Share

Bab 25

Penulis: Toyusa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 12:06:45

Cahaya matahari pagi masuk dari celah jendela kamar pelayan yang sempit. Mira berdiri di depan cermin kecilnya yang retak dan berdebu, menatap pantulan wajahnya sendiri. Ruam merah di pipinya akibat tamparan keras Ningsih kemarin sengaja tidak ia kompres atau olesi salep semalaman agar warnanya semakin gelap, membengkak, dan terlihat menyedihkan. Semakin ia nampak hancur dan tertindas hari ini, semakin dalam pula Brata merasa bersalah.

​Di ruang makan utama, Haryo duduk di kursi kepala keluarga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 29

    "Jangan, Ratna!" cegah Brata cepat, reflek mencengkram pergelangan tangan istrinya agar tidak menyentuh knop pintu. "Kenapa kamu melarangku, Mas?!" Ratna mendelik tajam, matanya berkaca-kaca penuh amarah dan kecurigaan yang membara. "Kalau kamu tidak menyembunyikan apa-apa di dalam, buka pintunya sekarang!" "Aku bilang tidak perlu!" bentak Brata, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai suami untuk menekan Ratna. "Ini sudah malam. Biarkan dia jera di dalam. Jangan membuat keributan yang bisa didengar oleh para tetangga atau penjaga!" "Aku tidak peduli!" jerit Ratna, meronta hebat melepaskan tangannya dari cengkeraman Brata. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ratna memutar paksa roda kursi penopangnya, lalu mengulurkan tangan untuk menekan gagang pintu. Klek. ​Gagang pintu itu berputar ke bawah dengan mudah tanpa ada hambatan. Pintu kamar sempit itu terbuka lebar begitu saja. ​Wajah Brata memucat

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 28

    "Mas Brata!" Suara parau Ratna menggema, bergetar oleh amarah dan keputusasaan yang saling bertubrukan. "Mas! Keluar kamu! Bi Sumi! Di mana suamiku?!"​Brata menahan napas. Rahangnya mengeras hingga otot pelipisnya berkedut hebat. Realita yang menamparnya terasa begitu menyakitkan. Di satu sisi, ia sangat mendambakan pelepasan dari gadis yang kini terkurung di lengannya. Di sisi lain, harga diri dan reputasinya sedang dipertaruhkan jika istrinya yang setengah gila itu menemukannya terkunci berdua di kamar pelayan.​Mira menangkap keraguan di mata majikannya. Dengan insting manipulasi yang tajam, ia memutuskan untuk mendorong pria itu ke tepi jurang rasa bersalah.​Gadis itu memundurkan tubuhnya, melepaskan diri dari kungkungan lengan Brata. Ia merapatkan seragam basahnya ke dada, lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat, seolah seluruh tubuhnya dikuasai ketakutan yang begitu dalam.​"N-Ndoro..." bisik Mira dengan

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 27

    "Berhenti, Ratna! Kakimu bahkan tidak melepuh karena airnya sudah agak dingin!" bentak Brata, suaranya menggelegar menggetarkan kaca jendela kamar. ​"Kamu masih membela perempuan jalang ini?! Jelas-jelas dia sengaja menyiramku, Mas!" Ratna meronta-ronta di atas ranjang, air matanya tumpah ruah. ​"Dia sudah meminta maaf!" raung Brata, wajahnya merah padam menahan murka. "Terus saja bersikap seperti ini, Ratna! Terus saja bertingkah seperti monster! Biar semua orang di rumah ini tahu, bahwa kegilaanmu sama sekali bukan karena kehilangan bayi kita, tapi karena hatimu memang sudah busuk!" ​Kata-kata pedas itu menghantam dada Ratna bagai palu godam. Mulutnya terbuka lebar, napasnya tersengal-sengal diiringi tangis histeris yang seketika pecah. ​Tanpa memperdulikan teriakan istrinya yang mulai melemparkan bantal dan pajangan meja ke arah mereka, Brata menarik lengan Mira dengan paksa. Pria itu menyeret pelayannya keluar dari kamar utama, meninggalkan Ratna yang menangis meraung-raung

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 26

    Sejak keputusan itu dijatuhkan, hari-hari Mira di rumah utama tak lagi sama. Di sanalah penderitaannya benar-benar dimulai. Namun, justru inilah panggung utama yang paling ia nantikan. Sesuai perintah Ratna, Mira dipindahkan ke kamar sempit yang lembab tepat di sebelah kamar utama, hanya berjarak beberapa meter saja agar istri majikannya itu bisa memanggilnya kapanpun ia mau, siang maupun malam.Siang hari menjelang sore, setelah Haryo dan Ningsih memutuskan pulang ke kediaman mereka dengan perasaan puas karena merasa telah menghukum Mira, Ratna langsung memanfaatkan kekuasaan mutlaknya untuk menguji mental pelayan pribadinya itu."Mira! Ambilkan air hangat untuk kompres kakiku!" jerit Ratna melengking dari atas ranjang besar berukir emas.Mira bergegas masuk dengan membawa baskom aluminium berisi air hangat dan handuk bersih. Ratna sedang bersandar di kepala ranjang, menatap pelayan pribadinya itu dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian.

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 25

    Cahaya matahari pagi masuk dari celah jendela kamar pelayan yang sempit. Mira berdiri di depan cermin kecilnya yang retak dan berdebu, menatap pantulan wajahnya sendiri. Ruam merah di pipinya akibat tamparan keras Ningsih kemarin sengaja tidak ia kompres atau olesi salep semalaman agar warnanya semakin gelap, membengkak, dan terlihat menyedihkan. Semakin ia nampak hancur dan tertindas hari ini, semakin dalam pula Brata merasa bersalah.​Di ruang makan utama, Haryo duduk di kursi kepala keluarga dengan postur kaku dan angkuh, sementara Ningsih dengan sabar menyuapi Ratna yang duduk di kursi roda dengan raut wajah penuh kemenangan yang sulit disembunyikan. Hari ini adalah hari penentuan bagi mereka. Ratna sangat yakin bahwa suaminya, Brata Yuda, tidak akan bisa berkutik sedikitpun di bawah tekanan mutlak sang ayah mertua.​Di lantai atas, Brata menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah yang terasa begitu berat. Semalaman penuh ia memeras otaknya, mencari celah, argumen, dan stra

  • Aduh Ndoro, Ini Sudah Berlebihan   Bab 24

    Gairah Brata sudah di ubun-ubun. Namun, tepat ketika bibir pria itu turun menyapu belahan dadanya, tangan Mira mendadak menahan dada bidang majikannya dengan kuat.​"T-tidak, Ndoro... Tolong, jangan..." bisik Mira, suaranya bergetar hebat diiringi isakan tangis yang langsung pecah. Gadis itu memalingkan wajahnya, mencengkram kerah bajunya yang sudah terbuka.​Gerakan Brata terhenti seketika. "Kenapa, Mira? Bukankah kamu bilang kamu akan menuruti kemauanku?" geramnya dengan napas terputus-putus, menahan ngilu karena hasrat yang menggantung.​"T-tapi tidak malam ini, Ndoro. Saya mohon..." Mira menatap Brata dengan sepasang mata sayu yang digenangi air mata ketakutan. "Bapak Haryo dan Ibu Ningsih menginap di rumah ini. Kamar tamu mereka ada di lantai bawah, tidak jauh dari area belakang..."​Brata memejamkan mata, rahangnya mengeras.​"Kalau mereka kebangun karena kehausan dan mendengar suara kita... atau kalau Bapak Haryo mencari Ndoro di kamar tamu dan Ndoro tidak ada..." Mira melanjut

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status