Beranda / Romansa / Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus / Bab 57: Benar-benar Selingkuh Sama Kamu

Share

Bab 57: Benar-benar Selingkuh Sama Kamu

Penulis: NACL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 09:58:30
Sore ini Diana sudah rapi. Meskipun batinnya terluka, ia tidak ingin semesta tahu. Biarlah luka tertutup penampilannya. Ia mengenakan celana palazzo berwarna putih bersih yang dipadukan dengan blus baby blue berbahan lembut, sepatu hak rendah, dan menyematkan tas selempang di bahunya.

Tidak tertinggal make up tebal, sembab di matanya ini harus lenyap!

“Kalau Mas Rayan nggak mau, biar Papa dan Mama yang bantu aku!” gumamnya, bersikukuh.

Perlahan Diana turun ke lantai satu, ia bisa mendengar Ibu m
NACL

Gila Rayan! R-nya apa hayo? Seriusan ini tak ada komen? Oke dah, baiqs T_T

| 7
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
NACL
wah ada kakak ternyata, kirain nggak ada. nanti ibunya nyusahin Diana kak kalau Rayan metong
goodnovel comment avatar
Titin Dwie
rada² emang si Rayan,,,bikin metong ajaa thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   232 Seperti Punya 3 Putri

    Selesai sesi foto yang cukup melelahkan, Diana dan kedua putrinya langsung berkumpul di meja makan. Mereka tampak kompak menyantap paket sushi besar yang baru saja datang, sesuai pesanan Diana dan kesukaan Myesha juga Davira. Suasana yang tadinya tegang dan kaku karena mereka harus bergaya formal seketika mencair, meskipu bibit keributan baru mulai muncul dari mulut mungil Myesha.​"Ini rasanya enak banget, Ma.” Myesha sampai merem melek menikmati lembutnya sushi itu. “Umm, aku mau jual sushi, ah, gimana, Ma? Supaya dapat uang banyak!" celetuknya dengan semangat sambil mengambil salmon roll lagi.​Davira melirik kembarannya dengan tatapan skeptis. "Memangnya kamu bisa masak? Kita ‘’kan masih kecil. Bahaya tahuuu.”​Myesha menjawab dengan percaya diri, "Nggak perlu bisa masak, ada Bibi yang bikin. Aku tinggal jualin aja di depan rumah dan dapat uang. Gampang, tuh."​Davira tertawa mengejek. "Ide kamu aneh. Aku nggak yakin kamu bisa. Kamu ‘kan nggak suka ketemu orang banyak, penakut."

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 232 Papa Dhava Bukan Idola Lagi

    Pagi gerimis ini membuat Diana enggan beranjak dari ranjang yang hangat. Apalagi lengan kekar Dhava masih membelit erat pinggangnya, seolah tidak membiarkannya pergi barang sedetik pun. Diana menggeliat kecil, mengerjapkan mata, dan langsung disuguhi wajah tampan suaminya yang tertidur pulas di sampingnya. Ia membelai rahang tegas itu, lalu mengecup lembut bibir pria yang semalam suntuk telah menjamah setiap inci tubuhnya tanpa sisa.​Tujuh tahun pernikahan mereka berjalan begitu cepat. Kehidupan mereka riuh dengan pertumbuhan anak-anak. Dhava pun makin sibuk mengelola perusahaan keluarga, membuatnya harus bolak-balik Jakarta-Malang setiap minggu, sembari tetap menyempatkan diri mengisi sesi terapi bagi pasien-pasien terbatasnya.​"Mas, bangun," bisik Diana, lembut.​Dhava hanya menggeleng dengan mata yang masih rapat. "Masih kangen," gumam pria itu, serak.​"Nanti keburu fotografernya datang, Mas! Kita ‘kan mau sesi foto keluarga," protes Diana.​Dhava menarik Diana lebih dekat ke

