Share

Bab 93

Penulis: NACL
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 08:44:26

Tepat sebelum show dimulai, Dhava melihat gelagat mencurigakan dari Rayan. Pria itu tampak tidak normal sebagai tamu VIP. Bukannya tak sabar menanti runway istrinya sendiri atau memberi dukungan, justru sibuk menggoda gadis muda yang menurut feeling Dhava seorang model. Mereka pergi makin jauh. Sial, saat Dhava ingin menyusul, Renita bertingkah.

“Kamu ingat, ya, kita harus pulang bareng. Mama kamu bisa curiga! Dan aku nggak mau jadi tumbal, menjawab semua!” dengkus wanita itu, matanya memutar malas.

Dhava kembali duduk sambil merapikan jasnya sendiri.

Acara dimulai, satu per satu model tampil memukau dengan elegan melalui siluet yang mengalir dan bahan mewah, serta feminin melalui palet warna pastel yang lembut, mewujudkan keindahan dan keanggunan wanita. Elemen Berani muncul dalam keberanian untuk menampilkan kelembutan sebagai kekuatan dan potongan gaun yang agak provokatif, mewakili wanita yang teguh mengejar mimpinya.

Hanya saja kala para model itu kembali ke dalam stage dan pemba
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   BAb 355 Anggap Saja Kakek

    Pukul enam sore, begitu selesai rapat bersama dewan komite, Dirga buru-buru keluar dari rumah sakit. Karena pekerjaan yang banyak, tetapi ia tidak pulang sendirian, melainkan menyeret Randy untuk mengantarnya. Asisten muda itu mau tak mau memenuhi keinginan Dirga, padahal Randy tahu setengah jam lagi Dinda selesai praktik.Hanya saja, sebelum Porsche hitam benar-benar meninggalkan area parkir, mendadak Randy menoleh.“Pak, di depan ada … Pak Raymond.” Jempol Randy menunjuk ke depan.Dirga mengikuti arah telunjuk Randy. Benar saja, di sana Raymond dengan tongkatnya beridri tegak. Dari tatapannya saja, ia tahu pria itu ingin bertemu. Dirga mendnegkus kasar, lalu turun dari mobil.Dengan langkah berat dan aura dingin nan menusuk, ia mendekat. Namun ia berhenti beberapa meter di depan pria yang makin terlihat tua itu.Wajah Dirga datar, tanpa basa-basi ia langsung bicara. “Ada perlu apa, Pak Raymond? Kita tidak ada kerja sama apa pun. Saya harap kedatangan Anda bukan untuk mengganggu lagi

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 354 Terbayang-bayang Kamu Sayang

    Usai mendapat asupan pagi yang tidak terduga-duga, saat ini Dirga tersenyum-senyum sendiri dalam ruangannya. Sesekali menggosok pelan wajah dari hidung ke dagu. Pemandangannya pun tidak fokus pada berkas yang baru saja disodorkan oleh Randy.Rasa panas dari bibir dan bayangan Laras yang berlutut di depannya dengan tatapan menantang masih melekat jelas. Sungguh, istrinya itu adalah perpaduan malaikat dan iblis yang membuatnya kecanduan.“Pak?” panggil asisten itu. Sudah setengah jam Randy berdiri menanti berkas yang dibawanya itu selesai ditandatangi sang bos. Apalagi ia memiliki tugas penting mengejar Dinda demi masa depan, ingin makan siang bersama di sela kesibukan gadis itu di IGD. Sungguh sial karena Dirga menghalangi.Randy mulai menggesekkan kaki di lantai, arloji di pergelangannya terus menarik perhatian, setiap detiknya membuang kesempatan untuk bertemu sang pujaan hati. Jantungnya berdebar cemas.

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 99

    Bab 99Tangan Diana gemetaran memegang kunci mobil dan kartu hitam itu. Ia sadar menjadi pusat perhatian timnya dan Rayan yang mungkin mendekatinya saat ini. Namun, ia tidak peduli, dan terasa berat untuk mengabaikan semua ini.Ia mengangguk pada Sales Andi. "Boleh saya mencobanya sebentar?"Andi, si sales, tersenyum lega. Setelah mendapatkan persetujuan, Diana melangkah dan membuka pintu SUV yang wangi mobil baru. Ia duduk di jok kemudi yang mewah. Diana menarik napas, tangannya gemetar memegang setir. Rose Gold. Warna yang sangat 'Diana banget'. Pria itu selalu tahu cara memanjakannya, tetapi juga tahu cara melukainya.Perlahan, Diana membuka kartu ucapan hitam bertuliskan gold. Matanya terpaku pada tulisan tangan Dhava yang tegas.[Diana-ku. Jangan pernah takut untuk maju. — D.]Diana tersenyum getir, "Jang pernah,takut untuk maju ...."‘Aku lebih butuh kamu, Mas,’ batinnya tanpa sadar.Diana segera keluar dari mobil. Ia lantas menyerahkan kunci itu pada sales. “Tolong antarkan mobi

