Share

Bab 111

Author: NACL
last update Last Updated: 2026-01-10 12:02:23

“Iya,” jawab Diana. Ia juga melihat Dhava dari jendela kamarnya. “Kamu pergi aja. Temani Renita!”

“Kamu turun atau aku naik?!” lantang Dhava yang juga mendongak, menatap ke arah jendela. Setelah semalaman gaga menemukan Diana di ibu kota. Pagi harinya, ia memutuskan ke rumah Diana.

“Nggak turun dan nggak naik!” tegas Diana lagi. Pupilnya bergetar melihat Dhava siap mendobrak pagar rumahnya. “Jangan nekat, Mas. Aku bisa benci kamu!”

Rasa sesak di dada, membuat Diana akhirnya menghubungi pihak keamanan komplek dan meminta mereka menegur Dhava secara hati-hati.

Sungguh Dhava tidak menyangka kekasihnya itu serius mengusirnya, sampai melibatkan dua orang satpam yang menegurnya sopan.

Masih dari balik jendela, Diana sesenggukan di tengah dengkuran Rayan. “Maaf, Mas. Maaf udah masuk ke kehidupan kamu lagi.”

Ia lantas membalik badan dan menunduk, meratapi kakinya yang terluka.

**

Sedangkan Dhava, amarah dan frustrasi kini mendidih menjadi tekad berbahaya. Ia melihat jelas air mata dan kerapuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
D___Zura
Thor jangan aneh-aneh deh. Perasaan masalah Dhava dan Diana kagak kelar-kelar. Jangan smpai rencananya Renita berhasil Thor pliiissss
goodnovel comment avatar
D___Zura
sama kak malas banget kalo gini terus alurnya, maaf ya thor
goodnovel comment avatar
Sartini Sartini
jd males yg licik makin jadi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 113

    “Hhhmmm,” lenguh Dhava, merasakan setiap embusan napasnya makin panas dan benaknya dipenuhi bayang-bayang Diana. Bibirnya tersenyum tipis, sambil menutupi mata dengan tangannya dari silau cahaya matahari. Merasakan pergerakan di sampingnya, senyum itu pun memudar.Meskipun kelopaknya masih tertutup rapat, bola matanya bergerak-gerak. Aroma parfum yang menyengat—yang seharusnya ia sukai, seharusnya dirindukan dan menjadi pusat hidupnya, justru … petaka yang harus ia tanggung, seumur hidupnya.“Apa kamu menikmati senggama semalam, suamiku, Madhava?” Decak kecil Renita terdengar. Kasur bergerak dan bisa Dhava dengar langkah hati-hati wanita itu.Dhava menarik napas dalam, memaksa dirinya bangun walau kepalanya berdenyut menyakitkan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang asing. Ia buru-buru bangkit.Seketika, ia merasa tubuhnya telanjang di bawah selimut. Pikirannya kacau, diserang adegan semalam yang samar, rasa mual, dan pukulan di perut.Tidak ada keraguan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 112

    “Silakan, Tuan.” Bartender itu menyodorkan gelas kelima ke hadapan Dhava.Dhava mengernyit, lalu pandangannya berpindah pada wajah bartender yang tidak asing, agaknya mirip dengan seseorang. Ia terkikik kecil, sepertinya minuman empat gelas Scotch ini sudah membuatnya hilang akal. Bisa-bisanya ia memiripkan orang di hadapannya ini dengan dua orang paling berharga dalam hidupnya, dunianya, setiap embusan napasnnya ….“Gila!” Dhava mendorong pelan gelas itu. Ia menggeleng lalu mengangkat tangan.Bartender itu terus saja membuat Dhava minum sebanyak mungkin. Namun Dhava menggeleng, dan berjalan sempoyongan menuju keluar.“Tunggu, Tuan. Biar saya antar,” teriak pria itu yang suaranya tenggelam dentuman musik.“Mau ke mana lu?” tanya pria bertato ular, mencegahnya.“Ini Bang.” Pria itu menunjukkan layar ponsel yang memuat kolom chat dari seseorang.“Yaudah, bawa dia! Jangan kelayapan lu, selesai, langsung balik sini!” ancam pria yang dikenal Bang Kobra itu.Dhava yang tadi sempat melangkah

