Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!

Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!

last updateLast Updated : 2026-04-06
By:  Canting KiranaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
33Chapters
377views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pandanganku kabur. Kantuk yang janggal menyerang hebat saat aku menyetir di tepian jurang. Detik berikutnya, duniaku terbalik. Mobil beradu dengan batu. Tubuhku terhempas berkali-kali. Di sisa-sisa kesadaran, aku melihat cairan merah pekat mengucur deras di antara sela paha. Seketika hatiku hancur melebihi tulang-tulangku yang patah. Itu darah anakku! Buah hati yang baru akan kukabarkan pada suami tercinta. Kupikir aku sedang sial hingga mengalami kecelakaan maut. Ternyata, fakta mengejutkan terkuak. Suamiku bersekongkol dengan adikku sendiri. Aku mati dengan dendam membara. Kali ini takkan ada cinta. Hanya ada rencana untuk menghancurkan mereka, mengirim keduanya ke dasar neraka.

View More

Chapter 1

Kado Istimewa

“Gea, minum dulu kopinya! Mumpung masih panas. Biar nggak ngantuk nanti di jalan.” Bibir Kalila bergerak pelan supaya aku bisa membacanya.

Pasti dia berbicara dengan lembut. Aku masih ingat dengan jelas suara dia yang kekanak-kanakan.

Kalila Anindya berdiri di depanku sambil mengulurkan segelas kopi dalam paper cup. Aku memang biasa punya stok gelas berbahan kertas itu. Mas Kavi, suamiku, sering minta dibuatkan untuk diminum selama perjalanan ke kantor.

“Thanks ya, Kal. Kamu memang paling pengertian.” Aku tersenyum lebar, lalu mencubit pelan pipi halus adik angkatku itu. Kami sebetulnya sebaya. Hanya selisih beberapa bulan saja.

Kalila selalu tampak seperti peri di mataku. Dia begitu manis dengan gaun peach, salah satu warna favoritnya.

Kalila adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk melengkapi duniaku yang sunyi. Sejak kecelakaan masa kecil merenggut pendengaranku, dialah yang menjadi sepasang telinga baru bagiku. Dia menerjemahkan dunia untukku. Dia selalu ada di sisiku, melindungi dari cemoohan orang-orang.

“Yakin mau nyetir sendiri ke Tretes? Ini udah mau malam, lho. Kenapa nggak minta dianter aja sama sopir?” Kalila menatapku dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca. Raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang tulus.

“Hei, aku ini cuma tuli, Kal. Bukan buta,” sahutku, lalu tertawa. “Aku mau kasih kejutan buat Mas Kavi. Kamu tahu, kan, hari ini adalah first anniversary kami. Masa iya sih dilewatkan begitu saja.”

“Iya, tapi, kan, bisa dianter sama sopir, Gea. Habis itu, sopir langsung kamu suruh balik ke sini biar nggak ganggu kalian.” Kalila masih saja bersikukuh.

Aku menggeleng mantap. “Aku mau sendirian dan kasih kejutan. Mas Kavi sudah banyak berkorban buatku, Kal. Jadi, aku mau tunjukkan juga. Ini ... salah satu perjuangan dan pengorbananku buat dia. Nyetir sendiri ke Tretes.” 

Kavindra Dirgantara adalah definisi pria dan suami yang sempurna. Dia yang dulu cuma mahasiswa sederhana, rela bekerja keras demi membangun kembali kejayaan perusahaan ayahku di Surabaya.

Dia tidak pernah malu punya istri tuli sepertiku. Sebaliknya, dia selalu memperlakukan aku layaknya ratu. Setiap hari dia rela menempuh perjalanan Surabaya-Malang hanya demi bisa memelukku sebelum tidur. Cinta Mas Kavi adalah satu-satunya alasan aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.

“Ingat ya, jangan bilang ke Mas Kavi kalau aku nyusul dia ke Tretes. Aku punya kado spesial yang nggak bakal dia lupakan seumur hidup,” ujarku sambil mengusap pelan perutku. Gerakan refleks. Sebuah rahasia yang bahkan Kalila pun belum tahu.

“Kamu selalu kayak gitu, deh. Lebih mentingin aku sama Kavi.” Kalila cemberut manis, lalu memelukku erat.

“Makasih banyak ya. Hati-hati di jalan. Kabari aku kalo udah nyampe. Satu lagi, nggak usah ngebut-ngebut. Pelan-pelan aja, yang penting selamat,” imbuh Kalila setelah melerai pelukan.

Dia begitu lembut dan rapuh. Ayah selalu berpesan agar aku menjaga Kalila karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibunya meninggal ketika melahirkan dia dan sang ayah bunuh diri setelah bisnisnya bangkrut. Perusahaan yang kemudian diakuisisi oleh ayahku.

Kalila bukan sebatas adik angkat bagiku. Dia adalah adik kandung yang harus aku pastikan kebahagiaannya.

“Nanti aku habiskan di jalan ya,” kataku sambil mengangkat paper cup di tangan kanan. Rasanya sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena Kalila menambah takaran bubuk kopinya biar aku tidak mengantuk.

“Yang penting harus habis!” tegas Kalila dengan mata membulat.

Aku segera masuk ke mobil SUV putihku dan meninggalkan rumah yang asri di Malang kota. Perjalanan menuju Tretes butuh waktu sekitar satu jam. Tidak terlalu jauh.

Selama menyetir, ponselku terus bergetar di dasbor mobil. Pesan dari Kalila masuk bertubi-tubi.

[Jangan lupa liat spion terus ya. Kan, kamu nggak bisa denger kalo ada yang klakson dari belakang.]

[Fokus ya. Jalannya curam dan banyak jurang.]

Aku tersenyum haru membaca pesan-pesan itu. Betapa dia sangat menyayangiku. Aku sengaja tidak membalas. Kalau membalas, Kalila pasti akan lebih marah lagi.

“Lagi nyetir, nggak boleh pegang HP!” Dia selalu ngomel kalau ada orang pegang ponsel sambil menyetir.

Aku teringat hasil pemeriksaan dokter siang tadi. Secarik kertas yang menyatakan aku positif hamil. Itulah kado spesial yang ingin aku berikan ke Mas Kavi. Kado terbaik yang bisa aku berikan di hari anniversary pernikahan kami.

Aku membayangkan wajah tampannya yang mirip aktor Korea itu akan berseri-seri. Bahkan, mungkin dia akan menangis terharu atau menggendongku berputar-putar.

Mobilku mulai memasuki wilayah Prigen. Udara dingin pegunungan mulai menusuk, mengalahkan hawa dingin yang disemburkan AC di dalam kendaraan. Kabut tipis merayap turun, menyelimuti jalanan yang mulai berkelok-kelok.

Aku terus melirik ke arah spion, memastikan tidak ada kendaraan yang membahayakan di sekitarku.

Tiba-tiba kepala terasa sangat berat. Pandangan yang tadinya tajam mengawasi jalanan mulai berbayang. Aku berkedip berkali-kali, coba mengusir rasa kantuk yang datang secara tidak wajar.

Aneh! Bukannya aku baru saja minum kopi? Mestinya aku segar bugar.

Kenapa ... kenapa mataku berat sekali?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Zoya Dmitrovka
Zoya Dmitrovka
ayo update, author
2026-04-23 00:11:56
1
0
Papa Buaya
Papa Buaya
Gas update Thor
2026-03-13 09:54:55
5
0
33 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status