author-banner
Dhisa Efendi
Dhisa Efendi
Author

Novels by Dhisa Efendi

Adik Ipar Yang Jadi Suamiku

Adik Ipar Yang Jadi Suamiku

Evara tengah berbadan dua saat Brian meninggal karena kecelakaan. Ariana sang mertua yang dulu menentang pernikahan mereka membawanya pulang ke rumah mewahnya. Evara harus hidup bersama Adamis sang adik ipar yang sangat membencinya. "Boleh Aku memanggilmu Adam?" "Kenapa? Apa agar Kita berjodoh? jangan mimpi!" Ketus dan menusuk. Itu yang selalu Adamis ucapkan. Kepolosan Evara membuat kebencian Adamis berubah jadi cinta. simak, yuk. Kisah manis mereka.
Read
Chapter: Bab 232 Kecewa
Teman - teman yang lain ikut memesan dan Mimin mencatatny di selembar kertas. "Benaran Kita mau makan sama Nyonya?" Tanya Buma tidak percaya. Mimin mengangguk. "Nyonya kesepian. Kasihan." Katanya prihatin. Yang lain mengangguk dengan perasaan senada. "Jangan lupa, Min. Ayam serundengnya ditambah pergedel. Sambalnya yang banyak!" Kata Teguh yang membuat mereka sebal."Nggak nyadar sikon!" Gerutu Mimin. "Dasar gembul!" Kecam Buma juga.Teguh tertawa. Ia tidak peduli. Yang penting makan enak! "Kapan belinya, apa Aku aja yang beli?" Ia justru menawarkan dirinya. "Nanti dong kalau mau jam makan siang!" Semprot Mimin. "Biar Aku aja yang beli. Kamu nanti korupsi!" Ketus Mimin lagi sambi mencari keberadaan Seno dan Damar. Lebih baik ia pergi dengan salah satu dari mereka. Itu yang ia pikirkan. Teguh mendecih. Perutnya yang bulat ia usap - usap karena sudah mengharapkan makanan itu ada di hadapannya sekarang. "Balik ke pos, sana!" Usir Mimin sebal. "Tapi Kamu belum bikinin kopi pe
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Bab 231
Safira tidak tahu kalau paviliun Siska itu cukup luas untuk menampung mereka semua. Siska bukanlah orang susah seperti yang ia pikirkan. Ia hanya berasal dari kampung terpencil yang ingin mengenal dan merasakan kehidupan di kota besar. Rumahnya memang jauh dari Mall tapi rumahnya bagus dan layak. Memang tidak ada banyak kamar karena mereka hanya tinggal bertiga. Siska anak tunggal. Tapi Ada kolam ikan yang sangat besar dan dapat menampung ikan mas dan gurame untuk di jual ke pasar yang harus menuruni pegunungan tempat mereka tinggal. Siska bukan orang susah. Ibunya adalah penjahit kenamaan ibu kota yang mulai bosan dengan hiruk pikuk dan kemacetannya. Ia meminta tinggal di daerah pegunungan yang udaranya masih segar dan asri dan suaminya mengabulkan keinginannya. Pada awalnya sang suami membeli dua ratus hektar tanah untuk mereka tinggali di kampung mereka yang sekarang saat Siska masih bayi. Sang suami adalah seorang insinyur perternakan dan sukses membudidayakan ikan mas dan guram
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: Bab 230 Gelaran?
