LOGIN*Sinopsis:* Alessia, seorang wanita bahagia dengan suami dan keluarga, hancur ketika tahu adiknya, Dania, berselingkuh dengan suaminya, Adrian. Setelah koma berbulan-bulan, Alessia bangun dengan tekad balas dendam. Dengan identitas baru, dia mulai menghancurkan Adrian dan Dania. Tapi, bisakah dia melupakan rasa sakit, atau malah jatuh cinta lagi? yuk lanjut baca ..🥰
View MorePagi itu, gedung pusat A-Legacy tampak seperti benteng yang tak tertembus. Keamanan ditingkatkan dua kali lipat, dengan instruksi khusus untuk memantau setiap pergerakan di lobi utama. Namun, Adrian tidak datang dengan menyelinap. Ia datang dengan kepala tegak, mengenakan setelan jas hitam yang rapi—pemberian dari Dania—dan sebuah lencana akses yang seharusnya sudah tidak aktif, namun entah bagaimana tetap bisa membawanya melewati gerbang sensor.Langkah sepatunya bergema di lantai marmer yang mengkilap, menarik perhatian para karyawan yang berbisik-bisik. Mereka tahu siapa dia: pria yang menghancurkan hati sang bos, putra dari musuh besar yang baru saja bangkrut. Namun, Adrian tidak memedulikan tatapan sinis itu. Ia memiliki misi, dan di balik saku jasnya, ia membawa beban rahasia yang bisa membalikkan keadaan.Di lantai teratas, pintu ruang kerja Alessia terbuka secara otomatis bahkan sebelum Adrian sempat mengetuknya. Seolah-olah sang Mawar Hitam memang sudah mencium aroma pengkhia
Suasana di dalam ruang ICU semakin mencekam ketika indikator vital di monitor samping tempat tidur Prabowo mulai berfluktuasi secara tidak teratur. Bunyi bip yang tadinya stabil kini berubah menjadi rangkaian nada cepat yang memicu kepanikan. Para perawat berlarian masuk, sementara Adrian dan Mami Widya dipaksa mundur hingga ke koridor luar.Adrian menempelkan keningnya di kaca tebal yang memisahkan dirinya dengan sang ayah. Di tangannya, remasan kartu nama Dania terasa tajam, menusuk kulit telapak tangannya hingga hampir berdarah. Ia melihat tubuh ayahnya yang biasanya gagah kini tampak mengerut, seolah-olah beban dosa masa lalu dan kehancuran finansial yang mendadak sedang menyedot habis sisa-sisa nyawanya."Ini belum berakhir, Pa," bisik Adrian lirih, suaranya bergetar hebat. "Jangan pergi sekarang. Jangan biarkan dia menang semudah ini."---# Antara Cinta dan Kebencian Di tengah kemelut itu, pikiran Adrian terus melayang pada sosok Alessia. Ada rasa benci yang mula
Malam kian larut, namun lampu-lampu di koridor rumah sakit tetap berpendar putih pucat, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti hantu yang merayap di dinding. Adrian masih duduk di kursi tunggu kayu yang keras, menatap amplop cokelat pemberian Raka yang tergeletak di sampingnya. Surat itu bukan sekadar kertas; itu adalah akta kematian bagi status sosial keluarganya. Di sudut lain, Mami Widya sudah mulai tenang dari histerianya, namun ia kini tampak seperti orang linglung. Ia terus membelai tas kulit buayanya, satu dari sedikit barang mewah yang masih ia genggam. Matanya kosong, bibirnya sesekali bergumam tentang daftar hutang arisan dan cicilan apartemen di Singapura yang tak mungkin lagi ia bayar. Kehancuran fisiknya terlihat nyata; riasannya luntur, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan."Adrian..." suara Widya terdengar serak. "Kita harus ke apartemen rahasia ayahmu di Dharmawangsa. Masih ada beberapa batang emas di brankas sana. Alessia ti
Suara ritmis dari mesin *electrocardiogram* (ECG) di ruang ICU terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa hidup seseorang. Prabowo terbaring kaku, dikelilingi oleh kabel-kabel yang menjalar seperti akar pohon tua yang sedang sekarat. Di balik kaca transparan, Adrian berdiri dengan tatapan kosong. Ia tidak pernah menyangka bahwa melihat ayahnya yang perkasa kini tampak begitu rapuh akan menghancurkan hatinya sedalam ini.Di sampingnya, Mami Widya masih terus terisak, namun kali ini tangisannya terdengar lebih seperti ratapan ketakutan. Ia terus-menerus meremas tas tangannya yang mahal, seolah-olah benda itu adalah pelampung terakhir di tengah samudera kebangkrutan."Adrian, lakukan sesuatu..." rintih Widya. "Telepon Alessia. Sujud di kakinya jika perlu. Katakan padanya untuk menghentikan semua ini. Ayahmu bisa mati kalau semua aset kita disita!"Adrian hanya diam. Ia merasa muak. Ibunya bahkan di saat suaminya di ambang maut masih memikirkan aset. "Alessia tidak
Bab 7: Badai di Ruang SidangRuang sidang keluarga itu terasa dingin, bahkan di bawah sorotan lampu yang terang benderang. Alessia duduk di bangku terdakwa, mengenakan setelan blazer hitam sederhana yang dulunya adalah salah satu pakaian kerjanya. Kini, pakaian itu terasa seperti seragam narapidana
Bab 10: Titik Nol di Kota AsingTayangan berita di televisi usang terminal bus itu terus berputar, mengulang kebahagiaan Adrian dan Dania yang terasa seperti tamparan keras di wajah Alessia. Pertunangan mereka, perut Dania yang membuncit, senyum kemenangan mereka—semua itu adalah racun yang membaka
Bab 9: Sisa-Sisa Harga DiriHujan masih mengguyur deras ketika Alessia berjalan menjauh dari gerbang rumahnya yang kini terasa seperti monumen pengkhianatan. Kopernya yang basah dan berat bergesekan dengan kakinya, setiap langkahnya terasa seperti menyeret beban ribuan kilo. Pakaiannya kuyup, rambu
Bab 8: Pengusiran dari SurgaUdara di luar gedung pengadilan terasa mencekik, lebih dingin dari hati Alessia yang kini hancur berkeping-keping. Setiap langkahnya di trotoar yang basah oleh sisa hujan pagi terasa berat, seolah ia membawa beban ribuan kilogram di pundaknya. Kata-kata Hakim yang mengh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews