Masuk"Mereka memanfaatkan Dylan dan menjadikan Dylan bagian dari anak jalanan di sini!" Dirga mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sabar Dok. Setelah kita menemukan Dylan, kita akan mengungkap semua kejahatan ini dan membawa semua anak-anak jalanan ke tempat yang lebih baik."
Pencarian yang melelahkan itu akhirnya menemui titik terang menjelang pukul dua siang.
Ketika tim Adrian menyisir area lampu merah di dekat kolong jembatan bagian ti
Farah menoleh, menatap profil samping wajah Biru yang tampak kokoh. Yang melintas di otaknya saat ini hanyalah rasa bersalah karena telah egois meninggalkan cowok itu kemarin sore."Soal yang sore itu ... maaf ya, Biru. Gara-gara keegoisanku, kamu jadi panik dan nyariin aku sampai tengah malam. Aku tahu aku salah dan aku terlalu kekanak-kanakan."Biru mengangguk pelan, menerima permintaan maaf itu dengan tulus. "Selain soal minimarket itu, apa kamu ingat sesuatu yang lain? Setelahnya?"Farah menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Enggak ada. Aku cuma ingat aku mabuk berat di pesta Megan, terus ... oh iya, kamu semalam pulang ke rumah ya? Pantas aja pas aku sampai rumah jam sepuluh lewat, aku cariin kamu di paviliun belakang ternyata nggak ada."Mendengar penuturan polos itu, Biru hanya bisa menghela napas panjang demi meredam rasa kecewa yang mendadak menyergap dadanya.Ternyata benar, Farah melewatkan bagian paling romantis dalam
"Aku harus ke rumah Aurora sekarang!"Dengan langkah gontai dan kepala yang masih terasa agak pening, Farah memaksakan diri keluar dari kamar.Ia menuruni anak tangga dengan perlahan, lalu melangkah ke area halaman samping tempat biasa mobil-mobil keluarganya diparkir.Dari kejauhan, tampak Biru sedang sibuk membersihkan sisa-sisa busa sabun di bodi mobil sedan dengan selembar kain plas chamois."Biru, antar aku ke rumah Aurora," ucap Farah pelan begitu langkahnya berhenti di dekat pria itu.Biru seketika menghentikan aktivitas. Ia menoleh, menatap Farah yang tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Guratan cemas langsung tercetak jelas di wajah tegas pengawal pribadinya itu."Gimana kondisi kamu? Kamu baik-baik saja?" tanya Biru dengan suara rendah yang penuh perhatian. "Wajah kamu keliatan pucat. Kamu sakit, hmmm?"Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan reflek merangkul pinggang Farah dengan lembut, berniat menyangga tubuh gadis itu yang tampak sedikit limbung.Tatapan mata biru mi
"Pokoknya kamu harus tenangin diri dulu. Aku kirim video itu, tapi kamu jangan pingsan ya," ucap Aurora terdengar sangat khawatir dari seberang telepon.Farah menghela napas dalam-dalam, mencoba mempersiapkan mentalnya untuk kemungkinan terburuk. "Iya, cepet kirim video itu, Ra. Aku janji nggak akan pingsan. Tapi sebelumnya, tolong jujur sama aku ... apa di video itu aku nggak pake baju? Aku ... telanjang?" tanya Farah dengan suara bergetar tak beraturan."Untungnya nggak," jawab Aurora cepat, yang seketika membuat Farah mengembuskan napas panjang penuh rasa lega. Beban berat di pundaknya serasa sedikit berkurang."Kamu cuma keliatan mabuk berat dan joget-joget kayak orang gila di pinggir kolam renang. Pokoknya memalukan banget, Ra. Kayaknya kamu dikerjain abis-abisan sama circle Megan di pestanya kemarin malam. Mereka sengaja ngerekam dan nyebarin," lanjut Aurora lagi.Farah terdiam membisu, meremas ujung selimut erat-erat. Ia memejamkan mata, memeras otaknya untuk mengingat kemb
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah gorden seketika membuat mata Farah berdenyut nyeri. Ia terbangun dengan rintihan pelan, memegangi kepala yang terasa seperti dihantam benda keras akibat sisa alkohol semalam."Farah, bangun sudah pagi." Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat Farah panik.Ia tak ingin ibunya tahu jika semalam ia menenggak alkohol sampai mabuk. Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya lalu duduk."Farah .... " Febby kembali memanggil."I-iya Mom. Aku udah bangun," seru Farah."Mommy masuk ya."Belum sempat Farah menjawab 'iya' pintu kamar sudah dibuka oleh Febby."Farah, kamu kenapa?" tanya Febby khawatir melihat kondisi putrinya yang pucat dan terus memejamkan mata menahan sambil memegang kepala."Aku nggak apa-apa Mom, cuma sakit kepala, mungkin karena kebanyakan tidur.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat sunyi setelah kegaduhan di pesta Megan tadi.Farah, yang sejak tadi terdiam dengan kepala bersandar di kaca jendela, tiba-tiba memegang perut dengan gelisah. Wajahnya yang cantik kini terlihat pucat pasi."Tolong ... berhenti ... aku ... aku mau muntah," lirih Farah dengan suara yang nyaris tak terdengar.Tanpa banyak tanya, Biru segera menepikan mobil di sebuah kawasan taman kota yang sepi dan teduh di bawah naungan pohon rindang.Begitu pintu dibuka, Farah segera melompat turun dan memuntahkan seluruh isi perutnya di pinggir jalan.Biru, dengan sigap dan telaten, menyusul turun, memegang rambut Farah agar tidak terkena kotoran, dan terus mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.Setelah Farah merasa sedikit lebih lega, Biru menuntunnya duduk di kursi taman kayu di bawah sinar bulan yang bersinar terang.
Suasana di halaman belakang rumah mewah Megan yang tadinya super ramai dan bising oleh musik yang dimainkan DJ Natty, seketika berubah menjadi sunyi senyap.Dentuman bass yang tadi menghentak kini dimatikan total. Para tamu undangan saling berbisik dengan wajah tegang, masih syok melihat bagaimana tragisnya Ray dihajar habis-habisan oleh pengawal pribadi Farah.Malam itu juga, pesta ulang tahun Megan berakhir bubar. Ray yang sudah tidak berdaya dengan wajah babak belur langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh beberapa temannya.Aroma obat-obatan yang khas langsung menyengat indra penciuman begitu memasuki ruang perawatan kelas VIP.Di atas bangku luks di sudut kamar, seorang pria paruh baya berjas rapi yang merupakan pengacara pribadi keluarga Ray, duduk dengan tenang sambil mendengarkan rentetan kalimat penuh amarah dari kliennya.Ray berbaring di atas ranjang rumah sa







