INICIAR SESIÓNTiffany digendong oleh salah satu polisi ke dalam mobil. Perawat itu ikut masuk dan duduk di sebelah Tiffany. "Aku menemaninya sampai orangtuanya datang." Tegasnya sebelum ditanya. Salah satu polisi memasukkan kursi roda ke dalam bagasi. Saat itulah mobil Sandro mendekat dan berhenti di samping mobil dinas Lukman Hakim. Kirana turun padahal mesin mobil belum dimatikan oleh Sandro. "Tiff! Tiffany!" Jeritnya sambil berlari ke mobil Lukman Hakim. "Mama!" Sahut Tiffany lirih. Ia nyaris tidak bertenaga bahkan untuk berteriak. Tubuh lemasnya disangga oleh perawat di sampingnya. "Pagi, Bu Kirana." Sapa Lukman Hakim yang sudah duduk di samping kursi pengemudi. "Kenapa Bapak nggak menungguku?!" Alih - alih menjawab teguran Lukman Hakim, Kirana berteriak dengan marah. Lukman Hakim tersenyum. Ia tidak marah sama sekali. "Sebaiknya mobil Ibu mengikuti mobil Kami." Katanya tenang. Ia memberi perintah dengan isyarat agar temannya yang memegang kemudi menjalankan mobilnya. "Tiffany!" Jer
"Kalau sekiranya semua bangunan itu sudah nggak layak, bongkar saja. Ganti dengan yang baru." Titah Adamis lagi disertai senyum manis Evara. Evara mulai bekerja hari ini jadi ia tidak dapat menemani Safira. Athena berjanji akan meninjau perkembangan nya setiap hari sabtu dan minggu. "Aku juga akan mengajak Siska." Katanya. "Huh! Belum apa - apa udah diajak aja!" Dengus Safira. "Harus dong, Bu. Siska kan calon istriku. Ia juga akan tinggal di rumah itu." Sanggah Athena. "Tapi...""Nggak ada tapi. Atau Aku nggak akan pernah menikah lagi seumur hidupku!" Ancam Athena. Safira cemberut. Ia masih merasa tak rela melepaskan Athena pada Siska. Tapi ia takut Athena akan menepati ancamannya bila ia dilarang menikah dengan Siska. "Ibu, Ibu nggak akan menyesal. Ibu akan belajar menyayangi Siska seperti Ibu menyayangiku." "Tapi itu nggak sama. Siska bukan..""Aku juga bukan anak Ibu." Potong Evara berbisik. Safira terdiam. Kenyataan yang menampar dirinya yang terpaksa menjadi seorang ibu
"Tiff, Kamu tahu konsekwensinya karena Kamu udah memeras orang?"Tiffany seperti termenung untuk sesaat sebelum menjawab, "Aku tahu, Kak." Katanya seraya menghela nafasnya. "Kamu harus kuat, ya? Aku percaya Kamu akan kuat."Kembali Siska memberikan kata - kata motivasinya. Mata Tiffany terlihat berlinang. "Kalau saja Aku punya kakak sepertimu, Kak." Katanya. Siska tersenyum. "Aku mau jadi Kakakmu. Kamu itu adik yang manis." Kata Siska sambil mengusap pipi Tiffany. "Kakak pulang dulu, ya?""Ya." Sahut Tiffany sambil melambaikan tangannya sampai Siska benar - benar keluar dari kamarnya. Tiffany mengerjapkan matanya hingga airmata langsung turun membasahi pipinya. Anehnya, ia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Ia sadar, perbuatannya sama sekali tidak dapat dibenarkan dan ia harus siap menanggung akibatnya. Tiffany melambaikan tangannya pada perawat yang sudah lebih dari sebulan ini menjaganya. "Tolong lihat keluar. Apa Mama dan Papa sudah kembali?" Pintanya saat perawat itu m
Lukman Hakim sebenarnya sudah datang dari tadi. Ia tidak menanggapi permintaan Sandro dan bergegas ke ruangan Tiffany di rawat. Sandro mengikuti langkahnya dengan perasaan putus asa. Ia tidak dapat membayangkan kemarahan Kirana padanya sebentar lagi. Lukman Hakim hampir masuk dan mendorong pintu yang sedikit terbuka saat ia mendengar suara Tiffany. Ia mengurungkan niatnya dan meletakkan telunjuknya di depan bibir agar Sandro tidak bersuara. "Iya! Poksi dan Viona!"Lukman Hakim yang cerdas langsung mengaktifkan alat perekam di ponselnya. Dengan begitu Tiffany tidak perlu mengulang cerita padanya lagi. "Tiff, lanjutkan ceritamu." Terdengar suara Siska. Lukman Hakim menatap Sandro dengan tatapan bertanya. "Itu pacar Athena." Bisik Sandro nyaris tak terdengar. Lukman Hakim mengangguk - anggukkan kepalanya. Ia kembali mengintip ke dalam kamar. Tiffany menarik nafas panjang dengan susah payah. "Viona ingin terlihat seperti gadis baik - baik di depan orangtuanya. Ia menjadikanku tam
