FAZER LOGINTangan besar pria itu terulur, menarik selimut yang menutupi separuh wajah Mira dengan sangat hati-hati. Ibu jarinya kemudian bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi pias gadis itu."S-saya takut, Ndoro..." Tubuh Mira bergetar pelan saat ia mendongak. Sepasang netranya yang basah menatap pria itu dengan kerentanan paripurna. "Kehadiran saya di kamar ini hanya merusak rumah tangga Ndoro... Tolong, biarkan saya kembali ke kamar pelayan malam ini. Saya tidak pantas berada di sini, dan Nyonya Ratna pasti sangat hancur hatinya melihat Ndoro membelanya tadi."Brata memejamkan mata, rahangnya mengeras mendengar permohonan yang begitu tulus dari bibir pelayannya. Ia ingin menahan Mira tetap di sisinya. Namun melihat gadis itu masih gemetar, ia sadar membiarkannya kembali ke kamar pelayan jauh lebih aman jika Ratna kembali mengamuk."Baiklah." Brata menghela napas panjang, mengalah dengan berat hati. "Aku akan membawamu kembali ke kamarmu."Tanpa membuang waktu, Brata menyusupkan leng
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan tanganmu di perut pelayan itu, Mas?!" jerit Ratna dengan suara parau yang bergetar hebat memecah keheningan.Jari Brata yang seketika membeku di atas kulit perut Mira langsung tersentak mundur. Dengan gerakan secepat kilat yang didorong oleh kepanikan, pria itu menyambar selimut sutra abu-abu di sisi ranjang, lalu menariknya kasar untuk menutupi tubuh Mira yang kancing seragam katunnya sudah terbuka sebagian.Di ambang pintu, Ratna memutar roda kursinya dengan kasar, menerobos masuk dengan napas memburu. Matanya merah, menatap bergantian ke arah suaminya yang berdiri menegang dan sosok pelayan malang yang meringkuk di atas seprai sutra mewahnya.Mira mencengkeram tepi selimut hingga ke dadanya. Tubuhnya sengaja dibuat bergetar hebat, sementara air mata buatan mulai membasahi pipinya."A-ampun, Nyonya... Ndoro Brata hanya menolong saya..." rintih Mira dengan suara terputus-putus, memainkan peran sebagai korba
"Aw..." rintih Mira pelan.Gadis itu mendesis tertahan saat sebuah gerakan kecil membuat luka di punggungnya tertarik paksa, sementara lututnya yang baru saja dijahit berdenyut ngilu. Wajahnya seketika pias, pelipisnya dibasahi keringat dingin saat tubuh mungilnya limbung ke depan.Sebelum tubuh itu benar-benar jatuh membentur lantai, tangan kokoh Brata bergerak secepat kilat. Pria itu merengkuh pinggang ramping Mira dan menariknya merapat ke dada bidangnya. Sentuhan itu mendadak mengubah atmosfer di dalam kamar yang luas tersebut.Tubuh Mira langsung menempel sempurna pada dada Brata. Kain seragam pelayan abu-abunya yang tipis dan bernoda darah di bagian lutut bergesekan langsung dengan celana bahan yang dikenakan sang majikan.Bagi Brata, jarak yang begitu dekat ini bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi. Napasnya seketika tertahan. Tatapan pria itu tanpa sadar jatuh menelusuri lekuk tubuh Mira dari jarak nyaris nol.Saat Mir
"Luka di lututnya cukup dalam karena serpihan kaca, tapi sudah saya bersihkan dan jahit sedikit agar tidak infeksi," jelas Dokter Hans sambil membereskan peralatannya.Pria paruh baya itu menatap prihatin ke arah ranjang berukuran king size berselimut sutra abu-abu gelap, tempat Mira terbaring lemah dengan wajah yang pucat."Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah memar panjang di punggungnya, Pak Brata," lanjut sang dokter, menoleh pada Brata yang berdiri kaku dengan rahang mengeras di sisi ranjang. "Ditambah tekanan darahnya yang sangat rendah. Anak ini mengalami kelelahan fisik dan syok mental yang berat. Dia butuh istirahat total, nutrisi yang baik, dan lingkungan yang tenang."Mendengar kata 'syok mental' dan 'memar di punggung', napas Brata mendesis tajam. Bayangan Ratna yang mengayunkan tongkat penyangga dengan beringas kembali berputar di kepalanya."Terima kasih, Dok. Bi Sumi akan mengantar Dokter ke depan," ucap Brata dingin.Sepeninggal dokter dan Bi Sumi, keheningan y
"Luka di lututnya cukup dalam karena serpihan kaca, tapi sudah saya bersihkan dan jahit sedikit agar tidak infeksi," jelas Dokter Hans sambil membereskan peralatannya.Pria paruh baya itu menatap prihatin ke arah ranjang berukuran king size berselimut sutra abu-abu gelap, tempat Mira terbaring lemah dengan wajah yang pucat."Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah memar panjang di punggungnya, Pak Brata," lanjut sang dokter, menoleh pada Brata yang berdiri kaku dengan rahang mengeras di sisi ranjang. "Ditambah tekanan darahnya yang sangat rendah. Anak ini mengalami kelelahan fisik dan syok mental yang berat. Dia butuh istirahat total, nutrisi yang baik, dan lingkungan yang tenang."Mendengar kata 'syok mental' dan 'memar di punggung', napas Brata mendesis tajam. Bayangan Ratna yang mengayunkan tongkat penyangga dengan beringas kembali berputar di kepalanya."Terima kasih, Dok. Bi Sumi akan mengantar Dokter ke depan," ucap Brata dingin.
Suara bariton yang menggelegar itu membuat ruangan seketika membeku. Brata berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, rahangnya mengeras hingga otot pelipisnya menonjol. Matanya menyapu pemandangan di depannya, istrinya yang memegang tongkat dengan beringas, dan Mira yang merangkak menangis di tengah pecahan kaca.Ingatan Brata langsung kembali pada ucapan Mira beberapa menit lalu di ruang kerjanya: ‘'Setiap kali tangan Ndoro menyentuh saya... bayangan Nyonya Ratna yang menyiksa saya dan mengancam membunuh saya langsung muncul.”Darah Brata mendidih. Keputusasaannya untuk menyentuh Mira yang gagal, kini meledak menjadi kemurkaan yang tak terbendung terhadap istrinya.Ia melangkah lebar, merebut tongkat itu dari tangan Ratna dengan kasar dan melemparnya ke sudut ruangan."Mas! Apa-apaan kamu?!" Ratna berteriak kaget."Kamu yang apa-apaan!" raung Brata, membungkuk dan menarik lengan Mira dengan cepat, menjauhkan gadis itu dari







