เข้าสู่ระบบ"Iya, Bu."Menjelang Maghrib, semua hidangan telah tersaji. Rumah yang biasanya rame oleh suara Adam saja, kini mendadak terasa hangat. Namun Nadia semakin berdebar-debar. Dalam kurun waktu lima tahun dia lamaran dua kali, menikah dua kali.Nadia teringat dengan Pak Lukman. Yang ternyata bukan ayah kandungnya. Dia sedih. Pria itu adalah ayah yang sangat baik. Namun sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan Pak Haris? Nadia tersenyum getir.Selesai salat Maghrib, Nadia melipat mukena dan Wiwin sudah menunggunya dengan tas make up terbuka."Na, ini lamaran. Pakai make up yang agak cerah dikit gitu, loh," protes Wiwin.Nadia menggeleng. "Nggak usah. Ini acara sederhana, Win. Keluarga inti Pak Dewa saja yang akan datang.""Kamu manggilnya masih Pak Dewa?" Wiwin memandang Nadia sambil mengernyitkan dahi."Iya. Kami kan baru lamaran saja. Terus dia bosku di kantor. Aku belum terbiasa manggil mas, Win.""Okelah. Cepetan kamu ganti baju."Akhirnya Nadia memilih gamis warna terakota dengan jilbab
Selesai makan, Bu Isti menarik napas panjang. Tangannya terlipat di atas meja dan wajahnya terlihat serius. "Sebenarnya selain berkenalan, ada hal penting yang hendak saya sampaikan."Nadia gelisah. Dewa siap mendengarkan, sementara Bu Hana mengangguk, memberi isyarat agar wanita itu melanjutkan bicaranya."Saya ingin jujur tentang kenyataan dalam hidup saya dan anak saya. Jangan sampai hal ini akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari." Bu Isti memandang putrinya. Saat itu Bu Hana serius memperhatikan. Suasana hening sejenak. Adam sibuk memainkan sendoknya, tidak menyadari betapa berat perasaan orang-orang dewasa di sekelilingnya.Akhirnya Bu Isti menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Hubungan ini harus diawali dengan kejujuran. Nadia menggigit bibir, menahan dada yang terasa sesak.Sementara Dewa dan Bu Hana sempat kaget sesaat. Namun mereka langsung bisa mengontrol gestur tubuh. "Sebelum acara lamaran, saya memang harus memberitahukan hal ini. Supaya nggak ada penye
NADIA- 42 Malam Penentuan "Kamu ingin bertemu Haris, Na?" tanya Bu Isti saat mereka sudah dalam perjalanan menuju ke sebuah rumah makan. Wanita itu memangku cucunya yang tengah memperhatikan padatnya kendaraan."Nggak, Bu. Aku mengikuti apapun keputusan Ibu. Ayahku hanya Pak Lukman," jawab Nadia sambil fokus menyetir.Ia masih ingat bagaimana Pak Haris mendampingi Selina di pelaminan. Bahagia disamping dua perempuan yang telah merenggut kebahagiaannya dan kebahagiaan ibunya. Setelah tahu kenyataan kalau lelaki itu ayah biologisnya, hati Nadia kian terluka. Lelaki yang terlihat baik dan bijaksana itu, ternyata sekejam Davin. Mungkin jika dirinya lemah, bisa saja Davin akan membuatnya tak berdaya. Lantas memiliki nasib yang sama seperti ibunya. "Kenapa orang-orang jahat seperti mereka, hidupnya baik-baik saja, Bu?""Itu kelihatannya," jawab Bu Isti ringan. "Serahkan saja pada Yang Maha Kuasa, Na. Nggak ada kejahatan yang lolos dari pembalasan. Entah itu dibalas di dunia atau di akhi
Dewa menatap tajam sepupu di hadapannya. "Lupakan saja niatmu itu.""Kenapa? Karena Nadia punya kekasih dan aku pun sama?""Karena dia milikku," jawab Dewa dengan suara tegas dan dingin. Dia tidak peduli kalau harus 'gelud' dengan sepupunya di tempat itu.Arif terkejut. Sejenak keheningan itu terasa menegangkan. Mata saling mengintimidasi dan embusan napas terasa kasar. "Mas, serius?""Ya."Akhirnya Arif menghela napas panjang. "Oke. Aku nggak berani bersaing kalau denganmu, Bos. Mungkin aku memang harus tetap bersama Lita."Dewa sebenarnya heran dengan sikap Arif. Biasanya dia tidak akan semudah itu menyerah. Tapi tatapan matanya tak menunjukkan perlawanan."Oke. Aku kembali ke kantor dulu." Arif bangkit dari duduknya. Lalu meninggalkan Dewa.Pria itu mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Nadia. Namun belum sempat mengetik, ada pesan masuk dari nomer asing.[Assalamu'alaikum. Ini Bu Isti, Mas Dewa. Bisakah Ibu bertemu denganmu dan mamamu sebelum acara lamaran.]Membaca pesan it
Nadia menceritakan pembicaraannya dengan Dewa tadi. Membuat ibu dan buleknya pun terharu. Setelah Nadia tidak dihargai oleh Davin, sekarang mendapatkan perhatian yang luar biasa dari sosok pria yang jauh lebih baik."Nanti kita bikin persiapan untuk lamaran, Na. Ngasih tahu Pak Kyai saja, ya. Nggak usah ngundang siapa-siapa. Biar nggak bikin heboh.""Iya, Bu. Kalau gitu, aku ke kamar dulu, ya.""Jangan lupa sholat isya dulu.""Ya."Nadia masuk kamar ibunya sejenak untuk melihat putranya. Menciumi pipinya Adam, baru masuk ke kamarnya sendiri. Sedangkan Bu Isti mengajak adiknya duduk di teras depan untuk membahas persiapan menyambut tamu nanti."Mbak, apa kali ini Nadia tetap nggak dikasih tahu tentang ayahnya?" tanya Bulek Sari lirih.Bu Isti menarik napas panjang. Tatapannya jauh ke langit malam. "Sampai kapan Mbak merahasiakan kenyataan itu. Apakah selamanya Nadia nggak akan Mbak kasih tahu?"Bu Isti diam. Sebenarnya hal ini menjadi beban dalam hatinya. Namun jika ingat betapa sakit
NADIA - 41 Dia Harus TahuNadia semakin berdebar dan sejenak ketegangan tercipta. Ia mengaduk minumannya lalu menyesap untuk melonggarkan tenggorokan.Beberapa saat kemudian mulai terlihat santai. "Lebih aman pacaran setelah menikah. Tujuan saya ke kamu, memang untuk menikah. Kita membina hidup baru dan melupakan masa lalu.""Ya." Nadia mengangguk pelan. "Tapi jangan karena kasihan sama saya, terus Pak Dewa mendekati saya.""Kalau hanya karena kasihan, saya tidak akan mengorbankan diri dengan menikahimu. Kita niatkan pernikahan ini untuk ibadah, hidup bersama saling melengkapi dan mengingatkan. Itu saja. Jangan ada pikiran yang lain. Kalau hanya sekedar kasihan, cukup saya ngasih pekerjaan ke kamu atau saya bisa ngasih uang, misalnya."Mendengar kalimat Dewa, Nadia merasa speechless. Keheningan kembali menjadi jeda. Mereka memandang cahaya lampu yang memantul di permukaan sungai. Lampu-lampu kuning temaram yang menggantung rendah di teras kafe, memantulkan kehangatan di balik udara







