Share

Bab 110

Penulis: NACL
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 10:09:03

“Diana!!! Nak, kamu pingsan?!” teriakan itu melengking di tengah kesunyian dan hujan yang masih mengguyur menjelang subuh. Rina membelalak, kala keluar kamar dan menyaksikan seorang wanita tergolek tidak berdaya di ujung tangga. Tubuhnya yang lembap itu menjadi tanda apa yang terjadi.

Rina tergopoh-gopoh menghampiri, mengamati apakah menantunya itu masih bernapas atau tidak. Jika tidak, maka kemalangan akan membersamainya seumur hidup.

“Semoga anak ini nggak mati. Kapan dia pulang, sih? Sama si Rayan?” Rina berjongkok, dan menyentuh leher Diana yang bahkan berkeringat di suhu dingin seperti ini. “Eh, demam. Gawat, kalau Jeng Dewi dan Pak Denver tahu anaknya sakit. Bisa habis aku.”

Berharap putranya ada di kamar, ia berteriak, “Rayan!!! Istrimu pingsan, cepat ke sini!!!”

Tidak ada sahutan. Rina juga tidak berupaya memindahkan Diana dari lantai. Ia gegas menekan nomor putranya pada pesawat telepon.

Tersambung.

Hanya saja Rina bergidik saat mendengar suara desahan dari dalam telepon. “Ra
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
NACL
siap kak udah dinotes .^^
goodnovel comment avatar
NACL
iya ka harusnya minta langsung penjelasan ya kak
goodnovel comment avatar
NACL
iya kak.siap lanjut yaaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 115

    “Mas Dhava?” panggil Diana. Suaranya tetap tenang, tetapi sorot mata karamelnya menumpuk luka yang dalam.Dhava terpaku melihat kekasihnya yang kabur malam itu. Perlahan ia berdiri dan meraih tangan Diana. Namun, wanita itu menepis, dan menyembunyikan tangan di balik punggungnya.“Mas, mau jenguk aku? Aku udah sehat, aku nggak kenapa-napa, aku Cuma … kembung,” celoteh Diana, dan membuang wajah di akhir kalimatnya.Perasaan sesak ini datang lagi. Rasa yang sama seperti lima tahun lalu, saat tahu pria itu memilih temannya sendiri, daripada ia yang sudah sejak kecil menyukainya.“Diana?” panggil Dhava. Suaranya pelan dan tatapannya tidak lepas dari wajah lembut dan cantik itu. “Baby,” bisiknya.Tangan Dhava masih terulur, menggantung begitu saja di udara. Alih-alih menerima uluran tangan pria itu, Diana lebih memilih duduk. Tetap sama, membuang pandangannya jauh-jauh.“Aku akan menjelaskan foto itu—”Diana menyela cepat, “Kebetulan. Aku mau tanya itu. Aku tahu kalian suami istri, tapi ng

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 114

    “Ahh … itu … urusan aku, Sayang.” Renita menyeringai, menerima setiap hujaman dalam dari kemaskulinan pria itu.“Aku mau kamu pastikan ini terjadi, Dion. Aku butuh tiga minggu lagi di sini. Lakukan tugasmu sampai aku hamil!!!”Dion mengangguk di sela keringat yang menetes dan gerakan liar pinggulnya. Entah keberuntungan atau musibah bisa menikmati tubuh Renita, perempuan cantik, seorang influencer yang bahkan memberinya uang setiap bulan, sejak bertahun-tahun lalu. Hanya karena berhasil menjadikannya seorang ibu, dari anak yang tidak akan pernah bisa memanggilnya ayah.Pergumulan panas itu sampai tiga jam lamanya. Renita seakan tidak pernah puas untuk meminta lagi dan lagi. Bukan karena cinta, sebab perasaan itu hanya akan membakarnya hidup-hidup, tetapi kebutuhannya sebagai seorang wanita.“Dua hari lagi kamu langsung ke sini, nggak usah nunggu telepon dari aku, oke?” Renita cepat-cepat ke kamar mandi, membasuh keringat dari persetubuhan mereka.**Sementara itu, Dhava menyelesaikan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 113

