat. Mana tadi Adam agak panas badannya. Membuat Nadia khawatir namun ia harus tetap berangkat ke kantor."Nanti Bulek yang ngasih dia obat. Kamu jangan khawatir. Nggak enak kalau izin. Kamu kan baru kerja. Lagian panasnya Adam 37°, nanti diminumi obat pasti langsung membaik." Bulek Sari menenangkannya. Nadia lega.Selama pulang ke rumah mamanya, baru dua kali ini Adam sakit demam. Dulu ketika masih di rumah Davin, Adam sering sekali sakit. Panas, batuk, pilek. Baru sehat beberapa minggu, kemudian sakit lagi."Bagaimana seminar kemarin?" tanya Riri. "Nanti kubagi ilmunya sambil kita ngobrol saat break makan siang.""Oke. Kamu pulang jam berapa kemarin?""Sampai rumah hampir jam lima.""Kamu pulangnya dijemput sopir lagi? Kulihat motormu masih diparkiran. Kupikir kamu sudah datang tadi.""Oh iya, Ri. Aku pulang naik taks

  • Adakah Jalan Untuk Kembali    65. Pengakuan 1

    NADIA - 29 Pengakuan Setelah Tito pamit keluar, Davin menghela napas berat. Suasana kantor masih sangat sepi karena mereka datang lebih pagi. Memang disengaja karena Davin ingin mendengar cerita dari Tito tentang Nadia.Dada pria itu terasa seperti diremas dari dalam. Sesak, menekan, membuat jantung berdetak tidak beraturan seolah hendak pecah kapan saja. Sesalan yang tak akan cukup untuk menebus apa yang telah hilang.Empat tahun ia menggenggam sesuatu yang begitu berharga, dan dilepaskan dengan tangan dan kesadarannya sendiri. Tidak hanya dilepas, tapi dijatuhkan. Setelah empat tahun dibiarkan retak dan terluka."Kamu sudah nyambangi Adam?" tanya mamanya saat Davin mampir ke rumah dua hari yang lalu."Belum, Ma. Hari Minggu kemarin Adam diajak jalan-jalan sama Nadia.""Nggak harus hari Minggu. Sepulang kerja kamu bisa singgah sebentar. Biar dia ingat kalau punya papa, Dav. Dulu kamu nggak peduli, sekarang juga bodo amat. Kamu ini ayah macam apa."Davin diam sambil menyesap kopinya

  • Adakah Jalan Untuk Kembali    64. Jatuh Hati 3

    Davin mengernyit. "Seminar tadi gimana?" "Biasa aja," jawab Selina cepat. Davin kembali menatap langit-langit kamar.Selina menelan ludah. Di kepalanya bayangan Nadia dan kejadian di seminar tadi terus berkelebat. Rasa malu dan sakitnya karena dilawan oleh Nadia masih terasa.Ia tidak boleh bercerita. Jika Davin tahu Nadia ada di sana, bersinar seperti itu, kemungkinan terburuk bisa terjadi. Davin bisa kembali tergoda. Kembali mengingat masa lalu yang seharusnya sudah dikubur."Aku cuma bosan," kata Selina pada akhirnya sambil mengubah posisi. Ia mendekat, memeluk tubuh Davin dari samping. Suaranya melunak. "Ayo, Mas. Biar kita segera punya anak." Selina sudah melepas kancing piyama suaminya.Nafas Davin tertahan sejenak sambil memegang tangan Selina. "Aku capek. Khawatir kamu nggak puas nanti," tolaknya. Puas? Selina kecewa. Apa Davin tahu kalau dirinya sudah tidak seliar dulu? Semenjak menikah hubungan itu sudah tak sama. Selina berkali-kali kecewa. Davin hanya semaunya sendiri.

  • Adakah Jalan Untuk Kembali    63. Jatuh Hati 2

    "Saya belajar, Pak. Mbak Ayi dan rekan-rekan lainnya sangat membantu. Saya bersyukur berada di tempat yang tepat. Sekali lagi terima kasih banyak, Pak Dewa. Ketika banyak perusahaan bahkan minimarket pun menolak CV saya, tapi Graha Utama sudi menerima saya." Nadia bicara dengan tulus.Mereka saling pandang sejenak."Mungkin karena usia saya sudah dianggap terlambat untuk memulai berkarir," ujar Nadia menutupi alasan yang sebenarnya."Tidak ada kata terlambat, Nadia. Walaupun kamu bilang telat memulai, tapi kamu tak kalah hebat dari orang-orang yang sudah bekerja bertahun-tahun.""Disaat teman-teman saya lulus kuliah mulai merintis karir, tapi saya malah memilih menikah muda." Nadia tersenyum getir. Soal ini tak perlu disembunyikan. Pasti Dewa sudah tahu statusnya apa. Sebagai pimpinan, tentunya dia membaca biodata karyawannya."Saya sudah tahu cerita hidup kamu. Saya baca profil kamu dan Pak Yanuar menceritakan semuanya pada saya.""Oh, iya." Nadia manggut-manggut dengan hati yang seb

  • Adakah Jalan Untuk Kembali    62. Jatuh Hati 1

    NADIA- 28 Jatuh HatiDewa menutup pintu setelah Nadia duduk. Kemudian ia melepaskan jasnya dan menaruhnya di jok belakang. Tersisa kemeja abu-abu yang lengannya ditarik hingga ke siku. Baru kemudian naik ke mobilnya.Dada Nadia berdesir hebat. Canggung, malu, dan entahlah ....Kalau kemarin-kemarin ia khawatir kalau Dewa ini suami orang. Namun setelah tahu dia seorang duda, tetap saja membuat Nadia canggung.Saat Dewa menarik seat belt, Nadia pun melakukan hal yang sama.Nadia menegakkan punggung. Tangannya bertaut di pangkuan. Pandangannya lurus ke depan dan terasa kaku. Jantungnya berdetak kencang. Panas dingin menjalari tengkuk, sementara telapak tangannya mulai terasa dingin."Astaga, Nadia. Tenang aja kali," bisik hatinya.Nadia mencium aroma mobil yang bersih dengan wangi mint. Tidak banyak barang di sana. Tak seperti mobil perempuan yang banyak sekali printilan. Di console box hanya ada tisu dan sebotol air mineral ukuran 600ml. Mobil bergerak pelan meninggalkan parkiran berk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status