LOGINTak ada yang dapat mencegah. Anak laki-laki itu masuk ke dalam kamar melewati kerumunan orang-orang dewasa di depannya."Tuan Muda, jangan masuk." Barbara menghentikan langkah kaki saat melihat Edgar menghampiri Elina."Mommy." Edgar memeluk Elina erat, kemudian menatap sang Ibu. Keningnya berkerut saat melihat wajah ibunya merah, basah dengan air mata.Bulir bening mengalir kian deras dari kedua pelupuk mata Elina saat ia menatap wajah polos sang anak."Mommy, are you okay?"Elina menggeleng lirih, mengecup tangan kecil anaknya.Jari-jari tangan Edgar yang mungil mengusap bulir bening di wajah ibunya dengan lembut. "Mommy kenapa menangis? Mommy jangan menangis." Ia menyandarkan kepalanya di bahu Elina.Dengan lembut Elina merapatkan pelukan. Tak ada kata yang terucap. Rasanya tidak ada keberanian untuk menjawab pertanyaan dari Edgar.Bagaimana mungkin ia mengatakan kalau saat ini Daddy yang bahkan baru dikenal
"Fucking fuck!" Wylan mengumpat. Tangannya mengepal, meninju angin. Melihat kemarahan orang kepercayaan Marco itu, lima Pelayan wanita di depannya menundukkan kepala dengan wajah pucat, takut."Bodoh! Kalian semua terkecoh oleh wanita itu!" umpat Wylan, yang langsung membungkukkan tubuh saat mendengar suara langkah kaki dari belakangElina melangkah mendekati Wylan dan berdiri di samping pria berkacamata itu.Tatapan matanya tertuju pada Pelayan wanita di depan. "Kalian semua benar-benar tidak tahu di mana teman kalian itu?" Kelima Pelayan kompak menggelengkan kepala mereka.Barbara menjawab, "Kami benar-benar tidak tahu Nona. Terakhir kali kami melihat Fuan, dia ada di kamar Nona Intan. Setelah itu kami sama sekali tidak melihat dia lagi."Elina menghela napas panjang. "Semua sudah direncanakan sebelumnya. Kemungkinan bukan hanya Fuan yang berkhianat dan membantu Intan." Wylan berspekulasi.
Mengetahui Prams hilang tanpa jejak, Elina mulai panik. Sudah hampir satu jam ia berkeliling mansion, mencari calon suaminya ke seluruh ruangan, tetapi belum menemukan titik terang sama sekali.Ketegangan semakin menjadi saat Elina mendengar kabar kalau Dokter yang datang tadi adalah Dokter Gadungan.Elina terdiam. Wajahnya pucat pasi, syok berat. Ia mengatupkan bibir rapat dengan tatapan mata kosong."Ternyata Dokter tadi bersekongkol dengan Polisi. Dia salah satu orang kiriman musuh yang ditugaskan untuk membawa Intan," jelas Wylan yang baru saja menerima laporan lanjutan dari anak buah Prams di Bandara. "Salah satu dari kita tewas mengenaskan di jalan raya. Mereka benar-benar licik. Mereka berhasil menerbangkan pesawat dan pergi setelah membuat kekacauan."Elina masih diam mematung. Kulit wajahnya semakin pucat. Perlahan bulir bening mengalir dari kedua pelupuk mata yang memerah. "Intan berhasil dibawa pergi karena kita semua lengah.
"Pesawat pribadi yang kalian tunggu sudah mendarat. Kalian bisa pulang ke negara kalian sore ini." Intan dan Adrian menghela napas panjang. Bibirnya mengucapkan rasa syukur berkali-kali. Setelah mendengar informasi pesawat pribadi yang ditunggu sudah mendarat, Adrian menggenggam jemari Intan dan mengajaknya ke landasan udara. "Kita ke sana sekarang." "Iya Pak." Keduanya melangkah cepat menuju pintu keluar. "Ehm! Pak, pelan-pelan." Intan menghentikan langkah kaki sambil memegang perut. Perjalanan yang cukup melelahkan itu membuat perutnya keram. Adrian berhenti, menatap Intan yang kesakitan. "Maaf aku .... " Ia memukul kepala sendiri. Menyadari kebodohannya karena lupa kalau Intan tengah berbadan dua. "Perut saya keram Pak," keluh Intan. "Maaf, aku ... aku terlalu bersemangat."
"Jangan tembak! Saya hanya membela diri!" Seorang pria ke luar dari mobil sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Salah satu Polisi menarik lengannya, membawa menjauh dari mobil dan memeriksa tubuh pria itu dari ujung kepala sampai kaki. "Aman," ucap Polisi pada rekannya yang berdiri di belakang. Polisi lain mengangguk pelan, lalu memeriksa pria tewas yang berada di jok depan. Salah satunya mengamankan senjata api yang tergeletak di jok belakang. Sementara dari kejauhan, Intan tersenyum lega saat melihat yang tertembak bukan Adrian. "Pak Adrian!" Dengan langkah kaki cepat ia berlari menghampiri sang Detektif sambil memegang perutnya. Adrian tersenyum manis, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan gadis cantik itu. "Anda selamat?" Intan memeluk Adrian erat, menangis di dalam dekapan hangat. "Anda b
Beberapa detik berlalu, dan suasana di mobil semakin mencekam. Supir yang tak lain anak buah Prams mulai menyadari sandiwara Intan dan Adrian. Meski gadis itu terus berteriak kesakitan, sang Supir tak berniat melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit. Mobil yang dikendarai itu berhenti di pinggir jalan, jauh dari keramaian di depan. Mata sang Supir melotot ke arah Adrian dan Intan. Satu tangannya merogoh dasbor, mengeluarkan senjata api kecil. Adrian tak bisa berkutik. Ia hanya bisa memainkan sandiwaranya sebagai Dokter meski sejak tadi semua itu sudah diketahui. "Tolong lanjutkan perjalanan. Pasien saya sedang kesakitan. Apa kau tidak takut Tuan Prams murka?" Napas Adrian terengah-engah. "Dia mau melahirkan. Cepat jalan!" Supir tersebut tersenyum dingin. "Kau pikir aku percaya? Kau dan wanita ini bersekongkol. Kalian berdua akan mati di tangan Tuan!" Adrian membuang napas pan