    “Hhhmmm,” lenguh Dhava, merasakan setiap embusan napasnya makin panas dan benaknya dipenuhi bayang-bayang Diana. Bibirnya tersenyum tipis, sambil menutupi mata dengan tangannya dari silau cahaya matahari. Merasakan pergerakan di sampingnya, senyum itu pun memudar.Meskipun kelopaknya masih tertutup rapat, bola matanya bergerak-gerak. Aroma parfum yang menyengat—yang seharusnya ia sukai, seharusnya dirindukan dan menjadi pusat hidupnya, justru … petaka yang harus ia tanggung, seumur hidupnya.“Apa kamu menikmati senggama semalam, suamiku, Madhava?” Decak kecil Renita terdengar. Kasur bergerak dan bisa Dhava dengar langkah hati-hati wanita itu.Dhava menarik napas dalam, memaksa dirinya bangun walau kepalanya berdenyut menyakitkan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang asing. Ia buru-buru bangkit.Seketika, ia merasa tubuhnya telanjang di bawah selimut. Pikirannya kacau, diserang adegan semalam yang samar, rasa mual, dan pukulan di perut.Tidak ada keraguan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 112

    “Silakan, Tuan.” Bartender itu menyodorkan gelas kelima ke hadapan Dhava.Dhava mengernyit, lalu pandangannya berpindah pada wajah bartender yang tidak asing, agaknya mirip dengan seseorang. Ia terkikik kecil, sepertinya minuman empat gelas Scotch ini sudah membuatnya hilang akal. Bisa-bisanya ia memiripkan orang di hadapannya ini dengan dua orang paling berharga dalam hidupnya, dunianya, setiap embusan napasnnya ….“Gila!” Dhava mendorong pelan gelas itu. Ia menggeleng lalu mengangkat tangan.Bartender itu terus saja membuat Dhava minum sebanyak mungkin. Namun Dhava menggeleng, dan berjalan sempoyongan menuju keluar.“Tunggu, Tuan. Biar saya antar,” teriak pria itu yang suaranya tenggelam dentuman musik.“Mau ke mana lu?” tanya pria bertato ular, mencegahnya.“Ini Bang.” Pria itu menunjukkan layar ponsel yang memuat kolom chat dari seseorang.“Yaudah, bawa dia! Jangan kelayapan lu, selesai, langsung balik sini!” ancam pria yang dikenal Bang Kobra itu.Dhava yang tadi sempat melangkah

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 111

    “Iya,” jawab Diana. Ia juga melihat Dhava dari jendela kamarnya. “Kamu pergi aja. Temani Renita!”“Kamu turun atau aku naik?!” lantang Dhava yang juga mendongak, menatap ke arah jendela. Setelah semalaman gaga menemukan Diana di ibu kota. Pagi harinya, ia memutuskan ke rumah Diana.“Nggak turun dan nggak naik!” tegas Diana lagi. Pupilnya bergetar melihat Dhava siap mendobrak pagar rumahnya. “Jangan nekat, Mas. Aku bisa benci kamu!”Rasa sesak di dada, membuat Diana akhirnya menghubungi pihak keamanan komplek dan meminta mereka menegur Dhava secara hati-hati.Sungguh Dhava tidak menyangka kekasihnya itu serius mengusirnya, sampai melibatkan dua orang satpam yang menegurnya sopan.Masih dari balik jendela, Diana sesenggukan di tengah dengkuran Rayan. “Maaf, Mas. Maaf udah masuk ke kehidupan kamu lagi.”Ia lantas membalik badan dan menunduk, meratapi kakinya yang terluka.**Sedangkan Dhava, amarah dan frustrasi kini mendidih menjadi tekad berbahaya. Ia melihat jelas air mata dan kerapuh

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 110

    “Diana!!! Nak, kamu pingsan?!” teriakan itu melengking di tengah kesunyian dan hujan yang masih mengguyur menjelang subuh. Rina membelalak, kala keluar kamar dan menyaksikan seorang wanita tergolek tidak berdaya di ujung tangga. Tubuhnya yang lembap itu menjadi tanda apa yang terjadi.Rina tergopoh-gopoh menghampiri, mengamati apakah menantunya itu masih bernapas atau tidak. Jika tidak, maka kemalangan akan membersamainya seumur hidup.“Semoga anak ini nggak mati. Kapan dia pulang, sih? Sama si Rayan?” Rina berjongkok, dan menyentuh leher Diana yang bahkan berkeringat di suhu dingin seperti ini. “Eh, demam. Gawat, kalau Jeng Dewi dan Pak Denver tahu anaknya sakit. Bisa habis aku.”Berharap putranya ada di kamar, ia berteriak, “Rayan!!! Istrimu pingsan, cepat ke sini!!!”Tidak ada sahutan. Rina juga tidak berupaya memindahkan Diana dari lantai. Ia gegas menekan nomor putranya pada pesawat telepon.Tersambung.Hanya saja Rina bergidik saat mendengar suara desahan dari dalam telepon. “Ra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status