Chapter: Bab 189 Poksi memancing Randy untuk datangSafira ternyata hanya bertanya. Ia tidak mengharapkan jawaban. Ia puas melihat kekacauan di wajah Viona. "Lihat diriku, Vion. Kami hidup lebih baik setelah Atha menceraikanmu. Kamu terlihat kacau." Kata Safira tanpa dosa.Ia melihat perasaan tersinggung di wajah Adelia yang menatapnya dengan gusar. Tapi tak dapat dipungkiri kalau ucapan Safira memang benar. Safira mengenakan setelan bermerek yang dibelikan Evara. Ia tampak elegan dengan tas tangannya yang bukan kaleng - kaleng. "Baguslah kalau begitu!" Sentak Viona marah. "Aku hanya kasihan pada suami Eva yang harus menampung Kalian bertiga! Dasar pengemis!" Katanya lagi dengan maksud membalas penghinaan Safira. Safira mendecih, "Setidaknya, Atha nggak harus terus berhubungan dengan penipu seperti Kamu, Vion. Kamu sudah menjebaknya!" Balas Safira. Tentu saja Viona tidak ingin mengalah. "Siapa bilang Aku menjebaknya, bu Safira? Atha yang tergila - gila padaku! Lagipula, buat apa Aku menjebak laki - laki miskin dan cacat seperti
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-23
Chapter: Bab 188 Poksi menyerahMalam ke tiga tanpa kehadiran Randy. 'Apa ia sudah taubat dan berhenti datang ke bar ini?' gumam hati Poksi. "Echm!"Poksi terkejut mendengar deheman dari Lukman Hakim yang seperti sengaja ditujukan padanya. "Kami nggak bisa menunggu temanmu itu lebih lama, Poksi. Sebaiknya Kamu beritahu saja dimana rumahnya!"Poksi kembali terkejut. Ucapan Lukman Hakim itu bukan hanya meminta tapi memerintah. Lukman Hakim memang yakin kalau Poksi mengenal pelakunya meski Poksi tidak mengakuinya. "Aku.. Aku..""Aku sudah memberimu tenggang waktu cukup lama. Sekarang beritahu siapa nama temanmu itu dan dimana rumahnya!" Potong Lukman Hakim tegas. Poksi masih berusaha mengelak. "Tapi.. Tapi.. Aku nggak tahu..""Cukup main - mainnya, Poksi!" Bentak Lukman Hakim. Mata Sandro ikut nyalang menatap Poksi. Jadi Lukman Hakim menahan dirinya selama ini. Ia berpura - pura mempercayai Poksi dan mereka menghabiskan waktu mereka selama 3 malam di bar ini. Mata Poksi mulai tergenang airmata. Ia tidak dapat m
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-22
Chapter: Bab 187 Kegelisahan Poksi"Sedikit." Sahut Sunny dalam bahasa Indonesia. Lalu ia melanjutkan lagi perbendaharaan bahasa Indonesianya, "Aku cinta padamu." Lanjut Sunny dengan kerlingan mesra. Semua orang tertawa kecuali Safira. Wajahnya merah karena marah. 'Apanya yang lucu, sih?' geram hatinya. Athena bangun dan meminta izin untuk beristirahat. "Laporannya besok aja kan, Kak?" Tanyanya pada Adamis. Adamis mengangguk. "Pergilah. Kamu pasti lelah. Dimana Kamu menginap dua malam ini?" Tanyanya. Athena bisa saja pulang pergi tapi Adamis tidak mengizinkannya. Ia ingin Athena tidak terlalu membuang energinya berkendara pulang pergi selama dua hari ke Bandung. "Di tempat biasa, Kak." Sahut Athena. Adamis mengangguk. Ia menggerakkan tangannya untuk mengizinkan Athena pergi. Ia juga sudah selesai makan tapi ia menunggu Evara yang belum selesai. "Kami duluan ya, Dami? Eva? Besan?" Pamit Ariana. "Ya." Sahut Adamis dan Evara serempak. Safira hanya sedikit menaikkan alisnya. Ia tidak mempunyai keinginan untuk
