เข้าสู่ระบบ"Mama dan Paman Sunny tidur di sebelah sini. Nggak papa, kan?" Tanya Siska yang mengatur tempat tidur untuk mereka. "Kak Eva biar bergabung sama Ibu, Kak Yuni dan Kak Mar. Sementara Kak Adamis bersama Atha dulu, ya?" Kata Siska lagi. Ia menunjuk ruang yang di sekat oleh kain untuk pembatas antara mereka. Tentu saja ruangan untuk Evara dan yang lainnya itu lebih besar. Adamis tidak terlihat keberatan. Toh hanya satu malam. "Mama bisa bergabung sama yang lain." Sahut Ariana. Ia merasa tidakenak karena keistimewaan yang diberikan padanya. "Jangan, Ma. Aku takut Paman Sunny merasa nggak nyaman tanpa Mama." Sanggah Siska sambil menatap Safira yang tidak mengeluarkan komentarnya sama sekali. "Iya kan, Bu?" Tanya Siska meminta pendapat Safira yang hanya menganggukkan kepalanya. "Kamar mandi ada di sana." Beritahu Siska lagi sambil menunjuk bagian belakang paviliun itu. Ada dua kamar mandi di sana. Safira menaiki kasur yang ditunjuk oleh Siska untuknya. Kasur yang paling besar dan pa
"Aku?" Tanya Sabrina seraya menunjuk wajahnya sendiri. Ia lupa sudah menelpon kakaknya itu. "Iya! Video call!" Teriak Lukman Hakim kesal. Sabrina tersadar. "Oh, itu kan Kakak yang nyuruh! Aku VC Kakak kalau ada temanku datang. Iya, kan?" Katanya sambil menyuap baksonya. Kini Lukman Hakim yang tersadar. Ia sendiri yang melupakan permintaannya itu. Ia lalu melirik Alea yang terkesima setelah tersedak tadi. Keinginannya terwujud. Ia melihat Lukman Hakim dalam balutan seragamnya. Begitu tampan dan gagah. Sesuai dengan apa yang ia imaginasikan."Ya sudah kalau begitu. Tapi Kalian harus tetap di sini. Jangan ngelantur kemana - mana. Ingat?" Kata Lukman Hakim akhirnya. "Iya, bawel!" Sahut Sabrina tidak peduli. Ia juga tidak mempedulikan Alea yang seperti kehilangan kosa katanya. Ia benar - benar speechless. Lukman Hakim kembali ke mobilnya. Perasaannya sedikit lebih lega meski juga heran melihat sikap Alea. 'Kenapa anak itu? Kayak orang kesambet.' ucap Lukman Hakim dalam hati. Ia m
Sabrina meledak, "Kak! Aku ini sudah dewasa! Aku sudah bisa memilah dan memilih! Kamu juga nggak punya hak untuk mengatur semuanya dalam hidupku! Papa Mama juga enggak, kenapa Kakak jadi sok kuasa?!" Sengatnya tajam. "Brin, teman - temanmu itu kurang.. dapat dipercaya." Kata Lukman Hakim setengah mengeluh. Sabrina menghela nafas. Ia tahu kakaknya ini sangat protektif karena terlalu menyayanginya. Apalagi Papa dan Mama mereka mempercayakan dirinya pada anak pertamanya itu. Semua ucapan Lukman Hakim seperti sabda yang harus dipatuhi. Semula Sabrina nyaman - nyaman saja mendapat perlakuan seperti itu tapi lama kelamaan ia merasa seperti burung dalam sangkar. "Begini saja, Aku tidak akan mengundang teman - temanku untuk datang ke rumah." Kata Sabrina akhirnya mencoba mengalah. Lukman Hakim sedikit memicingkan matanya. "Beneran? Tapi bagaimana kalau mereka datang sendiri?" Tanyanya memancing. "Itu bukan salahku, kan?" Kata Sabrina seraya mengangkat kedua tangannya. Ia mulai merasa
