Share

Bab 122

Penulis: NACL
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 10:03:01

‘Mas Dhava gimana ini?’ batin Diana, kedua tangannya meremas kuat ujung rambut seolah berpegangan. Ekor matanya juga meliri terus ke samping. Bisa ia lihat bagaimana raut wajah Rayan yang memancarkan kebahagiaan, berbanding terbalik dengannya.

“Kenapa kamu lihatin aku terus, Sayang? Terpesona?” Rayan bertanya tanpa menoleh, fokus ke jalan.

Enggan menjawab, Diana hanya mengepalkan tangan dan merapatkan giginya. Namun pria itu seolah butuh validasi dan terus mengoceh.

“Akhirnya ya, Di. Setelah empat tahun, ada jalan juga. Kalau kamu sampai hamil nanti, Mas nggak akan larang kamu ke butik lagi. Mas janji,” ucap Rayan diiringi kekehan ringan.

Hanya saja di balik tawa menjijikkan itu, Rayan sebenarnya sedang berhitung. Ia tidak sudi gajinya habis untuk membiayai kebutuhan anak dan istri.

“Nanti kita patungan untuk biaya si kecil, atau dari kamu semua juga boleh. Uangmu ‘kan jauh lebih banyak dari aku,” tambahnya tanpa rasa malu.

Diana tergelak kaku, ungkapan Rayan itu benar-benar membuat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 129

    “Dhava? Kamu masih di sini, sepagi ini?” Suara lembut itu kini ada sampingnya.“Iya Aunty. Semalam Dhava mampir.” Dhava tersenyum melihat wajah Dewi yang masih baru bangun tidur. Sepertinya wanita itu mencari suaminya yang tidak ada di kamar mereka. Entah Dewi sudah mengetauhui peristiwa tentan Diana atau belum, tetapi wanita itu terlalu tenang. “Kamu ngapain di sini? Ini gelap, kenapa lampunya nggak dinyalakan saja?” Dewi hendak melangkah menuju saklar, tetapi Dhava mencegah wanita cantik itu.“Tidak perlu Aunty, Dhava mau ambil minum,” jawab Dhava apa adanya ini, berharap Dewi segera pergi entah itu menghampiri suaminya atau kembali ke kamar.“Kebetulan. Ayo, bareng. Aunty juga haus.” Wanita itu terkekeh, dan menggandeng tangan Dhava melewati Lorong gelap. “Aunty takut jatuh, Dhava. Semoga Renita nggak cemburu kalau tahu.” Tawanya kecil.Dhava menghela napas panjang. Sungguh sial, ia tidak mendengar apa yang bidarakan Denver dengan suara pelan itu. Namun ekspresi Draven yang meleb

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 128

    Denver tidak langsung merespons keinginan putri bungsunya itu. Pria yang masih gagah di usia senjanya ini bergeming bagai patung. Matanya menatap tajam ke depan, pada Diana tentunya. Tangannya mengepal dan memegangi dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin putri yang dahulu ia timang memiliki pasangan biadab seperti itu, ini salahnya.Sedangkan Diana yang tidak mendapat jawaban apa pun dari Denver membuat pikirannya bertanya-tanya, apakah sang ayah tidak akan mendukungnya lagi kali ini?“Pa?” panggil Diana dengan seluruh kerendahan hati, dan mata karamel indah itu berkaca-kaca, tangisnya nyaris pecah.Tidak diam saja, Dhava yang melihatnya pun merangkul posesif bahu Diana yang membungkuk lemah itu.“Diana? Sebaiknya kamu istirahat. Terpenting informasi ini sudah kamu sampaikan, hm?” bisik Dhava pelan sekali, jemarinya juga mengusap bahu Diana.Diana menatap Dhava sejenak sebelum mengalihkan lagi pandangannya pada Denver yang mengembuskan napas kasar.“Dhava benar, Diana. Kamu tidu

