Share

Gaya Baru

Penulis: Dita SY
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 14:08:37

Setibanya di mansion, Wylan tak melihat keberadaan Prams. Setelah tadi bosnya pergi entah kemana, hingga saat ini pria itu belum juga kembali.

Tak ingin mengulur waktu terlalu lama, Wylan memutuskan memberi informasi dari telepon. Namun, telepon itu tidak juga diterima oleh sang Mafia.

"Bos, tolong angkat telepon ini!" gumam Wylan sedikit kesal. Tangannya meremas ponsel, hingga menimbulkan garis-garis halus di layar.

Saat ingin mengubah panggilan pada anak buah Prams, telepon tersebut tersambung.

"Tuan." Wylan menghela napas lega. "Bisa saya bicara sebentar."

"Aku tidak memiliki waktu. Kita bicarakan lain kali saja."

"Tapi Tuan, ini tentang Elina .... "

"Brengsek! Jangan sebut nama itu! Kau ingin mati, hah!" bentak Prams. Seperti biasa, ia tidak pernah mau mendengar nama Elina.

"Tapi Tuan, tolong dengar dulu!"

"Aku tidak punya waktu untuk mendengar omong kosongmu tentang wanita sialan itu!"

"Elina punya anak laki-laki dan wajahnya sangat mirip dengan Tuan."

Deg!

Prams terdiam. Han
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Widia Astuti
cerita nya gitu gitu muluuu ...gak ada ending nya
goodnovel comment avatar
Soliah 15
aku bosen banget gak selesai² ceritanya ...
goodnovel comment avatar
Fahria Luciana
gak apa-apa ka daripada dia ngejar-ngejar Dylan terussss
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bersiap Melenyapkan

    "Baik kalau memang Anda mau menjemput Intan, nanti saya akan meminta Polisi Hong Kong untuk membantu agar rencana kalian berjalan lancar," ucap Adrian di ujung sambungan telepon. "Katakan pada Intan untuk berhati-hati, jangan sampai dia yang dihabisi oleh Prams. Dia harus bersikap tenang, agar tidak dicurigai," balas Dirga. "Kalau soal itu saya sudah meminta Nila mengatakannya. Nanti saya akan bicara langsung dengan Intan.""Hmm." Reflek Dirga menganggukkan kepala. "Jadi kapan kira-kira Intan akan menjalankan rencana itu?""Secepatnya Dok. Saat ini Intan sedang menunggu kepulangan Prams.""Memangnya Intan tinggal di rumah laki-laki itu?""Iya, dia mengatakan dia dibawa oleh Prams, setelah Prams membunuh ibunya."Dirga mengerutkan kening. "Membunuh ibunya? Darimana Intan tahu kalau Prams membunuh ibunya?" "Intan tidak sengaja mendengar percakapan Prams dengan salah satu tangan kanan Bandar itu. Dan dia juga mendengar rencana Prams setelah anak di dalam kandungannya lahir. Prams hany

  • Ah! Enak Mas Dokter   Membunuh Prams

    Amerika~Dokter Yohanes melangkah masuk ke ruang operasi yang dingin dan steril, udara berhembus pelan dari ventilasi di atas langit-langit.Lampu-lampu operasi yang terang menyilaukan menyorot meja bedah yang sudah tertata rapi dengan alat-alat bedah berkilau dan tertutup kain steril berwarna hijau.Wajahnya tampak serius, alisnya berkerut tipis saat menatap setiap sudut ruangan. Dengan gerakan cekatan, ia memeriksa kondisi alat-alat, scalpel, klem, jarum, serta tabung-tabung oksigen yang tersusun sempurna.Tangannya yang sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan menyentuh monitor jantung dan oksimeter, memastikan semua alat berfungsi tanpa cela.Napasnya teratur, tapi ada ketegangan yang merayap di dada, menandakan betapa penting operasi ini.Sambil menyesuaikan masker dan pelindung wajah, ia mengangguk pelan pada Perawat yang berdiri di samping, memberi isyarat bahwa ruang sudah siap dan waktu operasi segera dimulai."Katakan pada keluarga pasien kecil kita, operasi ketiga akan dimul

  • Ah! Enak Mas Dokter   Kata Cinta

    Suara desahan Prams yang berat dan kasar menggema di seluruh kamar, menembus keheningan yang dingin oleh AC yang menyala kencang.Elina tersenyum manis, menatap sosok pria di atasnya dengan mata setengah terpejam, dada berdebar tak menentu."Euhmm! Ssttt! Tuan." Ia mengigit bibir, menikmati sentuhan nakal tangan sang Mafia di dadanya yang bulat dan kenyal.Tubuh Prams yang tinggi, berotot dan berkilat keringat itu mengungkungnya dengan kekuatan yang membuat Elina seakan terperangkap dalam pusaran gelora.Keringat mereka bercampur, menetes di punggung dan lengan Elina, membasahi kain sprei yang licin."Ughh!" Mata Elina terpejam rapat. Suara desahan lembut terus keluar dari mulut yang sulit dikendalikan. Prams tersenyum mesum, "Kau merindukannya, bukan?" Elina membuka mata, "Apa Tuan tidak rindu?" Ia membalik pertanyaan, membuat wajah Prams memerah seperti udang rebus.Tidak mungkin seorang Prams mengakui perasaannya. Prams tidak pernah bisa luluh oleh wanita, pikirnya. Namun, kenya

  • Ah! Enak Mas Dokter   Jawaban Elina

    Prams menatap Elina lekat. Mencoba menyelami perasaan wanita itu saat ini. Apa mungkin masih ada cinta untuknya di hati Elina? Atau sudah berganti laki-laki lain? Namun, saat mengingat kecupan tadi. Ia yakin cinta Elina padanya belum padam. Masih membara seperti dulu. "Katakan! Apa kau sudah menikah?" Prams mengulang kembali pertanyaannya. Ada harapan yang ia gantungkan setinggi langit.'Katakan Honey!' bisik Prams dalam hati sambil terus menatap Elina.Wanita di depannya menarik napas panjang. Membuka mulut perlahan lalu menjawab, "Saya belum pernah menikah Tuan."Deg! Senyuman merekah di wajah Prams setelah mendengar jawaban Elina tentang statusnya itu. "Kau tidak sedang berbohong?" Tatapan Prams semakin lekat.Elina mengerutkan kening. "Kalau saya menjawab saya sudah menikah, apa Tuan akan pergi dan menyerah? Apa Tuan akan berubah pikiran dan tidak mau menjadi Ayah yang baik untuk Edgar?"Prams tersenyum kecil, melepas genggaman tangannya lalu melangkah mendekati Elina. "Kau t

  • Ah! Enak Mas Dokter   Ungkapan Hati Elina

    Elina merapatkan bibir. Kedua mata membulat sempurna, terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.Mendengar pengakuan Elina, Prams mendongak. Senyuman sinis terukir di wajah yang basah terkena air liur. "Jadi benar .... " Ia berdiri dan menatap Elina dengan sorot mata tajam. Melihat ibunya ditatap seperti itu, Edgar semakin emosi. Bocah empat tahun itu melangkah mendekati Prams. Namun, dengan cepat Wylan menggendongnya. "Lepas! Lepaskan aku!" Edgar memberontak, tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari pelukan Wylan. "Jangan nakal Tuan Muda. Kamu harus tahu, yang kamu ludahi itu Ayah kandungmu. Dia Daddymu."Mata Edgar melotot. Suara napasnya memburu dengan dada kembang kempis tak karuan. "Aku mau tulun! Lepaskan aku!" Ia masih berusaha memberontak dari dekapan Wylan."Paman tidak akan menyakitimu, Nak. Paman dan Daddy datang ke sini untuk membawamu dan Ibumu pergi dari rumah kecil ini. Kamu akan tinggal di Istana. Paham?" "Aku tidak mau! Lepaskan

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pertemuan dengan Cinta Lama

    Wylan melirik Prams sambil mengulum senyum. Terlihat jelas wajah pucat sang Mafia saat mendengar suara wanita dari balik pintu pagar.Seumur hidup bekerja dengan keluarga Marco, baru pertama kali ia melihat Prams jatuh cinta pada wanita sewaan. Seandainya saja Elina tidak pernah pergi dari hidup Bos-nya, mungkin saja mantan wanita sewaan itu sudah menjadi Nyonya Besar. Namun, Elina justru memilih pergi dari kehidupan sang Mafia tanpa alasan yang jelas.Wylan melirik Prams. "Sepertinya Elina sudah pulang dari Rumah Sakit," ucapnya sangat pelan, mirip seperti gumaman. Yang dilirik sejak tadi masih diam seperti manekin dengan wajah pucat pasinya. Wylan pun bersiap menekan bel yang ada di dinding pinggir pintu pagar. "Tuan siap bertemu lagi dengan Elina?" Wylan menahan senyuman yang nyaris mengembang di bibirnya.Mendengar itu, Prams melirik sinis. "Tekan bel itu! Jangan main-main denganku!" desisnya mengancam. "Baik Tuan." Wylan menelan ludah, menundukkan kepala lalu menekan bel ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status