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-21
Chapter: Bab 186 Perbincangan tentang KiranaCara lain? Tentu saja ada. Poksi bisa saja mengantar Lukman Hakim ke rumah Randy, tapi.. Poksi kelabakan sendiri dengan jalan pikirannya. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya dengan gelisah. "Aku.. Aku.. Benar - benar nggak tau, Pak." Sahutnya dengan suara bergetar. Sandro juga tahu kalau Poksi ketakutan. Tapi ia juga kecewa karena kegagalan pengintaian malam ini. "Jam berapa Kamu pulang kerja?" Tanyanya pada Poksi. "Jam.. Jam 4, Pak.""Bisa Kamu langsung ke rumah sakit dan melihat keadaan Tiffany?" Tanya Sandro lagi. Mata Poksi membelalak. Itu berarti ia sama sekali tidak dapat beristirahat karena malamnya ia akan kembali bergadang di bar ini."Tapi.. Tapi.. Aku.." Poksi ingin mengatakan ia sangat lelah dengan semua ini. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Sandro bangun dan menepuk bahu Poksi. Ia lalu menoleh pada Lukman Hakim. "Aku harus pulang karena Aku juga harus bekerja pagi ini." Katanya dengan perasaan menyesal. Lukman Hakim mengangguk. Ia juga merasa tidak akan ada yan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-20
Chapter: Bab 185 Randy tidak datang"Bu Kirana itu orang yang menyenangkan. Sekali melihat Aku sudah menyukainya. Sayang, ia harus mengalami hal yang sangat menyedihkan." Cerita Evara pada sang suami. Kirana kadang mengeluarkan air mata di tengah - tengah pekerjaannya dan mengusapnya diam - diam. Itu tidak lepas dari pengamatan Evara. Adamis mengangkat wajahnya dari layar ponselnya sambil tersenyum. "Kenapa nggak Kamu ceritakan tentang dirimu?" Tanyanya. "Aku? Kenapa Aku?" Tanya Evara bingung.Adamis mengusap bibir Evara yang terbuka dengan lembut. "Apa Kamu tahu berita yang viral di kantor hari ini?" Tanya Adamis lagi. Evara menggeleng."Seorang Nyonya muda yang tidak ingin di panggil Nyonya. Ia membuat semua karyawan jatuh hati dan kagum sekaligus. Termasuk Ibu Kirana." Sahut Adamis dengan senyuman menggoda. "Ah!" Seru Evara dengan raut tersipu. Ia merasa sudah melakukan yang seharusnya. Usianya jauh di bawah para karyawan di kantor Adamis. Ia merasa tidak pantas dipanggil Nyonya."Aku.. Aku merasa sangat tua
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-19
Chapter: Bab 184 Malam pertama di barSandro mengusap wajahnya mendengar jawaban Poksi. Ia mulai dapat menduga kalau orang yang berada di bar itu hanya orang suruhan. Bagaimana Tiffany dapat menyinggung orang yang selalu berada di dalam bar pada malam harinya sedang Tiffany tidak pernah keluar malam. Ia selalu pulang ke rumah di bawah jam sepuluh malam. "Kamu nggak mengenalnya? Itu aneh, kan?" Desis Lukman Hakim sambil menatap lurus ke mata Poksi. Wajah Poksi semakin pucat. Ia tidak tahu lagi cara melindungi Randy. "Kami.. Di bar.. Hanya minum - minum tanpa harus saling mengenal." Kata Poksi seperti keluhan terakhir. Lukman Hakim mangut - manggut sambil sedikit mencibirkan bibirnya."Apa Kamu masih ingat wajahnya?" Tanyanya. Poksi kembali menelan salivanya. Ia tahu tidak dapat berbohong untuk hal yang satu ini. "Mungkin.. kalau melihatnya lagi.." Kata Poksi dengan suara mengambang. "Di bar mana? Ingat, jangan coba - coba membohongiku." Tanya Lukman Hakim langsung. Tentu saja Poksi tidak dapat mengelak. Ia menyebu
