ログインBagi Vabella, mantan adalah sampah yang harus dibuang dan dilupakan. Tidak perlu dipungut lagi, kalau ada yang memungut sampah sudah pasti pemulung. Namun, bagaimana jika sampah miliknya ia temukan kembali? Mantan saat SMA nya, yang ia pacari hanya karena pintar dan ketua OSIS, hadir kembali dengan penampilan yang membuat Vabella tercengang.
もっと見る"Terimakasih kamu sudah mau bergabung di Perusahaan ini Bel, jujur ... ini adalah salah satu balas Budi saya terhadap ayahmu,"
"Kalau saja dulu ayahmu tidak menyuntikan dana ke perusahaan ini, mungkin ... sudah lama perusahaan ini bangkrut dan tinggal nama, perusahaan yang dibangun dengan kerja keras ayah dan anak," tambah Hans sedikit berkaca-kaca. Vabella hanya tersenyum getir sambil matanya terus menatap ruang kerja Hans Wicaksono atau yang biasa Vabella panggil Om Hans. Ruangan itu bernuansa hitam dan dan coklat. Ada beberapa buku yang terpajang di rak, tepat di belakang kursi yang diduduki Hans. Persahabatan dengan sang ayah, sudah seperti keluarga. Bahkan,Vabella sering berbaur dengan keluarga konglomerat itu. Ia sudah dianggap seperti anak sendiri. "Nanti, om akan antarkan kamu ke ruangan dan bertemu dengan Manajer Direktur Zenith Corpratian, usianya mungkin sama dengan kamu," ujar Hans seraya membetulkan jam tangannya. Vabella mengerutkan dahi, lalu berkata, "usianya sama, tapi sudah jadi Manajer Direktur?" "Mungkin beda satu tahun atau dua tahun dengan kamu, tapi ... dia cerdas dan kompeten,makanya cepat naik jabatan,dia juga tengah menempuh S2," jelas Hans semangat. "Oh ya," gumam Vabella. "Dia juga pernah bersekolah di Yayasan Gabriella, kamu juga alumnus nya kan?" "Iya Om, hebat sekali dia bisa menempuh S2 di samping pekerjaannya," puji Vabella. "Dia memang hebat, bisa lulus S1 dengan predikat Magna cumlaude, dia juga mendapatkan tawaran LPDP dari pemerintah, tapi ... dia tidak menerimanya, dia lebih memilih kuliah di dalam Negeri," ungkap Hans. Vabella menganggukkan kepala berkali-kali, apalah dirinya lulus dengan nilai pas-pasan bahkan sering bolos kuliah dan lebih memilih nongkrong di Mall bersama sahabatnya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari Vabella, seorang anak gadis manja yang merengek jika permintaannya tidak segera dikabulkan. Hari pertamanya bekerja, bukanlah suatu hal yang mudah. Tidak seperti sedang di kampus, duduk menunggu Dosen dan menerima tugas. Adaptasi diperlukan, bertemu dengan orang susah ditebak dan situasi emosional yang berbeda. Bagi Vabella, berkecimpung di khalayak ramai sudah biasa. Dia bukanlah gadis introvert yang hobi mengurung diri di rumah. Namun, berhadapan dengan orang-orang dalam tuntutan pekerjaan sedikit ngeri. "Ayo," ajak Hans, ia sudah berdiri di depan pintu dengan gagah. Vabella mengerjap mengakhiri segala lamunan dalam pikirannya. Ia membuntuti Hans, yang berbau wangi maskulin. Sebetulnya, begitu menyengat hingga Vabella harus menutupi lubang hidungnya. Beberapa staff yang berjalan melewati Hans akan tersenyum sambil sedikit membungkuk. Namun, ketika berpapasan dengan Vabella tatapannya berbeda. Tanpa senyuman ataupun penghormatan. Vabella hanya membeliakan mata saat mereka berlalu. "Di sini, kamu jangan panggil saya Om, panggil pak Hans saja," "Baik om eh pak," ucap Vabella ragu-ragu. Hans berhenti di depan ruangan berdinding kaca. Tampak, seorang lelaki tengah duduk sambil menghadap sebuah layar komputer. Pandangan matanya tetap fokus, tak teralihkan oleh apapun. "Selamat pagi pak Manajer," sapa Hans saat membuka pintu diikuti Vabella. Ia sedikit tersentak kaget, lalu tersenyum menyambut Hans. "pagi pak, maaf tadi saya lagi ...." "Ah santai aja, ini ... Vabella staff baru di perusahaan ini, tolong kamu kasih tahu tugas dia apa," Saat mereka saling tatap, Vabella melebarkan pandangannya. Seorang laki-laki di hadapannya,bukanlah orang baru bagi Vabella. Hanya penampilannya saja berubah,lebih kekinian dan tidak culun. "Hah, dia kan?" gumam Vabella seraya menganga tipis. Lelaki itu masih dengan senyuman yang sama, tatapan yang sama persis enam tahun lalu saat masih SMA. Memiliki tahi lalat di sudut mata kanan, hidung bangir dan alis tebal. Gaya rambutnya tidak lagi cepak dan dicukur tipis. "Vabella, ini Theo manajer diperusahaan ini," Mereka bertatapan dalam kecanggungan, tetapi Theo masih bisa mengendalikan diri dari groginya. "Selamat bergabung," ucap Theo menjulurkan tangan. Vabella hanya bisa menelan ludah, bayang-bayang masa SMA nya berputar di atas kepala. Lelaki yang setiap hari ia jahili, alih-alih menujukan rasa sayang Vabella justru menjadikan hubungannya dengan Theo adalah sebuah kegabutan. Ia bisa saja meminta Theo mengerjakan PR nya, membelikan jajanan ke kantin bahkan sempat mengerjai Theo sampai lelaki itu merasa malu. "Vabella!" seru Hans mantap nya. "Eh, iya pak," kata Vabella, ia menjabat tangan Theo sekejap lalu menariknya lagi. "Kamu kenal dengan Theo?" tanya Hans meyakinkan. "Emh ...." Vabella menggigit bibir bawahnya seraya memandangi Theo dengan perasaan takut juga takjub. "Dia ... adik kelas saya pak," sergah Theo melirik sedikit kearah Vabella membuat gadis berambut sebahu itu kikuk. "Oh, ya sudah saya duga karena kalian satu sekolah saat SMU, kalau begitu saya tinggal ya," ujar Hans, kemudian ia bergegas keluar ruangan meninggalkan Vabella dan Theo juga kecanggungan yang menggerayang. "Ada PR yang harus aku kerjakan? sampai kamu mengikutiku hingga ke sini?" cibir Theo sedikit tersenyum. "Maksud kamu?" tanya Vabella melotot. "Kamu dulu sering suruh aku kerjakan PR? kalau gak aku kerjakan, kamu pasti permalukan aku," kata Theo. Theo hanya terkekeh geli, mengingat kebucinannya dulu pada Vabella. Sehingga ia rela melakukan apapun asal bisa menjadi pacar Vabella. "Gak perlu dibahas, itu masa lalu," gertak Vabella kelimpungan. "Kenapa kamu jadi ... berubah?" tambahnya. "Setiap orang berhak merubah penampilan," jawab Theo memandangi Vabella. "Vabella atau aku masih boleh menyebut kamu Bibel?" lanjutnya, semakin dekat. Theo cekikikan lagi, mengingat nama panggilan Vabella saat masih menjadi pacarnya. Mendengar itu Vabella malu sekaligus murka, ia ingin sekali menghantam kepala Theo. Namun, ruangan itu terlalu tampak oleh orang banyak. Ruangan itu hanya di lapisi dinding kaca, bagian bawahnya samar. Jadi, apapun yang mereka lakukan pasti akan terlihat dari luar. "Kamu serius Manajer Direktur?" tanya Vabella ragu. "Sebetulnya, masa percobaan, aku baru tiga bulan, dan kalau dalam tiga bulan kinerja aku bagus ya aku jadi Manajer Direktur beneran," jelas Theo tertawa. "Aku tanya serius, kamu malah bercanda," gerutu Vabella. "Iya, maaf Bibel," goda Theo. Ia kembali duduk di kursi nya yang bisa memutar hingga tiga ratus enam puluh derajat. "Jangan panggil aku dengan nama itu ih!" rengek Vabella. Pemandangan itu, membuat Theo menatap Vabella lebih lama, dan bergumam dalam hatinya, "dia tidak pernah berubah, manja, centil dan selalu membuatku jatuh cinta." "Kenapa lihat aku begitu?!" gertak Vabella melotot. "Siapa yang lihat kamu, aku cuman lihat keadaan staff di ruangan itu," ujar Theo menujuk. "kamu sudah tahu kan kalau Zenith itu perusahaan apa?" Vabella terdiam, bola matanya bergulir ke kanan dan ke kiri. "Zenith itu perusahaan property dan konstruksi," Jelas Theo meletakan kedua tangannya, di bawah dagu. "inilah akibatnya, kalau cuman mengandalkan orang dalam." Vabella masih mematung, darahnya terasa dingin,tangan gemetar dan jantung yang bertalu-talu. Perkataan Theo betul-betul menyayat hati, tetapi dia tak gentar dengan itu.Langit mulai jingga dan selapis tipis warna pink di atasnya. Kemudian biru muda yang pudar, diiringi tenggelamnya matahari perlahan di ufuk