LOGINPandanganku kabur. Kantuk yang janggal menyerang hebat saat aku menyetir di tepian jurang. Detik berikutnya, duniaku terbalik. Mobil beradu dengan batu. Tubuhku terhempas berkali-kali. Di sisa-sisa kesadaran, aku melihat cairan merah pekat mengucur deras di antara sela paha. Seketika hatiku hancur melebihi tulang-tulangku yang patah. Itu darah anakku! Buah hati yang baru akan kukabarkan pada suami tercinta. Kupikir aku sedang sial hingga mengalami kecelakaan maut. Ternyata, fakta mengejutkan terkuak. Suamiku bersekongkol dengan adikku sendiri. Aku mati dengan dendam membara. Kali ini takkan ada cinta. Hanya ada rencana untuk menghancurkan mereka, mengirim keduanya ke dasar neraka.
View More“Gea, minum dulu kopinya! Mumpung masih panas. Biar nggak ngantuk nanti di jalan.” Bibir Kalila bergerak pelan supaya aku bisa membacanya.
Pasti dia berbicara dengan lembut. Aku masih ingat dengan jelas suara dia yang kekanak-kanakan.
Kalila Anindya berdiri di depanku sambil mengulurkan segelas kopi dalam paper cup. Aku memang biasa punya stok gelas berbahan kertas itu. Mas Kavi, suamiku, sering minta dibuatkan untuk diminum selama perjalanan ke kantor.
“Thanks ya, Kal. Kamu memang paling pengertian.” Aku tersenyum lebar, lalu mencubit pelan pipi halus adik angkatku itu. Kami sebetulnya sebaya. Hanya selisih beberapa bulan saja.
Kalila selalu tampak seperti peri di mataku. Dia begitu manis dengan gaun peach, salah satu warna favoritnya.
Kalila adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk melengkapi duniaku yang sunyi. Sejak kecelakaan masa kecil merenggut pendengaranku, dialah yang menjadi sepasang telinga baru bagiku. Dia menerjemahkan dunia untukku. Dia selalu ada di sisiku, melindungi dari cemoohan orang-orang.
“Yakin mau nyetir sendiri ke Tretes? Ini udah mau malam, lho. Kenapa nggak minta dianter aja sama sopir?” Kalila menatapku dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca. Raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang tulus.
“Hei, aku ini cuma tuli, Kal. Bukan buta,” sahutku, lalu tertawa. “Aku mau kasih kejutan buat Mas Kavi. Kamu tahu, kan, hari ini adalah first anniversary kami. Masa iya sih dilewatkan begitu saja.”
“Iya, tapi, kan, bisa dianter sama sopir, Gea. Habis itu, sopir langsung kamu suruh balik ke sini biar nggak ganggu kalian.” Kalila masih saja bersikukuh.
Aku menggeleng mantap. “Aku mau sendirian dan kasih kejutan. Mas Kavi sudah banyak berkorban buatku, Kal. Jadi, aku mau tunjukkan juga. Ini ... salah satu perjuangan dan pengorbananku buat dia. Nyetir sendiri ke Tretes.”
Kavindra Dirgantara adalah definisi pria dan suami yang sempurna. Dia yang dulu cuma mahasiswa sederhana, rela bekerja keras demi membangun kembali kejayaan perusahaan ayahku di Surabaya.
Dia tidak pernah malu punya istri tuli sepertiku. Sebaliknya, dia selalu memperlakukan aku layaknya ratu. Setiap hari dia rela menempuh perjalanan Surabaya-Malang hanya demi bisa memelukku sebelum tidur. Cinta Mas Kavi adalah satu-satunya alasan aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.
“Ingat ya, jangan bilang ke Mas Kavi kalau aku nyusul dia ke Tretes. Aku punya kado spesial yang nggak bakal dia lupakan seumur hidup,” ujarku sambil mengusap pelan perutku. Gerakan refleks. Sebuah rahasia yang bahkan Kalila pun belum tahu.
“Kamu selalu kayak gitu, deh. Lebih mentingin aku sama Kavi.” Kalila cemberut manis, lalu memelukku erat.