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 98

    Beberapa menit sebelumnya, tubuh Renita yang menggigil nyaris roboh di toilet. Isi kepalanya mulai berhalusinasi, ada Dhava yang sedang mencumbu Diana tepat di hadapannya. Ia tertawa dan melempar tas kecilnya, hingga isinya berhamburan. Saraf-sarafnya pun menjadi nyeri.Tidak tahan lagi, Renita memungut ponselnya yang tergeletak di atas lantai. Ia menekan nomor Rayan lagi, tetapi tidak diterima.“Arghh!” teriak Renita dengan suara tertahan. Kesal bercampur nyeri pun membawa jemarinya menghubungi nomor Dhava.Tersambung.“Dhava, aku mau pulang. Badanku sakit. Cepat ke toilet wanita!!!” perintah wanita itu penuh tuntutan."Kamu kenapa? Tenang. Tunggu aku!" Hanya kata-kata itu yang terdengar dari mulut Dhava.Tidak lama kemudian Dhava menyisir toilet wanita sambil memanggil-manggil Renita. Wanita itu sengaja menyeringai dan bergumam, “Lihat, Diana, aku tetap prioritasnya! Kamu bakal kalah!”Untuk mempercepat Dhava membawanya pergi, Renita mengetuk sepatunya pada pintu. Dengan cepat pintu

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 97

    Renita yang duduk di jajaran VIP, membaca pesan rekannya dengan mata berkilat penuh dendam. Bibir berperona merah menyala itu mengatup rapat. Napasnya memberat seiring dengan lamanya Dhava kembali entah dari mana. Namun, ia yakin suaminya itu menghampiri Diana, di sana, di balik stage.[Gagal gimana, sih?] balas Renita cepat. Matanya menatap awas ke arah karpet merah.[Gaun yang kita rusak. Itu memang rusak. Tapi Diana punya cadangannya.]Membaca barisan kalimat itu, amarah Renita memuncak seketika. Padahal sebelumnya Rayan bilang hanya ada satu gaun yang akan digunakan pada penutup acara, sekarang Diana memiliki penggantinya juga?Renita mendengkus. Lalu berdiri, ia masuk toilet. Kegelisahan menyambar dan membuatnya berulang kali menggosok-gosokkan telapak tangannya dan tubuhnya bergoyang-goyang. Ia membutuhkan lebih dari sekadar penyokong penenang.Renita menghubungi Rayan.Sekali di-reject.Dua kali di-reject.“Bangsat, Rayan!!!” Napasnya menderu cepat. Jika acara show ini sesuai p

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 96

    Tidak pernah disangka, akhirnya akan seperti ini. Diana tahu sebagai pendatang baru, tentu banyak yang tidak menyukainya. Apalagi menurut para customer kalau mereka mendapat pelayanan kurang di butik lain yang pernah langganan, itu menjadi poin penting bagi Diana. Namun, setidak suka itu kah mereka padanya? Padahal ia tidak pernah mengusik siapa pun, dan jalannya lurus.Sekarang, tatapan Diana pada asistennya bukan hanya penuh harap, tetapi juga menghujam tajam.Hingga Dita mundur selangkah merasakan hal itu. Ia menelan ludah dengan susah payah. Belum lagi Dhava yang kini memusatkan perhatiannya pada Dita.“Siapa? Ada orang yang mencurigakan masuk butik?” tanya Dhava, suara beratnya, tatapannya, dan gestur tubuhnya benar-benar membuat seseorang terpojok.Dita buru-buru menggerakkan kedua tangannya. Ia harus menenangkan kedua orang ini.“Bu—bukan, Pak, Bu.” Dita menatap lekat pada atasannya. “Bu, gaun pale mint itu … Ibu ingat?” bisiknya.Tercenung sejenak mendengar ucapan Dita, Diana

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status