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-18
Chapter: Bab 130"Udangnya pesan beberapa porsi ya, Nah. Oke, Kita nanti meluncur ke sana. Nemenin Edi dulu sebentar." Hasby menutup ponselnya."Bagaimana? Mau ikut apa tinggal di sini?" Hasby melirik Sani yang langsung tersipu malu."Saya punya suami, Bang." Mumu, Yanti, Iman dan Nisa langsung tergelak - gelak. "Emang Saya nanya?"Edi mengerucutkan bibirnya. Hasby tak dapat menahannya lagi. Tawanya terlepas. "Dia ngomong begitu karena takut Kamu kena php, Di.""Ayok, jalan." Edi menyeruput kopinya lagi sebelum berjalan."Mau kemana? Yanah di sebelah sana!" Hasby menunjuk arah yang sebaliknya. Edi memutar langkahnya. "Kasihan Bang Edi." ucap Nisa. Iman merengkuh bahu dan memeluk Nisa.Yanti tau Mumu tidak akan melakukan itu karena tidak terbiasa. Ia berinsiatif memeluk lengan Mumu lagi. Tapi tak di sangka Mumu melepaskan tangan Yanti dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Yanti hampir menangis karena bahagia. Netra Edi yang tajam langsung melihat keberadaan Yanah dan Ijay. "Nah!" ter
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-07-11
Chapter: Bab 129"Bang Hasby tidak terlalu memuja pada kecantikan. Yang penting klik.""Tapi Aku nggak pe de tanpa make up." kata Ratna, mulai goyah. "Ya, jangan harap Bang Hasby akan melirik Mbak. Padahal Dia lagi cari pendamping hidup, lho. Dia sudah lama jadi duren. Duda keren." Yanti mulai menjadi kompor. "Udah, yuk. Kita mau ke toilet." ajak Yanah. "Eh, nanti dulu. Kalau Saya nggak pakai make up apa Hasby akan menyukai Saya?"Ikan memakan umpannya. Nisa tersenyum. "Sudah pasti. Abang pernah bilang suka kok, sama Mbak. Tapi katanya,'Sayang ya, Dia pakai make up. Coba kalau enggak." Nisa heran kenapa Yanti begitu lancarnya berbohong. Ratna termenung. "Andai Mbak bisa jadi kakak ipar Kita, Kita pasti seneng banget bisa makan enak terus." rayu Yanah lagi. Dalam hatinya ia bergumam, 'Duh - duhh..! Apanya yang enak, siiih?'Ratna tercenung. Apakah Hasby benar - benar akan tertarik padanya tanpa riasan di wajahnya? Mereka melanjutkannya dengan cerita mengenai Hasby. Hasby yang seorang psikiate
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-07-10
Chapter: Bab 128"Ra.. Ra..?" Edi tergagap. Ia terkesima bukan karena takjub tapi lebih karena terkejut dan takut. "Ratna?" sapa Hasby dengan senyum yang mengembang. Bertolak belakang dengan Edi yang kemudian memalingkan wajahnya, Hasby justru bangun untuk menjabat tangannya. Di mata Edi Ratna begitu menyeramkan. Alisnya hanya tinggal sebelah - sebelah karena tidak ada lukisan dari pensil alis di sana. Bibirnya juga hampir membiru karena tidak ada sapuan lipstik di atasnya. Hasby tersenyum."Apa kabar?" tuturnya. Lebih hangat dari biasanya. "Baik." Ratna langsung duduk di sebelah Hasby. Ia merasa Hasby telah meresponnya dengan baik. Tidak kaku seperti sebelumnya. Bibir birunya menguakkan senyum. "Kapan - kapan Saya main ke rumah Abang, ya?" katanya tanpa melirik sedikitpun pada Edi yang belum pulih dari rasa terkejutnya. "Boleh." Hasby tersenyum tipis. Ia tidak takut Ratna datang ke rumahnya karena banyak anak buahnya yang dapat menghalangi Ratna untuk bertemu dengannya. Ratna semakin senang