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 111

    “Iya,” jawab Diana. Ia juga melihat Dhava dari jendela kamarnya. “Kamu pergi aja. Temani Renita!”“Kamu turun atau aku naik?!” lantang Dhava yang juga mendongak, menatap ke arah jendela. Setelah semalaman gaga menemukan Diana di ibu kota. Pagi harinya, ia memutuskan ke rumah Diana.“Nggak turun dan nggak naik!” tegas Diana lagi. Pupilnya bergetar melihat Dhava siap mendobrak pagar rumahnya. “Jangan nekat, Mas. Aku bisa benci kamu!”Rasa sesak di dada, membuat Diana akhirnya menghubungi pihak keamanan komplek dan meminta mereka menegur Dhava secara hati-hati.Sungguh Dhava tidak menyangka kekasihnya itu serius mengusirnya, sampai melibatkan dua orang satpam yang menegurnya sopan.Masih dari balik jendela, Diana sesenggukan di tengah dengkuran Rayan. “Maaf, Mas. Maaf udah masuk ke kehidupan kamu lagi.”Ia lantas membalik badan dan menunduk, meratapi kakinya yang terluka.**Sedangkan Dhava, amarah dan frustrasi kini mendidih menjadi tekad berbahaya. Ia melihat jelas air mata dan kerapuh

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 110

    “Diana!!! Nak, kamu pingsan?!” teriakan itu melengking di tengah kesunyian dan hujan yang masih mengguyur menjelang subuh. Rina membelalak, kala keluar kamar dan menyaksikan seorang wanita tergolek tidak berdaya di ujung tangga. Tubuhnya yang lembap itu menjadi tanda apa yang terjadi.Rina tergopoh-gopoh menghampiri, mengamati apakah menantunya itu masih bernapas atau tidak. Jika tidak, maka kemalangan akan membersamainya seumur hidup.“Semoga anak ini nggak mati. Kapan dia pulang, sih? Sama si Rayan?” Rina berjongkok, dan menyentuh leher Diana yang bahkan berkeringat di suhu dingin seperti ini. “Eh, demam. Gawat, kalau Jeng Dewi dan Pak Denver tahu anaknya sakit. Bisa habis aku.”Berharap putranya ada di kamar, ia berteriak, “Rayan!!! Istrimu pingsan, cepat ke sini!!!”Tidak ada sahutan. Rina juga tidak berupaya memindahkan Diana dari lantai. Ia gegas menekan nomor putranya pada pesawat telepon.Tersambung.Hanya saja Rina bergidik saat mendengar suara desahan dari dalam telepon. “Ra

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 109

    Seluruh indra di tubuh Dhava tidak diam saja. Tangan kanannya mengendalikan setir, tangan kirinya sibuk dengan ponsel menghubungi Diana, meskipun sudah berulang kali mencoba tetap sama. Tidak diterima. Sepasang matanya juga fokus ke sekitar jalanan yang dilaluinya.Bahkan langit malam pun bergemuruh, tidak ada bintang atau cahaya bulan yang tampak.Sudah satu jam ia mencari berkeliling dua kali di jalan yang sama, tetap saja keberadaan Diana belum menemukan titik terang.“Apa dia pulang?” gumam Dhava. “Dia kenapa? Apa ini ulah Rayan?!”Tidak diam saja, Dhava mengirim pesan pada Diana. [Kamu di mana, Baby? Sudah pulang?]Tidak hanya sekadar duduk dalam mobil menuggu balasan, ia juga memeriksa sekitar, berharap Diana ada di sini. Kelopak matanya melebar tatkala melihat siluet wanita berpakaian kerja formal, berjalan cepat ke minimarket.Buru-buru ia menepikan mobilnya.Dhava memasuki minimarket itu, ia mencari-cari kekasihnya ke setiap sela gondola ganda. Wanita berpakaian formal tadi

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 108

    Beberapa saat sebelumnya, di kamar rawat Renita.Dhava yang sudah selesai mengeringkan kemejanya walau masih lembap, memasang wajah datar. Ia memeriksa ponselnya, tidak ada pesan masuk dari Diana.‘Aman,’ pikirnya, sambil membayangkan Diana pasti sibuk menikmati tempe goreng di mobil. Mulutnya celemotan dan kepedasan makan cabai rawit.Hanya saja, ia menunggu anak-anaknya kembali. Tak lama kemudian, mereka datang sambil bersorak.Davka berlari mendekati ranjang Renita."Mama, ini enak! Tadi aku cobain, lho," seru Davka sambil menyodorkan salad yang dibelikan Maharani.Kebahagiaan dua bocah kecil itu mengalihkan atensi Dhava dari kemejanya yang basah. Kapan lagi ia bisa melihat putranya tersenyum merekah, dan pandangannya bergerak pada sang istri.Renita menerima kotak mika dari tangan mungil Davka, dan dengan enggan mengelus pipi si sulung. Wanita itu pura-pura makan sedikit demi sedikit, sambil sembunyikan seringai kemenangan di balik gigitan aneka sayuran hijau. Ekor matanya pun mel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status