Share

Memastikan

Author: Dita SY
last update publish date: 2026-01-02 14:04:29

"Kau yakin anak itu anak Elina?" Prams menatap Wylan yang masih tercengang setelah mendengar jawabannya tadi.

"Saya yakin Tuan. Mari saya antar Anda ke sana." Wylan membungkukkan tubuh lalu melangkah cepat menuju mobil.

Di belakang, Prams mengikuti sambil menyelipkan senjata ke balik pinggang.

Setelah keduanya masuk, mobil itu pun melaju menuju rumah Elina di kawasan terpencil tengah Kota.

Kemungkinan jam sekarang ini Elina belum pulang dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Waktu yang tepat untuk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Melati
d saat seru² x dan d saat mnikmati membaca iklan x bikin emosi.trus bab lanjutan x iklan x bikin emosi memuncak ............
goodnovel comment avatar
Viranti Oktafiani
1 hari 5 bab klo bisa min
goodnovel comment avatar
Nty Namanya
kenapah cumah hanya satu bab kk ihh bikin gereget banget udah seru seru nihh malah satu bab jadi tangung kan deg degan nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 612: Melacak

    Setelah pulang dari rumah Dirga, Adrian menyibukkan diri dengan penemuannya. Alamat yang diberikan Dylan tadi akan menjadi jawaban dari pertanyaannya selama beberapa tahun ini.Di luar langit semakin gelap, namun cahaya biru dari layar monitor di apartemen pribadi Adrian masih menyala terang.Di hadapannya, tiga buah layar menampilkan barisan kode enkripsi yang bergerak cepat.Adrian tahu, denah yang digambar Dylan bukan sekadar coretan anak kecil ... itu adalah peta menuju Kotak Pandora milik Marco.​Ia meraih ponsel satelitnya dan melakukan panggilan melalui jalur terenkripsi.Tak lama, wajah seorang pria dengan kacamata tebal muncul di layar kecil. Dia adalah Darko, peretas kepercayaan Adrian yang berbasis di luar negeri.​"Kau membangunkanku di jam yang salah, Adrian," gerutu Darko sambil mengucek mata.​"Simpan keluhanmu, Dark. Aku m

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 611: Catatan Rahasia

    Adrian terdiam sejenak, menatap lekat ke dalam mata Dylan yang seolah-olah mampu menembus lapisan rahasia yang ia simpan.​"Dylan, kamu benar. Ada sesuatu yang tidak dikatakan orang tuamu karena mereka ingin melindungimu," bisik Adrian sambil memajukan posisi duduknya."Iya Om, aku paham tapi .... " Dylan menggantung ucapannya, kemudian Adrian melanjutkan."Kakek bertato naga itu ... dia ... sepertinya dia hubungan dengan pria bernama Marco. Marco adalah musuh besar Papamu di masa lalu. Tapi, dunia ini sempit. Marco juga adalah ayah biologis dari anak perempuan Tante Intan, bayi kami yang baru berusia satu tahun itu."​Dylan terkesiap. Ia tahu Tante Intan adalah wanita yang baru saja dinikahi Om Adrian. Berarti, ayah kandung atau setidaknya kerabat dari bayi kecil itu adalah orang yang muncul dalam kegelapannya.​"Marco sudah meninggal," lanjut Adrian dengan nada rendah. "Tapi wa

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 610: Masa Lalu

    Adrian meletakkan cangkir kopi yang sudah dingin ke atas meja kayu jati. Matanya yang tajam menatap Dirga, memberikan tatapan yang sulit diartikan.Sebagai seorang detektif yang telah bertahun-tahun berurusan dengan sisi gelap manusia, Adrian tahu bahwa ketenangan Dylan bukanlah sekadar bakat alami, melainkan sisa dari mekanisme pertahanan diri yang terbangun sejak kejadian kelam beberapa tahun lalu.​"Dok, apa aku boleh bicara dengan Dylan," ujar Adrian pelan namun penuh keyakinan. "Aku ingin tahu sesuatu, mungkin Dylan bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan aku dapat memahaminya."​Dirga mengerutkan dahi, tampak ragu. "Maaf, tapi dia sedang menjalani hukuman, Adrian. Aku tidak ingin dia merasa tindakannya kemarin bisa dinegosiasikan dengan kehadiranmu."​"Ini bukan soal negosiasi, Dok," potong Adrian. "Ini soal apa yang dia lihat di mimpinya. Kamu ingat Marco, kan? Mafia yang hampir meng

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 609: Curhat Bapak-Bapak

    Pada malam hari setelah selesai bekerja, Dirga duduk di ruang kerja yang beraroma kopi.Suasana terasa lebih berat dari biasanya, ia duduk bersandar di kursi kebesaran, menatap kosong ke arah jendela.Sementara di hadapannya, dua sahabat terdekat hadir ... Barta, dan Adrian. Setelah Adrian resmi menjadi suami Intan, hubungan Dirga dan Detektif itu semakin dekat, sudah seperti keluarga.Kedua laki-laki tampan itu sengaja datang ke istana Dirga setelah mendengar kabar tentang hilangnya Dylan, dan petualangan bocah pintar itu.​"Dia hampir mati. Kalau saja tim SAR telat sepuluh menit, mungkin ceritanya akan beda," gumam Dirga sambil memijat pelipisnya. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan polah anak laki-lakiku sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan petualangan seperti itu? Dulu, aku saja tidak berani untuk sekedar naik kendaraan umum seorang diri menuju sekolah. Dia masih SD, masih sangat kecil unt

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 608: Perjalanan Pulang

    Di dalam mobil yang melaju membelah sisa kabut pagi menuju Jakarta, suasana terasa begitu berat.Dylan duduk di kursi belakang, dibalut selimut tebal dan memegang botol air hangat yang diberikan petugas medis.Febby duduk di sampingnya, mendekap bahu putranya seolah tak mau kehilangan sedetik pun, sementara Dirga fokus menyetir dengan rahang yang terkatup rapat.​Setelah keheningan yang cukup lama, Dylan akhirnya membuka suara.Suaranya kecil, serak, dan masih menyimpan sisa trauma.​"Daddy ... Mommy ... sebenarnya ada satu hal yang mau aku tanya," bisik Dylan. "Kalian harus jawab ya, Mommy, Daddy."​"Istirahat dulu, Dylan. Kamu baru saja melewati malam yang mengerikan, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi, hmm," jawab Febby lembut, mencoba mengusap kotoran yang masih menempel di pipi anaknya.​"Tapi ini penting. Di sana ... tadi a

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bab 607: Pelukan yang Dirindukan

    Ketegangan di bawah rumah pohon itu mencapai puncak. Buaya muara tersebut, yang merasa terdesak oleh kepungan cahaya senter, mulai menunjukkan perilaku agresif.Ia menghantamkan moncong kerasnya ke batang pohon beringin tua itu berkali-kali. Setiap benturan membuat struktur rumah pohon di atasnya berderit ngeri.​"Komandan! Kayu penyangganya mulai retak!" teriak salah satu petugas SAR saat melihat papan lantai rumah pohon mulai miring."Rumah pohon itu sudah sangat usang dan berumur, pasti kayu-kayu di sana sudah sangat rapuh," ucap salah satu tim SAR merasa khawatir.​"Dylan, Giandra! Jangan bergerak ke pinggir!" perintah Dirga lantang, suaranya berusaha menutupi gemuruh jantungnya yang berpacu gila. "Tetap diam Sayang! Sebentar lagi kami akan ke sama menolong kalian berdua!""Kita harus secepatnya bergerak!"​Tim SAR segera mengeksekusi rencana darurat. Dua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status