LOGIN"Pak!!" Teriak Athena kesal. Sandro menahan tawanya dengan terbatuk - batuk. "Ukhuk! Ukhuk! Ukh!"Tangan Athena sontak bergerak ingin menepuk punggung Sandro tapi Sandro mengangkat tangannya untuk menolak. "Aku hanya ingin mempertemukan anak ini dengan papanya." Kata Sandro tenang tapi membuat Athena terlompat dari duduknya karena terkejut. Mina juga sama terkejutnya. Ia belum pernah melihat papa Caesar sebelumnya. 'Jadi bukan dia ini papanya? Tapi kenapa Nyonya Viona berteriak - teriak seperti itu?' ujar hati Mina. Ia ingin menghubungi Adelia untuk memberitahu penangkapan Viona ini tapi Caesar tidak memberinya kesempatan. Ia terus berontak dan menangis. Sandro juga ingin menghubungi Poksi tapi ia terganggu karena tangisan Caesar. "Apa anak ini nggak bisa diam?" Tanyanya sedikit gusar. Ia sudah mendapatkan nama Poksi di ponselnya dan menghubunginya. "Tenang, Sayang. Mama, ya? Mama lagi pergi sebentar." Bujuk Mina bingung. Apalagi Athena lalu menoleh ke belakang seperti ingin
"Viona menelpon dan meminta kunci rumah lamaku. Tentu saja Aku menolak tapi ia merengek. Katanya Anak Kami rewel dan ia ingin mencari suasana baru. Ia bahkan ingin menyewa rumah itu kalau Aku tetap keberatan jadi aku beritahu dia kalau kuncinya ada di rumah tetanggaku di sana." Jelas Athena sambil sedikit mencibir, "Anak Kami, katanya. Itu bukan Anakku!" Kata Athena lagi. Lukman Hakim tersenyum. "Kenapa Kamu yakin itu bukan anakmu?" Tanya Lukman Hakim. "Aku bilang dia cuma menjebakku! Aku cuma laki - laki bodoh, miskin dan cacat yang ia pilih karena ia tidak dapat menjebak orang lain!" Seru Athena kesal. Ia sangat kesal dengan dirinya sendiri yang begitu bodoh pada masa itu. "Lalu kenapa Kamu beritahu kunci rumahnya dimana kalau Kamu nggak tersentuh dengan ucapannya? Kamu..""Pak! Kalau saja Kamu bertemu dan bicara dengannya! Kamu nggak akan tahan dengan suaranya apalagi kalau dia merengek begitu!" Potong Athena marah. Siska segera mengelus tangan Athena untuk membuatnya tenang
"Kami sudah menangkap orang yang sengaja membuat Tiffany celaka. Tapi pelaku sebenarnya kabur." Bisik Kirana tapi masih membuat Athena dan Siska bingung. "Jadi keadaan Tiffany yang seperti itu bukan karena kecelakaan biasa?" tanya Siska ikut berbisik. Kirana mengangguk. "Ceritanya panjang." Keluh Kirana sambil melihat ke arah suaminya. Sandro masih berbicara di ponselnya dan ia memberitahu kabar yang ia terima dari Lukman Hakim, "Dia sudah mendapatkan siapa mantan suami pelaku. Untung namanya nggak pasaran jadi dapat segera ditemukan." "Baguslah. Siapa nama mantan suaminya, sih?" Tanya Kirana yang diteruskan pada Lukman Hakim. Sementara Athena dan Siska semakin terkejut mendengar kalimat mantan suami pelaku. Berarti pelakunya perempuan? Sejenak Sandro terdiam mendengar jawaban Lukman Hakim. Ia justru melihat ke arah Athena dengan tatapan aneh. "Siapa?" Tanya Kirana penasaran. Sandro menelan salivanya sebelum menjawab, "Athena." Kata Sandro pelan."Apa?!" Teriak Siska yang l
"Bukan itu. Toko roti ini bersebelahan dengan bar yang menjual minuman keras. Papan namanya juga tertutup sama papan nama bar itu. Nggak banget." Kata Athena sambil terus menggeleng - gelengkan kepalanya. Sandro tertegun. Toko roti di sebelah bar? Ia tanpa sengaja pernah melihat toko roti itu. Toko roti yang papan namanya nyaris tertutup oleh papan nama bar. Toko roti itu sudah tutup setiap kali ia datang. Sudah lewat jam duabelas malam saat Sandro datang ke sana. "Apa nama toko rotinya itu adalah Caesar?" Tanya Sandro. Tiga pasang mata kini menatapnya dengan terkejut. Darimana Sandro tahu?Sandro mengedipkan sebelah matanya pada Kirana. "Bar yang itu." Bisiknya yang membuat Kirana langsung mengerti. "Bapak tahu?" Tanya Athena tidak dapat menahan diri. Sandro menghela nafas. Ia menggigit lagi rotinya dan mengatakan, "Roti ini benar - benar enak." Katanya seperti pada diri sendiri. Kirana juga tersenyum seperti meminta pengertian Athena. Athena mengerti kalau mereka tidak ingi
