Home / Romansa / Ah! Enak Mas Dokter / Pertemuan dengan Cinta Lama

Share

Pertemuan dengan Cinta Lama

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2026-01-02 17:49:22

Wylan melirik Prams sambil mengulum senyum. Terlihat jelas wajah pucat sang Mafia saat mendengar suara wanita dari balik pintu pagar.

Seumur hidup bekerja dengan keluarga Marco, baru pertama kali ia melihat Prams jatuh cinta pada wanita sewaan.

Seandainya saja Elina tidak pernah pergi dari hidup Bos-nya, mungkin saja mantan wanita sewaan itu sudah menjadi Nyonya Besar.

Namun, Elina justru memilih pergi dari kehidupan sang Mafia tanpa alasan yang jelas.

Wylan melirik Prams. "Sepertinya Elina sudah pulang dari Rumah Sakit," ucapnya sangat pelan, mirip seperti gumaman.

Yang dilirik sejak tadi masih diam seperti manekin dengan wajah pucat pasinya. Wylan pun bersiap menekan bel yang ada di dinding pinggir pintu pagar.

"Tuan siap bertemu lagi dengan Elina?" Wylan menahan senyuman yang nyaris mengembang di bibirnya.

Mendengar itu, Prams melirik sinis. "Tekan bel itu! Jangan main-main denganku!" desisnya mengancam.

"Baik Tuan." Wylan menelan ludah, menundukkan kepala lalu menekan bel ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Eka Novia
semoga kamu sehat selalu yaa thor , banyak rezekinya , dan segera dipertemukan dengan bule impianmu , biar kamu gak sakit kepala dan sakit perut untuk menjadi alasan malas menulismu ... love kamu banyak banyak thor
goodnovel comment avatar
Menez Zeria
next kk, suka sekali aku sm cerita ini...
goodnovel comment avatar
Anita Nur'aini
seru seru seruuu cerita Pram & Elina Aku tunggu tunggu,, next
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Kontraksi

    Ketika Adrian tiba di depan mansion mewah Prams. Ia terperangah melihat pagar menjulang tinggi di depannya.Matanya mengamati sekitar, mencari cara agar bisa masuk ke dalam tanpa dicurigai. Dari celah-celah pintu pagar, Adrian dapat melihat suasana di dalam. Halaman luas dengan rerumputan hijau membentang dengan jarak ratusan meter. Sementara di sekitar halaman itu, tak ada sedikit pun celah kosong. Terlihat begitu banyak anak buah Marco yang berdiri sambil membawa senjata masing-masing. Adrian berdecak. Pikirannya kalut, tetapi ia harus tetap mencari cara agar bisa masuk ke dalam sana dan membawa Intan pergi.Saat dirinya semakin frustasi, ia mencoba menghubungi Intan. Dan tak lama telepon darinya diterima oleh wanita muda itu. "Aku sudah berada di luar mansion. Tapi aku kesulitan untuk masuk. Penjagaan sangat ketat, dan aku hanya sendiri."Intan diam, hanya terdengar suara napas terengah seperti baru saja berlari keliling lapangan bola.Mata Adrian membulat. "Ada apa? Apa yang t

  • Ah! Enak Mas Dokter   Melenyapkan Prams-1

    Intan berdiri dari duduknya, memutar tubuh lalu menyunggingkan senyuman pada Elina."Hay ....." Gadis muda itu mengulurkan tangan pada Elina. "Perkenalkan nama saya ... Intan."Elina memalingkan wajah ke samping. Senyuman sinis terukir di wajah cantiknya. Ia memegang dada yang berdenyut cepat, rasa sesak merayap, seakan oksigen berhenti mengaliri tubuh.Melihat sikap dingin itu, Intan langsung menurunkan tangan dan menundukkan kepala. Dalam hati, ia ingin secepatnya menyelesaikan semua rencana.Namun, kedatangan wanita dan anak kecil itu membuatnya harus memutar otak untuk memancing Prams."Mom .... " Edgar mendongak, menatap wajah ibunya yang terlihat penuh amarah. "Why Mom?"Elina mencoba tersenyum, meski hatinya terasa sakit memikirkan hubungan Prams dengan wanita muda di hadapannya. Apa mungkin ia dibohongi? Ternyata Prams sudah memiliki wanita lain, dan wanita itu sedang mengandung. Lalu, untuk apa dia dibawa ke ma

  • Ah! Enak Mas Dokter   Wanita itu Siapa?

