âBi, Gibran ke mana?â Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Mama Puspa sesaat setelah tiba di rumah anaknya. Raut kelelahan terlihat jelas di wajah yang mulai memunculkan keriput. Namun, di sisi lain dia sangat senang dan bersyukur karena pada akhirnya Nazira diperbolehkan keluar dari rumah sakit.âSaya lihat mobilnya tidak ada,â lanjutnya sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar Nazira.âAnu ⊠itu Nyonya,â ucap Bibi dengan terbata. Merasa ada yang aneh, Mama Puspa menghentikan langkahnya. Ia lalu menoleh ke belakang, lalu berkata, âBicara yang jelas Bi Jum. Gibran ke mana?ââTadi ⊠Den Gibran pergi setelah ada tamu.ââTamu?â tanyanya dengan kening mengerut. âSiapa tamunya?â tanya Mama Puspa dengan intonasi tidak sukanya. Bagaimana bisa anaknya itu pergi padahal Nazira baru saja pulang dari rumah sakit.âSama Mbak Liya, Nyah.âMata Mama Puspa beberapa kali mengedip. *Maksud kamu Aurelia?â Wanita paruh baya itu kembali mengangguk. âIya, Nyah.âJujur saja, mendengar jawaban
âApa maksud kamu, Nak?âPertanyaan itu Mama Nadira utarakan setelah beberapa detik terdiam. Jujur saja, dia begitu terkejut dengan perkataan Zahra. Ada apa dengan pernikahan anaknya? Apa yang terjadi hingga Zahra mengatakan hal itu.âJangan bercanda, Nak. Pernikahan itu bukan untuk mainan.â Mama Nadira mencoba menampiknya. Pasti pernikahan anaknya bauk-baik saja, pasti. Zahra pasti hanya tengah bercanda.âMama nggak suka ah kamu bicara seperti itu.â Mama Nadira memilih untuk beranjak. Dia menaruh piring kotor di dapur.Sementara itu, Zahra yang ditinggal berdua dengan sang Papa masih belum sanggup menatap papanya. Dia tidak takut. Hanya saja, dia takut membuang ayahnya kecewa dan merasa bersalah. Bagaimanapun, Papa Bagaskara yang menikahkan dirinya dengan Gibran.âPah âŠ,â panggil Zahra pada akhirnya setelah sekian lama diam. Kepalanya terus menunduk dengan tangan saling bermain.âAda apa, Nak?â tanya Papa Bagaskara dengan tegas, tapi tersimpan kekhawatiran tersendiri.âZahra tidak bis
âSayang, tumben kamu masak banyak banget.âSeruan itu membuat Mama Nadira yang tengah menggoreng ayam lengkuas langsung menoleh. Kedua sudut bibirnya langsung tertarik ke atas saat melihat tubuh tegap milik Bagaskara bersandar di dinding.âIya, dong. Tadi Zahra bilang kalau mau pulang.âKening Bagaskara langsung mengernyit mendengarnya. âKapan bilang sama kamu, Mah?â Lelaki itu mendekat ke arah sang istri dan mengambil potongan kecil ayam yang sudah matang. âEnak, seperti biasa,â pujinya sambil memberikan satu kecupan di pipi Mama Nadira.âIh ⊠Papa apa-apaan, sih. Main cium-cium sembarangan. Nanti kalau ada yang lihat gimana?â gerutu Mama Nadira sambil menatap protes. Namun, kedua pipinya yang memerah tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya tengah salting.Mendengar itu Bagaskara hanya bisa menggelengkan kepala. Dia biarkan saja istrinya kembali melanjutkan kegiatan memasak. Kebahagiaan tersendiri melihat Nadira tersenyum benar-benar lepas setelah kepergian Humaira.Dua bulan setelah
âBi, Gibran ke mana?â Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Mama Puspa sesaat setelah tiba di rumah anaknya. Raut kelelahan terlihat jelas di wajah yang mulai memunculkan keriput. Namun, di sisi lain dia sangat senang dan bersyukur karena pada akhirnya Nazira diperbolehkan keluar dari rumah sakit.âSaya lihat mobilnya tidak ada,â lanjutnya sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar Nazira.âAnu ⊠itu Nyonya,â ucap Bibi dengan terbata. Merasa ada yang aneh, Mama Puspa menghentikan langkahnya. Ia lalu menoleh ke belakang, lalu berkata, âBicara yang jelas Bi Jum. Gibran ke mana?ââTadi ⊠Den Gibran pergi setelah ada tamu.ââTamu?â tanyanya dengan kening mengerut. âSiapa tamunya?â tanya Mama Puspa dengan intonasi tidak sukanya. Bagaimana bisa anaknya itu pergi padahal Nazira baru saja pulang dari rumah sakit.âSama Mbak Liya, Nyah.âMata Mama Puspa beberapa kali mengedip. *Maksud kamu Aurelia?â Wanita paruh baya itu kembali mengangguk. âIya, Nyah.âJujur saja, mendengar jawaban
âApa maksud kamu, Nak?â Pertanyaan itu Mama Nadira utarakan setelah beberapa detik terdiam. Jujur saja, dia begitu terkejut dengan perkataan Zahra. Ada apa dengan pernikahan anaknya? Apa yang terjadi hingga Zahra mengatakan hal itu. âJangan bercanda, Nak. Pernikahan itu bukan untuk mainan.â Mama Nadira mencoba menampiknya. Pasti pernikahan anaknya bauk-baik saja, pasti. Zahra pasti hanya tengah bercanda. âMama nggak suka ah kamu bicara seperti itu.â Mama Nadira memilih untuk beranjak. Dia menaruh piring kotor di dapur. Sementara itu, Zahra yang ditinggal berdua dengan sang Papa masih belum sanggup menatap papanya. Dia tidak takut. Hanya saja, dia takut membuang ayahnya kecewa dan merasa bersalah. Bagaimanapun, Papa Bagaskara yang menikahkan dirinya dengan Gibran. âPah âŠ,â panggil Zahra pada akhirnya setelah sekian lama diam. Kepalanya terus menunduk dengan tangan saling bermain. âAda apa, Nak?â tanya Papa Bagaskara dengan tegas, tapi tersimpan kekhawatiran tersendiri. âZahra tid
âSayang, tumben kamu masak banyak banget.âSeruan itu membuat Mama Nadira yang tengah menggoreng ayam lengkuas langsung menoleh. Kedua sudut bibirnya langsung tertarik ke atas saat melihat tubuh tegap milik Bagaskara bersandar di dinding.âIya, dong. Tadi Zahra bilang kalau mau pulang.âKening Bagaskara langsung mengernyit mendengarnya. âKapan bilang sama kamu, Mah?â Lelaki itu mendekat ke arah sang istri dan mengambil potongan kecil ayam yang sudah matang. âEnak, seperti biasa,â pujinya sambil memberikan satu kecupan di pipi Mama Nadira.âIh ⊠Papa apa-apaan, sih. Main cium-cium sembarangan. Nanti kalau ada yang lihat gimana?â gerutu Mama Nadira sambil menatap protes. Namun, kedua pipinya yang memerah tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya tengah salting.Mendengar itu Bagaskara hanya bisa menggelengkan kepala. Dia biarkan saja istrinya kembali melanjutkan kegiatan memasak. Kebahagiaan tersendiri melihat Nadira tersenyum benar-benar lepas setelah kepergian Humaira.Dua bulan setelah
âYakin hari ini Lo mau masuk kampus?â Pertanyaan itu membuat Zahra yang mengaplikasikan sunscreen menoleh. Wanita itu menghela nafas. Ini pertanyaan ketiga setelah dia mengatakan akan masuk kampus setelah lima hari menjalani kelas secara online.âYakin. Lo nggak usah khawatir, Put. Gue baik-baik saja.âSelesai bersiap, mereka akhirnya pergi ke kampus. Di sela perjalanan, mereka bercerita tentang hal-hal kecil. Zahra beberapa kali dibuat tertawa oleh Adel.Meskipun begitu, ada rasa hampa di sudut hatinya. Dia berulang kali bertanya, bagaimana kabar Nazira? Apakah anaknya itu baik-baik saja? Zahra tidak bisa abai pada amanah yang sudah dititipkan pada dirinya.âLo ⊠nggak mau pulang, RaââPulang ke rumah Mama?â Zahra membuka galeri, lalu menatap foto dirinya dan Nazira. Tanpa bisa dicegah, tangannya bergerak untuk memberikan usapan. âTerlalu jauh samâââLo tau yang gue maksud, Ra,â sela Adel sambil menoleh ke arah kiri. âGue tanya, kapan Lo pulang ke rumah suami? Lo punya tanggung jawab
âMama nggak mau tau ya, Gib. Kamu harus cari Zahra sampai ketemu! Mama nggak mau lihat Nazira sakit!!â Mama Puspa menatap tajam Gibran yang kini duduk di ruang rawat Nazira. Lelaki itu mengurut hidungnya. Kepalanya semakin pening mendengar Omelan sang Mama. Awalnya, dia sengaja menyembunyikan kepergian Zahra karena tahu reaksi mamanya akan seperti ini. Namun, sebaik apa pun dia menyembunyikannya, Mamanya mengetahui juga. Jangan lupakan wanita yang melahirkannya ini mempunyai banyak mata. âIya, Ma. Gibran juga masih berusaha mencari Zahra.â Mama Puspa menghela nafas panjang. âApa yang kamu perbuat hingga Zahra meninggalkan rumah, ha?â Puspa menatap tajam anaknya. âKamu ini mikirnya gimana sih, Gib?â tatapan itu berubah menjadi sendu. âZahra itu sudah mengorbankan masa depannya untuk masa depan kamu dan Nazira!â Puspa memalingkan muka, sambil mengusap air matanya. âDia melakukan itu tanpa banyak protes. Tapi kamu, kamu justru tidak tahu diri. Kamu menyakitinya hingga Zahra memutuska
Pyarr. âAstaghfirullah,â teriak Mama Nadia. Wanita setengah baya itu menatap pigura foto pernikahan Zahra dan Gibran yang ada di dekat televisi terjatuh. Matanya menatap cukup lama bingkai itu. Ia mulai merasa ada hal yang terjadi antara anak dan menantunya. âAda apa, Ma?â tanya papa Bagas saat mendengar teriakan Mama Nadia. Lelaki itu mendekati Mama Nadia yang masih memaku di tempat sambil memegang album foto. Bagas melihat istrinya menatap ke lantai, lebih tepatnya ke arah foto pernikahan Zahra dan Gibran yang kini pecah. âAstaghfirullah, kok bisa pecah?â tanya Papa Bagas sambil bergegas merapikan itu. âAh ⊠ini masih bisa diperbaiki, Ma. Nggak kenapa-napa,â ujar Papa Bagas menenangkan istrinya. âPah ⊠ada apa sama mereka, ya?â tanya Mama Nadia begitu lirih. Dia berdiri perlahan, lalu menatap suaminya dengan lekat. âPerasaan Mama tiba-tiba nggak enak, Pa. Mama merasa ada yang terjadi sama mereka,â ungkapnya tentang keresahan hati. Papa Bagas yang mendengar itu menghela nafas