LOGINAnaya Chandrawinata tidak pernah melupakan malam yang menghancurkan hidupnya. Malam ketika ia hampir kehilangan kehormatannya dan seorang pria asing datang menyelamatkannya. Pria itu bernama Gilang Alvaro. Tukang ojek online berambut gondrong dengan sikap dingin dan kata-kata kasar yang selalu membuatnya kesal. Bukan pria yang pantas berada di dunia Anaya putri keluarga terpandang yang hidupnya selalu diatur demi nama besar keluarga. Namun sebuah skandal memaksa mereka menikah. Pernikahan yang lahir dari paksaan. Tanpa cinta. Tanpa kepercayaan. Bagi Anaya, Gilang hanyalah suami aneh yang hidupnya tidak jelas sering pulang larut malam, bekerja serabutan, dan terlihat terlalu akrab dengan wanita lain. Sampai suatu malam semuanya berubah. Sebuah malam yang tidak ia ingat. Sebuah kesalahan yang tidak pernah ia pahami. Dan sebuah kepergian yang meninggalkan luka mendalam. Anaya merasa hina dan dia pun menghilang. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Seolah pria itu tak pernah ada dalam hidupnya. Tahun demi tahun berlalu. Anaya mencoba membangun hidup baru bersama putrinya, Risa satu-satunya alasan ia tetap kuat menghadapi dunia. Sampai suatu hari, seorang pria muncul sebagai pengawal pribadi putrinya. Pria asing berwajah dingin. Tatapannya tajam. Dan entah kenapa terasa begitu familiar. Anaya tidak tahu bahwa pria itu menyimpan rahasia besar tentang dirinya. Tentang masa lalu mereka. Dan tentang anak yang selama ini ia besarkan sendirian. Karena kadang… orang yang paling kita benci adalah orang yang paling sulit kita lupakan. Dan kadang… pria yang kembali ke hidupmu bukan sekadar masa lalu. melainkan jawaban atas semua rahasia yang selama ini kamu cari.
View MoreMatahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng
Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t
Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m
Gilang melirik jam di pergelangan tangannya."Waktuku habis."Ia berdiri sambil mengambil topi satpam yang sejak tadi diletakkan di atas meja.Naya ikut berdiri."Mau berangkat?""Iya."Gilang mengenakan topinya, lalu mengambil tas ransel hitam yang tergantung di dekat pintu.Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu..."Gil..."Suara pelan itu membuat langkahnya berhenti.Gilang menoleh."Usia jauh lebih tua darimu! Panggil aku Mas atau panggilan sayang lebih bagus."Naya tampak berdiri sambil memainkan ujung bajunya.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu terlihat benar-benar canggung."Ada apa?"Naya menggaruk pelan pipinya."Itu...""Ya?""Aku mau jemput putriku hari ini."Gilang mengangguk."Iya.""Terus..."Naya kembali terdiam.Seolah sedang menyusun keberanian."Aku juga mau cari rumah kontrakan."Alis Gilang sedikit terangkat."Kontrakan?""Iya."Naya mengangguk pelan."Apartemen ini terlalu kecil.""Kalau putriku datang...""Masih ada pengasuhnya juga.""
Pernikahan yang seharusnya digelar besar-besaran itu akhirnya dibatalkan.Hanya dalam satu hari.Satu hari yang cukup untuk membuat seluruh keluarga Wulan berada dalam kekacauan.Dan pusat dari semua kekacauan itu adalah satu orang.Naya.Pagi itu ruang makan terasa sunyi.Tidak ada suara sendok be
Di dalam mobil. Suasana sebenarnya tenang.Terlalu tenang. Dan itu justru membuat Pak Ahmad waspada. Karena selama mengenal Risa, kalau anak itu diam terlalu lama, biasanya sedang merencanakan sesuatu.Dan benar saja. Risa duduk di kursi belakang sambil memeluk boneka kelincinya.Wajahnya serius.S
Tatapan Gilang dan Eyang Wulan bertemu di tengah ruangan.Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.Namun suasana terasa semakin menekan.Eyang Wulan akhirnya mendengus dingin."Bagus."Suaranya pelan."Ternyata kamu memang suaminya."Naya sempat menghela napas lega.Namun kelegaan itu hanya
Pintu ruangan hotel terbuka lebar.Lampu kristal menggantung megah di atas kepala.Semua mata langsung tertuju pada Naya dan Gilang yang masuk berdampingan.Atau lebih tepatnya bergandengan.Tangan Naya masih melingkar di lengan Gilang meski jantungnya belum kembali normal sejak tadi.Sementara Gil






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews