LOGIN”Alya. Please, bantu aku. Dari sejak Mama dan Papa kamu meninggal, kamu bisa melanjutkan hidup sampai sekarang dari hasil penjualan toko itu. Dan sekarang toko itu terancam bangkrut, sementara yang bisa membantu cuma kamu." Mata Alya menyipit, ”Maksud, Tante?” ”Menikah lah dengan Levian, karena dia cuma mau bantu, jika dia berhasil menikahi kamu.” ”Ini gila, Tante! Bagaimana mungkin aku menikah dengan mantan suami Tante ku sendiri, apalagi kalian belum lama bercerai!” ___________________________________________________________ Kalimat itu mengubah hidup Alyandra Prameswari selamanya. Ia tak menyangka, tantenya sendiri tega menukarkan kehormatannya demi uang. Dan yang lebih mengerikan, pria yang diminta untuk dinikahinya bukan sembarang orang — tapi Levian, adik ipar dari mendiang ibunya, yang kini dikenal seantero kota dengan julukan pria dingin. Rumor yang mengembang di keluarganya, pria itu Impoten. Namun, di malam pernikahan paksa mereka, semua yang diyakini Alya tentang pria itu mulai runtuh. Sebab suatu ketika, di balik tatapan matanya yang tenang, Levian berbisik pelan — dengan suara yang membuat darah Alya berdesir. “Kamu percaya semua gosip itu, Alya? Malam ini, aku akan buktikan … siapa yang sebenarnya tidak berdaya.” Dan dari situlah segalanya dimulai — pernikahan yang seharusnya palsu, berubah menjadi labirin penuh rahasia, dendam, dan gairah yang tak bisa diingkari. Sementara di balik semua itu, ada masa lalu kelam keluarga mereka yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
View More”Aku tidak akan melakukan itu semua, kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhanku, Mas! Nyatanya kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku selalu kamu abaikan! Aku ini wanita normal, wanita prima yang jelas masih membutuhkan nafkah lahir yang cukup. Aku muak!”
Jeritan Sasti, di sertai suara tangisan kecil masih terdengar jelas di telinga Alyandra. Padahal kamar mereka terhalang dua kamar lain. Gadis berambut sebahu itu menghela nafas panjang. Biasanya, jika seseorang tak sengaja mendengarkan pertengkaran orang lain dalam satu rumah, setidak nya dia akan gemetar, takut, dan mungkin cemas. Tidak bagi Alya yang sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan itu. Ia memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, kemudian menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal. Hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya, disertai decakan kecil. ** ** Esok harinya, keluar dari kamar, Alya mendapati Sasti di dapur. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang merupakan adik dari mendiang Ibu Alya itu membelakangi, tak lama berbalik menenteng teko berisi air mendidih dan menuangkan nya ke dalam cangkir. Dapat Alya lihat sembab menghiasi wajah cantik nya. Tak segan Alya pun menghampiri, kemudian menarik salah satu kursi dan menjatuhkan bobot tubuh nya disana. ”Kenapa? Berantem lagi semalam?” tanyanya, tanpa menoleh. Tangan nya sibuk menuangkan Air putih ke dalam gelas untuk ia tenggak. Sasti tampak membuang muka sesaat, sembari menarik nafas dalam. Tanpa memberikan jawaban, ia berbalik menaruh teko di tangan nya ke tempat semula, sambil meraih sendok kecil yang menggantung pada standing nya. Tak lama, salah satu kursi yang letaknya terhalang satu kursi lain di samping Alya ia tarik. Bokong nya ia hempaskan kesana. Hembusan nafas kasar keluar dari bibir wanita yang mengenakan dress tanpa lengan itu. ”Levi sudah mengetahui semuanya, Al.” ujarnya. Alih-alih terkejut, Alya malah berdecak. Gelas yang sudah terangkat kembali turun dalam hitungan detik. Ia urung minum. “Padahal aku sudah pernah mengingatkan, Tante. Tapi Tante tetap memilih jalan itu. Sekarang kalau akibatnya datang, ya mau tidak mau harus dihadapi.” Sasti mendengus, tak sama sekali menampakkan ketersinggungan