LOGINAmara menegakkan punggungnya yang mendadak kaku, napasnya tercekat.
Chandra menatapnya. Sekilas saja, tapi cukup terbaca ekspresi “astaga apa ini” yang melintas di wajah lelaki itu. Kemudian, emosinya terkunci. Datar. Dingin. Seolah Amara hanyalah petugas kasir minimarket tak dikenal yang ia temui lima menit lalu.
Jarak psikologis tiba-tiba muncul di antara mereka, membuat setiap gerakan keduanya jadi terasa canggung. Tiada kehangatan seperti yang pernah tercipta di ranjang sebuah villa di Bali waktu itu.
Wajah Amara memanas, rasa malu memenuhi pipinya dengan semburat kemerahan. Ia cepat-cepat meneguk gelas berisi air minumnya untuk mengguyur rasa panas di sekujur tubuhnya yang mendadak tegang. Sangat tegang seperti karet gelang yang ditarik kencang.
'Tuhan. Tolong selamatkan aku dari situasi ini!'
Tapi jeritan hatinya itu sia-sia.
Tidak, bahkan Tuhan pun seperti tak sudi menolongnya dari situasi yang penuh canggung ini. Mungkin, inilah buah karma yang harus ia petik setelah tertanam pada beberapa bulan yang lalu.
Oh, astaga.
Andai mesin waktu itu ada, rasanya ia ingin kembali ke hari itu. Hanya untuk menolak telepon sialan dari Rina yang menawarinya job tambahan.
“Tamu di Villa Aster minta tambahan satu terapis, sekarang juga. Dua orang udah di sana, tapi ternyata tamunya ada tiga, masih kurang satu lagi. Plisss, Mara! Aku nggak punya orang lain lagi. Villa Aster, cuma dua jam, bayaran double belum termasuk tips."
Bayaran double, belum termasuk tips. Siapa sanggup menolak? Pas tanggung bulan. Gajian masih lama, sementara tagihan sudah menganga di sana-sini.
Tentu saja Amara menerima.
Lagipula Amara sudah terbiasa menghadapi berbagai macam klien pria: bule berotot seperti batu, pengusaha lokal dengan perut buncit tapi pedenya selangit, pria yang sok sibuk sendiri dengan ponsel saat dipijat, sampai bapak-bapak yang sok tahu titik saraf tapi malah menjerit-jerit minta ampun begitu dia tekan.
Tidak salah jika rekannya langsung lari padanya saat dibutuhkan. Apalagi, selama ini Amara selalu bersikap profesional. Wajah Amara yang cantik dan tubuh idealnya selalu membuatnya mendapatkan tawaran berupa tiket liburan, jam tangan mahal, bahkan mobil. Semuanya dengan iming-iming “layanan plus-plus”.
Namun, ia selalu menolak.
Tapi, malam itu entah kenapa...
Klien yang ia tangani bersikap aneh usai Amara membalurkan minyak ke tubuh berotot itu. "Panas," katanya. "Tolong aku," lanjut sosok itu sebelum mendadak menciumnya dengan rakus. Dan lebih aneh lagi, Amara menyambutnya, seperti ada desakan liar yang tak terelakkan tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Ada sesuatu yang rasanya familiar dari pria itu, Amara bisa merasakan, tapi tidak bisa menjelaskan
Namun, dari segala kemungkinan yang ada... sungguh, ia sama sekali tak mengira bahwa klien yang sedang bercinta dengannya itu ternyata adik lelakinya sendiri, yang sudah belasan tahun terpisah darinya.
"Tenang, Mara. Tenang!" tegur Amara pada dirinya sendiri.
Tapi, bagaimana dia bisa tenang?
Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan menatap Chandra.
“Uh… hai…” suaranya serak, tercekat. Lalu, ia menunduk, mendadak merasa hina, sangat malu.
Ingin rasanya menjerit sambil menjambak rambutnya sendiri.
Padahal seharusnya, setelah delapan belas tahun terpisah, pertemuan ini bisa menjadi sebuah reuni mengharukan seperti acara "Termehek-mehek" di TV.
“Hai.” Chandra mengangguk singkat. Tangannya menyentuh punggung kursi yang berada tepat di seberang meja Amara, seolah mencari pegangan agar tidak pingsan.