Evara merasa lemarinya sudah sesak dengan pakaian yang terus dibelikan Ariana untuknya. Kali ini Ariana membelikannya beberapa setelan blazer. "Kamu membutuhkannya bila Kamu mulai bekerja, Sayang." Pungkas Ariana membalas protes dari Evara. "Baiklah. Terimakasih, Ma." Sahut Evara sambil membawa baju - baju itu ke dalam paviliunnya. "Ah," Keluh Evara setelah membuka lemari gantungnya. Lemari yang cukup besar itu sudah penuh dengan gaunnya. "Di lemari Adam saja." Katanya mengambil keputusan. Ia segera bergeser ke lemari Adamis dan membuka lemari gantungnya. Eva terpana untuk sesaat. Bukan karena lemari gantung Adamis penuh juga tapi ia melihat sebuah jaket yang sudah lama tidak dilihatnya. Jaket yang dulu selalu di pakai Brian bahkan saat ia bekerja. Evara menjatuhkan setelan - setelan blazernya untuk memegang dan mengusap jaket itu dengan penuh perasaan. "Ada apa, Sayang?" Pertanyaan Adamis mengejutkannya. Bahkan ia tidak mendengar Adamis masuk ke paviliun mereka. Mata Adam
Poksi terlihat seperti hilang akal. Ia hanya diam seperti pesakitan yang tertangkap basah. "Poksi? Jawab Mama!" Teriak Sang Mama tidak sabar. Bahu Poksi luruh seperti airmata sang Mama yang mulai luruh. "Apa Kamu nggak mau bertanggungjawab? Dimana anak itu sekarang?" Tanya Mama Poksi lagi dalam isak tangisnya. "Vi.. Viona memilih menggugurkan kandungannya." Kata Poksi dengan suara seperti tercekik. "Poksi? Kamu menyetujuinya?" Raung Sang Mama. Ia memang tidak menyukai Viona tapi mendengar ada benih Poksi di rahim Viona membuatnya tersentuh dan merasakan sesuatu yang lain. Poksi diam karena tidak mampu menjawab. Ia memang lari dari tanggung jawab karena ia mulai merasa bosan pada Viona yang semakin menyebalkan menurutnya. "Karena itu Kamu minta cuti kuliah dan berlibur di Aussie?!" Teriak Sang Mama mulai kalap. Lukman Hakim merasa sudah saatnya ia menengahi pertikaian sepihak antara Sang Mama pada Poksi. Sang mama yang terus mencecar Poksi tanpa ada perlawanan dari Poksi. "Bu
"Bubur kacang hijau? Itu bagus." Jawab Ariana atas saran Mariska. Makanan tambahan untuk Evara. "Tapi Aku sudah makan, Ma." Protes Evara. "Kamu tadi hanya sarapan roti, Eva. Nggak cukup untukmu dan Brian." Evara memang hanya sarapan setangkup roti dan segelas susu. Evara dan Athena saling berp
Athena pulang dan langsung menemui Safira. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ibunya itu sudah mengatakan, "Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu, Atha. Aku lelah."Athena menelan semua kalimat yang ingin keluar dari mulutnya. Ia mendengus pelan sebelum membalikkan langkahnya dan keluar dari ka
Athena menggeleng. Ia ingin cepat - cepat pulang dan berbicara serius dengan Safira. Ia berencana tidak akan lama berpacaran dengan Siska karena ia ingin segera menjadikannya sebagai istrinya. "Aku harus pulang." Katanya sambil mengusap rambut Siska yang turun ke dahinya. Siska mengangguk. Ia men
"Baik, Nyonya." Jawab Robby. Robby menatap sosok Athena yang berdiri kaku karena tidak tahu harus melakukan apa. Robby sendiri sudah mendapat pemberitahuan langsung dari Adamis. "Bimbing Dia ke arah yang benar." Canda Adamis tadi melalui ponselnya"Maksud Tuan Muda?" Tanya Robby tidak mengerti.