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 231 Ayam Goreng

    Diana berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah di balik punggung lebar sang suami. Sesekali ia meremas ujung kemeja suaminya itu dengan tangan yang basah. "Mas, gimana ini? Bilang apa dong?" bisik Diana, berdebar. Hanya saja ia juga merasa gemas ingin mencubit pinggang Dhava yang terlihat sangat tenang menghadapi interogasi dua pria paruh baya di depan mereka. ​Denver melipat tangan di dada dengan dahi berkerut tajam. "Mau beli ayam goreng saja kenapa harus sampai menginap semalaman? Kalian tahu jam berapa sekarang?" ​Darius pun tidak mau kalah memberikan tekanan. "Si kembar menangis terus sejak subuh. Davka juga sama sekali tidak mau tidur!!!” Tidak kikuk sama sekali, ​Dhava tetap memasang wajah setenang mungkin. Namun, satu tangannya diam-diam bergerak ke balik punggung, menyentuh perut Diana. "Maaf Pa, Uncle. Sebenarnya kami ke hotel," ucap Dhava dengan nada yang sangat meyakinkan. Sontak saja ​Diana langsung melotot lebar. Ia mencubit keras pinggang suaminya sampai

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 230 Tertangkap Basah

    Tak ingin mengganggu kualitas tidur sang istri, Dhava buru-buru menjauh dari ranjang sambil membawa ponselnya yang terus bergetar. Ia melangkah ke dekat pintu, lalu menerima panggilan itu dan menyahut dengan nada seriang mungkin."Ya, Ra? Ada apa?" tanya Dhava.Hanya saja, bukan suara pengasuh yang menyahut, melainkan suara cempreng khas anak-anak dari seberang telepon."Papa ... Papa di mana? Kapan pulang? Kita kangen banget. Oma Lani seling cembelut aja, malah mawah-mawah waktu aku mau deketin adek kembal," lapor Davka, sesekali terisak.Dhava melirik ke arah Diana yang masih terlelap, napasnya berembus pelan menahan gejolak di dada."Sebentar lagi pulang, Sayang. Mama Diana masih bobo, kasihan jangan diganggu dulu ya?""Memang Mama di mana? Papa apain Mama?" tanya Davka, membuat Dhava harus berdeham untuk menetralkan suaranya."Papa dan Mama sedang ada urusan orang dewasa, Sayang. Sudah, ya, tunggu di rumah, nanti Papa bawakan ayam goreng yang banyak,” janji Dhava mencoba mengalihk

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 229 Sama-sama Nakal

    WARNING, baca setelah buka puasa!Lelah karena digempur habis-habisan selama hampir tiga jam, Diana sempat terlelap entah berapa lama. Tubuhnya begitu remuk, dengan rasa pegal dan linu yang menjalar di setiap persendian. Ia menggeliat kecil, lalu melenguh panjang kala merasakan bibir panas suaminya kembali menyapu bahu polosnya.Bukan sekadar ciuman biasa, Dhava menghisap kulitnya dengan kuat sampai-sampai rasanya jiwa Diana ikut tersedot keluar."Eunghh ... Mas, udah ... jangan di situ, geli," igau Diana dengan suara serak, matanya masih terpejam rapat, tetapi kepalanya gelisah mencari kenyamanan di atas bantal.Dhava tertawa melihat tingkah istrinya yang masih setengah sadar itu. Ia menciumi telinga Diana, lalu berbisik nakal, "Bangun, Sayang. Katanya tadi takut dicariin anak-anak? Ini udah lewat waktunya."Diana membuka matanya yang sangat berat dan sipit. Ia memonyongkan bibir dengan raut yang menggemaskan."Ngantuk, Mas ... lemas banget. Kaki aku rasanya beneran nggak punya tulan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 228 Pelan-Pelan Mas

    WARNING, baca setelah buka puasa!"Baru mulai udah minta ampun? Bukannya kamu berani menantangku tadi, hm?" bisik Dhava dengan bergetar, dan tatapan penuh gairah.Pria itu menyeringai lebar tatkala memindai tubuh istrinya yang sudah memerah dan basah oleh peluh. Di matanya, Diana tampak begitu menggiurkan, apalagi di bawah cahaya lampu yang remang.​Diana menggeleng lemah di atas seprai putih, napasnya tersengal-sengal, dan tatapannya sayu. "Ugh ... aku lemas banget, Mas. Kakiku … ahh … rasanya mirip jelly, cukup, ya?" rintih Diana, meminta.Hanya saja tatapan sayu dari mata karamelnya, justru makin memicu insting berburu liar dalam diri Dhava.​"Tidak bisa, Baby. Bayar lunas penantianku hampir setahun ini!" tegas Dhava, jelas sekali tak terbantahkan.​Tanpa memberikan kesempatan bagi Diana untuk menolak lagi, Dhava  menyambar pinggul istrinya itu, dan menyeret tubuh mungil, hingga ke pinggir ranjang.“Aww … Ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status