로그인"Kami sudah menangkap orang yang sengaja membuat Tiffany celaka. Tapi pelaku sebenarnya kabur." Bisik Kirana tapi masih membuat Athena dan Siska bingung. "Jadi keadaan Tiffany yang seperti itu bukan karena kecelakaan biasa?" tanya Siska ikut berbisik. Kirana mengangguk. "Ceritanya panjang." Keluh Kirana sambil melihat ke arah suaminya. Sandro masih berbicara di ponselnya dan ia memberitahu kabar yang ia terima dari Lukman Hakim, "Dia sudah mendapatkan siapa mantan suami pelaku. Untung namanya nggak pasaran jadi dapat segera ditemukan." "Baguslah. Siapa nama mantan suaminya, sih?" Tanya Kirana yang diteruskan pada Lukman Hakim. Sementara Athena dan Siska semakin terkejut mendengar kalimat mantan suami pelaku. Berarti pelakunya perempuan? Sejenak Sandro terdiam mendengar jawaban Lukman Hakim. Ia justru melihat ke arah Athena dengan tatapan aneh. "Siapa?" Tanya Kirana penasaran. Sandro menelan salivanya sebelum menjawab, "Athena." Kata Sandro pelan."Apa?!" Teriak Siska yang l
"Bukan itu. Toko roti ini bersebelahan dengan bar yang menjual minuman keras. Papan namanya juga tertutup sama papan nama bar itu. Nggak banget." Kata Athena sambil terus menggeleng - gelengkan kepalanya. Sandro tertegun. Toko roti di sebelah bar? Ia tanpa sengaja pernah melihat toko roti itu. Toko roti yang papan namanya nyaris tertutup oleh papan nama bar. Toko roti itu sudah tutup setiap kali ia datang. Sudah lewat jam duabelas malam saat Sandro datang ke sana. "Apa nama toko rotinya itu adalah Caesar?" Tanya Sandro. Tiga pasang mata kini menatapnya dengan terkejut. Darimana Sandro tahu?Sandro mengedipkan sebelah matanya pada Kirana. "Bar yang itu." Bisiknya yang membuat Kirana langsung mengerti. "Bapak tahu?" Tanya Athena tidak dapat menahan diri. Sandro menghela nafas. Ia menggigit lagi rotinya dan mengatakan, "Roti ini benar - benar enak." Katanya seperti pada diri sendiri. Kirana juga tersenyum seperti meminta pengertian Athena. Athena mengerti kalau mereka tidak ingi
Evara merasa lemarinya sudah sesak dengan pakaian yang terus dibelikan Ariana untuknya. Kali ini Ariana membelikannya beberapa setelan blazer. "Kamu membutuhkannya bila Kamu mulai bekerja, Sayang." Pungkas Ariana membalas protes dari Evara. "Baiklah. Terimakasih, Ma." Sahut Evara sambil membawa baju - baju itu ke dalam paviliunnya. "Ah," Keluh Evara setelah membuka lemari gantungnya. Lemari yang cukup besar itu sudah penuh dengan gaunnya. "Di lemari Adam saja." Katanya mengambil keputusan. Ia segera bergeser ke lemari Adamis dan membuka lemari gantungnya. Eva terpana untuk sesaat. Bukan karena lemari gantung Adamis penuh juga tapi ia melihat sebuah jaket yang sudah lama tidak dilihatnya. Jaket yang dulu selalu di pakai Brian bahkan saat ia bekerja. Evara menjatuhkan setelan - setelan blazernya untuk memegang dan mengusap jaket itu dengan penuh perasaan. "Ada apa, Sayang?" Pertanyaan Adamis mengejutkannya. Bahkan ia tidak mendengar Adamis masuk ke paviliun mereka. Mata Adam
Poksi terlihat seperti hilang akal. Ia hanya diam seperti pesakitan yang tertangkap basah. "Poksi? Jawab Mama!" Teriak Sang Mama tidak sabar. Bahu Poksi luruh seperti airmata sang Mama yang mulai luruh. "Apa Kamu nggak mau bertanggungjawab? Dimana anak itu sekarang?" Tanya Mama Poksi lagi dalam isak tangisnya. "Vi.. Viona memilih menggugurkan kandungannya." Kata Poksi dengan suara seperti tercekik. "Poksi? Kamu menyetujuinya?" Raung Sang Mama. Ia memang tidak menyukai Viona tapi mendengar ada benih Poksi di rahim Viona membuatnya tersentuh dan merasakan sesuatu yang lain. Poksi diam karena tidak mampu menjawab. Ia memang lari dari tanggung jawab karena ia mulai merasa bosan pada Viona yang semakin menyebalkan menurutnya. "Karena itu Kamu minta cuti kuliah dan berlibur di Aussie?!" Teriak Sang Mama mulai kalap. Lukman Hakim merasa sudah saatnya ia menengahi pertikaian sepihak antara Sang Mama pada Poksi. Sang mama yang terus mencecar Poksi tanpa ada perlawanan dari Poksi. "Bu
