INICIAR SESIÓN“Karena kamu memang harus pulang,” sahut Nyonya Lydia datar, sambil mengiris sepotong daging di piringnya, “Ini rumahmu.”
Amara menatap ibunya. “Kalau ini rumahku… kenapa baru sekarang kalian membawaku pulang?”
Chandra melirik Amara sekilas. Tatapan itu dingin dan datar, nyaris tanpa emosi, tapi di balik dinginnya tersimpan sesuatu yang sulit diuraikan. Lalu ia kembali menunduk, menatap isi piringnya.
“Kami sudah lama mencarimu,” jawab Nyonya Lydia dengan senyum yang berhenti tepat di bibir, tak ada satu pun yang mencapai matanya. “Jangan bicara seakan-akan kami yang bersalah, Mara. Semua ini gara-gara Bik Harni. Sudah bagus dia tidak masuk penjara."
“Bik Harni tidak bermaksud menculikku. Dia hanya—”
“Dan sekarang kamu malah membelanya?” potong Nyonya Lydia lagi.
“Ma. Bagaimanapun Bik Harni sudah merawatku dengan baik.”
“Merawatmu? Dengan baik?” ulang Nyonya Lydia pelan, tajam. “Lihat dirimu, Amara. Berkacalah. Kalau kau memang terawat dengan baik, seharusnya kau sudah jadi seseorang sekarang… bukannya menjadi tukang pijat mur–”
“Cukup, Ma.”
Tuan Arman memotong cepat. Kalimat “tukang pijat murahan” yang hampir meluncur dari bibir istrinya itupun terpotong di udara.
Hening.
Amara menunduk. Tangannya sedikit gemetar. Ia melirik Chandra, satu-satunya yang dulu selalu membelanya dari monster-monster kecil dalam hidup mereka.
Tapi kini… yang ia lihat hanyalah rahang mengeras, sorot mata hambar yang tak benar-benar menatap, dan jarak yang terlalu jauh untuk seorang adik.
Tuan Arman akhirnya menegakkan punggung. “Makanlah,” katanya datar, kembali ke piringnya seolah tadi hanya turbulensi kecil di atas meja makan mahal.
Amara mengedarkan pandangan.
Ke ibunya yang mengiris daging tanpa hati.
Ayahnya yang tenggelam dalam diamnya.
Adiknya yang beku.
Hati Amara seperti diremuk dari dalam. ‘Keluarga macam apa ini?’
“Aku hargai upaya kalian mencariku."
Ketiga orang itu menoleh pada Amara.
"Tapi sekarang umurku sudah dua puluh delapan tahun.” Amara menahan jeda. “Kurasa, aku tidak harus tinggal di sini, kan? Sebab aku sudah terbiasa hidup mandiri. ”
Tatapan Nyonya Lydia seketika mengeras.
“Mandiri?” ulang Nyonya Lydia dingin. “Kau menyebut hidup mandiri setelah delapan belas tahun tinggal entah di mana, tanpa pendidikan yang pantas, tanpa arah?”
Ibunya tersenyum tipis, sopan, lalu menusukkan kalimatnya seperti pisau yang dibungkus beludru.
“Bangga sekali rupanya… dengan hidupmu yang ‘mengagumkan’ itu.”
Suasana meja makan kembali tegang, udara seolah kehilangan suhunya.
Tuan Arman akhirnya buka suara, nadanya lebih kalem tapi sama menguasainya.
“Amara, kami membawamu pulang agar hidupmu bisa ditata ulang. Kau tidak perlu repot bekerja sendiri atau tinggal di luar. Semua kebutuhanmu ada di sini.”
“Tapi, Pa. Aku bisa–”
“Tidak ada ‘aku bisa’,” potong Nyonya Lydia, tanpa kelip. “Kamu sudah cukup lama hidup salah arah. Sekarang dengarkan kami. Kamu akan tetap di rumah ini, sampai kami memastikan kamu menikah dengan pria yang bisa membuat hidupmu benar-benar stabil.”
Amara mengernyit. Kenapa tiba-tiba muncul obrolan soal pernikahan di sini?
“Ma, aku bukan anak kecil lagi. Aku hanya ingin–”
“Cukup.” Suara Tuan Arman memecah udara seperti palu hakim.
Orang nomor satu di rumah besar itu meletakkan garpunya perlahan di atas piring. Suara logam beradu dengan porselen terdengar tajam di antara keheningan.