barat. Jalanan sudah merayap sejak pukul empat sore, bahkan macet total di beberapa titik. Lampu-lampu kendaraan saling menyoroti aspal. Vabella masih berdiri di depan gedung berlantai sepuluh itu, gelisah karena sejak tadi taxi online yang ia pesan tak kunjung tiba. Ia terus memperhatikan layar ponsel, sesekali menggerutu. "Ya ampun, apa pake ojek online aja ya? tapi ... pasti makin lama pesannya," gerutu Vabella menggigiti jari telunjuk. "Kenapa sih, harus macet?" Ia memeriksa lagi layar ponsel, masih dengan tampilan yang sama. Taxi yang ia pesan tidak bergerak sama sekali. "Vabella!" seru Indah, ia berjalan mendekat. Wanita berambut sebahu itu tidak sendirian, ia diikuti Wike. Raut wajah mereka datar, tetapi seperti menyimpan beberapa pertanyaan untuk diajukan. Senior-senior itu berdiri, menutupi Vabella. Ia menatap satu per
"Kamu masih ingat?" tanya Vabella menoleh sinis. Theo hanya tersenyum, ada bercak saus yang tertinggal di sisi bibirnya. Ia menjilat lembut dengan lidahnya, hal itu membuat Vabella memikirkan yang lain. "Ingat, kamu sering nyuruh aku buat beli makanan atau minuman, terus... kamu malah duduknya sama cowok lain," jawab Theo datar. Vabella tersentak, ia merasa begitu kejam dulu pada Theo. Padahal,Theo selalu effort dan tidak pernah main-main. Ia rela hujan-hujanan, kerumah Vabella basah kuyup. Sambil membawa laptop miliknya yang sedikit kena air hujan. Kala itu, ada tugas membuat presentasi dengan menggunakan power point. Gadis itu bergidik sendiri, bayangan tentang masa lalunya bermunculan. "Kenapa dulu kamu mau sama aku?" tanya Vabella memiringkan kepala kearah Theo. Theo menelan makanan sebelum ia menjawab pertanyaan Vabella. "karena kamu populer,cantik dan beda dari yang lain." Pujian atau sebuah sarkas? Vabella tampak salah tingkah, ia berdeham berkali-kali lalu
Hari pertama bekerja, untuk Vabella adalah hal yang memuakkan. Berhadapan dengan senior yang menatapnya sinis, jadi bahan gibah meskipun orangnya di depan mereka. Bahkan, dicibir sebagai prinses, karena sifat manja dan cengengnya keluar saat ia sudah pusing dengan pekerjaannya itu. Belum lagi, tugas dari Theo yang numpuk bagai skripsi. Sepertinya, lelaki itu sengaja ingin balas dendam pada Vabella. "Belum pernah gue, emosi ngajarin anak baru," keluh Indah saat makan siang di food court bersama rekannya. "Emang dia se-beloon itu?" tanya Rafi seraya memakan makanannya. "Sumpah! dia susah banget diajarin, cantik sih tapi ... gak ada otaknya," caci Indah berbisik. "Hahaha, itu sih derita Lo, pak Theo kan nyuruh Lo buat ngajarin dia!" cibir Wike terbahak-bahak. "Harusnya ini tugas Rafi, malah dikasih ke gue," keluh Indah kesal. "Lo kan senior, diantara kita berdua ya kan Ke?" sahut Rafi, matanya menengok pada Wike. Wajah Indah makin kesal, ia menusuk-nusuk beef lasag
"Kamu kenapa bisa melamar pekerjaan ke perusahaan ini?" tanya Theo menatap Vabella sambil bersandar di kursinya. Ia berniat menjebak Vabella. Sorot matanya membuat Vabella ciut, ia hanya memutar sepatu bagian depannya ke lantai kantor. Tangannya terus menerus dimainkan, ia tak berani menatap langsung Theo. "Karena pak Hans sendiri yang minta aku buat kerjadi di sini," jawab Vabella ragu. "Oh ... sudah bisa aku tebak, pasti jalur orang dalam," cecar Theo. "Aku kirim lamaran kok," gertak Vabella sedikit lantang. Ia menoleh kanan kiri, lalu menarik nafas panjang. "Tapi divisi HR tidak pernah membahas soal staff baru," cibir Theo, berjalan mendekat kearah Vabella berdiri. Aroma parfumnya begitu menyengat, tetapi masih bisa diterima hidung Vabella. Tidak seperti aroma Hans yang membuat hidung Vabella ingin bersin berkali-kali. Gadis berambut dikuncir kuda itu membeliakan mata, saat Theo berada tepat di hadapannya. "Mungkin lupa," Vabella beralasan. "Enak ya, jadi or
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.