Siska langsung berdiri. Ia bingung harus bagaimana tapi Safira nampak tak acuh saat duduk di sebelah Athena. "Kenapa Kalian tampak sangat senang? Tawa Kalian itu sampai terdengar ke belakang, lho!" Kata Safira sambil meraih kue yang di suguhkan untuk Siska. Belum ada yang menjawab pertanyaannya tapi Safira sudah bicara lagi. Tepatnya menitah, "Mana minumanku, Atha?" Tanyanya pada Athena. "Ibu mau teh atau..""Coklat panas." Potong Safira cepat. "Kamu, Eva? Kamu juga belum minum." Tanya Athena pada Evara. Evara menggeleng. "Aku sudah minum. Aku kan bawa bekal minum." Katanya sambil menunjukkan botol minumannya. Perlahan Siska duduk lagi dengan perasaan canggung sementara Athena berjalan ke belakang untuk meminta minuman pesanan Safira. "Ibu, Athena ingin menikah bulan depan. Apa Ibu sudah tahu?" Tanya Evara lembut. Safira mengangkat alisnya membuat jantung Siska berdebar lebih cepat. "Aku tahu."Jawaban Safira membuat Siska terperangah. Jawaban dan reaksi sama sekali tidak s
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: Bab 229 Rencana pernikahan Athena
"Apa Ibu mempersulitmu?" Tanya Athena. Mereka dalam perjalanan pulang dan rencananya Siska akan mampir ke rumah Athena dulu. Ia sangat merindukan Evara. Safira masih tetap ingin tinggal di rumah lamanya. "Aku kan yang ditugaskan Eva untuk memantau. Bagaimana kalau pekeerjaan mereka nggak beres?" Katanya sok penting. "Kalau gitu Kami pulang duluan." Pamit Athena. Siska mencium punggung tangan Safira sebelum mengikuti langkah Athena keluar. "Enggak." Sahut Siska singkat. "Kamu yakin?" Tanya Athena tidak percaya. Ia sangat mengenal sifat ibunya. Sikapnya juga sering di luar nalar. Tapi Siska tetap menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis. "Ibu baik sekarang." Katanya memuji dengan suara rendah. Dalam hati ia meminta maaf karena berbohong. Tapi itu dilakukannya demi kebaikan untuk semua. Ia yakin suatu saat Safira akan menerimanya dengan kemauannya sendiri. "Syukurlah kalau begitu." Sahut Athena. Ia tampak senang dan mulai bersenandung dengan suara lirih. "Lopisnya enak
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 228 Penggerebegan
"Kerja apaan?" Sela Paramita sebelum Alea yang bertanya. Sabrina melihat ke arah kakaknya yang terlihat tidak acuh sebelum memulai lagi ceritanya. "Kamu lihat orang itu? Jangan kelihatan gitu ngelihatinnya!" Bisik Sabrina yang menunjuk orang di seberang mereka dengan dagunya. "Yang pakai baju salur hijau itu." Bisik Sabrina lagi. Paramitha dan Alea melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sabrina dengan gerakan sambil lalu, seakan tidak terfokus pada orang itu. Lukman Hakim yang duduk di meja sebelah meja mereka juga terlihat asyik dengan minumannya. "Orang itu sedang dalam pengamatan kakakku. Dia itu pengedar." Bisik Sabrina. What? Kedua pasang mata sahabatnya ini membola. Lukman Hakim juga seperti menyadari sesuatu. Terlihat ia melayangkan tatapan tak suka pada Sabrina. 'Kamu bilang apa sama teman - temanmu, Brin?' desis hatinya kesal. Satu gerakan atau ucapan yang salah akan menimbulkan kecurigaan pengedar itu. Padahal Lukman Hakim mempunyai alasan untuk tidak diwaspadai. Menema
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 227 Alvian memarahi Alea
"Makanya jadi orang itu harus peka, Alea. Kamu sampai nggak tahu kalau ada keadaan garurat di rumah Kita. Kamu nggak care, nggak sensitif. Kamu nggak peduli bagimana perasaan Papa dan Mama dalam menyikapi masalah ini. Alea, Kamu anak perempuan satu - satunya. Harusnya Kamu lebih peka dengan keadaan sekitar. Jangan cuek dan maunya senang - senang sendiri. Apa Kamu tahu Mama seharian kemarin nangis terus? Apa Kamu nggak ada empati sama sekali sama kondisi Axel dan perasaan Mama dan Papa? Sadar, Alea! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu perempuan dewasa yang punya tanggung jawab dalam keluarga! Mikir!"Alea tercengang. Alvian berbicara sepanjang itu dalam satu tarikan nafas dan ia tidak terengah sama sekali. Mulut Alea terbuka lebar karena terkesima. Ia tidak dapat mendebat Alvian sama sekali. Ia sibuk berpikir untuk mencerna maksud kakak pertamanya itu. "Tutup mulutmu, Al! Apa Kamu ingin lalat mengira mulutmu adalah sarangnya?" Sentak Alvian. Alea langsung menutup mulutnya. Tapi lalu m
Last Updated: 2026-06-02
Gara-gara Selembar 50 Ribu

Gara-gara Selembar 50 Ribu

"Masa' cuma segini sih, Pah?" Nisa menatap lembaran biru yang baru diberikan Iman, sang suami. Annisa Saktiara, yang dipanggil Nisa ini dulunya seorang anak konglomerat yang jatuh cinta pada seorang montir di bengkel mobil langganannya. Annisa bersikeras. Cinta membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih. Apalagi pada awalnya Iman memperlakukannya bak seorang putri. Ia semakin mabuk kepayang. Tapi perjalanan hidupnya tidak seperti yang Nisa bayangkan. Nisa mulai merasakan pahitnya hidup susah. Apalagi sikap Iman yang pemalas dan lebih mendengarkan ucapan saudara saudaranya. Apakah Annisa menyesal?