atas kalimat yang Alya layangkan. Sebagai Tante dan keponakan yang hanya berselisih usia sepuluh tahun, keakraban mereka lebih pantas terlihat seperti teman. Ya, teman. Terlebih ada fakta yang masih wanita itu sembunyikan rapat dari Alya bahwa status mereka bukanlah sebenar-benarnya keponakan dan Tante kandung. Sebab Alyandra Prameswari hanya merupakan putri angkat dari Hanum Prameswari. Kakak kandung Sasti. Andai tidak ada perjanjian antara dirinya dan mendiang Hanum, mungkin sejak dulu ia melepas Alya untuk hidup mandiri tanpa sokongan darinya. Beruntungnya, kali ini pikiran itu berbalik, kehadiran Alyandra bisa menjadi sesuatu yang menguntungkan untuknya. ”Bukannya aku juga udah beberapa kali jelasin sama kamu,” katanya, namun Alya malah memutar bola matanya, ”aku juga begini ada alasannya. Kamu gak bakal ngerti tentang kebutuhan biologis yang gak dipenuhi..” Ia menatap Alya serius, lalu melanjutkan kalimat nya. ”Aku wanita normal, Al. Aku perlu di perhatikan, di berikan kasih sayang penuh setiap saat. Dan Levian gak bisa ngasih itu.” Bagi Alya, Kata-kata itu justru terdengar seperti pembelaan atas hal gila yang sang Tante lakukan. Padahal jika di pikir, banyak cara yang lebih bermartabat dari sekedar berselingkuh dan membagi tubuh nya untuk laki-laki lain. Kalau Alya jadi Levian pun, tentu tak akan terima. “Aku ngerti, Tan, walaupun belum sepenuhnya memahami problematik rumah tangga. Dan aku pikir, harusnya Tante punya pilihan yang lebih bijak,” ucap Alya pelan. “Kalau emang udah gak bahagia, seharusnya diselesaikan dulu. Bukan dengan melibatkan orang lain. Apalagi malah selingkuh sama si Mbah Dukun itu.” ”Namanya Alam, Al. Apa-apan sih kamu, temennya Mbah dukun temennya Mbah dukun.” protes Sasti tak terima. “Iya. Alam.” Alya menghela napas pendek. “Alam yang ikut memperumit semesta orang lain.” Sasti hanya mendengus. Susah memang bicara dengan Alya. Meski lebih banyak memahami setiap kondisi, tak jarang Alya terkesan lebih berani menasehati. Dan ia, yang merasa jauh lebih dewasa, jauh lebih banyak memiliki pengalaman, terkadang merasa tak terima. Untung di balik sikap menyebalkannya, Alya memiliki kepedulian yang tak bisa Sasti sangkal. Timbal balik yang baik atas sepuluh tahun dirinya berjuang menyokong hidup putri tunggal dari mendiang Kakak nya itu hingga bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Meski belum selesai. Kedua nya terlibat dalam diam. Sibuk dengan kemelut pikirannya masing-masing. Hingga tak lama, keheningan itu pecah saat Sasti kembali bersuara. ”Bercerai dengan Levian itu nyatanya tidak sesederhana yang kamu bayangkan, Al. Selama ini, kamu cuma gak tahu kalau tokoku masih bisa berjalan atas bantuan besar dari dia. Kalau aku menceraikannya sejak dulu, dari mana aku bisa dapat uang untuk mencukupi kebutuhan, bahkan menyekolahkanmu sampai sekarang.” katanya. Alya kali ini tak menjawab. Mendengar itu, hatinya sedikit tersentil oleh rasa bersalah. Pasalnya, yang Sasti katakan benar adanya. Bahkan sampai sekarang, sampai dirinya mendapatkan pekerjaan di samping jadwal kuliahnya, aliran dana dari Sasti masih menjadi penyelamat pendidikannya. Gajinya setiap bulan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan untuk cicilan motor yang tiga bulan lagi akan segera bisa ia lunasi. ”Dan sekarang dia marah besar, mengancam akan bercerai lalu menarik semua bantuan yang pernah masuk ke toko. Aku bisa bangkrut, Al.” Sasti menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di detik itu, Alya bisa melihat ketakutan sang Tante. Ia jadi merasa bersalah. ”Andai aku bisa bantu, pasti aku bakal berusah bantu Tante. Tapi Tante juga tahu sendiri, jangankan bisa bantu jadi donatur buat toko, buat biaya kuliah aja aku sering nya di bantuin dari hasil penjualan di toko, kan?” Alya menuduk sesaat, sambil membuang nafas kasar. Namun