Sekilas, Chandra tampak ingin berkata sesuatu, tapi urung. Tangannya yang menggenggam garpu tampak menegang, seperti menahan sesuatu yang berat.
“Mara. Selama ini kami sulit menemukan jejakmu, karena Bik Harni suka berpindah-pindah tempat tinggal.”
Amara mengangkat wajahnya sedikit. Masih waspada. Masih sakit hati. Tapi… kalimat ayahnya terdengar berbeda: lebih sabar, tidak menyerang. Nada yang membuat hatinya yang tadinya kering kerontang mulai… melembut. Sedikit.
“Jangan kau pikir selama ini Papa dan Mama tidak berbuat apa-apa untukmu, Mara.”
Kalimat itu membuat Amara mulai berpikir ulang.
Ada yang pelan-pelan merayap ke dadanya. Rasa kesal, masih marah, mencoba mengerti.
“Papa tahu kau marah. Papa juga tahu kau sudah melalui banyak hal sulit selama ini. Maafkan kami yang terlambat menemukanmu.”
Maafkan kami. Dua kata itu membuat Amara akhirnya terisak pelan.
“Mara. Papa dan Mama ingin kau tetap di rumah ini, karena kami peduli. Izinkan kami menebus delapan belas tahunmu itu dengan jaminan masa depan yang lebih baik buatmu, Nak.”
'Nak'. Kata yang cukup melipurnya dari semua tuduhan, kemarahan, dan luka yang menumpuk selama bertahun-tahun.
“Tetaplah tinggal. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari kami lagi, Mara. Rumah ini tempatmu. Papa dan Mama hanya akan melepasmu pergi saat kau telah menikah nanti.”
Tuan Arman tersenyum tipis, cukup membuat Amara kembali percaya bahwa ia masih punya tempat di rumah ini.
“Dan omong-omong soal menikah, Papa sudah punya calon suami untukmu,” lanjut Tuan Arman, membuat Amara terbatuk kecil.
“Calon… suami?” ulang Amara, matanya melirik ayah dan ibunya, sekilas pada Chandra yang sejak tadi diam, seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.
Chandra tiba-tiba mengangkat wajahnya sedikit. Mata itu menatapnya dengan kedalaman yang tenang namun dingin. Tetapi di balik ketenangan itu, ada bara kecil yang sulit dipadamkan setiap kali menatap Amara.
“Apa ini tujuan Papa memanggilku pulang? Melepas tanggung jawab dengan cepat-cepat menikahkan aku?” protes Amara.
“Dengar, Nak,” suara Tuan Arman melunak. “Papa tidak mungkin sembarangan menikahkan kamu dengan pria yang tidak jelas. David itu putra dari keluarga terhormat.”
Mendengar nama David disebut, Chandra yang semula menunduk langsung mengangkat kepalanya, seolah ia juga terkejut dan baru mendengar rencana ayahnya ini.
Tuan Arman tersenyum pada putranya. “Kamu kenal baik dengan David, kan, Ndra?” Lalu ia menoleh pada Amara. “Dia dulu kakak tingkatnya Chandra di Kanada. Mereka berteman dekat. Kamu bisa tanya-tanya ke Chandra seperti apa David semasa sekolah dulu, yang jelas… dia pria baik-baik seperti adikmu.”
Amara mendengus mendengarnya. ‘Pria baik-baik seperti adikmu.’
Bah!
Tak tahukah ayahnya… bahwa anak lelaki yang dibanggakannya itu pernah meniduri seorang terapis spa? Amara sendiri tak yakin apakah itu yang pertama bagi Chandra.
“Pa…” Pandangannya tidak melawan, tapi tidak menyerah. “Aku ingin menentukan hidupku sendiri. Biarkan aku memilih sendiri pria yang ingin kunikahi.”
“David itu pria yang baik, kan, Ndra?” sahut Tuan Arman tanpa betul-betul mempedulikan protes Amara.
Seisi meja kini menoleh pada Chandra. Rahang adik lelakinya itu tampak mengeras, seperti menahan sesuatu yang ia jaga baik-baik agar tidak pecah.
“Aku setuju,” jawabnya, akhirnya.
Tuan Arman dan Nyonya Lydia tersenyum puas mendengar jawaban si anak bungsu, tapi kepuasan itu langsung menguap saat Chandra tiba-tiba melanjutkan ucapannya.
“Aku setuju Kak Mara memilih sendiri pria yang ingin dia nikahi.”
“Ndra, Papa bukan minta pendapatmu,” tegur Nyonya Lydia. “Papa cuma ingin kamu jelasin ke kakakmu, gimana itu si David,” ujarnya.
