แชร์

Bab 53. Racun di Meja Perjamuan

ผู้เขียน: Razi Maulidi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-18 18:12:45

Sore itu, suasana di lobi utama gedung A-Legacy mendadak gaduh. Mami Widya datang bagaikan badai yang kehilangan arah. Tanpa memedulikan tatapan sinis para staf dan petugas keamanan, ia menerobos masuk menuju lift eksekutif. Riasannya yang tebal tampak retak oleh keringat amarah, dan tas bermerek yang ia jinjing seolah menjadi satu-satunya sisa martabat yang ia miliki.

Di ruang kerja pribadinya, Alessia duduk dengan tenang. Ia sudah menduga kunjungan ini. Di sudut ruangan, Adrian berdiri m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Chapter 61. Suara Dari Masa Lalu

    Setelah perintah operasional dikeluarkan, ruangan itu mendadak sepi. Raka telah pergi untuk mengoordinasi tim peretas dan unit lapangan, meninggalkan Alessia sendirian di tengah kemegahan yang terasa semakin dingin. Bukannya segera bersiap, Alessia justru terduduk lemas di kursi kebesarannya. Matanya terpaku pada amplop putih dari Adrian yang kini tampak seperti bom waktu di atas meja mahoni nya. Pikirannya berkecamuk. Logika korporatnya meneriakkan waspada, mengatakan bahwa ini mungkin jebakan terakhir yang dirancang untuk menghancurkannya secara emosional. Namun, bagian dari dirinya yang masih bernama "gadis kecil di perpustakaan" berbisik bahwa Adrian tidak berbohong. Kode katalog itu—angka-angka yang hanya diketahui oleh mereka berdua—adalah benang merah yang menghubungkan sisa-sisa kemanusiaan mereka. Alessia menumpukan wajah di kedua telapak tangannya. Ia merasa lelah. Perang ini telah merenggut segalanya: cintanya, kepercayaannya, dan kini ia merasa hampir kehi

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Chapter 60. Permainan Dua Wajah

    Kepergian Adrian meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang kerja Alessia. Raka segera menyambar amplop putih itu, jemarinya bergerak cepat memeriksa isinya dengan alat pendeteksi sinyal mini untuk memastikan tidak ada perangkat penyadap tersembunyi di dalamnya. Sementara itu, Alessia kembali duduk, namun tubuhnya tampak kaku. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup, membayangkan bayangan Adrian yang menjauh di koridor. "Jangan percaya padanya, Alessia," desis Raka sambil melempar kertas-kertas berisi koordinat server ke atas meja. "Ini terlalu rapi. Seorang pengkhianat tidak akan memberikan 'hadiah' sebesar ini tanpa umpan balik. Ini jelas taktik Dania untuk mengalihkan fokus kita dari serangan utama." Alessia mengambil salah satu lembar kertas tersebut. Matanya menelusuri barisan angka dan kode akses. "Atau mungkin, ini adalah satu-satunya cara Adrian untuk menebus dosanya. Dia tahu aku tidak akan pernah memaafkannya, jadi dia memilih untuk menghancurkan di

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 59. Konfrontasi Sang Pengkhianat

    Pagi itu, gedung pusat A-Legacy tampak seperti benteng yang tak tertembus. Keamanan ditingkatkan dua kali lipat, dengan instruksi khusus untuk memantau setiap pergerakan di lobi utama. Namun, Adrian tidak datang dengan menyelinap. Ia datang dengan kepala tegak, mengenakan setelan jas hitam yang rapi—pemberian dari Dania—dan sebuah lencana akses yang seharusnya sudah tidak aktif, namun entah bagaimana tetap bisa membawanya melewati gerbang sensor.Langkah sepatunya bergema di lantai marmer yang mengkilap, menarik perhatian para karyawan yang berbisik-bisik. Mereka tahu siapa dia: pria yang menghancurkan hati sang bos, putra dari musuh besar yang baru saja bangkrut. Namun, Adrian tidak memedulikan tatapan sinis itu. Ia memiliki misi, dan di balik saku jasnya, ia membawa beban rahasia yang bisa membalikkan keadaan.Di lantai teratas, pintu ruang kerja Alessia terbuka secara otomatis bahkan sebelum Adrian sempat mengetuknya. Seolah-olah sang Mawar Hitam memang sudah mencium aroma pengkhia

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 58. Sumpah di Balik Keranda Kaca

