Masuk"Kak, Aku ingin bicara. Serius." Alea memberanikan dirinya saat mereka dalam perjalanan pulang selesai membeli pakaian couple untuk mereka. "Bicara aja." Kata Lukman Hakim yang tetap fokus pada jalanan di depannya.Alea menelan salivanya dengan susah payah. Ia diam untuk beberapa saat, membuat Lukman Hakim menoleh sekilas padanya. "Apa Kita harus mampir dulu di cafe yang biasa?" Tanyanya. 'Mungkin sebaiknya begitu.' pikir Alea tapi lambungnya bahkan sudah tak kuat menampung meskipun hanya segelas teh lagi."Tapi.. Tapi Aku.." Sahut Alea terbata. Entah kenapa ia selalu gugup bila berdekatan dengan Lukman Hakim. Dan ia juga merasa selalu kenyang. Di mall tadi mereka juga hanya meminum segelas kopi. Lukman sudah bertanya ia ingin makan apa tapi Alea menolaknya, "Aku sudah kenyang. Tadi Aku sudah makan di rumah."Alea jujur saat mengatakan ia sudah kenyang tapi ia bohong saat mengatakan ia sudah makan di rumah. Ia memang sudah makan tapi itu makan siang dan hanya sedikit. Alea tida
"Mama ada perlu denganku?" Tanya Alea dari depan pintu kamar. Ia membuka pintu setelah mengetuk lebih dulu. "Bagaimana, Sayang? Apa dia mau ikut dengan Kita?" Tanya Artika bersemangat.Alea berjalan menghampiri sang Mama dan duduk di sebelahnya. "Dia siapa?" Tanya Alea pura - pura. "Siapa lagi? Pacarmu itu, lho." Sahut Artika gemas. Tangannya yang memegang bantal kursi ia pukulkan perlahan pada Alea."Ah, Mama. Aku sampai pusing memikirkan caranya." Keluh Alea. "Bagaimana tanggapannya? Dia mau, kan?" Cecar Artika tidak sabar. Alea terkesan menggantung jawabannya. "Mama, sih. Aku kan jadi malu." Kata Alea akhirnya dengan sikap manja. Ia melihat papanya hanya tersenyum melihat kemanjaannya sebelum matanya kembali ke layar laptopnya. "Kenapa harus malu? Kan wajar saja ngajak pacar untuk datang ke acara pernikahan." Bantah Artika."Dia belum jadi pacarku, Ma." Sanggah Alea cepat. "Apa iya? Nantinya pasti jadi pacar, kan?" Tanya Artika tidak percaya. Alea tertawa malu. "Papa d
Samie tidak menyerah. Ia datang lagi pada pagi harinya. Alea baru saja selesai sarapan dan berbincang dengan sang mama di dalam kamarnya saat Ranti datang untuk memberitahunya, "Nona Alea, ada yang datang dan mau bertemu." Kata Ranti yang membuat Alea melengak karena heran. "Saya sudah memintanya untuk menunggu di ruang tamu, Non." Kata Ranti lagi. "Pagi - pagi begini? Siapa, sih?" Tanyanya sedikit kesal. "Mungkin dia.. Takut nggak ketemu lagi sama Non." Sahut Ranti. "Oh, yang semalam itu ya, Ran?" Timpal Artika. "Yang semalam?" Tanya Alea semakin heran."Siapa, sih? Laki - laki atau perempuan?" Tanya Alea malas. Rencananya Ia ingin tidur lagi setelah ini. "Laki - laki, Non. Ganteng." Kata Ranti seraya mengacungkan jempolnya. Alis Alea bertaut. Ganteng? Dengan rasa penasaran tingkat tinggi ia mengajak Ranti menemaninya ke ruang tamu. Samie tidak duduk. Ia memilih berdiri menghadap ke pintu yang menghubungkan ruangan ini ke ruangan tengah. Ia langsung menapak sosok Alea yang
"Kalian tadi bicara apa? Apa Kak Lukman mau ikut denganmu ke pesta pernikahan itu?" Bisik Sabrina saat mereka sudah duduk di dalam mobilAlea hanya menganggukkan kepalanya. Sikapnya seperti gadis yang baru mekar dan menemukan cinta pertamanya. Sabrina menghela nafas lega. Kakaknya ternyata mengikuti perintahnya dengan baik. "Brin,.. Kakakmu.. Dia.. Dia..""Apa?" Potong Sabrina tidak sabar. Alea menatap belakang kepala Lukman Hakim yang bersandar di bantalan kursi. Tampak tegas dan berwibawa. Membuatnya semakin.. "Al? Kok malah bengong? Kamu mau ngomong apa tadi?"Alea tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya. Ia melihat Sabrina yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Alea diam untuk beberapa saat sampai Sabrina lalu menjawil bahunya. "Itu.. Brin.. Emm.. Nanti aja, lah." Kata Alea akhirnya. Alea mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menghindari tatapan gemas dari sahabatnya itu. "Ih! Apa - an, sih? Bikin kepo aja!" Cicit Sabrina kesal. Ia menyandarkan tubuhnya
"Sekarang, balik ke sana dan bilang kalau Kakak akan ikut bersamanya ke pesta pernikahan itu! Titik!" Titah Sabrina seraya melangkah pergi. "Lah, Kamu sendiri mau kemana?" Tanya Lukman Hakim yang heran melihat Sabrina bukan berjalan ke arah tempat mereka duduk tadi. "Mau cuci muka!" Sahut Sabrina sebal. Ia sangat gemas dengan sikap Lukman Hakim yang terkesan tak peduli dengan perasaan sahabatnya. Padahal ia juga suka. "Apa ya, namanya? Suka tapi nggak mau usaha!" Sungut Sabrina sebal.Ia benar - benar mencuci mukanya di toilet. Ia merasa wajahnya panas karena marah dan membuat make up nya luntuk tak beraturan. "Kak Lukman itu benar - benar, ya!" Gerutunya seraya mengeringkan wajahnya dengan tisu.Sabrina mengulang dari awal riasannya dengan gerakan cepat. Ia tidak ingin membuat mereka terlalu lama menunggu. "Selesai!" Katanya puas setelah mengoleskan lipstik tipis - tipis di bibirnya. Ia kembali ke meja tempat mereka duduk tadi. "Kamu darimana, Brin? Kopimu sudah dingin." Kata
Siska sudah kembali ke rumahnya. Athena sebenarnya belum ingin mengambil cuti karena ia tidak tahu harus berbuat apa selama menunggu hari H tapi Evara memaksanya. "Kamu bisa istirahat di rumah. Jangan kemana - mana juga. Pamali." Kata Evara. "Apa itu pamali?" Tanya Athena. Dahi Evara sedikit berkerut karena bingung. Ia sendiri tidak tahu apa itu pamali yang sering di dengang - dengungkan oleh orang - orang tua di rumah lamanya dulu. "Pamali itu.." Evara melihat ke arah suaminya yang lebih - lebih tidak mengerti darinya. "Yang jelas bukan suaminya bu mali." Sahut Adamis asal. "Adam," Tegur Evara geli. Senyumnya mencuat dengan manis. "Pamali itu seperti tabu atau nggak boleh dilakukan karena akan menyebabkan musibah kalau itu dilanggar." Sahut Safira yang sedang menggigit ayam gorengnya. Evara mengangguk setuju. Telunjuknya bergoyang - goyang menunjuk ibunya. Adamis bergidig pura - pura ngeri. "Berarti pamali itu seram banget, ya? Apa dia masih turunan jin?""Adaamm!" Teriak