Read
Chapter: Bab 130
"Udangnya pesan beberapa porsi ya, Nah. Oke, Kita nanti meluncur ke sana. Nemenin Edi dulu sebentar." Hasby menutup ponselnya."Bagaimana? Mau ikut apa tinggal di sini?" Hasby melirik Sani yang langsung tersipu malu."Saya punya suami, Bang." Mumu, Yanti, Iman dan Nisa langsung tergelak - gelak. "Emang Saya nanya?"Edi mengerucutkan bibirnya. Hasby tak dapat menahannya lagi. Tawanya terlepas. "Dia ngomong begitu karena takut Kamu kena php, Di.""Ayok, jalan." Edi menyeruput kopinya lagi sebelum berjalan."Mau kemana? Yanah di sebelah sana!" Hasby menunjuk arah yang sebaliknya. Edi memutar langkahnya. "Kasihan Bang Edi." ucap Nisa. Iman merengkuh bahu dan memeluk Nisa.Yanti tau Mumu tidak akan melakukan itu karena tidak terbiasa. Ia berinsiatif memeluk lengan Mumu lagi. Tapi tak di sangka Mumu melepaskan tangan Yanti dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Yanti hampir menangis karena bahagia. Netra Edi yang tajam langsung melihat keberadaan Yanah dan Ijay. "Nah!" ter
Last Updated: 2024-07-11
Chapter: Bab 129
"Bang Hasby tidak terlalu memuja pada kecantikan. Yang penting klik.""Tapi Aku nggak pe de tanpa make up." kata Ratna, mulai goyah. "Ya, jangan harap Bang Hasby akan melirik Mbak. Padahal Dia lagi cari pendamping hidup, lho. Dia sudah lama jadi duren. Duda keren." Yanti mulai menjadi kompor. "Udah, yuk. Kita mau ke toilet." ajak Yanah. "Eh, nanti dulu. Kalau Saya nggak pakai make up apa Hasby akan menyukai Saya?"Ikan memakan umpannya. Nisa tersenyum. "Sudah pasti. Abang pernah bilang suka kok, sama Mbak. Tapi katanya,'Sayang ya, Dia pakai make up. Coba kalau enggak." Nisa heran kenapa Yanti begitu lancarnya berbohong. Ratna termenung. "Andai Mbak bisa jadi kakak ipar Kita, Kita pasti seneng banget bisa makan enak terus." rayu Yanah lagi. Dalam hatinya ia bergumam, 'Duh - duhh..! Apanya yang enak, siiih?'Ratna tercenung. Apakah Hasby benar - benar akan tertarik padanya tanpa riasan di wajahnya? Mereka melanjutkannya dengan cerita mengenai Hasby. Hasby yang seorang psikiate
Last Updated: 2024-07-10
Chapter: Bab 128
"Ra.. Ra..?" Edi tergagap. Ia terkesima bukan karena takjub tapi lebih karena terkejut dan takut. "Ratna?" sapa Hasby dengan senyum yang mengembang. Bertolak belakang dengan Edi yang kemudian memalingkan wajahnya, Hasby justru bangun untuk menjabat tangannya. Di mata Edi Ratna begitu menyeramkan. Alisnya hanya tinggal sebelah - sebelah karena tidak ada lukisan dari pensil alis di sana. Bibirnya juga hampir membiru karena tidak ada sapuan lipstik di atasnya. Hasby tersenyum."Apa kabar?" tuturnya. Lebih hangat dari biasanya. "Baik." Ratna langsung duduk di sebelah Hasby. Ia merasa Hasby telah meresponnya dengan baik. Tidak kaku seperti sebelumnya. Bibir birunya menguakkan senyum. "Kapan - kapan Saya main ke rumah Abang, ya?" katanya tanpa melirik sedikitpun pada Edi yang belum pulih dari rasa terkejutnya. "Boleh." Hasby tersenyum tipis. Ia tidak takut Ratna datang ke rumahnya karena banyak anak buahnya yang dapat menghalangi Ratna untuk bertemu dengannya. Ratna semakin senang
Last Updated: 2024-07-09
Chapter: Bab 127
