MasukMalam harinya, Dirga baru saja melepas jas dokternya saat Febby menceritakan detail kejadian di sekolah dengan nada yang masih bergetar.
Setelah menenangkan sang istri, Dirga melangkah menuju kamar Dylan. Ia mendapati putra sulungnya itu sedang duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta.
"Boleh Daddy masuk?" tanya Dirga lembut sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka sedikit.
"Sembunyi!" bisik Dylan nyaris tak terdengar, menekan kepala Giandra agar lebih merapat ke tanah.Pria berbaju hitam itu melangkah pelan, alat di tangannya mengeluarkan bunyi pip yang semakin cepat."Frekuensi ini ... terlalu stabil untuk gangguan alam. Seperti ada perangkat komunikasi aktif di sekitar sini," geram pria itu, matanya yang tertutup kacamata hitam menyapu area tumpukan kayu tempat kedua bocah itu meringkuk."Mungkin cuma tikus yang bawa sisa barang elektronik, ayolah, jangan terlalu paranoid. Bos sudah menunggu laporan di bawah," sahut temannya dari ambang pintu gudang.Pria itu terdiam sejenak, lalu meludah ke tanah sebelum akhirnya berbalik masuk.Begitu pintu besi berat itu tertutup dengan dentuman yang menggema, Dylan menarik napas yang sedari tadi ia tahan."Lan, kita harus pergi! Ini bukan cuma main detektif, mereka bawa senjata benera
Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Langit Jakarta yang biasanya kelabu tertutup polusi, kali ini tampak sedikit lebih cerah, seolah memberi restu pada misi rahasia dua bocah kelas lima SD itu.Di depan gerbang sekolah, tiga bus pariwisata besar sudah terparkir rapi.Dylan turun dari mobil mewah hitamnya dengan wajah yang sangat tenang, terlalu tenang untuk anak yang akan melakukan infiltrasi ke gudang tua.Febby mencium kening putranya itu dengan penuh kasih, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam tas ransel Dylan, selain buku biologi, tersimpan peralatan yang bisa membuat agen intelijen sekalipun terkesan."Ingat pesan Mommy, Dylan. Jangan jauh-jauh dari guru, jangan lepas dari rombongan, dan jangan mematikan jam tanganmu," pesan Febby lembut."Iya, Mom. Aku ingat," jawab Dylan singkat.Ia merasa sedikit sesak saat berbohong, tetapi bayangan lencana kakeknya di dalam
Malam itu, kamar Dylan tampak remang-remang. Sesuai perintah Febby, ponsel utamanya masih disita dan tergeletak bisu di laci meja rias ibunya.Namun, Febby lupa satu hal ...jam tangan pintar Dylan yang canggih masih melingkar di pergelangan tangan bocah itu.Meskipun layarnya kecil, perangkat itu memiliki modul komunikasi mandiri yang cukup untuk menjalankan fase pertama rencana mereka.Dylan menarik selimutnya hingga sebatas dada, berpura-pura tidur saat mendengar langkah kaki pengasuhnya lewat di depan kamar.Begitu suasana benar-benar sunyi, ia menyentuh layar jam tangannya."Aktifkan jalur enkripsi," bisik Dylan ke arah pergelangan tangannya.Hanya butuh dua detik hingga terdengar suara statis pelan, diikuti suara Giandra yang terdengar sangat gugup, tetapi bersemangat."Lan? Kamu sudah bangun? Aku hampir mati jantungan pas Papa ma