"Viona itu dekat dengan mamanya. Dia akan menghubungi mamanya. Dia nggak akan bisa menghubungi mamanya kalau mamanya tetap di sini." Kata Alvaro memberi alasan yang dapat meyakinkan polisi itu. Semalaman Lukman Hakim sudah mencoba menghubungi Viona melalui ponsel Adelia sampai beberapa kali tapi Viona tidak mengangkatnya. "Sebentar." Kata polisi itu. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Lukman Hakim dan menyatakan alasan yang diberikan Sandro. Ternyata Lukman Hakim menyetujuinya. "Baiklah, Pak. Ibu boleh pulang." Kata Polisi itu. Alvaro menggenggam tangan Adelia saat memberikan kunci mobilnya. "Kamu bisa menyetir sampai rumah, kan? Atau Aku pesankan taxi online?" Tanyanya dengan lembut. "Aku bisa. Tapi bagaimana denganmu? Kamu baru pulang. Pasti Kamu lelah, Sayang." Kata Adelia khawatir. Alvaro mengusap pipi istrinya untuk membuatnya tenang. "Aku nggak papa. Polisi hanya menginginkan salah satu dari Kita di sini. Dan itu nggak akan lama. Pulanglah."Adelia menghela nafas
Viona sudah sampai di rumah lama Athena. Tetangganya juga sudah memberikan kuncinya. "Apa ini anak Atha?" Tanya pak Rodi dengan tatapan menyelidik. Viona tidak ingin banyak bicara. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Rumah Athena sangat kotor karena tidak ada yang mengurusnya. Rumput - rumput juga menjulang tinggi di pekarangan rumah. 'Ini justru bagus. Polisi nggak akan sampai ke sini.' kata hati Viona puas. Tapi ia mengeluh saat membuka pintu. Bau debu yang pekat membuat Caesar terbatuk -batuk. "Rumah apa kandang sapi, sih?" Ia lalu menoleh pada Mina yang berdiri tertegun di belakang mereka. "Jangan diam aja. Bersihkan rumah ini. Awas, harus bersih!" Titahnya. Dalam hati ia merasa bersukur karena ide sang Mama untuk membawa Mina. Mina meletakkan tas miliknya dan koper milik Viona. Matanya mengitari ke sekeliling rumah. "Sapunya dimana, Nyonya?" Tanyanya sambil memegang hidungnya. 'Rumah ini berapa lama nggak ditempati? Sangat bau! Kenapa Nyonya Viona ingin tinggal di sini?
Merasa malu karena terpergok, Evara berusaha melepaskan tangan Adamis. Adamis juga langsung melepaskan tangannya. Evara mendekati Ariana. "Tadi Aku mau jatuh jadi Adamis memegangku, Ma."Evara berusaha menjelaskan. Ia takut Ariana salah paham. "Aku mau mandi dulu." Kata Adamis sambil membalikkan
Malam mulai datang. Waktu bergulir dengan cepat tapi tidak untuk Adamis dan Evara. Mereka mulai merasa lelah dan ingin beristirahat. Terutama Evara. Ia merasa perutnya nyaris kram tapi ia tetap harus bertahan. Sudah hampir jam sembilan malam saat akhirnya tamu terakhir pulang. Mereka adalah anak
"Apa Dia terlihat kesal?" Tanya Adamis. 'Ia pasti kesal karena menungguku terlalu lama.'Tapi jawaban Dalina membuat Adamis tercengang, "Tidak, Tuan. Ia justru terlihat sangat bahagia." Jawab Dalina. 'Kok aneh.' gumam hati Adamis. Tapi apa pedulinya sekarang? Yang penting makhluk centil itu sud
"Apa yang harus kujelaskan, Mama? Bukannya Mama harusnya sudah puas? Aku sudah menikah sekarang, Ma!" Teriak Viona kesal. Dulu Viona selalu mendapat desakan dari sang Mama. Viona harus menikah sebelum perutnya terlihat membesar. "Mama nggak ngerti jalan pikiranmu, Vion! Mana ada suami dan istri t







