تسجيل الدخول"Dylan, Om Adrian mau bicara.""Hah? Om Adrian?" tanya Dylan dengan suara parau.Setelah menjelaskan semua, Dylan mengambil ponsel dari tangan ayahnya.Adrian memegang ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar saat wajah Dylan akhirnya muncul di layar dalam panggilan video.Bocah itu tampak mengucek matanya yang masih mengantuk, namun ketika melihat wajah Adrian yang tegang dan penuh peluh, sorot matanya langsung berubah tajam dan waspada."Dylan, dengarkan Om baik-baik," bisik Adrian cepat sambil mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arah panel digital dan lensa kamera mikro yang tersembunyi di pintu baja."Iya Om Adrian.""Om sedang berada di tempat yang kamu gambar kemarin. Om butuh bantuanmu sekarang. Kunci pintu ini adalah matamu. Om butuh kamu menatap lurus ke arah kamera Om, dan Om akan mendekatkannya ke sensor pintu ini."Dylan langsung mengangguk paham tanpa banyak bertanya. Kecerdasan luar biasanya membuat ia
"Seharusnya bisa!" gumam Darko sambil merapatkan giginya.Adrian mengedarkan pandangan, mengawasi sekitar tempat mereka saat ini. Sepi, dan udara lembab semakin membuat suasana terasa mencekam."Ayo Darko, kamu pasti bisa!"Darko segera menekan tombol di keyboard-nya dengan gerakan panik. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya saat ia memotong kembali arus data satelit pemantau Vultures."Berhasil!" senyum Darko."Bagaimana?" tanya Adrian dengan wajah cemas."Aku sudah mengalihkan sensor mereka untuk sepuluh menit terakhir, Adrian! Setelah ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hubungi Dirga sekarang!""Baik!"Adrian langsung merogoh saku jaket taktisnya, mengeluarkan ponsel satelit terenkripsi, dan menekan nomor Dirga. Jantungnya berdegup kencang seiring nada sambung yang terus berdering.
"Harusnya ini akan mudah!" kata Darko dengan percaya diri tingkat Dewa.Di sampingnya Adrian hanya melihat pergerakan tangan Darko yang cekatan dan profesional.Darko membongkar panel digital itu dengan tangan yang mulai stabil. Ia mencolokkan kabel dari perangkat dekripsi portabelnya langsung ke papan sirkuit pintu baja.Layar laptop kecil yang ia bawa seketika dipenuhi oleh barisan angka biner yang bergerak liar.Adrian terus mengawasi di sampingnya, memegang senter taktis dengan sorot yang semakin redup."Bagaimana, Dark? Bisa?" tanya Adrian penuh harap.Darko tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar laptopnya. Keningnya berkerut dalam, dan keringat mulai membasahi pelipisnya lagi.Tiba-tiba, laptopnya mengeluarkan bunyi beep panjang yang melengking pelan, disusul dengan munculnya tanda silang merah besar di layar.
"Whus! Whus! Whus!" Suara napas Adrian yang memburu terdengar.Waktu terus berdetak tanpa ampun, memburu Adrian yang masih terpaku di depan pintu baja tebal itu.Di luar, semburat fajar mulai memecah kegelapan Danau Hitam, mengubah langit menjadi biru kelabu yang dingin.Adrian berkali-kali mencoba memasukkan kombinasi angka yang mungkin berkaitan dengan Marco, tanggal lahir, kode lencana, hingga nomor pelarian lamanya ... namun panel digital itu terus berkedip merah, membalas dengan bunyi 'TIT' pendek yang menolak aksesnya."Adrian, dengarkan aku dulu." Suara Darko memecah keheningan melalui earpiece, kali ini tidak lagi terdengar dari balik meja komputernya. Ada deru angin dan suara gesekan ranting di latar belakang suaranya."Ya, bagaimana?""Kau harus .... "Suara itu terputus-putus."Dark? Suaramu berubah. Kau
"Jangan putus komunikasi ini!" tegas Darko di tengah-tengah rasa cemasnya."Ya," sahut Adrian datar.Adrian berhasil menyelinap masuk melalui celah pintu bawah yang berhasil diretas Darko.Begitu kakinya menapak di dalam ruangan, keheningan yang pekat dan aroma khas besi tua yang berkarat langsung menyambutnya.Udara di dalam sini terasa sangat pengap, dingin, dan dipenuhi debu tebal yang langsung membuat tenggorokannya terasa gatal.Dengan menggunakan senter taktis yang disorotkan rendah ke lantai, Adrian mulai menjelajahi ruangan yang luas itu.Ini adalah bagian terdalam dari bangunan kosong yang terhubung dengan sisa-sisa jaringan bawah tanah Marco.Di sekelilingnya, deretan lemari besi tua dan sisa-sisa instalasi pipa pembuangan air tampak seperti monster logam yang membeku dalam kegelapan.Adrian melangkah deng
Di tempat berbeda, Adrian tengah berusaha menyelesaikan missi berbahayanya.Saat ini ia sedang berjongkok di balik sisa-sisa pilar beton bangunan bekas pabrik pengolahan air yang lembab.Dari celah dinding yang retak, ia menempelkan teropong night vision ke matanya. Melalui pendaran visual hijau monokrom itu, Adrian mengamati situasi dengan napas tertahan.Kondisi bangunan kosong tempatnya berada memang sunyi senyap, sesuai dengan prediksi Darko. Namun, masalah besarnya terletak tepat di seberang tembok pembatas.Pabrik pengolahan kayu yang berdiri persis di sebelah bangunan ini tampak sangat hidup.Cahaya lampu tembak menerangi setiap sudut halaman pabrik tersebut. Di sana, setidaknya ada enam orang pria tegap dengan seragam taktis hitam dan senjata laras panjang berpatroli secara berkala. Mereka adalah Vultures."Adrian, kau sudah di dalam?" Suara Darko b