Sabrina lelah serasa berdiri di antara Alea dan kakaknya. Ia ingin membela Alea tapi kenyataannya Alea merasa tidak perlu dibela. Ia tidak merasa salah dengan apa yang ia kenakan selama ini. "Apa maksudmu, Brin? Kenapa Kamu menganggapku begitu? Aku kan nggak mungkin menggoda orang - orang itu? Demi apapun Aku berani!" Kata Alea berapi - api. Sabrina kembali menghela nafasnya. "Kamu nggak sadar, Al? Pakaianmu itu! Cara berpakaianmu itu yang mengundang mata - mata jahat dari orang - orang mesum seperti mereka!"Alea terhenyak untuk sesaat. Ia ingat jika sang mama juga memintanya berganti pakaian pada hari itu. Ia juga ingat saat Adamis lebih sering membuang pandangannya bila ia datang. Padahal ia merasa tampil dengan sempurna. Ia memang tidak berani memakai pakaian seperti itu saat ke kantor karena ia takut kemarahan dan teguran dari sang papa. "Berusalah berpakaian lebih sopan, Al. Nggak ada ruginya buatmu, kan? Cantikmu juga nggak akan tertutupi meski tanpa make up tebal. Kamu can
"Besan! Ternyata Ibu Dewi ini penjahit yang sudah ternama, lho! Bagaimana kalau Kita menjahit baju Kita untuk pernikahan nanti sama beliau saja?" Pertanyaan Ariana membuat perhatian Safira beralih. Ia menatap Ibu Siska yang tersenyum merendah, "Ah, biasa aja, Bu. Nggak usah bilang ternama begitu. Jadi malu." Katanya seraya tertawa kecil. Safira mengeluh dalam hati. 'Lihatlah diriku yang begitu sombong padahal Aku nggak punya kemampuan apa - apa!' tutuk hatinya mengomeli diri sendiri. "Itu.. Itu kalau nggak.. Merepotkan.." Kata Safira sedikit gugup. "Jangan dong, Ma. Nanti Ibu Dewi jadi nggak fokus nyiapain acara pernikahannya. Lain kali aja. Lain kali Kita pesan sama Ibu Dewi." Kata Evara memberi tanggapan. Ariana tertawa dan mengangguk setuju. Tapi ucapan Ibu Dewi berikutnya membuat Safira terperangah. "Tapi Aku akan tetap menjahit buat Siska, diriku sendiri dan tentu saja Ibu Safira." Katanya yang disambut dengan anggukan penuh semangat oleh Siska. Safira menatap besannya it
Mobil melaju tidak terlalu cepat tapi juga tidak lambat. Adamis memilih berada di belakang mobil Athena. Perjalanan panjang yang menyenangkan apalagi saat mereka sudah menyusuri tepian lembah - lembah dan bukit di sekitar perjalanan. Udara mulai terasa segar saat Athena memilih membuka jendela. Safira tidur dan itu menguntungkan buat yang lain karena tidak ada gerutuan atau omelan Safira. Siska menunjuk jalan yang terus naik ke atas. "Depan situ belok kanan." Katanya. "Masih naik lagi?" Tanya Mariska ngeri. Siska tersenyum. "Sedikit lagi, Kak. Kalau sudah sampai nanti pasti Kakak suka." Kata Siska pasti. Dari jauh rumahnya yang tidak terlalu besar itu sudah terlihat dari atapnya yang tinggi. Menempel di sebelah kanan rumah itu sebuah paviliun yang sangat besar. "Itu, Atha! Itu rumahku!" Teriak Siska bersemangat. Teriakannya membangunkan Safira. "Sudah sampai?" Katanya seraya mengucek matanya. Mobil belum benar - benar berhenti sampai Athena membelokkan mobilnya memasuki pela
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b
Tiba - tiba pintu terbuka. Seorang perempuan cantik masuk dengan pakaian kurang bahan. Begitu Adamis menyebut rok mini yang dikenakan Alea. "Say.."Ucapan Alea terputus. Matanya membulat melihat kehadiran Ariana di ruang Adamis. "Alea! Angin apa yang membawamu ke sini?" Sapa Ariana. Alea terkeju







