เข้าสู่ระบบSabrina lelah serasa berdiri di antara Alea dan kakaknya. Ia ingin membela Alea tapi kenyataannya Alea merasa tidak perlu dibela. Ia tidak merasa salah dengan apa yang ia kenakan selama ini. "Apa maksudmu, Brin? Kenapa Kamu menganggapku begitu? Aku kan nggak mungkin menggoda orang - orang itu? Demi apapun Aku berani!" Kata Alea berapi - api. Sabrina kembali menghela nafasnya. "Kamu nggak sadar, Al? Pakaianmu itu! Cara berpakaianmu itu yang mengundang mata - mata jahat dari orang - orang mesum seperti mereka!"Alea terhenyak untuk sesaat. Ia ingat jika sang mama juga memintanya berganti pakaian pada hari itu. Ia juga ingat saat Adamis lebih sering membuang pandangannya bila ia datang. Padahal ia merasa tampil dengan sempurna. Ia memang tidak berani memakai pakaian seperti itu saat ke kantor karena ia takut kemarahan dan teguran dari sang papa. "Berusalah berpakaian lebih sopan, Al. Nggak ada ruginya buatmu, kan? Cantikmu juga nggak akan tertutupi meski tanpa make up tebal. Kamu can
"Besan! Ternyata Ibu Dewi ini penjahit yang sudah ternama, lho! Bagaimana kalau Kita menjahit baju Kita untuk pernikahan nanti sama beliau saja?" Pertanyaan Ariana membuat perhatian Safira beralih. Ia menatap Ibu Siska yang tersenyum merendah, "Ah, biasa aja, Bu. Nggak usah bilang ternama begitu. Jadi malu." Katanya seraya tertawa kecil. Safira mengeluh dalam hati. 'Lihatlah diriku yang begitu sombong padahal Aku nggak punya kemampuan apa - apa!' tutuk hatinya mengomeli diri sendiri. "Itu.. Itu kalau nggak.. Merepotkan.." Kata Safira sedikit gugup. "Jangan dong, Ma. Nanti Ibu Dewi jadi nggak fokus nyiapain acara pernikahannya. Lain kali aja. Lain kali Kita pesan sama Ibu Dewi." Kata Evara memberi tanggapan. Ariana tertawa dan mengangguk setuju. Tapi ucapan Ibu Dewi berikutnya membuat Safira terperangah. "Tapi Aku akan tetap menjahit buat Siska, diriku sendiri dan tentu saja Ibu Safira." Katanya yang disambut dengan anggukan penuh semangat oleh Siska. Safira menatap besannya it
Mobil melaju tidak terlalu cepat tapi juga tidak lambat. Adamis memilih berada di belakang mobil Athena. Perjalanan panjang yang menyenangkan apalagi saat mereka sudah menyusuri tepian lembah - lembah dan bukit di sekitar perjalanan. Udara mulai terasa segar saat Athena memilih membuka jendela. Safira tidur dan itu menguntungkan buat yang lain karena tidak ada gerutuan atau omelan Safira. Siska menunjuk jalan yang terus naik ke atas. "Depan situ belok kanan." Katanya. "Masih naik lagi?" Tanya Mariska ngeri. Siska tersenyum. "Sedikit lagi, Kak. Kalau sudah sampai nanti pasti Kakak suka." Kata Siska pasti. Dari jauh rumahnya yang tidak terlalu besar itu sudah terlihat dari atapnya yang tinggi. Menempel di sebelah kanan rumah itu sebuah paviliun yang sangat besar. "Itu, Atha! Itu rumahku!" Teriak Siska bersemangat. Teriakannya membangunkan Safira. "Sudah sampai?" Katanya seraya mengucek matanya. Mobil belum benar - benar berhenti sampai Athena membelokkan mobilnya memasuki pela
Sabrina tidak dapat membantah lagi. Tentu saja tidak. Ia tidak ingin mencemarkan nama baik Alea. Dengan mematuhi keinginan Lukman Hakim untuk diam di rumah, semua akan di handel oleh Lukman Hakim dengan wewenangnya selaku polisi yang membekuk pelaku pelecehan itu. "Semua itu bisa kusamarkan tapi enggak kalau Kalian sekarang ingin muncul di permukaan." Ancam Lukman Hakim lagi. Sabrina menyerah meski ia juga harus menjaga jarak dengan sang kekasih karena ia harus menginap di rumah sang kakak untuk sementara waktu. Tentu saja Kakaknya yang ia nilai kejam itu akan melarang kehadiran Edo di rumahnya. "Kenapa Aku nggak boleh pulang ke rumah?" Tanya Sabrina. "Mama - papa lagi honey moon. Kamu nggak punya alasan untuk tinggal sendirian di sana." Kata Lukman Hakim tenang. Sabrina menjebik, "Honey moon apanya? Mereka cuma mudik, Kak!" Serang Sabrina kesal. "Mudik berdua ke kampung halaman yang masih fresh. Apa namanya kalau bukan honeymoon?" Tanya Lukman Hakim tidak mau kalah. "Dasar ba