anehnya, saat ia kembali mendongak, bukan lagi kesedihan yang ia tangkap dari bias milik Sasti. Melainkan semburat senyum lega, layaknya seseorang baru saja mendapatkan oase di tengah-tengah pandang pasir yang tandus nan gersang. Alya menyipitkan mata, menunggu adik dari Almarhumah sang Mama yang sudah kembali membuka bibir hendak bicara. ”Sebenarnya ... kamu bisa bantu aku, Al. Dan caranya pun, cukup mudah.” ungkap nya. Makin lah menukik tajam kerutan pada celah antara kedua alis Alya. ”Cara apa?” Sasti menghela nafas panjang, membasahi bibir nya seolah berusaha mencari kata yang tepat untuk ia sampaikan. ”Eum ...,” gumamnya ragu, ”semalam, aku dan menawarkanmu menjadi Istri pengganti untuk Levian. Sebagai kompensasi, agar dia tidak menuntut pengembalian uang.” ”Apa!” Alya memekik, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ”tawaran gila apa itu, Tante? Gak usah aneh-aneh. Aku masih mau menyelesaikan kuliahku.” Melihat penolakan yang serta merta keluar dari bibir Alya, Sasti memasang wajah sendu. Menarik tangan gadis itu, untuk kemudian ia genggam. ”Ayolah, Al. Kuliah bisa di selesaikan walaupun kamu sudah berstatus istri Levian. Pernikahan tidak akan menjadi hambatan.” Alya tetap menggeleng, “Justru karena ini pernikahan, Tante,” ucap Alya lirih namun tegas. “Aku tidak bisa mengorbankan hidupku hanya untuk menutup kesalahan orang lain. Apa yang akan orang bicarakan nanti, aku menikahi mantan suami tanteku sendiri.” Membayangkannya saja, cukup untuk membuat Alya menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Walau sesaat. Kedua pelupuk mata Sasti langsung di penuhi oleh genangan. Suaranya melemah, ”Jadi kamu lebih memperdulikan pandangan orang, ketimbang nolongin Tante yang sudah membiayai hidupmu selama sepuluh tahun ini.” Kegamangan menghantam perasan Alya. Ia melepaskan genggaman tangan Sasti, kemudian mengusap wajahnya kasar. ”Tapi ini pernikahan, Tante. Bukan hal kecil yang bisa kalian anggap main-main.” sergahnya. Kesal, kecewa, takut, dan kamarahan berpadu menjadi satu. Bagaimana mungkin, Sasti bisa dengan tega merekomendasikan dirinya menjadi istri pengganti untuk suaminya sendiri. Itu sama saja dengan menjual nya. ”Lagi pula, belum tentu Om Levi nya mau.” tambahnya. Pemikiran itu seperti angin segar. Ya, benar, melihat dingin dan datarnya selama ini sikap Levian selama mereka tinggal dalam satu atap, Alya pikir tawaran Sasti belum tentu di sanggupi pria itu. Bahkan bertegur sapa pun nyaris tidak pernah. Bagaimana mungkin ia dan laki-laki seusia Sasti itu bisa menjadi pasangan suami istri. Terlebih, rumor yang ia dengar dari sang Tante, yang mengatakan bahwa suaminya impoten, Alya pikir tidak akan ada yang di untungkan dari pernikahan mereka. ”Levian mau, Al. Dia justru tak berpikir panjang dan langsung menyanggupi.” kata Sasti, seperti sambaran petir yang berhasil menghanguskan kepercayaan diri Alya. Gadis itu membelalak untuk kesekian kali. ”Tidak mungkin, Tante!” Ia beranjak dari duduknya. ”Tidak mungkin bagaimana? Nyatanya Levian siap, dan aku pun sanggup merelakan dia untukmu. Tinggal kamu nya yang gak usah banyak drama.” ”Drama?!” Alya menggeleng kecewa, ”Tante keterluan! Aku tetap gak mau mengikuti rencana gila kalian.” tegas nya, sambil berbalik kemudian mengayunkan langkah cepat meninggalkan ruang makan. Namun baru beberapa langkah, suara Sasti yang kembali menginterupsi, membuat nya berhenti seketika. ”Oke, kalau kamu gak mau bantu dengan bersedia menjadi istri pengganti untuk Levian, kamu harus mengganti sepuluh tahun biaya hidup yang sudah aku keluarkan untuk mu. Ingat sepuluh tahun, Al.”Suara Levian terdengar berat, bergetar tipis oleh sesuatu yang belum sepenuhnya reda. Malam itu tak lagi dipenuhi perdebatan. Tak ada lagi rumor yang berdiri sebagai tameng. Yang ada hanya dua manusia asing yang terikat janji, saling menguji batas, lalu perlahan melebur dalam keheningan yang berbeda. Alya tak pernah membayangkan, bahwa keyakinan yang ia bangun kokoh bisa runtuh hanya dalam satu malam. Ia telah memberikan satu-satunya hal paling berharga dalam diri. Tanpa paksaan. bukan pula oleh kemarahan. Melainkan oleh rasa penasaran konyol atas pembuktian yang akhirnya tak dapat ia bantah. Tirai malam menjadi saksi bagaimana jarak yang tadi terasa selebar jurang, perlahan menyempit. Nafas yang semula saling berbenturan dalam adu ego, berubah menjadi irama yang mencoba menemukan selarasnya. Tak ada lagi kata-kata menantang. Yang tersisa hanya bisikan-bisikan pelan, yang tak seluruhnya bisa diterjemahkan oleh logika. Dan ketika akhirnya semuanya mereda, Alya hanya mampu
Bukan hanya terkesiap, tetapi kedua netra Alya membelalak sempurna. Wajahnya pucat pasi, kacau. Bahkan ia tak mampu memikirkan apapun selain bayangan tentang apa yang akan terjadi malam ini. Malam dimana Levian Pradana Dinata pasti akan meminta hak nya sebagai seorang suami. Sampai-sampai, ia lupa pada rumor impotensi yang menjadi salah satu alasan bersedianya ia terseret dalam masalah yang sedang Sasti hadapi. Beruntung lupanya hanya beberapa saat. Ketika ia mengingatnya kembali, desakan ketakutan itu perlahan melemah. ”Om, gak usah bercanda.” katanya, dibuat setenang mungkin. Di balik pintu yang hanya terbuka sejengkal itu, Alya berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Meski jemarinya masih terasa digenggam kuat oleh tangan Levian yang terulur dari luar.Hening beberapa detik. Hanya terdengar suara napas mereka, terpisah daun pintu, namun terasa terlalu dekat.“Menurutmu aku bercanda?” tanya Levian akhirnya. Suaranya rendah. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat tengkuk
Kalimat itu menghantam dada Sasti seperti palu raksasa yang jatuh tanpa aba-aba. Wajahnya memerah, napasnya memburu, harga dirinya terasa dipereteli di hadapan dua pasang mata. Demi apa pun, tak pernah terlintas dalam benaknya Levian akan setegas, dan setelanjang itu mempermalukannya. “Gak bisa seenaknya begitu, Lev!” teriaknya, suaranya memantul di dinding ruang yang luas. “Jangan mentang-mentang kamu sudah menikahi Alya, kamu bisa nyingkirin aku sesuka hati. Aku juga berhak atas rumah ini!” Levian tidak meninggikan suara. Ia hanya mengangkat satu alis, lalu perlahan menurunkan Alya dari gendongannya. Gerakannya tenang, seolah tak ada badai yang sedang mencoba merobohkan kesabarannya. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Sasti. “Hak?” ulangnya datar. “Kamu lupa, semua hakmu atas apa yang kumiliki sudah gugur sejak kamu memilih menjadi jalang untuk laki-laki itu? Kenapa tidak kamu minta saja hakmu padanya?” Ucapan itu tidak keras. Justru karena dingin dan rata, ia terasa lebih
Suara penghulu terdengar tenang, teratur, membacakan rangkaian ijab kabul dengan khidmat. Ruangan itu hening. Hanya detak jam dinding dan suara napas tertahan yang terdengar samar. Alya menunduk, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Telapak tangannya dingin, meski ruangan tak berpendingin berlebihan. Ia mencoba mengatur napas. 'Ini hanya formalitas,' katanya pada diri sendiri. 'Hanya sebuah perjanjian.' 'Hanya sementara.' Namun ketika nama lengkapnya disebut dengan lantang, sesuatu di dadanya bergetar. “Saudara Levian Pradana Dinata bin—” Suara itu seperti datang dari kejauhan. Alya mengangkat pandangannya tanpa sadar. Tatapan Levian lurus ke depan. Tegas. Tidak ragu. Tak ada keraguan di wajah lelaki itu. Tak ada tanda keterpaksaan, seolah ini memang keputusan yang sudah lama ia pastikan. Ijab kabul pun diucapkan. Lancar dalam sekali tarikan napas. Sah. Satu kata itu menggema di kepala Alya lebih keras dari suara apa pun. Sah. Beberapa orang meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.