“Makasih banyak ya. Hati-hati di jalan. Kabari aku kalo udah nyampe. Satu lagi, nggak usah ngebut-ngebut. Pelan-pelan aja, yang penting selamat,” imbuh Kalila setelah melerai pelukan.
Dia begitu lembut dan rapuh. Ayah selalu berpesan agar aku menjaga Kalila karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibunya meninggal ketika melahirkan dia dan sang ayah bunuh diri setelah bisnisnya bangkrut. Perusahaan yang kemudian diakuisisi oleh ayahku.
Kalila bukan sebatas adik angkat bagiku. Dia adalah adik kandung yang harus aku pastikan kebahagiaannya.
“Nanti aku habiskan di jalan ya,” kataku sambil mengangkat paper cup di tangan kanan. Rasanya sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena Kalila menambah takaran bubuk kopinya biar aku tidak mengantuk.
“Yang penting harus habis!” tegas Kalila dengan mata membulat.
Aku segera masuk ke mobil SUV putihku dan meninggalkan rumah yang asri di Malang kota. Perjalanan menuju Tretes butuh waktu sekitar satu jam. Tidak terlalu jauh.
Selama menyetir, ponselku terus bergetar di dasbor mobil. Pesan dari Kalila masuk bertubi-tubi.
[Jangan lupa liat spion terus ya. Kan, kamu nggak bisa denger kalo ada yang klakson dari belakang.]
[Fokus ya. Jalannya curam dan banyak jurang.]
Aku tersenyum haru membaca pesan-pesan itu. Betapa dia sangat menyayangiku. Aku sengaja tidak membalas. Kalau membalas, Kalila pasti akan lebih marah lagi.
“Lagi nyetir, nggak boleh pegang HP!” Dia selalu ngomel kalau ada orang pegang ponsel sambil menyetir.
Aku teringat hasil pemeriksaan dokter siang tadi. Secarik kertas yang menyatakan aku positif hamil. Itulah kado spesial yang ingin aku berikan ke Mas Kavi. Kado terbaik yang bisa aku berikan di hari anniversary pernikahan kami.
Aku membayangkan wajah tampannya yang mirip aktor Korea itu akan berseri-seri. Bahkan, mungkin dia akan menangis terharu atau menggendongku berputar-putar.
Mobilku mulai memasuki wilayah Prigen. Udara dingin pegunungan mulai menusuk, mengalahkan hawa dingin yang disemburkan AC di dalam kendaraan. Kabut tipis merayap turun, menyelimuti jalanan yang mulai berkelok-kelok.
Aku terus melirik ke arah spion, memastikan tidak ada kendaraan yang membahayakan di sekitarku.
Tiba-tiba kepala terasa sangat berat. Pandangan yang tadinya tajam mengawasi jalanan mulai berbayang. Aku berkedip berkali-kali, coba mengusir rasa kantuk yang datang secara tidak wajar.
Aneh! Bukannya aku baru saja minum kopi? Mestinya aku segar bugar.
Kenapa ... kenapa mataku berat sekali?