Rahang Lukman Hakim mengeras. Ia melihat penampilan Alea yang berantakan tadi. Alea tidak tampil maksimal seperti biasanya. "Edo berkelahi dengan mereka untuk membela kehormatan Alea. Ia memintaku membawa Alea pergi dan mencari bantuan! Apa itu belum cukup?" Teriak Sabrina membahana. Ia sangat marah! Lukman Hakim mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk kepala Sabrina. "Iya. Maaf." Katanya singkat. "Hanya itu??!" Teriak Sabrina seraya membelalakkan matanya. Lukman Hakim tersenyum tipis. "Aku akan minta maaf pada Edo. Puas?"Alea tiba di rumah sebelum tengah malam. Penampilan kacaunya tertutupi oleh cardigan panjangnya. Andara sedikit curiga melihat rambutnya yang kusut masai tapi Artika menahannya untuk tidak menegur Alea. "Nggak sekarang. Biarkan dia tidur. Jangan ganggu dia dengan kecurigaanmu."Andara menghela nafas, berusaha menghargai keinginan istrinya tapi Artika terkejut saat Alea tiba - tiba memeluknya. Ia merasakan tubuh putrinya yang gemetar. "Ada apa, Alea?" Ta
"Mungkin Alea sudah kembali ke mobil." Tebak Sabrina sambil menarik sang kekasih untuk meninggalkan tempat itu. Sang kekasih menahan tangan Sabrina. Ia menatap tajam dan menusuk pada pemuda yang duduk gemetar itu. "Katakan di mana temanku!!" Bentaknya tiba - tiba. Kedua pemuda yang berdiri di atas langsung turun dan mendampratnya, "Apa maksudmu? Apa Kamu pikir Kami ngumpetin temanmu itu?! Mana buktinya?!""Memang iya! Kalian yang harus bilang dia ada di mana!!" Tunjuk kekasih Sabrina tanpa rasa takut. Sabrina langsung memegang lengan sang kekasih. "Sayang, jangan asal nuduh. Ayo Kita pergi." Bisiknya takut. Ia melihat ada tiga orang di tempat itu sedang mereka hanya berdua. Ia juga hanya seorang perempuan yang tidak mengerti bela diri. Sang kekasih mendengus. Ia menatap ketiga orang itu bergantian. Yang terakhir menundukkan kepalanya. Sangat dalam. "Ayo Kita cari ke tempat lain dulu." Ajak Sabrina lagi. Sang kekasih merasa tidak mempunyai pilihan selain mengikuti ajakan Sabr
Alea melihat semua kehebohan itu dengan senyum kecil. 'Ternyata mudah sekali membuatmu drop, Eva!' kata hatinya puas. Ia berjalan dengan langkah tenang di bawah tatapan para pelayan yang baru melepas kepergian Evara dan Safira ke rumah sakit. "Itu penjahatnya!" Teriak Sisil gemas. Penjahat? "
"Bubur kacang hijau? Itu bagus." Jawab Ariana atas saran Mariska. Makanan tambahan untuk Evara. "Tapi Aku sudah makan, Ma." Protes Evara. "Kamu tadi hanya sarapan roti, Eva. Nggak cukup untukmu dan Brian." Evara memang hanya sarapan setangkup roti dan segelas susu. Evara dan Athena saling berp
Athena pulang dan langsung menemui Safira. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ibunya itu sudah mengatakan, "Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu, Atha. Aku lelah."Athena menelan semua kalimat yang ingin keluar dari mulutnya. Ia mendengus pelan sebelum membalikkan langkahnya dan keluar dari ka
Athena menggeleng. Ia ingin cepat - cepat pulang dan berbicara serius dengan Safira. Ia berencana tidak akan lama berpacaran dengan Siska karena ia ingin segera menjadikannya sebagai istrinya. "Aku harus pulang." Katanya sambil mengusap rambut Siska yang turun ke dahinya. Siska mengangguk. Ia men