Malam harinya, Dirga baru saja melepas jas dokternya saat Febby menceritakan detail kejadian di sekolah dengan nada yang masih bergetar.Setelah menenangkan sang istri, Dirga melangkah menuju kamar Dylan. Ia mendapati putra sulungnya itu sedang duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta."Boleh Daddy masuk?" tanya Dirga lembut sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka sedikit.Dylan menoleh, lalu mengangguk kecil. "Boleh Dad .... " Wajahnya tampak murung seperti sedang memikirkan sesuatu.Dirga duduk di samping putranya, meletakkan tangan di bahu sempit itu. "Mommy sangat ketakutan tadi, Dylan. Kamu tahu kan, bagi Mommy, keselamatan kalian adalah segalanya?""Aku tahu, Dad. Aku cuma ... aku merasa Giandra teman yang baik, dan aku ingin melihat sesuatu di laptopnya," jawab Dylan hati-hati, tetap menjaga rahasia tentang Danau
"Kok kamu keren Dylan, kamu bisa mencari tahu sedetail itu."Saat pujian demi pujian keluar dari mulut Giandra, tiba-tiba terdengar suara dari luar.Ketukan keras di pintu kayu jati kamar Giandra membuyarkan atmosfer tegang yang baru saja terbangun.Suara gesekan laptop yang ditutup terburu-buru oleh Dylan terdengar nyaris bersamaan dengan suara lembut ibu Giandra dari balik pintu."Ada orang." Giandra ikut panik, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.Dylan berusaha bersikap santai. "Tenang, ini missi kita. Hanya kita yang tahu. Okey.""Emmm." Giandra mengangguk mantap."Kamu mau ikut?" tanya Dylan."Ya," jawab Giandra tanpa keraguan. "Aku suka bermain detektif-detektifan seperti ini." Ia menyunggingkan senyuman.Dylan menepuk pundak sahabatnya itu, dan tak lama kembali terdengar suara
"Itu apa?" Mata Giandra tampak fokus memperhatikan layar laptop, mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri.Sementara Dylan masih fokus pada ketikan pencarian lokasi dari alamat yang ditemukan."Ini ... Gudang Tua di Danau Hitam?" gumam Giandra, membaca keterangan di layar. "Dylan, buat apa kamu cari tempat ini? Ini kan tempat angker yang sering masuk berita itu. Katanya banyak orang hilang di sana."Dylan akhirnya mendongak, matanya menyorotkan rasa ingin tahu yang dingin sekaligus tajam."Justru itu, Gian. Kamu nggak merasa aneh? Gudang itu secara resmi sudah dikosongkan sepuluh tahun lalu, tapi lihat di foto satelit terbaru ini."Dylan melakukan zoom-in hingga resolusi maksimal. Di antara atap-atap seng yang berkarat dan dinding yang ditumbuhi lumut tebal, terlihat beberapa kabel serat optik berstandar militer yang masuk ke dalam celah ventilasi.
"Barta kenapa Ma?" engah Bramanto, melangkah cepat bersama istrinya menuju ruang ICU. Wajahnya terlihat pucat. Matanya melirik sang istri yang diam saja. Ia mendengus, menahan kesal. "Ma! Jawab, Barta kenapa?" Suaranya meninggi.Inggrid berdecak, "Nanti juga kamu tahu
Di tempat berbeda. Mobil tahanan Kejaksaan yang membawa Anggun dan Yuliana masih dalam perjalanan menuju gedung persidangan.Pengamanan di jalanan dan di dalam mobil sangat ketat. Delapan anggota Polisi bersenjata duduk di dalam mobil tahanan.Anggun dan Yuliana berada di tengah
Saat dalam perjalanan menuju Bandung, Dewanto mendapat telepon dari kepolisian yang berada di lokasi kecelakaan mobil tahanan.Di sampingnya, Dirga menatap sang ayah lekat lalu kembali berbicara dengan sang Istri di dalam telepon, "Sayang, sudah dulu ya. Aku masih di jalan. Nanti aku hub
Drum! Bunyi suara mesin dihidupkan oleh seorang penyusup yang berhasil masuk ke dalam mobil tahananKendaraan roda empat itu melaju, bahkan sebelum Polisi merapikan alat-alat yang berada di pinggir mobil tersebut.Seluruh orang berteriak panik. Mereka melangkah cepat m







