Share

Masih Hidup

Penulis: Dita SY
last update Tanggal publikasi: 2025-11-07 14:22:25

Kedua mata Tania membulat sempurna setelah mendengar kata-kata sang Ayah.

Dengan langkah kaki cepat ia menghampiri pria itu lalu berdiri di depan sofa panjang.

"Apa yang Papa lakukan? Aku nggak mau Papa merusak rencanaku. Anak itu ... dia sama sekali nggak salah." Tania meninggikan suaranya sambil menunjuk layar televisi yang memperlihatkan penderitaan Dylan.

Pria bertatto yang mengenakan jas putih tanpa kemeja itu, mendongak, menatap anaknya. "Anggap saja ini hukuman karena kedua orang tuanya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Parti Wydara Ayu
cerita nya knp jd kyk sinetron indosiar sih kak......muter2 konflik nya
goodnovel comment avatar
Missna Wati
Hrusny jgn d batas bacanya,toh jg pake iklan jg. biar cepet selesai baca yg ini lnjut baca yg lain. krna karakter orang baca beda2 ada yg bosenan. ada yg Pngin cepet selesaikan baca biar pndah judul lain
goodnovel comment avatar
Sya Sakinah Erh
cerita ini trlalu sedikit untuk di namakan 1 bab. biasa nya bab itu lumayan panjang.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 611: Catatan Rahasia

    Adrian terdiam sejenak, menatap lekat ke dalam mata Dylan yang seolah-olah mampu menembus lapisan rahasia yang ia simpan.​"Dylan, kamu benar. Ada sesuatu yang tidak dikatakan orang tuamu karena mereka ingin melindungimu," bisik Adrian sambil memajukan posisi duduknya."Iya Om, aku paham tapi .... " Dylan menggantung ucapannya, kemudian Adrian melanjutkan."Kakek bertato naga itu ... dia ... sepertinya dia hubungan dengan pria bernama Marco. Marco adalah musuh besar Papamu di masa lalu. Tapi, dunia ini sempit. Marco juga adalah ayah biologis dari anak perempuan Tante Intan, bayi kami yang baru berusia satu tahun itu."​Dylan terkesiap. Ia tahu Tante Intan adalah wanita yang baru saja dinikahi Om Adrian. Berarti, ayah kandung atau setidaknya kerabat dari bayi kecil itu adalah orang yang muncul dalam kegelapannya.​"Marco sudah meninggal," lanjut Adrian dengan nada rendah. "Tapi wa

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 610: Masa Lalu

    Adrian meletakkan cangkir kopi yang sudah dingin ke atas meja kayu jati. Matanya yang tajam menatap Dirga, memberikan tatapan yang sulit diartikan.Sebagai seorang detektif yang telah bertahun-tahun berurusan dengan sisi gelap manusia, Adrian tahu bahwa ketenangan Dylan bukanlah sekadar bakat alami, melainkan sisa dari mekanisme pertahanan diri yang terbangun sejak kejadian kelam beberapa tahun lalu.​"Dok, apa aku boleh bicara dengan Dylan," ujar Adrian pelan namun penuh keyakinan. "Aku ingin tahu sesuatu, mungkin Dylan bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan aku dapat memahaminya."​Dirga mengerutkan dahi, tampak ragu. "Maaf, tapi dia sedang menjalani hukuman, Adrian. Aku tidak ingin dia merasa tindakannya kemarin bisa dinegosiasikan dengan kehadiranmu."​"Ini bukan soal negosiasi, Dok," potong Adrian. "Ini soal apa yang dia lihat di mimpinya. Kamu ingat Marco, kan? Mafia yang hampir meng

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 609: Curhat Bapak-Bapak

    Pada malam hari setelah selesai bekerja, Dirga duduk di ruang kerja yang beraroma kopi.Suasana terasa lebih berat dari biasanya, ia duduk bersandar di kursi kebesaran, menatap kosong ke arah jendela.Sementara di hadapannya, dua sahabat terdekat hadir ... Barta, dan Adrian. Setelah Adrian resmi menjadi suami Intan, hubungan Dirga dan Detektif itu semakin dekat, sudah seperti keluarga.Kedua laki-laki tampan itu sengaja datang ke istana Dirga setelah mendengar kabar tentang hilangnya Dylan, dan petualangan bocah pintar itu.​"Dia hampir mati. Kalau saja tim SAR telat sepuluh menit, mungkin ceritanya akan beda," gumam Dirga sambil memijat pelipisnya. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan polah anak laki-lakiku sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan petualangan seperti itu? Dulu, aku saja tidak berani untuk sekedar naik kendaraan umum seorang diri menuju sekolah. Dia masih SD, masih sangat kecil unt

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 608: Perjalanan Pulang

    Di dalam mobil yang melaju membelah sisa kabut pagi menuju Jakarta, suasana terasa begitu berat.Dylan duduk di kursi belakang, dibalut selimut tebal dan memegang botol air hangat yang diberikan petugas medis.Febby duduk di sampingnya, mendekap bahu putranya seolah tak mau kehilangan sedetik pun, sementara Dirga fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat.​Setelah keheningan yang cukup lama, Dylan akhirnya membuka suara.Suaranya kecil, serak, dan masih menyimpan sisa trauma.​"Daddy ... Mommy ... sebenarnya ada satu hal yang mau aku tanya," bisik Dylan. "Kalian harus jawab ya, Mommy, Daddy."​"Istirahat dulu, Dylan. Kamu baru saja melewati malam yang mengerikan, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, hmm," jawab Febby lembut, mencoba mengusap kotoran yang masih menempel di pipi anaknya.​"Tapi ini penting. Di sana ... tadi a

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 607: Pelukan yang Dirindukan

    Ketegangan di bawah rumah pohon itu mencapai puncak. Buaya muara tersebut, yang merasa terdesak oleh kepungan cahaya senter, mulai menunjukkan perilaku agresif.Ia menghantamkan moncong kerasnya ke batang pohon beringin tua itu berkali-kali. Setiap benturan membuat struktur rumah pohon di atasnya berderit ngeri.​"Komandan! Kayu penyangganya mulai retak!" teriak salah satu petugas SAR saat melihat papan lantai rumah pohon mulai miring."Rumah pohon itu sudah sangat usang dan berumur, pasti kayu-kayu di sana sudah sangat rapuh," ucap salah satu tim SAR merasa khawatir.​"Dylan, Giandra! Jangan bergerak ke pinggir!" perintah Dirga lantang, suaranya berusaha menutupi gemuruh jantungnya yang berpacu gila. "Tetap diam Sayang! Sebentar lagi kami akan ke sama menolong kalian berdua!""Kita harus secepatnya bergerak!"​Tim SAR segera mengeksekusi rencana darurat. Dua

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 606: Aku di sini!

    "Dylan! Giandra! Jawab Mommy, Nak!"​Suara itu kini bukan lagi sekadar sayup-sayup yang dibawa angin.Teriakan Febby terdengar begitu dekat, membelah kesunyian hutan yang mencekam.Kali ini, Giandra tidak bisa lagi menganggap itu sebagai halusinasi. Ia mendongak, matanya yang basah oleh air mata seketika melebar.​"Lan ... itu beneran suara Mommy kamu!" bisik Giandra dengan bibir yang gemetar karena kombinasi rasa dingin dan harapan yang mendadak muncul.​Dylan mengangguk cepat, tetapi ia tetap waspada. Di bawah kaki mereka, predator raksasa itu masih ada.Buaya muara tersebut seolah terusik oleh suara-suara manusia yang mendekat.Ekornya yang besar menghantam semak-semak, menciptakan suara kresek yang berat dan mengerikan.​"Kita harus kasih tanda, Gian. Tapi kita nggak bisa turun." Dylan berpikir cepat. 

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status