    Suasana di dalam ruang ICU semakin mencekam ketika indikator vital di monitor samping tempat tidur Prabowo mulai berfluktuasi secara tidak teratur. Bunyi bip yang tadinya stabil kini berubah menjadi rangkaian nada cepat yang memicu kepanikan. Para perawat berlarian masuk, sementara Adrian dan Mami Widya dipaksa mundur hingga ke koridor luar.Adrian menempelkan keningnya di kaca tebal yang memisahkan dirinya dengan sang ayah. Di tangannya, remasan kartu nama Dania terasa tajam, menusuk kulit telapak tangannya hingga hampir berdarah. Ia melihat tubuh ayahnya yang biasanya gagah kini tampak mengerut, seolah-olah beban dosa masa lalu dan kehancuran finansial yang mendadak sedang menyedot habis sisa-sisa nyawanya."Ini belum berakhir, Pa," bisik Adrian lirih, suaranya bergetar hebat. "Jangan pergi sekarang. Jangan biarkan dia menang semudah ini."---# Antara Cinta dan Kebencian Di tengah kemelut itu, pikiran Adrian terus melayang pada sosok Alessia. Ada rasa benci yang mula

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 57. Puing puing Keangkuhan

    Malam kian larut, namun lampu-lampu di koridor rumah sakit tetap berpendar putih pucat, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti hantu yang merayap di dinding. Adrian masih duduk di kursi tunggu kayu yang keras, menatap amplop cokelat pemberian Raka yang tergeletak di sampingnya. Surat itu bukan sekadar kertas; itu adalah akta kematian bagi status sosial keluarganya. Di sudut lain, Mami Widya sudah mulai tenang dari histerianya, namun ia kini tampak seperti orang linglung. Ia terus membelai tas kulit buayanya, satu dari sedikit barang mewah yang masih ia genggam. Matanya kosong, bibirnya sesekali bergumam tentang daftar hutang arisan dan cicilan apartemen di Singapura yang tak mungkin lagi ia bayar. Kehancuran fisiknya terlihat nyata; riasannya luntur, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan."Adrian..." suara Widya terdengar serak. "Kita harus ke apartemen rahasia ayahmu di Dharmawangsa. Masih ada beberapa batang emas di brankas sana. Alessia ti

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 56. Di Ambang Kehampaan

    Suara ritmis dari mesin *electrocardiogram* (ECG) di ruang ICU terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa hidup seseorang. Prabowo terbaring kaku, dikelilingi oleh kabel-kabel yang menjalar seperti akar pohon tua yang sedang sekarat. Di balik kaca transparan, Adrian berdiri dengan tatapan kosong. Ia tidak pernah menyangka bahwa melihat ayahnya yang perkasa kini tampak begitu rapuh akan menghancurkan hatinya sedalam ini.Di sampingnya, Mami Widya masih terus terisak, namun kali ini tangisannya terdengar lebih seperti ratapan ketakutan. Ia terus-menerus meremas tas tangannya yang mahal, seolah-olah benda itu adalah pelampung terakhir di tengah samudera kebangkrutan."Adrian, lakukan sesuatu..." rintih Widya. "Telepon Alessia. Sujud di kakinya jika perlu. Katakan padanya untuk menghentikan semua ini. Ayahmu bisa mati kalau semua aset kita disita!"Adrian hanya diam. Ia merasa muak. Ibunya bahkan di saat suaminya di ambang maut masih memikirkan aset. "Alessia tidak

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 10. Titik Nol di kota Asing

    Bab 10: Titik Nol di Kota AsingTayangan berita di televisi usang terminal bus itu terus berputar, mengulang kebahagiaan Adrian dan Dania yang terasa seperti tamparan keras di wajah Alessia. Pertunangan mereka, perut Dania yang membuncit, senyum kemenangan mereka—semua itu adalah racun yang membaka

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 9. Sisa sisa harga diri

    Bab 9: Sisa-Sisa Harga DiriHujan masih mengguyur deras ketika Alessia berjalan menjauh dari gerbang rumahnya yang kini terasa seperti monumen pengkhianatan. Kopernya yang basah dan berat bergesekan dengan kakinya, setiap langkahnya terasa seperti menyeret beban ribuan kilo. Pakaiannya kuyup, rambu

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    bab 8. pengusiran dari surga

    Bab 8: Pengusiran dari SurgaUdara di luar gedung pengadilan terasa mencekik, lebih dingin dari hati Alessia yang kini hancur berkeping-keping. Setiap langkahnya di trotoar yang basah oleh sisa hujan pagi terasa berat, seolah ia membawa beban ribuan kilogram di pundaknya. Kata-kata Hakim yang mengh

  • Adikku Penghancur Rumah Tanggaku    Bab 7. Badai di Ruang Sidang

    Bab 7: Badai di Ruang SidangRuang sidang keluarga itu terasa dingin, bahkan di bawah sorotan lampu yang terang benderang. Alessia duduk di bangku terdakwa, mengenakan setelan blazer hitam sederhana yang dulunya adalah salah satu pakaian kerjanya. Kini, pakaian itu terasa seperti seragam narapidana

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status