Iman ikut tertawa sedang Hasby yang baru keluar dari ruangan itu menahan senyumnya. Baru kali ini Mumu mencemburui istrinya. Sudah puluhan tahun sejak mereka menikah. Selama ini Iman yang terkenal dengan kecemburuannya. Mumu selalu cuek pada istrinya. Tapi sekarang? Setelah menghentikan tawanya Edi berujar, "Habis ini Aku akan bertemu dengan Ratnaku. Aku sudah rindu berat." Ratnaku? Yang lain sontak menepuk jidatnya masing - masing. Gusti, bagaimana menyadarkbuan manusia satu ini? "Emang Kita mau ke sana lagi? Makanannya 'kan kurang enak?" berengut Yanah. "Iya." timpal Iman setuju. Edi menatap Hasby. Ia mulai cemas. Hasby mengerti kecemasan Edi. Bagaimanapun Ia tidak ingin mengecewakan adiknya yang satu ini. "Ya. Nanti Kita ke sana." Edi kembali ceria dan bersemangat. "Yes!"Nisa menggelengkan kepalanya. Prihatin. 'Kasihan Bang Edi. Dia kesepian.'Yanti menarik lengan Nisa."Ayok nanti Kita kerjain ondel - ondel itu, Nisa." bisiknya. "Bagaimana?" Yanti membisikkan sesu
Last Updated: 2024-07-08
Chapter: Bab 126
"Sabar, dong. Orang sabar itu kekasih Allah." ucap Hasby. Bijak seperti biasanya. "Taraaa!" Nisa mengembangkan kedua tangannya. Netra merah Mumu membelalak saat Yanti kembali. Yanti mengenakan gamis seperti Yanah dan Nisa. Kepalanya juga memakai hijab instan. Ada sapuan bedak dan lipstik tipis - tipis. Yanti terlihat berbeda. Yanti terlihat berbeda. Ia tersenyum malu saat netra suaminya nyaris tak berkedip menatapnya. "Kamu apain Dia, Nisa?" tanya Edi dengan mengerjapkan netranya berulangkali. "Ternyata gamis Teh Yanti banyak. Bagus - bagus. Tapi Dia nggak berani pakai. Takut Bang Mumu nggak suka. Takut diketawain.""Aku suka. Suka banget." cetus Mumu tanpa sadar. Air liurnya bahkan menetes. Ia seperti siap menelan Yanti sekarang juga."Iler tuh, iler!" Edi tertawa diikuti yang lain. "Nggak ada yang nggak suka sama perempuan feminin." ujar Iman sambil meraih Nisa dan menghadiahinya dengan sebuah kecupan kecil di pipinya. Cup! "Hadiah karena udah membuat Teh Yanti jadi peremp
Last Updated: 2024-07-07
Chapter: Bab 125
Yanah kembali memeluk Nisa. 'Kasihan anak ini. Dia benar - benar jadi korban untuk semuanya.'Ijay menatap Nisa. Ia kini menyadari perasaannya. "Itu bukan cinta, Nah. Itu cuma rasa kagum yang dibaluri rasa iri karena tidak dapat memilikinya. Nisa seperti boneka yang tidak bisa Kamu miliki, Jay. Jadi Kamu terobsesi padanya."Yanah dan Ijay mengangguk. Mereka sama menatap Nisa yang memerah wajahnya karena dikatakan boneka. Bulu matanya yang lentik mengerjap. Dia memang seperti boneka. "Boneka kesayangan." Yanah mencium pipi Nisa yang memerah karena malu.Nisa menyadari sesuatu. "Tolong, Teh, Bang, Iman nggak usah tau hal ini, ya?" Nisa tidak ingin membuat Iman menjadi posesif bila melihat Ia bersama Ijay."Masalah ini Kita tutup sampai di sini. Yang lain nggak usah tau, bukan hanya Iman." tegas Hasby. "Ya." Ijay dan Yanah mengangguk. Hasby tersenyum. Ia juga langsung pamit untuk pulang. Masalah ini sudah mereka selesaikan dengan baik karena campur tangan Hasby. Ijay berjanji aka
Last Updated: 2024-07-06
You may also like
CEO 1 Miliar Won
CEO 1 Miliar Won
Romansa · Kalasenja
2.1K views
Forbidden Feeling
Forbidden Feeling
Romansa · polomiracle
2.1K views
Rahasia Cinta
Rahasia Cinta
Romansa · ayu andiyani
2.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status