Namun, Chandra justru menambahkan, “Ini bukan jamannya Siti Nurbaya, Ma. Biar saja Kak Mara menentukan sendiri jalan hidupnya.”
“Kamu akan menikah dengan David, Mara.” Nyonya Lydia menegaskan, mengabaikan ucapan Chandra.
“Ini bentuk kasih sayang Mama dan Papa ke kamu. Mungkin terdengar memaksa, tapi justru jahat kalau kami biarkan kamu salah memilih pasangan hidupmu. Kami tak akan membiarkanmu hidup miskin dan sengsara lagi,” imbuhnya.
Tuan Arman mengangguk dan menambahkan, “Ingat, Nak… kebahagiaan seorang wanita itu ditentukan oleh pasangan yang bisa meratukannya. Dan untuk bisa menjadi ratu, maka kau harus memiliki kualitas suami seperti raja: terhormat, berwibawa, punya istana dan kekuasaan. Dan David… punya itu semua.”
"Tapi David sudah punya pacar, Pa." Chandra menyahut cepat.
"Cuma pacar." Tuan Arman tertawa ringan. "Bukan berarti calon istri." Kemudian ia menoleh pada Amara. "Jangan khawatir, Mara. Orangtuanya hanya merestui David menikah denganmu."
Amara hanya diam. Sedangkan Chandra terlihat menghela napas, ada sorot tidak puas di matanya.
"Kamu kan dekat dengan David, Ndra. Bantulah David dan kakakmu biar saling kenal lebih dekat." Nyonya Lydia menimpali.
Chandra mendengus kecil. "Aku terlalu sibuk buat jadi Mak Comblang."
Amara diam seribu bahasa sepanjang sisa perjalanan. Bukan diam yang pasrah, tapi diam yang menahan diri agar tidak runtuh di tempat yang salah.Chandra beberapa kali mengajaknya bicara—pertanyaan kecil, komentar sepele tentang jalanan, tentang besok—namun Amara hanya menjawab seperlunya. Senyumnya ada, tapi terlalu rapi. Terlalu dikendalikan. Seolah senyum itu bukan reaksi, melainkan tameng.Selebihnya, ia menutup mata. Pura-pura tidur. Bukan karena lelah, melainkan karena ia tidak ingin ditanya lagi bagaimana keadaannya. Tidak ingin menjelaskan perasaan yang bahkan ia sendiri belum bisa merangkainya dengan kata-kata.Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.Amara langsung turun tanpa menunggu, membawa tas-tas belanjaannya. Gerakannya cekatan, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan ketika ia memutuskan untuk tidak bergantung pada siapa pun.Dua pelayan yang sudah menunggu di pintu rumah terlihat terdiam sejenak. Tatapan mereka memindai Amara dari ujung rambut hingga uju
Begitu pintu mobil tertutup, suara klik sabuk pengaman bahkan belum selesai berbunyi—“Sial. Sial. Sial,” Amara langsung menyambar.Chandra baru sempat memutar kunci, mesin belum benar-benar hidup.“Asli, sumpah! Kamu keterlaluan, Ndra!” Amara menoleh tajam. “Apaan sih?” Chandra melirik sekilas, santai. “David?”“Siapa lagi?!” Amara hampir menepuk dashboard. Hampir. Ia menahan diri di detik terakhir. “Kenapa kamu nggak cepat-cepat kasih kode ke aku, apa kek gitu… kalau itu tadi David!”Ia mengusap wajahnya cepat, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tarikan napasnya pendek, frustrasi.“Padahal kan dia targetku,” lanjutnya, kali ini lebih rendah tapi penuh tekanan. “Alasan kenapa aku mau glow up. Kenapa aku mau nurut sama semua aturan kamu. Duduk tegak. Tatap mata. Jangan gelisah. Jangan kelihatan butuh.”Amara menoleh lagi ke Chandra. “Semua itu karena dia!”Chandra tidak langsung menjawab. Mobil mulai melaju pelan meninggalkan parkiran.“Aku pantang ngeluh,” kata Amara cepat,