Tanpa menyadari ketegangan yang sedang terjadi, Nyonya Lydia segera menyendokkan nasi ke piring Chandra, dengan presisi tingkat ibu-ibu yang sudah puluhan tahun menghafal porsi makan anak bungsunya.
“Makan dulu, Ndra. Kamu pasti capek, kan? Kamu boleh langsung istirahat setelah ini.”
Ah. Kalimat itu…
Boleh langsung istirahat setelah ini.
Seolah Amara bukanlah sesuatu yang terlalu penting untuk disambut oleh mereka.
“Nah, Amara.” Nyonya Lydia tersenyum bangga. “Ini dia adik yang sejak tadi kau tunggu-tunggu. Pangling, ya? Tinggi dan tampan, kan? Lihat, adikmu tumbuh hebat. Kamu harus belajar banyak darinya.”
Amara tersenyum kecut.
Sejak dulu ibunya suka menyanjung Chandra setinggi langit, sementara dirinya selalu dijatuhkan. Meskipun faktanya adiknya itu memang memenuhi kualifikasi sebagai anak yang patut dibanggakan oleh keluarga Sanjaya: cerdas dan punya banyak prestasi.
Ah. Nostalgia toxic parenting. Nikmat sekali. Amanda teringat ucapan tajam Nyonya Lydia dulu:
“Lihat adikmu! Nilainya selalu di atas rata-rata. Kamu itu kenapa sih, Mara? Dasar bodoh!”
Dan perih itu kembali muncul, seperti memar lama yang disentuh tanpa permisi.
Tapi ada juga kenangan manis. Dulu, setiap kali ia menangis karena tekanan sang ibu, Chandra selalu menghibur dan mendukungnya.
“Jangan nangis dong, Kak. Aku janji deh… besok-besok aku mau bikin nilaiku jelek juga, biar adil.”
“Hus!” Amara menjitaknya. “Salah satu dari kita harus ranking! Biar hadiahnya bisa kita bagi dua!”
Chandra pun meringis memegangi kepalanya yang habis kena jitak, tapi cengirannya itu terus mengembang untuk sang kakak.
Sekarang, senyuman adiknya itu hilang. Tatapannya dingin, datar, seolah kedekatan mereka sudah dipreteli oleh takdir dan dibuang ke tempat sampah organik.
Amara menelan ludah. Kecanggungan di meja makan ini makin mengental.
Setiap kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di tenggorokan, sementara sikap Chandra yang dingin membuatnya ingin terjun ke jurang Grand Canyon.
Sial.
Seandainya orangtuanya tidak mengancam akan memenjarakan Bik Harni, Amara tidak mau menginjakkan kaki di rumah ini lagi.
Ia sempat mengira, neraka di rumah ini mungkin sudah padam. Namun rupanya… malah tambah menyiksa.
Setidaknya ia masih punya Chandra. Begitu semula pikirnya.
Tapi ternyata alam semesta, dengan humor gelapnya, memutuskan untuk menamparnya dengan kenyataan brutal:
Ia telah bercinta dengan adiknya sendiri.
***
“Jadi, proyek ekspansi ke Indonesia Timur sudah disetujui, Ndra?”
Suara Tuan Arman memotong kesunyian yang sejak tadi menggantung di ruang makan, jenis kesunyian yang biasanya muncul ketika keluarga tidak punya hal lain untuk dibicarakan… kecuali bisnis.
“Sudah, Pa. Tapi aku masih belum yakin dengan pilihan mitra lokalnya.”
Chandra duduk tegap, tenang, seperti model majalah bisnis edisi ‘CEO Muda Paling Menjanjikan’.
“Kita harus mempertimbangkan ulang kerja sama dengan Newland Corp,” lanjutnya dengan nada percaya diri.
Tuan Arman mengangguk singkat tanpa benar-benar melihat siapa pun, seluruh fokus tertumpuk pada piringnya. Seakan proyek ekspansi jauh lebih penting daripada keberadaan satu manusia tambahan bernama Amara di meja makan hari ini.
“Bagaimana dengan proyek di Surabaya?” tanyanya lagi.