    Saat suara mesin mobil terdengar, Intan berdiri dari kursi lalu melangkah mendekati jendela dan membuka tirai.Deg!Kedua mata membulat sempurna saat melihat Prams turun dari mobil dan membukakan pintu untuk seseorang.Benar saja apa yang dikatakan Pelayan tadi, Prams datang bersama seorang wanita cantik dan anak laki-laki seusia Regan. Melihat kedatangan sang Mafia, buru-buru Intan menyusun rencana. Ia mengeluarkan botol wiski dari lemari dan mengambil serbuk obat dari balik pakaian dalamnya.Dengan tangan gemetar, ia menuang isi dari dalam botol kecil itu ke dalam minuman keras favorit Prams.Setelah memastikan bubuk itu menyatu dalam minuman, ia meletakkan botol Wiski mahal tersebut ke atas meja.Intan kembali duduk. Ia menelan ludah keras sambil menatap botol wiski yang berada di atas meja makan. Sesaat kemudian, ia berdiri dan memindahkan botol wiski itu kembali ke dalam lemari. Kalau dipikir-pikir, rencananya akan terbongkar jika ia langsung memberikan minuman pada Prams tanp

  • Ah! Enak Mas Dokter   Pagi Hari yang Ditunggu

    "Ughh!" Suara desahan panjang terdengar di kamar bernuansa biru muda.Prams mempercepat gerakan tubuhnya saat merasakan cairan kental di dalam sana ingin menyembur ke luar.Elina memekik pelan. Kedua tangan meremas pinggang Prams yang tengah mengungkungnya. "Ahhh! Honey!" Prams merapatkan bagian bawah. Cairan kental menyembur masuk ke dalam sana. Elina mengigit bibir saat merasakan cairan hangat masuk ke dalam rahimnya. "Eumh." Ia menatap wajah Prams yang merah, basah oleh keringat. "Kamu tidak menggunakan pengamanan lagi?"Prams menjatuhkan tubuhnya ke atas Elina. "Hmm, aku tidak memakai pengaman. Kemungkinan kita akan memberikan adik untuk Edgar.""Adik perempuan?" Prams terdiam, mengingat begitu banyak keturunan perempuan di keluarganya. Baginya perempuan itu hanya bisa menyusahkan. Mengingat kakak perempuan yang bernama Anggun mati sia-sia karena cinta. Dan sebentar lagi ia akan memiliki adik perempuan dari Intan. "Kenapa diam?" tanya Elina. "Aku ingin anak laki-laki," jawab

  • Ah! Enak Mas Dokter   Kondisi Dylan

    Amerika~"Kita mulai operasinya." Dokter Yohanes memasang sarung di kedua tangannya.Lampu-lampu putih di ruang operasi menyala terang. Di atas ranjang, pasien kecil bernama Dylan sudah berbaring tak sadarkan diri efek obat bius.Menit-menit penuh ketegangan berlalu cepat. Udara dingin di ruangan itu terasa menusuk kulit, kontras dengan keringat yang membanjiri dahi Dokter Yohanes.Tangannya yang cekatan tidak berhenti bergerak, memegang alat bedah dengan ketelitian luar biasa.Mata terpaku pada layar monitor yang menampilkan denyut saraf pasien kecil di atas meja operasi.Hampir satu jam berlalu, ketegangan seperti beban berat menekan dada Yohanes, tetapi dia tidak boleh lengah.Setiap inci jaringan kepala pasien ia teliti dengan sabar, berjuang melawan waktu dan risiko. Perlahan, denyut saraf yang sebelumnya melemah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Yohanes menarik napas dalam, seolah beban yang lama menempel terangkat perlahan. Raut wajah yang tegang berubah menjadi sedikit

  • Ah! Enak Mas Dokter   Jangan Pergi Dad!

    "Jadi aku punya Daddy?" Edgar bertanya dengan wajah sumringah, berbeda dengan tadi.Ia menatap Prams dan Elina bergantian. Lalu, pandang matanya beralih pada Wylan, yang diam-diam mengintip dari balik dinding pembatas ruang tamu. Merasa kehadirannya tidak berguna untuk saat ini, Wylan pun melambaikan tangan lalu melangkah menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Kemudian, Edgar kembali menatap sang Ayah, Ibu, lalu bertanya lagi, "Apa benar laki-laki bertato ini Daddy aku?" Ia menunjuk tato di lengan Prams. Elina menatap sang Mafia, "Jawab Hubby, apa benar kamu Ayah dari Edgar."Prams yang sedari tadi berdiri, kemudian duduk di samping Edgar, dan mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah. Ia menundukkan Edgar di atas pangkuan, "Ya, aku adalah Daddymu. Tanpa aku kamu tidak akan pernah ada di dunia ini. Dan aku masih hidup, tidak seperti yang dikatakan oleh Mommymu. Paham?" Prams melirik Elina yang kembali menahan tawa. "Ohh, okeyy." Bocah pintar itu manggut-manggut. "Jadi sela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status