Adikku Penghancur Rumah Tanggaku

Adikku Penghancur Rumah Tanggaku

last updateÚltima actualización : 2026-02-24
Por:  Razi MaulidiActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
6Capítulos
10vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

*Sinopsis:* Alessia, seorang wanita bahagia dengan suami dan keluarga, hancur ketika tahu adiknya, Dania, berselingkuh dengan suaminya, Adrian. Setelah koma berbulan-bulan, Alessia bangun dengan tekad balas dendam. Dengan identitas baru, dia mulai menghancurkan Adrian dan Dania. Tapi, bisakah dia melupakan rasa sakit, atau malah jatuh cinta lagi? yuk lanjut baca ..🥰

Ver más

Capítulo 1

Bab 1. Kecurigaan yang kuat

Dapur mewah itu berkilau di bawah lampu gantung kristal, namun Alessia tak melihat kemewahan. Matanya fokus pada piring saji, menata hidangan steak au poivre dengan presisi seorang koki bintang Michelin. Besok adalah ulang tahun pernikahan kelima. Lima tahun yang sempurna, setidaknya di permukaan.

"Sempurna," gumamnya, menghela napas.

Ia melirik jam dinding. Pukul empat sore. Adrian pasti akan pulang sebentar lagi, dan ia ingin semuanya siap. Meja makan sudah dihias dengan mawar putih kesukaan Adrian. Lilin beraroma sandalwood mulai menyebarkan kehangatan.

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi nyaring. Alessia mengerutkan kening. Adrian tidak pernah membunyikan bel.

"Siapa, ya?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia melepas apron dan bergegas menuju pintu utama. Di sana, berdiri Dania, adik kandungnya, dengan senyum manis dan tas tangan branded terbaru.

"Kak Alessia! Kaget, ya?" Dania langsung memeluknya erat, terlalu erat.

Alessia membalas pelukan itu, meski ada sedikit rasa tidak nyaman. "Dania? Kok mendadak? Kenapa nggak telepon dulu?"

Dania melepaskan pelukan, matanya menelusuri interior rumah. "Ih, Kakak. Masa ke rumah sendiri harus izin? Aku kan kangen. Lagian, aku mau pinjam baju, nih. Ada acara mendadak malam ini."

"Baju? Acara apa?" Alessia mencoba tersenyum ramah.

"Ya gitu deh, acara teman-teman. Aku kan nggak punya baju sekeren Kakak. Koleksi Kakak kan limited edition semua." Dania melirik gaun yang tergantung di lemari kaca di ruang tamu. "Gaun itu bagus banget, Kak. Yang warna emerald green itu. Aku boleh pinjam, ya?"

Alessia menghela napas. Dania memang selalu begitu. Manja dan selalu ingin apa yang Alessia miliki. "Gaun itu baru kupakai minggu lalu, Dania. Lagian, itu ukuran Kakak. Kamu kan lebih mungil."

"Ah, Kakak pelit! Kan bisa dikecilin sedikit. Atau… aku pakai yang lain deh." Dania menerobos masuk, tanpa menunggu jawaban Alessia, langsung menuju ke kamar utama mereka.

"Dania! Jangan masuk kamar dulu, Kakak belum siap-siap!" Alessia mengejar, namun Dania sudah lebih dulu masuk.

Dania sudah membuka lemari pakaian Alessia, tangannya sibuk memilah-milah gaun sutra dan designer dress yang tergantung rapi.

"Wah, Kakak ini memang surganya fashion ya. Lihat ini, yang ini cantik. Yang itu juga. Adrian pasti senang punya istri secantik dan sesempurna Kakak." Suara Dania terdengar terlalu manis.

Alessia berdiri di ambang pintu, mengamati adiknya. Ada sesuatu yang aneh dari Dania hari ini. Gerak-geriknya, tatapannya saat melihat barang-barang Alessia, seperti ada obsesi yang tersembunyi.

"Kamu serius cuma mau pinjam baju, Dania?" tanya Alessia, nadanya sedikit berubah.

Dania menoleh, tersenyum lebar. "Ih, Kakak ini suudzon aja. Tentu saja! Lagian, aku juga mau ngasih tahu, tadi aku ketemu Adrian di kafe dekat kantorku. Dia bilang mau pulang agak telat, ada meeting penting katanya."

Alessia terdiam. Adrian tidak memberitahunya soal itu. Dan mengapa Dania yang tahu?