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 127

    "Jangan, Di, aku khilaf." Rayan yang tadinya beringas mendadak lunglai, lantaran menyadari kehancuran karier, rumah tangga, dan masa depan. Bayangan kemarahan sang mertua dan pencabutan posisinya di perusahaan berputar.Ia tidak lagi meronta. Tatapan Rayan yang tajam berubah memelas."Diana, Sayang ... maafin, Mas. Aku cuma capek, aku stres karena tekanan kerjaan dan memikirkan cara kamu supaya hamil. Tolong, ya, jangan bawa-bawa Papa, Di. Kita selesaiin di rumah, mau, ya?"Diana bergeming, menatap Rayan dengan sorot mata dipenuhi kekecewaan. Sungguh punah sudah rasa ibanya. Jika kemarin masih bertahan karena ia ingin membalas sang suami dengan mempermalukan di depan keluarganya, karena gagal membuatnya hamil.Sekarang, justru Rayan bertingkah. Konsumsi obat-obatan terlarang, tidak bisa ia tolerir lagi.Perlahan Diana melangkah mundur selangkah demi selangkah untuk menjauh dari jangkauan tangan suaminya.Jemari Diana yang masih bergetar bergerak mencari pegangan. Ia menarik kuat pungg

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 126

    Terlalu syok mendengar informasi dokter barusan, Diana tidak ingin melampiaskan emosinya pada Rayan yang masih tergolek tidak berdaya. Ia pun melangkah gontai menuju area parkir. Ia berjongkok sambil memeluk lututnya tepat di belakang Mercedes-Benz hitam milik Dhava.Diana tidak menangis, tetapi mata karamelnya menatap kosong ke depan—pada pantulan dirinya di bodi mobil. Ia lebih meratapi nasibnya sendiri, alih-alih memikirkan penyakit sang suami.Ia bahkan memukul-mukul kepalanya pelan. Entah daya tarik apa yang membuatnya menerima lamaran Rayan waktu itu. Ia merasa matanya benar-benar buta karena aksi penyelamatan pria itu, yang sekarang ia pikir mungkin saja bisa dibayar dengan uang.“Bodoh, Di!” lirih Diana. ‘Aku udah nggak kuat,’ batinnya.Ia menoleh ke samping kala mendengar langkah pelan. Sepatu pantofel dan celana bahan hitam pun menjadi pemandangan pertamanya.“Aku mau sendirian saja, Mas. Tolong,” pintanya dengan nada lirih.Dhava mengulurkan tangan. “Berdiri, Di.”Diana men

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 125

    “Rayan?” pekik Dhava, suaranya tertahan.Meskipun bukan bidangnya, ia tetap mendahului memeriksa denyut nadi dan pupil pasiennya itu, lantas membantu Rayan mengenakan kembali pakaiannya. Ia juga sempat melihat tabung terbuka—tanpa tutup, dalam gengaman Rayan yang lemah, dan … itu masih kosong.Dhava menoleh pada Pak Nanang, dan memerintah, “Telepon ambulan!!!”Sigap Pak Nanang menekan nomor darurat di telepon genggamnya. Tidak sampai sepuluh menit, ambulan pun datang. Klinik Dhava seketika menjadi tontotan banyak orang sekitar yang pensaran.Bahkan Diana yang sedari tadi menunggu cemas di ruang konsultasi, terpancing keluar. Ia membelalak tatkala melihat tubuh Rayan berada di atas brankar yang didorong cepat oleh tim medis. Ia membekap mulutnya sendiri sambil geleng-geleng, tidak paham apa yang terjadi di ruangan itu.‘Jangan-jangan … mereka berantem?’ pikir Diana, ‘Oh, ya, ampun!’Hanya saja yang lebih menakutkan, bagaimana jika masalah ini menyeret Dhava?Diana tidak mau kekasihnya i

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 124

    “Tapi aku sehat, Mas,” lirih Diana. Mata karamel yang indah itu menatap lekat pada dada bidang berkeringat.“Ya, kamu terlihat sehat, Baby.” Punggung jemari Dhava mengelus lembut pipi Diana. Mencium keningnya cukup lama dan mendekapnya erat. Ia tidak mau kekasihnya ini berpikiran buruk tentang perubahan di tubuhnya.“Aduh, berat,” keluh bibir mungil itu, suaranya berbisik.Sambil terkekeh pelan, Dhava bangkit dari atas tubuh setengah polos nan halus itu. Seakan tengah merekam, matanya mengamati apa saja yang berbeda dari kekasihnya itu.Tidak mau berlama-lama dalam keadaan yang berantakan, Dhava membantu Diana merapikan pakaiannya lagi. Namun, aroma vanila yang lembut membuat pria itu selalu ingin mencium wanitanya lagi dan lagi.Suasana hangat dan intim di ruang konsultasi berbanding terbalik dengan kondisi di ruang khusus, yang letaknya cukup jauh, berada di paling ujung. Sudah lebih dari lima belas menit, tabung benih pun belum terisi. Yang ada hanya wajah Rayan makin basah oleh ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status