“Stabil, hanya perlu audit laporan tahunan,” jawab Chandra dengan ketenangan yang membuat Amara ingin bertanya: apakah pria ini pernah panik dalam hidupnya?
Nyonya Lydia menimpali, lembut dan penuh perhatian.
“Kamu harus jaga kondisi, Ndra. Mama tahu kamu gila kerja, tapi tubuhmu kan bukan robot.”
Chandra tersenyum sopan dan manis. Senyum yang pasti membuat banyak wanita jatuh hati.
Tuan Arman, Nyonya Lydia, dan Chandra larut dalam percakapan tentang bisnis dan laporan keuangan. Sementara Amara hanya duduk di sana, mengaduk supnya yang sudah dingin.
Tak ada satu pun yang menyinggung kepulangannya. Tak ada pertanyaan tentang bagaimana ia bertahan selama ini, atau di mana ia tinggal selama delapan belas tahun terakhir.
Tak tahan lagi, Amara akhirnya buka suara.
“Sebenarnya, untuk apa kalian memintaku pulang?”
Amara diam seribu bahasa sepanjang sisa perjalanan. Bukan diam yang pasrah, tapi diam yang menahan diri agar tidak runtuh di tempat yang salah.Chandra beberapa kali mengajaknya bicara—pertanyaan kecil, komentar sepele tentang jalanan, tentang besok—namun Amara hanya menjawab seperlunya. Senyumnya ada, tapi terlalu rapi. Terlalu dikendalikan. Seolah senyum itu bukan reaksi, melainkan tameng.Selebihnya, ia menutup mata. Pura-pura tidur. Bukan karena lelah, melainkan karena ia tidak ingin ditanya lagi bagaimana keadaannya. Tidak ingin menjelaskan perasaan yang bahkan ia sendiri belum bisa merangkainya dengan kata-kata.Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.Amara langsung turun tanpa menunggu, membawa tas-tas belanjaannya. Gerakannya cekatan, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan ketika ia memutuskan untuk tidak bergantung pada siapa pun.Dua pelayan yang sudah menunggu di pintu rumah terlihat terdiam sejenak. Tatapan mereka memindai Amara dari ujung rambut hingga uju
Begitu pintu mobil tertutup, suara klik sabuk pengaman bahkan belum selesai berbunyi—“Sial. Sial. Sial,” Amara langsung menyambar.Chandra baru sempat memutar kunci, mesin belum benar-benar hidup.“Asli, sumpah! Kamu keterlaluan, Ndra!” Amara menoleh tajam. “Apaan sih?” Chandra melirik sekilas, santai. “David?”“Siapa lagi?!” Amara hampir menepuk dashboard. Hampir. Ia menahan diri di detik terakhir. “Kenapa kamu nggak cepat-cepat kasih kode ke aku, apa kek gitu… kalau itu tadi David!”Ia mengusap wajahnya cepat, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tarikan napasnya pendek, frustrasi.“Padahal kan dia targetku,” lanjutnya, kali ini lebih rendah tapi penuh tekanan. “Alasan kenapa aku mau glow up. Kenapa aku mau nurut sama semua aturan kamu. Duduk tegak. Tatap mata. Jangan gelisah. Jangan kelihatan butuh.”Amara menoleh lagi ke Chandra. “Semua itu karena dia!”Chandra tidak langsung menjawab. Mobil mulai melaju pelan meninggalkan parkiran.“Aku pantang ngeluh,” kata Amara cepat,
Chandra baru menyadarinya setelah kafe kembali ke ritme normalnya.Tidak ada lagi pria itu. Tidak ada lagi interupsi. Tinggal mereka berdua, meja kayu gelap, dua cangkir kopi, dan jarak yang seharusnya terasa biasa.Tapi tidak.Amara duduk tegak di seberangnya. Punggung lurus. Bahu sejajar. Tidak gelisah. Tidak menunduk. Tatapannya menetap padanya setiap kali ia bicara—bukan tatapan menantang, bukan pula tatapan mencari validasi. Tatapan yang tenang. Mantap. Seolah wanita itu tahu persis posisinya di ruangan itu.Chandra mengamati tanpa disadari.Dulu, Amara selalu memalingkan mata lebih dulu. Mengisi jeda dengan gerakan kecil yang tidak perlu, bahkan menggigit kuku. Sekarang, ia tidak melakukan apa-apa selain ada dan melakukan setiap hal dengan pantas. Caranya menyesap kopi, caranya memejam sesaat sambil berkata, “Hmm ini baru kopi.” Berkelas.Dan itu perubahan besar.Chandra menyesap kopinya. Rasanya pahit, seperti biasa. Ia sudah sering duduk di kafe semacam ini, berbicara denga