"Mereka tidak menginginkanku, Ma. Kalau mereka ingin, mereka sudah mencariku dari dulu. Tapi ini enggak, kan?" Ariana menghargai keinginan Evara yang merasa cukup dengan kebahagiannya sekarang ini. "Ibu Safira sudah mulai menyayangiku. Aku merasakannya." Kata Evara lagi.Ariana mengangguk. Ia juga merasakan perubahan sikap Safira pada Evara. Athena kembali ke meja makan untuk berpamitan karena ia sudah selesai makan. Ia heran melihat Safira dan Evara berpelukan."Apa ada yang kulewatkan?" Tanyanya ingin tahu. Ia melihat tangan Safira yang mengusap - usap punggung Evara begitu juga sebaliknya. "Iya. Ada. Belum ada Kamu di sini." Kata Safira sambil melambaikan tangannya untuk mengajak Athena ikut masuk dalam pelukan. Meski heran, Athena menuruti keinginan sang ibu. Kini mereka berpelukan bertiga dengan perasaan bahagia. Adamis dan Ariana tersenyum ikut merasakan kebahagiaan mereka. Sedangkan Sunny merasakan keanehan saat menyadari wajah mereka yang tidak mirip satu sama lain. "A
Tangis Kirana meledak, "Apa kubilang, Pa! Sekarang belum waktunya!" Teriaknya marah pada suaminya. Sandro mencoba memeluk Kirana tapi tangannya ditepis oleh Kirana. "Kalau Tiffany kenapa - napa, Aku nggak akan memaafkanmu!"Teriakan penuh luka itu membuat Sandro lemas. Ia merasa serba salah dan tidak tahu lagi harus ikut menangis atau menyalahkan dirinya sendiri. Dokter yang memeriksanya keluar dengan wajah tenang. "Tiffany tidur. Sementara biarkan ia istirahat dulu.""Tiffany kenapa, Dok?" Tanya Kirana yang masih menangis."Dia sangat tegang tadi jadi Aku memberinya obat penenang. Sekarang udah nggak papa.""Apa Kami boleh masuk?" Tanya Sandro. "Boleh." Kata dokter itu sebelum pergi untuk melanjutkan pemeriksaan yang ia tinggal tadi."Alhamdulillah." Gumam Sandro pelan. Kirana juga berhenti menangis. Ia segera masuk ke ruangan tempat Tiffany berbaring tanpa daya."Tiffany." Gumam Kirana lirih. Sandro menghubungi Lukman Hakim. "Tolong ditunda lagi. Tiffany drop sekarang." Pin
"Duduklah di sini, Alea. Kita bisa bicara lebih santai. Semalam Brian rewel, Evara lelah karena terjaga semalaman. Tapi ia sangat senang menerima kedatanganmu." Ungkap Ariana. Evara memang terlihat lelah dan sedikit lusuh. Wajahnya juga pucat. Alea duduk di sebelah Evara dan menggenggam tangannya
Alea melihat semua kehebohan itu dengan senyum kecil. 'Ternyata mudah sekali membuatmu drop, Eva!' kata hatinya puas. Ia berjalan dengan langkah tenang di bawah tatapan para pelayan yang baru melepas kepergian Evara dan Safira ke rumah sakit. "Itu penjahatnya!" Teriak Sisil gemas. Penjahat? "
"Bubur kacang hijau? Itu bagus." Jawab Ariana atas saran Mariska. Makanan tambahan untuk Evara. "Tapi Aku sudah makan, Ma." Protes Evara. "Kamu tadi hanya sarapan roti, Eva. Nggak cukup untukmu dan Brian." Evara memang hanya sarapan setangkup roti dan segelas susu. Evara dan Athena saling berp
Athena pulang dan langsung menemui Safira. Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ibunya itu sudah mengatakan, "Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu, Atha. Aku lelah."Athena menelan semua kalimat yang ingin keluar dari mulutnya. Ia mendengus pelan sebelum membalikkan langkahnya dan keluar dari ka







