LOGINElla merasa ada yang menggoyang-goyang bahunya. Dia membuka mata dan melihat Sisi sedang membangunkannya. "Kenapa, Sayang?" tanya Ella. "Nenek mencari Ibu." Nenek? Ella sontak bangun. "Dimana nenek?" Sisi menunjuk pintu. Tepat saat suara Margaret kembali terdengar. "Ella, kamu di dalam?" tanya Margaret. Ella menatap pintu dengan horor. Dia segera membangunkan Zega. "Zega, ada Ibu, cepat sembunyi!" Ella panik. Zega tampak malas bangun. Dia memejam mata kembali. Tapi begitu sadar hari sudah siang, dia sontak bangun. "Sudah jam 8?" gumam Zega, tidak percaya. "Iya, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Ella, jujur. "Sekarang ada Ibu di luar, cepat sembunyi." "Kenapa sembunyi?" tanya Zega. "Aku belum siap kena masalah." Ella menarik Zega ke kamar mandi. "Awas kalau kamu keluar," ancam Ella lalu menutup pintu kamar mandi. Setelah itu Ella mendekati Sisi. "Sisi, bisakah kita bekerja sama?" tanya Ella. "Apa itu?" "Tidak boleh ada yang tahu Om Zega ada di sini,"
Ella mengangkat telpon Zega. Setelah rekonsiliasi dengan Zega dan cerita apa yang barusan dia alami, Zega ingin menemuinya. Terpaksa Ella membuka pintu dan membiarkan Zega masuk ke dalam kamar Sisi. Ella memindai Zega yang memakai jaket kulit warna hitam, kaos hitam polos v-neck dan celana jeans warna senada. "Kamu dari mana?" tanya Ella. "Cari yang seperti kamu diluar sana, tapi nggak ketemu." Ella terkekeh meski tahu digombali Zega. Tapi detik berikutnya Ella terkejut Zega mengunci pintu dan mematikan lampu. "Mau apa kamu?" tanya Ella, serius. "Menginap di sini." Ella tercengang. Sepertinya salah membuka pintu untuk Zega. "Jangan aneh-aneh, aku tidak mau kena masalah," kata Ella. "Justru kita harus mencari masalah, supaya Ayah dan Ibu tidak menyuruhmu kembali sama Kakak." Ella menarik nafas dan membuangnya kasar. "Sepertinya aku salah cerita ke kamu." Zega terkekeh. Ella membalik badan dan meninggalkan Zega. Tapi baru saja membalik badan, sudah ditarik ke dalam
Ella menatap Mario. Dia ingat, dulu Mario sering mengatakan dia tidak bisa sukses tanpa Mario. Ternyata, sekarang Mario tidak bisa sukses tanpa dia. Ella terkekeh kecil, baru paham Mario gila tahta. Karena itu Mario mau menuruti semua keinginan ayah dan ibunya demi kembali jadi CEO grup MD! Ella tidak sebodoh dulu. Dia akan membuat Mario membayar semua sakit dan kerugian yang pernah dia derita. Pukul 20.30 makan malam bubar. Ella berdiri di balkon kamarnya. Menatap halaman luas, tempat 30 mobil berjajar rapi di antara pohon palem yang menjulang tinggi dan lurus. Tanpa sadar Ella mencari mobil Zega. Ternyata mobil sport adik iparnya itu ada di pojok, tapi motornya tidak ada. "Halo, Sayang." Ella menoleh ke belakang mendengar suara Mario. Dia melihat Mario sudah berganti piyama dan kembali telpon dengan Emma. "Lagi apa?" tanya Mario kepada Emma. "Makan apa? Enak itu. Aku sudah makan, sekarang ingin makan kamu." Ella memutar bola mata, jengah. Dia keluar kamar dan tidur di
Sementara itu di negara kelahiran Ella. Di sebuah panti asuhan. Emma menelpon Mario sembari menatap anak kecil di depannya. Anak laki-laki berwajah tampan dan berkulit putih itu adalah anak Mario dan Ella, namanya Darren. Pikiran Emma melayang ke 4 tahun lalu. Dia sudah lama pacaran dengan Mario, tapi sejak Ella datang ke negara Roshell, semuanya berantakan. Siang itu, dia ingin memberitahu Mario kalau dirinya hamil. Tapi, dia melihat Ella ada di ruang kerja Mario dan menuntut Mario tanggung jawab karena sudah memperkosanya. Hati Emma hancur, tidak percaya. Karena Mario tidak pernah cerita kepadanya kalau habis memperkosa Ella. Akhirnya Emma memilih tidak memberitahu Mario dan datang ke kakak angkatnya. Kakak angkatnya adalah seorang dokter kandungan di Traya Hospital. Dia minta tolong kakak angkatnya untuk mengaborsinya, tapi kakak angkatnya tidak mau. Dia minta kakak angkatnya membunuh bayi Ella, kakak angkatnya juga tidak mau. Akhirnya dia minta tolong kakak angkatnya un
Ella menahan Zega yang ingin menciumnya. "Zega." Ella menatap Zega. "Ya." "Ibu menyuruhku mengatakan hal-hal baik kepada Mario, seperti apresiasi dan jika memungkinkan cinta," curhat Ella. "Terus?" "Aku tidak bisa mengatakannya tapi juga tidak bisa menolaknya," Ella bingung. "Kalau begitu ikuti saranku." "Apa?" "Hamil anakku," tukas Zega. Ella memutar bola mata. "Apa itu satu-satunya cara?" "Ya." Zega mengecup bibir Ella. "Aku belum siap mengambil jalan itu," kata Ella. "Siapmu apa sekarang?" Ella menatap Zega. "Ngobrol denganmu." Zega tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Setidaknya kamu sudah mau bicara denganku." Lalu Zega turun dari tubuh Ella. Tapi bukan Zega kalau cukup dengan ngobrol. Sembari mendengarkan Ella mengobrol dia melucuti baju Ella satu persatu. Akhirnya, Ella masih waras, tapi Zega sudah gila karena tidak tahan melihat buah dada dan pantat Ella yang besar dan bulat, namun pinggangnya kecil dan perutnya rata. "Kau benar-benar godaan, E
Ella memang tidak pernah mengatakan cinta kepada Mario. Jadi, saran Ibu mertuanya sebuah tekanan tersendiri. "Kalau bahasa cintamu apa?" tanya Margaret. Ella tersenyum. "Ella tidak tahu, Bu." "Kan ada 5 bahasa cinta. Diantara kelima itu kamu lebih ke arah mana? supaya Mario juga tahu apa yang dilakukan agar kamu juga merasa dicintai," Margaret mencoba mengorek informasi. "Sejujurnya Ella tidak tahu apa itu bahasa cinta, Bu," jawab Ella, polos. Margaret tertawa. "Oh ya?" Ella menganguk. Margaret menjelaskan kepada Ella macam-macam bahasa cinta. Tepat saat ini mereka melihat Zega datang. "Baru jam 4 sore kok udah pulang, dik?" tanya Margaret. Dia memang sering memanggil Zega dengan sebutan adik atau nama langsung. Zega duduk di dekat Sisi. "Kangen sama Sisi." Sisi tersenyum, hampir minta gendong Zega tapi ditahan oleh Margaret. "Om masih kotor, Sayang." Sisi menurut. "DIK, cepet mandi. Jangan bawa kuman, bakteri, virus dari luar," tutur Margaret. "Iya," sahut