“Aku Gea.” Aku menjawab singkat.Kulit tangan kami sempat bersentuhan selama beberapa detik, tetapi cukup untuk mengalirkan gelenyar istimewa yang aku tidak tahu itu apa. Ada rasa nyaman, tenang, dan membuat hati berbunga secara tiba-tiba. Apakah itu cinta pada pandangan pertama? Mungkin saja. Tanpa aku sangka, Kavi tiba-tiba menyodorkan telepon genggam. “Nomormu. Aku mau traktir kamu kopi kalau tugasku sukses di depan dosen.” Kavi tergolong pemuda berpenampilan rapi meski tidak terlalu trendi. Gadis mana yang bisa menolak pesonanya?“Kenapa harus traktir aku?” Dahiku mengernyit, seakan protes, tetapi tangan tetap saja menyambut uluran benda pipih berwarna biru tua itu, lalu mulai mengetikkan sederet nomor sembari sesekali memperhatikan wajahnya.Aku harus benar-benar teliti membaca gerak bibirnya. Kavi belum tahu kalau aku tuli.“Kamu yang mengingatkan aku soal kancing ini. Pasti performa aku jelek di depan dosen kalau kamu tidak bilang. Anggap saja sebagai ucapan terima ka
Mungkin memang terdengar aneh. Aku seakan tidak menjaga rahasia tentang strategi perlawanan terhadap Kavi dan Kalila, malah terkesan membocorkan. Itu karena aku punya pertimbangan sendiri. “Justru dengan begitu, mereka nggak akan sembarangan melenyapkan aku karena tahu kalau mereka nggak akan dapat apa-apa. Biarkan mereka berpikir lebih keras dan mencari cara untuk mengamankan hartaku. Kita buat mereka sibuk biar bisa ulur waktu sambil mempersiapkan serangan berikutnya.” Aku tersenyum tipis.Leon yang dari tadi sibuk berkutat dengan ponselnya, berhenti selama beberapa jenak. Matanya beralih menatapku, lalu ikut memulas senyum. Itu tandanya dia setuju dengan pemikiranku.Memang salah satu tujuan membuat surat wasiat adalah untuk mengamankan diriku sendiri. Kavi dan Kalila pasti akan menyelidiki soal isi dari surat wasiat yang aku buat hari ini. Tidak mungkin mereka bertanya ke aku. Kavi dan Kalila bisa dengan mudah bertanya ke tim legal perusahaan.Meski bersifat pribadi dan rahasia,
Untung saja suami Mei tidak marah. Dia ikut mendengarkan cerita dari mulut Mei dengan saksama.Seperti yang sudah aku dan Leon duga, Mei memang berhasil memergoki adegan panas yang terjadi di rumah. Pintu kamar masih terbuka. Kavi dan Kalila tengah bercengkerama di tempat tidur pasca bercinta. Tubuh mereka sama-sama polos, tanpa sehelai benang pun yang menempel.Mei berhasil merekam sebentar. Sialnya, telepon genggam dia bergetar karena sang suami menelepon. Kavi dan Kalila yang mendengar suara getaran itu segera mengejar. Belum sempat mencapai pintu utama, Kavi sudah berhasil mencekal baju Mei.“Aku langsung alasan mau ambil baju kamu, Ge. Jadi, nggak sengaja lihat mereka selingkuh. Dan aku udah janji, nggak bakal ngomong apa-apa sama kamu.” Kami mendengarkan dengan jantung berdebar.“Pas itu, suamiku nelepon lagi. Aku buru-buru angkat dan bilang kalau lagi di rumah kamu. Maksud aku, biar bisa buru-buru pulang sebagai alasan. Eh, malah ditinju sama suami kamu.” Mei memperagakan deng
Jantungku langsung berdetak cepat begitu melihat wajah cemas Leon.“Mei ada di rumah sakit ini,” kata Leon.“Maksud kamu, dia mau nengok aku? Terus, di mana dia? Sini, suruh masuk!” Sontak aku menoleh ke arah pintu. Dari semalam aku menunggu kabar dari Mei, tetapi dia seperti lenyap ditelan bumi. Aku telanjur ketiduran. “Dia dirawat di sini juga, Ge.”Ucapan Leon sukses membuat mataku membelalak sempurna. Mei dirawat di rumah sakit ini juga? Kenapa?“Kavi memukul kepalanya. Alasan dia, dikira pencuri.” Belum sempat aku bertanya, Leon sudah menjelaskan.“Bawa aku ke sana, Leon.” Spontan aku berdiri. Hampir saja jatuh kalau Leon tidak buru-buru memegangi tubuhku. Ternyata aku belum begitu kuat.“Aku ambilkan kursi roda dulu.” Dengan cekatan, Leon mendudukkan aku kembali ke ranjang, lalu dia ke luar ruangan.Aku memegangi kepala yang terasa berdenyut dan membuat pandangan seperti berputar-putar. Dasar bodoh! Saking khawatirnya dengan keadaan Mei, aku lupa kalau kondisiku sendiri masih


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews