Home / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Kamu Selingkuh?

Share

Kamu Selingkuh?

Author: Dita SY
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-29 14:51:50
"Halo, Sayang." Dirga berbicara dengan Febby di dalam telepon. Namun, suara istrinya itu tidak terdengar. Hanya ada suara hembusan napas panjang dari ujung sana.

Dirga dan Barta saling tatap. Dokter Bedah itu mengatakan, "Kenapa? Apa Febby tidak mau bicara?"

Dirga menggeleng saat mendengar suara Kesayangan yang akhirnya berbicara, "Halo, Sayang. Ada apa?" tanyanya.

"Tolong pulang Mas, aku mau bicara. Sebelum pulang, tolong kamu mampir ke toko es krim sebentar. Belikan Farah dan Dylan es
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (11)
goodnovel comment avatar
Risma Cak
udh kyk sinetron di sctv
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Barta sudah mencoba menjadi penengah antara Febby dan Dirga. Sekarang giliran Dirga yang HARUS bercerita terhadap Febby mulai awal hingga akhir tentang pertemuannya dengan Jelita dan Tania. Jangan ada yang ditutupi sama sekali Dirga.
goodnovel comment avatar
Mbu Azzahra
bikin greget lh cma 1 abad 1 abd muncul ny knp sh dlama2n
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 622: Terkunci

    "Jangan putus komunikasi ini!" tegas Darko di tengah-tengah rasa cemasnya."Ya," sahut Adrian datar.Adrian berhasil menyelinap masuk melalui celah pintu bawah yang berhasil diretas Darko.Begitu kakinya menapak di dalam ruangan, keheningan yang pekat dan aroma khas besi tua yang berkarat langsung menyambutnya.Udara di dalam sini terasa sangat pengap, dingin, dan dipenuhi debu tebal yang langsung membuat tenggorokannya terasa gatal.​Dengan menggunakan senter taktis yang disorotkan rendah ke lantai, Adrian mulai menjelajahi ruangan yang luas itu.Ini adalah bagian terdalam dari bangunan kosong yang terhubung dengan sisa-sisa jaringan bawah tanah Marco.Di sekelilingnya, deretan lemari besi tua dan sisa-sisa instalasi pipa pembuangan air tampak seperti monster logam yang membeku dalam kegelapan.​Adrian melangkah deng

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 621: Nekat!

    Di tempat berbeda, Adrian tengah berusaha menyelesaikan missi berbahayanya.Saat ini ia sedang berjongkok di balik sisa-sisa pilar beton bangunan bekas pabrik pengolahan air yang lembab.Dari celah dinding yang retak, ia menempelkan teropong night vision ke matanya. Melalui pendaran visual hijau monokrom itu, Adrian mengamati situasi dengan napas tertahan.​Kondisi bangunan kosong tempatnya berada memang sunyi senyap, sesuai dengan prediksi Darko. Namun, masalah besarnya terletak tepat di seberang tembok pembatas.Pabrik pengolahan kayu yang berdiri persis di sebelah bangunan ini tampak sangat hidup.Cahaya lampu tembak menerangi setiap sudut halaman pabrik tersebut. Di sana, setidaknya ada enam orang pria tegap dengan seragam taktis hitam dan senjata laras panjang berpatroli secara berkala. Mereka adalah Vultures.​"Adrian, kau sudah di dalam?" Suara Darko b

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 620: Serba-Salah

    Lama Intan terpaku di atas sofa, membiarkan dilema hebat mengoyak batinnya.Namun, dorongan naluri seorang istri ternyata jauh lebih kuat daripada rasa takutnya.Tepat pukul setengah empat pagi, di saat langit Jakarta masih pekat dan udara malam terasa sangat menusuk, Intan bangkit berdiri. Wajahnya yang pucat kini menyiratkan sebuah ketetapan hati yang nekat.​"Ibu ... beneran mau pergi?" Mbak Lastri bertanya dengan nada sangat cemas saat melihat Intan meraih kunci mobil di atas meja.​"Saya harus pergi, Mbak. Maaf ya, saya titip Maura. Tolong jaga dia baik-baik. Saya janji tidak akan lama," jawab Intan dengan suara parau namun tegas.​Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Intan melangkah ke luar dari apartemen. Di area parkir bawah tanah yang sepi, ia masuk ke dalam mobil Avanza Hitam mobil baru yang sengaja dibelikan Adrian beberapa bulan lalu agar ia bisa bepergian dengan aman

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 619: Bimbang

    "Kok belum datang?" Intan menoleh ke arah pintu apartemen, tak ada tanda-tanda orang datang.Jam dinding di apartemen terus berdetik hingga jarumnya menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit.Intan menghela napas kian panjang, dengan perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya.Detik-detik berlalu. Setelah penantian yang terasa seperti berabad-abad bagi Intan, bel pintu akhirnya berbunyi pelan.Intan langsung bergegas membuka pintu dan menemukan Mbak Lastri yang berdiri dengan napas sedikit terengah-engah, ditemani suaminya yang mengantar sampai ke depan pintu unit apartemen.​"Mbak Lastri, terima kasih banyak sudah datang ke sini. Maaf merepotkan," ucap Intan lirih, dengan kedua manik mata yang berkaca-kaca.Ia menyalami suami Mbak Lastri yang kemudian berpamitan untuk menunggu di lobi bawah.​"Sama-sama, Bu Intan. Maaf sebelumnya ya B

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 618: Semakin Cemas

    Di rumah Nila, suara desah dan lenguh yang terdengar memenuhi ruang kamar. Sementara di apartemen, suara jantung Intan berdegup cepat seperti genderang.Di dalam apartemen yang sunyi itu, Intan berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah yang tak tenang.Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari. Kecemasannya terhadap Adrian sudah berada di titik puncak.Sebagai seorang istri dari seorang Detektif, ia tahu bahwa ketika ponsel Adrian mati di tengah malam tanpa ada kabar apa pun, itu bukanlah pertanda baik.​"Aku harus mencarinya," gumam Intan pada diri sendiri, jemarinya meremas ujung daster yang ia kenakan dengan kuat-kuat.​Namun, tepat ketika ia hendak meraih kunci mobil di atas meja, langkahnya terhenti.Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di kamar itu ada anak perempuannya yang belum genap berusia d

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 617: Perkasa ++

    "Siapa yang nelepon Sweety?" tanya Andi sambil menatap punggung istrinya dengan senyuman mesum."Intan Mas," jawab Nila.Ia meletakkan ponsel di atas meja rias dengan helaan napas panjang. Pikirannya masih sedikit tertinggal pada curhatan Intan yang terdengar sangat cemas.Namun, begitu ia membalikkan tubuh dan melangkah kembali ke arah tempat tidur, suasana di dalam kamar langsung terasa sangat berbeda.Ketegangan karena rasa khawatir seketika menguap, digantikan oleh ketegangan jenis lain yang jauh lebih mendebarkan.​Di bawah temaram lampu tidur yang memancarkan cahaya kuning keemasan, Andi, sedang bersandar di tumpukan bantal.Pria itu sama sekali belum memejamkan mata. Sebaliknya, tatapannya begitu tajam dan fokus, langsung terkunci pada sosok Nila yang hanya mengenakan lingerie satin tipis berwarna merah marun.​Andi menyunggingkan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status