Chandra baru menyadarinya setelah kafe kembali ke ritme normalnya.Tidak ada lagi pria itu. Tidak ada lagi interupsi. Tinggal mereka berdua, meja kayu gelap, dua cangkir kopi, dan jarak yang seharusnya terasa biasa.Tapi tidak.Amara duduk tegak di seberangnya. Punggung lurus. Bahu sejajar. Tidak gelisah. Tidak menunduk. Tatapannya menetap padanya setiap kali ia bicara—bukan tatapan menantang, bukan pula tatapan mencari validasi. Tatapan yang tenang. Mantap. Seolah wanita itu tahu persis posisinya di ruangan itu.Chandra mengamati tanpa disadari.Dulu, Amara selalu memalingkan mata lebih dulu. Mengisi jeda dengan gerakan kecil yang tidak perlu, bahkan menggigit kuku. Sekarang, ia tidak melakukan apa-apa selain ada dan melakukan setiap hal dengan pantas. Caranya menyesap kopi, caranya memejam sesaat sambil berkata, “Hmm ini baru kopi.” Berkelas.Dan itu perubahan besar.Chandra menyesap kopinya. Rasanya pahit, seperti biasa. Ia sudah sering duduk di kafe semacam ini, berbicara denga
Ingatan yang langsung menghinggapi kepala Amara adalah bagaimana pria itu pernah mencium pacarnya. Ciuman yang membuatnya keki, patah hati, sekaligus sadar di detik yang sama bahwa ia tak boleh kepincut lagi padanya.‘Ganteng sih, tapi sayangnya udah sold out. Cuma bisa dikagumi, nggak boleh diingini.’ Amara hanya diam sepanjang lelaki itu mengobrol ringan dengan Chandra, tapi ia sadar lelaki itu sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Entahlah, apa dia ingat pernah bertemu dengan Amara, atau cuma sekedar tatapan kepo ia pacarnya Chandra atau bukan.Sampai akhirnya. “Pacarmu? Nggak mau kenalin ke aku?” bisiknya, pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya.Chandra hanya terkekeh pelan. Amara melirik adik lelakinya itu, agak jengkel karena Chandra sepertinya enggan memperkenalkan dirinya sebagai kakak pada orang lain.Kenapa? Apa penampilanku masih kurang terlihat meyakinkan sebagai Nona Sanjaya?Amara menyesap kopinya perlahan dengan gerakan elegan, tapi suhu kopi yang masih panas langs
Chandra menyetir dengan tenang, satu tangan bertumpu ringan di setir, tangan satunya bertengger santai di dekat tuas persneling. Mobil sedan mewah itu melaju stabil, seperti pemiliknya tahu persis ke mana arah hidup dan jalan yang sedang ia ambil.Di dalam kabin, lagu Perfect milik Ed Sheeran mengalir dari speaker mobil. Volumenya cukup jelas untuk didengar, cukup tenang untuk tidak menguasai percakapan. Nada-nadanya mengisi ruang sempit di antara mereka, menyatu dengan dengung mesin dan ritme jalanan sore.“I found a love… for me…”Suara Chandra terdengar lirih dan merdu, enak di telinga dengan cara yang bikin orang lupa sedang di mobil. Ia menyanyi sambil menyetir dengan satu tangan, santai, seperti ini hal paling normal di dunia.Amara melirik ke arahnya, pura-pura tidak terlalu memperhatikan. Padahal ia mendengarkan. Setiap baitnya. Cara Chandra menyanyikannya ringan, hampir malas-malasan, tapi justru itu yang membuatnya terasa… keren. Seperti suaranya itu tidak sedang dipamerkan
Begitu kaki Amara menginjak lantai butik itu, insting hidupnya langsung bereaksi. Bukan reaksi kagum, tapi reaksi waspada—jenis rasa yang biasanya muncul saat seseorang sadar dirinya sedang berada di tempat yang terlalu berbahaya.Ini tempat mahal.Benar-benar mahal yang membuat orang refleks melangkah lebih pelan, takut-takut kalau sampai menyenggol sesuatu lalu harus menjual ginjal demi ganti rugi. Salah gerak sedikit saja, dompet bisa trauma seumur hidup.Amara mengedarkan pandangan. Lantainya mengilap, rak-raknya rapi berlebihan, jarak antar pakaian seperti sengaja dibuat agar tidak ada yang sembarangan menyentuh.Lampunya terang, putih, dan jujur. Terlalu jujur. Jenis cahaya yang tidak peduli apakah seseorang siap atau tidak untuk dilihat apa adanya: orang kaya silakan masuk, yang miskin tolong menyingkir. Tanpa basa-basi.Aroma yang tercium di udara pun bukan aroma mall biasa. Bukan wangi popcorn, bukan juga kopi yang mengundang orang untuk duduk santai. Udara di sini dipenuhi