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-07-09
Chapter: Bab 127Iman ikut tertawa sedang Hasby yang baru keluar dari ruangan itu menahan senyumnya. Baru kali ini Mumu mencemburui istrinya. Sudah puluhan tahun sejak mereka menikah. Selama ini Iman yang terkenal dengan kecemburuannya. Mumu selalu cuek pada istrinya. Tapi sekarang? Setelah menghentikan tawanya Edi berujar, "Habis ini Aku akan bertemu dengan Ratnaku. Aku sudah rindu berat." Ratnaku? Yang lain sontak menepuk jidatnya masing - masing. Gusti, bagaimana menyadarkbuan manusia satu ini? "Emang Kita mau ke sana lagi? Makanannya 'kan kurang enak?" berengut Yanah. "Iya." timpal Iman setuju. Edi menatap Hasby. Ia mulai cemas. Hasby mengerti kecemasan Edi. Bagaimanapun Ia tidak ingin mengecewakan adiknya yang satu ini. "Ya. Nanti Kita ke sana." Edi kembali ceria dan bersemangat. "Yes!"Nisa menggelengkan kepalanya. Prihatin. 'Kasihan Bang Edi. Dia kesepian.'Yanti menarik lengan Nisa."Ayok nanti Kita kerjain ondel - ondel itu, Nisa." bisiknya. "Bagaimana?" Yanti membisikkan sesu
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-07-08
Chapter: Bab 126"Sabar, dong. Orang sabar itu kekasih Allah." ucap Hasby. Bijak seperti biasanya. "Taraaa!" Nisa mengembangkan kedua tangannya. Netra merah Mumu membelalak saat Yanti kembali. Yanti mengenakan gamis seperti Yanah dan Nisa. Kepalanya juga memakai hijab instan. Ada sapuan bedak dan lipstik tipis - tipis. Yanti terlihat berbeda. Yanti terlihat berbeda. Ia tersenyum malu saat netra suaminya nyaris tak berkedip menatapnya. "Kamu apain Dia, Nisa?" tanya Edi dengan mengerjapkan netranya berulangkali. "Ternyata gamis Teh Yanti banyak. Bagus - bagus. Tapi Dia nggak berani pakai. Takut Bang Mumu nggak suka. Takut diketawain.""Aku suka. Suka banget." cetus Mumu tanpa sadar. Air liurnya bahkan menetes. Ia seperti siap menelan Yanti sekarang juga."Iler tuh, iler!" Edi tertawa diikuti yang lain. "Nggak ada yang nggak suka sama perempuan feminin." ujar Iman sambil meraih Nisa dan menghadiahinya dengan sebuah kecupan kecil di pipinya. Cup! "Hadiah karena udah membuat Teh Yanti jadi peremp
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-07-07
Chapter: Bab 125Yanah kembali memeluk Nisa. 'Kasihan anak ini. Dia benar - benar jadi korban untuk semuanya.'Ijay menatap Nisa. Ia kini menyadari perasaannya. "Itu bukan cinta, Nah. Itu cuma rasa kagum yang dibaluri rasa iri karena tidak dapat memilikinya. Nisa seperti boneka yang tidak bisa Kamu miliki, Jay. Jadi Kamu terobsesi padanya."Yanah dan Ijay mengangguk. Mereka sama menatap Nisa yang memerah wajahnya karena dikatakan boneka. Bulu matanya yang lentik mengerjap. Dia memang seperti boneka. "Boneka kesayangan." Yanah mencium pipi Nisa yang memerah karena malu.Nisa menyadari sesuatu. "Tolong, Teh, Bang, Iman nggak usah tau hal ini, ya?" Nisa tidak ingin membuat Iman menjadi posesif bila melihat Ia bersama Ijay."Masalah ini Kita tutup sampai di sini. Yang lain nggak usah tau, bukan hanya Iman." tegas Hasby. "Ya." Ijay dan Yanah mengangguk. Hasby tersenyum. Ia juga langsung pamit untuk pulang. Masalah ini sudah mereka selesaikan dengan baik karena campur tangan Hasby. Ijay berjanji aka
ปรับปรุงล่าสุด: 2024-07-06