Ingatan yang langsung menghinggapi kepala Amara adalah bagaimana pria itu pernah mencium pacarnya. Ciuman yang membuatnya keki, patah hati, sekaligus sadar di detik yang sama bahwa ia tak boleh kepincut lagi padanya.‘Ganteng sih, tapi sayangnya udah sold out. Cuma bisa dikagumi, nggak boleh diingini.’ Amara hanya diam sepanjang lelaki itu mengobrol ringan dengan Chandra, tapi ia sadar lelaki itu sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Entahlah, apa dia ingat pernah bertemu dengan Amara, atau cuma sekedar tatapan kepo ia pacarnya Chandra atau bukan.Sampai akhirnya. “Pacarmu? Nggak mau kenalin ke aku?” bisiknya, pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya.Chandra hanya terkekeh pelan. Amara melirik adik lelakinya itu, agak jengkel karena Chandra sepertinya enggan memperkenalkan dirinya sebagai kakak pada orang lain.Kenapa? Apa penampilanku masih kurang terlihat meyakinkan sebagai Nona Sanjaya?Amara menyesap kopinya perlahan dengan gerakan elegan, tapi suhu kopi yang masih panas langs
Chandra menyetir dengan tenang, satu tangan bertumpu ringan di setir, tangan satunya bertengger santai di dekat tuas persneling. Mobil sedan mewah itu melaju stabil, seperti pemiliknya tahu persis ke mana arah hidup dan jalan yang sedang ia ambil.Di dalam kabin, lagu Perfect milik Ed Sheeran mengalir dari speaker mobil. Volumenya cukup jelas untuk didengar, cukup tenang untuk tidak menguasai percakapan. Nada-nadanya mengisi ruang sempit di antara mereka, menyatu dengan dengung mesin dan ritme jalanan sore.“I found a love… for me…”Suara Chandra terdengar lirih dan merdu, enak di telinga dengan cara yang bikin orang lupa sedang di mobil. Ia menyanyi sambil menyetir dengan satu tangan, santai, seperti ini hal paling normal di dunia.Amara melirik ke arahnya, pura-pura tidak terlalu memperhatikan. Padahal ia mendengarkan. Setiap baitnya. Cara Chandra menyanyikannya ringan, hampir malas-malasan, tapi justru itu yang membuatnya terasa… keren. Seperti suaranya itu tidak sedang dipamerkan
Begitu kaki Amara menginjak lantai butik itu, insting hidupnya langsung bereaksi. Bukan reaksi kagum, tapi reaksi waspada—jenis rasa yang biasanya muncul saat seseorang sadar dirinya sedang berada di tempat yang terlalu berbahaya.Ini tempat mahal.Benar-benar mahal yang membuat orang refleks melangkah lebih pelan, takut-takut kalau sampai menyenggol sesuatu lalu harus menjual ginjal demi ganti rugi. Salah gerak sedikit saja, dompet bisa trauma seumur hidup.Amara mengedarkan pandangan. Lantainya mengilap, rak-raknya rapi berlebihan, jarak antar pakaian seperti sengaja dibuat agar tidak ada yang sembarangan menyentuh.Lampunya terang, putih, dan jujur. Terlalu jujur. Jenis cahaya yang tidak peduli apakah seseorang siap atau tidak untuk dilihat apa adanya: orang kaya silakan masuk, yang miskin tolong menyingkir. Tanpa basa-basi.Aroma yang tercium di udara pun bukan aroma mall biasa. Bukan wangi popcorn, bukan juga kopi yang mengundang orang untuk duduk santai. Udara di sini dipenuhi