"Oh, ya? Dia nggak bilang ke Kakak." Alessia mencoba menyembunyikan kekesalannya.

"Mungkin lupa kali, Kak. Kan Adrian sibuk banget. Untung aku yang kasih tahu, jadi Kakak nggak nungguin dia kayak orang bego." Dania tertawa kecil, tapi Alessia merasa tertawa itu menusuk.

"Aku nggak bego, Dania. Aku cuma percaya sama suamiku," jawab Alessia datar.

Dania mengangkat bahu. "Ya, ya, terserah Kakak deh. Jadi, yang mana boleh aku pinjam?"

Setelah perdebatan singkat, Alessia akhirnya mengalah dan membiarkan Dania meminjam sebuah blouse sutra yang Alessia sendiri belum pernah pakai. Dania bergegas pergi, setelah sebelumnya berkeliling rumah lagi, mengamati setiap sudut dengan tatapan aneh.

"Hati-hati, ya," ucap Alessia, mencoba tersenyum.

"Pasti! Makasih, Kak!" Dania melambaikan tangan, senyumnya masih terlalu lebar.

Alessia menutup pintu, merasakan kelegaan sekaligus keganjilan yang semakin besar. Mengapa Adrian tidak memberitahunya soal meeting itu? Dan mengapa Dania tahu?

Malam tiba. Pukul delapan. Sembilan. Sepuluh. Adrian belum juga pulang. Mawar di meja makan mulai layu. Hidangan yang Alessia masak sudah dingin. Ia mencoba menelepon Adrian, namun hanya voicemail yang menjawab.

"Kemana sih kamu, Adrian?" bisiknya, menatap layar ponsel.

Pukul sebelas malam, deru mobil Adrian terdengar di garasi. Alessia segera bangkit, mencoba merapikan diri, memaksakan senyum di wajahnya. Adrian masuk, kemejanya sedikit berantakan, dasinya longgar. Ia tampak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda.

"Adrian, kamu dari mana? Aku khawatir." Alessia mendekat, ingin memeluknya.

Adrian mengangkat tangan, menahannya. "Aku capek banget, sayang. Meeting mendadak. Maaf ya, aku lupa kasih kabar."

"Dania sudah bilang tadi." Alessia menatap matanya. "Tapi kamu nggak balas teleponku."

"Oh, Dania? Ya, dia memang ketemu aku tadi siang. Ponselku mati, sayang. Nggak sempat nge-charge." Adrian menggaruk tengkuknya, menghindari tatapan Alessia.

Alessia mencium bau parfum. Bukan parfum Adrian. Bukan parfumnya sendiri. Aroma itu… sangat familiar. Ia sering menciumnya. Di butik, di pusat perbelanjaan. Itu aroma parfum limited edition yang baru ia beli untuk Dania sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu.

"Parfum siapa ini, Adrian?" tanya Alessia, suaranya pelan, namun tajam.

Adrian terkesiap. "Parfum? Parfumku sendiri, kan? Mungkin aku pakai kebanyakan."

"Bukan. Ini bukan parfummu." Alessia melangkah mundur, matanya menyipit.

Adrian tertawa hambar. "Kamu ini kenapa sih? Cuma karena aku telat pulang, jadi curigaan gini? Aku capek, Alessia. Aku mau tidur."

Adrian berjalan melewati Alessia, menuju kamar mandi. Alessia menatap punggungnya, hatinya berdenyut nyeri. Ia tahu Adrian berbohong.

Setelah Adrian masuk kamar mandi, Alessia mendekati kemeja yang dilepas Adrian dan tergeletak di sofa. Ia mengambilnya, mengangkatnya ke hidung. Aroma parfum itu semakin kuat.

Tangannya menyentuh kerah kemeja. Sebuah noda kecil, merah muda. Noda lipstik. Jantung Alessia berdegup kencang. Ia tahu persis warna itu. Rose Petal Matte, edisi terbatas. Lipstik yang ia hadiahkan pada Dania.

Dunia Alessia runtuh seketika. Bukan hanya Adrian yang berkhianat, tetapi juga adiknya sendiri.

Alessia berdiri di depan cermin besar di kamar tidur mereka, memegang erat kemeja Adrian, tatapannya kosong. Di luar kamar, di balkon yang terhubung dengan taman belakang, Adrian sedang berbicara di telepon. Suaranya berbisik, namun tawa kecil Adrian jelas terdengar di keheningan malam. Tawa yang dulu Alessia kira hanya miliknya.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
6 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status