Mag-log inPara pelayan wanita berkerumun di bawah tangga menunggu Seno dan Teguh yang sedang berjalan turun. "Bagaimana?" Tanya Ranti tidak sabar. Ia tidak melihat ketegangan atau kecemasan di wajah Seno dan Teguh. "Bagaimana apanya?" Tanya Teguh yang tidak sempat melihat Axel karena ia hanya melihat Seno menutup pintu kamar Axel dengan hati - hati. "Tuan Muda kayaknya pulas banget. Apa tetap harus dibangunkan?" Bisiknya saat melihat Teguh datang. "Jangan. Nanti aja." Kata Teguh ikut berbisik. Teguh merasa lega karena Seno belum atau tidak membangunkan Axel. "Tuan Muda Axel. Bagaimana dia?" Tanya Ranti gemas. Memang siapa lagi yang mau ia tanyakan? "Aku nggak tega bangunin. Pules banget gitu." Sahut Seno cuek. Ranti dan yang lainnya ternganga. Axel ternyata beneran tidur seperti apa yang mereka katakan tadi pada Artika. "Alhamdulillah." Serempak Ranti dan yang lainnya mengucap syukur, membuat Seno dan Teguh bingung. "Memang kenapa?" Tanya Seno dan Teguh berbarengan. "Kembali ke pos
Andara langsung menerima panggilan istrinya. "Kalian dimana? Kenapa Kalian nggak segera pulang?!" Seru Artika tanpa berpikir lagi. "Ada apa, Sayang?" Tanya Andara yang semakin gelisah mendengar suara Artika yang terdengar menahan tangis. "Andara, Kami membutuhkanmu, sekarang!" Racau Artika yang mulai tidak dapat menahan tangisnya. "Tenang, Sayang. Apa yang terjadi? Kamu nggak papa, kan?" Cecar Andara ikut panik. Artika sampai menyebutnya dengan namanya, bukan Papa atau Sayang seperti biasanya. Tidak terdengar suara lagi dari atas. Suasana hening ini terasa mencekam dan menyiksa perasaan Artika. Andara masih setia menempelkan telinganya pada ponselnya, menunggu jawaban Artika. "Kenapa nggak ada yang turun dan memberitahuku?" Keluh Artika panik dan kesal sekaligus. "Beritahu apa? Sayang? Apa.."Tut.. Tut.. Tut.. Telepon terputus. "Cepat sedikit, Al!" Titah Andara pada Alvian. Alvian mengangguk dan menambah kecepatan pada laju kendaraannya. Axel terduduk di tempat tidurnya d
"Axel?!" Jerit Artika kaget. Axel menatap mamanya. Ia tidak ingin karmanya yang buruk melibatkan sang mama bila ia terus memaksa membawa mobil ini dengan pikiran kalutnya. "Tolong gantikan Aku, Ma. Aku.. Aku pusing." Katanya beralasan. Axel langsung turun dari mobilnya. Ia tidak langsung masuk setelah memutari mobil. Ia justru bersandar di pintu mobil untuk mengatur nafasnya yang terengah seperti telah berlari sangat jauh.Artika sudah menggeser tubuhnya. Ia sudah berada di belakang kemudi sekarang dan menunggu Axel untuk masuk. 'Biarlah. Pasti ia lagi menenangkan dirinya. Sebenarnya apa yang sudah ia lakukan?' gumam hatinya. Ia tidak memaksa Axel untuk segera masuk. Artika memilih menunggu dan mengingat cerita Alvian tentang mimpi buruk Axel saat ia baru pulang dari Aussie. "Ia ketakutan, Ma. Tapi ia nggak mau menjawab pertanyaanku." Cerita Alvian waktu itu tapi dianggap tidak terlalu penting oleh Artika. Ia melihat keseharian Axel yang tetap ceria dan sering menjahili adiknya
Siska termenung untuk sesaat. Ia melihat Athena tersenyum bangga mendengar perkataan Artika. "Aku bilang juga apa." Katanya. "Aku.. Aku takut itu.. Terlalu mahal.." Bisiknya nyaris tak terdengar. Artika tersenyum bijak. "Nggak ada yang terlalu mahal untuk orang tercinta." Katanya menenangkan. Athena tersenyum lebih lebar. "Aku bilang juga apa." Katanya mengulang. Artika ingin melepaskan kalungnya. Ia meminta tolong pada Axel. "Ax? Tolong Mama." Katanya sambil mengangkat rambutnya. Tidak ada yang melepas kalungnya bahkan tidak ada suara yang merespon permintaannya. Artika menoleh ke tempat ia berdiri tadi bersama Axel. "Axel?" Tanyanya sambil celingukan. Axel tidak ada di tempatnya berdiri tadi. 'Lho? Kemana dia?' tanya Artika dalam hati. Ia langsung celingukan mencari keberadaan Axel tapi putra keduanya itu seperti hilang ditelan bumi. 'Dasar anak nakal!' gerutu hati Artika. Ia hampir menurunkan rambutnya lagi saat suara Siska terdengar halus, "Biar Aku saja, Tante."A
Tiffany digendong oleh salah satu polisi ke dalam mobil. Perawat itu ikut masuk dan duduk di sebelah Tiffany. "Aku menemaninya sampai orangtuanya datang." Tegasnya sebelum ditanya. Salah satu polisi memasukkan kursi roda ke dalam bagasi. Saat itulah mobil Sandro mendekat dan berhenti di samping mobil dinas Lukman Hakim. Kirana turun padahal mesin mobil belum dimatikan oleh Sandro. "Tiff! Tiffany!" Jeritnya sambil berlari ke mobil Lukman Hakim. "Mama!" Sahut Tiffany lirih. Ia nyaris tidak bertenaga bahkan untuk berteriak. Tubuh lemasnya disangga oleh perawat di sampingnya. "Pagi, Bu Kirana." Sapa Lukman Hakim yang sudah duduk di samping kursi pengemudi. "Kenapa Bapak nggak menungguku?!" Alih - alih menjawab teguran Lukman Hakim, Kirana berteriak dengan marah. Lukman Hakim tersenyum. Ia tidak marah sama sekali. "Sebaiknya mobil Ibu mengikuti mobil Kami." Katanya tenang. Ia memberi perintah dengan isyarat agar temannya yang memegang kemudi menjalankan mobilnya. "Tiffany!" Jer
"Kalau sekiranya semua bangunan itu sudah nggak layak, bongkar saja. Ganti dengan yang baru." Titah Adamis lagi disertai senyum manis Evara. Evara mulai bekerja hari ini jadi ia tidak dapat menemani Safira. Athena berjanji akan meninjau perkembangan nya setiap hari sabtu dan minggu. "Aku juga akan mengajak Siska." Katanya. "Huh! Belum apa - apa udah diajak aja!" Dengus Safira. "Harus dong, Bu. Siska kan calon istriku. Ia juga akan tinggal di rumah itu." Sanggah Athena. "Tapi...""Nggak ada tapi. Atau Aku nggak akan pernah menikah lagi seumur hidupku!" Ancam Athena. Safira cemberut. Ia masih merasa tak rela melepaskan Athena pada Siska. Tapi ia takut Athena akan menepati ancamannya bila ia dilarang menikah dengan Siska. "Ibu, Ibu nggak akan menyesal. Ibu akan belajar menyayangi Siska seperti Ibu menyayangiku." "Tapi itu nggak sama. Siska bukan..""Aku juga bukan anak Ibu." Potong Evara berbisik. Safira terdiam. Kenyataan yang menampar dirinya yang terpaksa menjadi seorang ibu
"Apa Kita tidak buka dulu kadonya?" Tanya Evara selepas Adamis mencium pelipisnya. "Apa Kamu sangat ingin tau?" Adamis balik bertanya. Ia sendiri merasa enggan mengetahui kado apa yang diberikan oleh keluarga Alea. Itu megingatkannya pada Alea yang agresif dan membuatnya sebal! Tapi itu adalah ka
"Kalian akan membawaku kemana? Kenapa nggak bicara di sini aja, Atha?"Evara mulai panik. "Tenang, Eva. Hanya sebentar, kok."Athena menyeringai. Mereka sudah hampir sampai di tempat yang dipilih oleh Viona untuk 'mengeksekusi' kakaknya ini. "Lepas, Atha! Tanganku sakit!" Pinta Evara. Atha melep
Anthony membelalakkan matanya. Tebakan Adamis benar. Secara naluriah ia takut akan kepintaran Adamis. Ia tidak bisa memecatnya kalau sudah begini. Dan itu akan membuat posisinya terancam. Secara Adamis adalah kerabat Vicky. Bagaimana kalau ia mengalihkan jabatannya pada Adamis kalau ia menganggapny
Athena tersenyum sinis saat akhirnya perceraiannya dengan Viona diputuskan untuk ditunda hingga Viona melahirkan.Athena berdiri dengan kedua tangan terkepal. Ia berjalan mendekati hakim yang memproses perceraiannya dengan Viona. "Pak Hakim, apa Anda tau kalau anak dalam kandungannya itu benar - b







