LOGINRumah tangga yang sudah pernah ternoda oleh sebuah pengkhianatan membuatku tidak pernah tenang menjalani hari. Kepercayaanku pada suamiku luntur perlahan bahkan nyaris tak tersisa. Cinta dan kasih sayang sudah berubah maknanya bagi kami. Salah paham, salah bersikap yang berulang kali terjadi membuat rumah terasa dingin. Satu demi satu peristiwa membuatku yakin ada sesuatu terjadi. Beberapa kali dugaanku memang meleset tapi semakin membuatku bersemangat untuk mencari tahu ada apa sebenarnya ini? Mungkinkah suamiku kembali berkhianat? Dengan orang yang sama atau dengan siapa? Kalau benar suamiku berkhianat lagi apa aku harus terus bertahan atau bersiap melakukan serangan balik?
View More“Sejak kamu saya pindah ke butik kenapa kerjaan kamu jadi nggak beres semua? Terus kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit pada saya?!”“Bu, mohon maaf sebelumnya tapi saya bukan tidak pamit tapi belum pamit, dari semalam sampai detik ini ada beberapa kejadian yang membuat saya belum sempat bertemu langsung dengan Ibu.”“Kenapa sih kamu Tari? Kalau kamu butuh uang bilang terus terang sama saya, berapa pun yang kamu butuhkan saya pasti bantu. Jujur saja sama saya di depan, jangan main belakang seperti ini! Saya bener-bener kecewa sama kamu, saya nggak percaya kamu bisa melakukan ini sama saya!”“Saya melakukan apa ya Bu? Yang saya lakukan adalah belum berpamitan langsung pada Ibu, selain itu saya merasa tidak melakukan apa-apa.”“Kamu habiskan untuk apa uang cash yang kamu ambil dari laci meja kerjanya Lila?”“Uang cash? Dari laci Lila? Bu, maaf tapi apa yang sedang Ibu bicarakan? Saya tidak mengambil apa pun.”Bu Ning mengambil ponselnya dan memintaku melihat video, di sana me
“Mir, terima kasih karena semalam kamu sudah menyelamatkan aku ya,” aku memeluk Mira setelah menceritakan semua yang terjadi semalam.“Mbak, kamu harus hati-hati, dia itu…”“Tari…,” panggil Hendi membuat Mira tidak jadi melanjutkan kalimatnya.“Deko dihajar orang tadi Subuh sehabis pulang dari masjid. Sekarang dia dirawat di rumah sakit.”“Ya Allah, pasti kerjaannya Pras,” kataku dengan tangan gemetar, aku teringat lagi kejadian semalam.“Sudah lapor?” tanya Mira.“Sudah, katanya orang-orang itu mau begal motornya Deko.”“Itu pasti akal-akalannya si Pras, nggak mungkin enggak,” kata Mira.“Ini masih dugaan sementara, tunggu Deko pulih dulu biar dia bisa memberi kesaksian tentang kejadian yang sebenarnya. Pulang kantor kita langsung ke rumah sakit ya.” “Siapa yang kasih tahu kamu Hen?”“Temen motoran, tapi.... ada satu hal yang bikin aku nggak habis pikir. Temenku tadi cerita kalau sebenernya dia dilarang keluarganya Deko untuk kasih info tentang kondisinya Deko sama aku. Sa
“Kalau rasa yang kamu punya sama Tari itu tulus, kamu nggak akan tega buat nyakitin.”Sosok pengendara motor tiba-tiba muncul sebelum Prasetyo berhasil membawaku pergi, anak buah Prasetyo mengira dia pengguna jalan yang kebetulan lewat, tapi ternyata dia adalah Deko. Dalam keadaan yang membuatku takut sekaligus bersyukur, aku belum berhasil menemukan jawaban tentang bagaimana dua orang ini bisa ada di tempat dan waktu yang sama denganku.“Jangan sok ngerasa di atas angin hanya gara-gara kamu masih diterima dengan baik sama Tari, kamu dan aku itu sama saja karena Tari belum memutuskan dia pilih siapa.”“Aku single, kamu? Kamu mau jadikan Tari istri kedua? Atau.... mau ceraikan istri kamu dan ninggalin anak kamu demi membuktikan kalau kamu serius sama Tari?”“Bukan urusan kamu!!”“Memang bukan, tapi kita sama-sama laki-laki kan? Karena setahuku, yang bangga mengakui dirinya sebagai laki-laki sejati tapi bisanya nyakitin perempuan itu lebih pantas disebut banci sih.”“Punya mulut j
“Sekarang lebih baik kamu ikut aku! Tinggalin motor kamu di situ! Biar nanti aku suruh orang buat benerin sekalian nganterin ke rumah kamu kalau semuanya sudah beres,” kata Prasetyo dari mobilnya.“Nggak usah, makasih. Di depan nanti pasti ada kok yang buka.”“Kamu mau jalan sampai berkilo-kilo meter juga nggak bakalan ada Tar. Ini tuh udah masuk daerah pinggirian, nggak akan ada tukang tambal ban yang buka dua puluh empat jam. Udah masuk aja! Sekali-kali nurut bisa nggak sih? Demi kamu juga loh ini.”Aku mulai ragu untuk melanjutkan langkahku setelah mendengar kata-kata Prasetyo tapi aku tidak punya pilihan lain. Setelah semua yang dia lakukan, aku tidak mungkin percaya begitu saja kalau Prasetyo benar-benar berniat baik. “Mikirin apalagi sih kamu? Takut? Apa yang harus ditakutin coba? Tenang aja Tari, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu,” Prasetyo kemudian menghentikan mobilnya beberapa meter di depanku karena aku juga berhenti. Dia lalu keluar dari mobil dan berjalan mendekatik
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.