Mag-log inSenin pagi di koridor utama kampus yang biasanya diisi oleh canda tawa santai, mendadak berubah menjadi riuh oleh kasak-kusuk ratusan mahasiswa.Pandangan semua orang tertuju pada layar ponsel masing-masing, lalu beralih menatap sinis ke satu arah.Di ujung koridor, Megan berjalan dengan gaya angkuh yang biasa, dikelilingi oleh circle setianya.Namun, langkah kaki Megan mendadak terhenti saat ia menyadari ada yang tidak biasa.Bisikan-bisikan miring dan tatapan mengejek dari orang-orang di sekitar mulai menusuk telinganya."Megan, coba lo buka grup angkatan sekarang. Cepetan!" bisik salah satu temannya, Sherly, dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi sambil menyodorkan ponsel.Megan mengerutkan kening, merebut ponsel itu dengan kasar. Begitu layar menyala dan sebuah video berdurasi beberapa menit terputar, bola mata Megan nyaris keluar dari kelopaknya. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika."WHAT!" teriak Megan histeris.Di dalam video yang kini menjadi viral dan dito
Sementara itu, jauh di sebuah apartemen mewah di kawasan New York, Amerika Serikat, Dylan langsung mematikan sambungan teleponnya.Jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu dini hari, namun rasa kantuknya seketika sirna digantikan oleh desakan adrenalin.Dylan melangkah cepat menuju meja kerjanya yang dipenuhi oleh tiga monitor berukuran besar dengan spesifikasi dewa.Ia mendudukkan diri di kursi ergonomisnya, lalu menyalakan seluruh sistem komputer kustom miliknya.Jari-jemarinya yang panjang dan bergerak sangat lincah mulai menari di atas papan ketik mekanis, menciptakan melodi ketukan yang konstan dan cepat.Klik! Klik! Klik!Layar monitor yang tadinya gelap seketika berubah menampilkan ribuan baris kode biner hijau yang berjalan vertikal dengan kecepatan tinggi.Dylan menyipitkan mata, mengeluarkan seluruh keahlian terbaiknya sebag
Saat Farah hendak membuka pintu mobil untuk melangkah masuk kembali ke rumah Aurora, tiba-tiba daun pintu utama terbuka.Biru berjalan ke luar dengan langkah tenang. Dilihat dari ekspresi wajahnya yang datar dan tanpa beban, sepertinya pria itu benar-benar tidak tahu apa-apa.Farah seketika mengembuskan napas lega, memegangi dadanya yang sempat berdegup kencang.Ia bersyukur dugaannya keliru. Aurora terbukti setia menjaga rahasia kelam itu.'Maafin aku, Aurora. Aku terlalu sensitif dan berpikiran buruk sama kamu,' batin Farah menyesal dalam hati.Di ambang pintu, Biru sempat melempar senyum tipis yang tampak meyakinkan. Sebuah senyuman sandiwara yang sengaja ia pasang demi menyembunyikan badai amarah yang bergemuruh di dadanya setelah melihat video dari Aurora.Tanpa banyak bicara, Biru membukakan pintu mobil untuk Farah.Tak lama kemudian, mesin mobil menyala dan kendaraan mewah itu pun melaju membelah jalanan menuju rumah.Sepanjang perjalanan, keheningan terasa begitu pekat. Bi
Ting! Ting! Ting!Setelah video klarifikasi itu resmi diunggah di grup angkatan kampus, ponsel di genggaman Farah seolah tidak diberi napas.Notifikasi pesan masuk beruntun tanpa henti, memekakkan telinga di dalam kamar Aurora yang semula hening.Farah dengan tangan gemetar memberanikan diri menggulir layar, membaca satu per satu respons dari teman-teman kuliahnya.Di antara sekian banyak pesan, beberapa memang berisi dukungan dan rasa simpati.Namun, komentar jahat jauh lebih mendominasi. Mereka mencemooh, menghakimi, bahkan menuduh Farah sengaja bertingkah murahan demi mencari perhatian.Ada juga yang membawa-bawa nama baik institusi, menyebut kelakuan Farah semalam telah mencoreng reputasi kampus.Mental Farah kembali runtuh. Air mata yang sempat mengering kini kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat."Sabar, Farah. Yang penting kamu udah berani mengakuinya dan meluruskan semuanya. Kamu hebat karena kamu mau mengakui kesalahan kamu," ucap Aurora, mengusap punggung s
Farah menoleh, menatap profil samping wajah Biru yang tampak kokoh. Yang melintas di otaknya saat ini hanyalah rasa bersalah karena telah egois meninggalkan cowok itu kemarin sore."Soal yang sore itu ... maaf ya, Biru. Gara-gara keegoisanku, kamu jadi panik dan nyariin aku sampai tengah malam. Aku tahu aku salah dan aku terlalu kekanak-kanakan."Biru mengangguk pelan, menerima permintaan maaf itu dengan tulus. "Selain soal minimarket itu, apa kamu ingat sesuatu yang lain? Setelahnya?"Farah menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Enggak ada. Aku cuma ingat aku mabuk berat di pesta Megan, terus ... oh iya, kamu semalam pulang ke rumah ya? Pantas aja pas aku sampai rumah jam sepuluh lewat, aku cariin kamu di paviliun belakang ternyata nggak ada."Mendengar penuturan polos itu, Biru hanya bisa menghela napas panjang demi meredam rasa kecewa yang mendadak menyergap dadanya.Ternyata benar, Farah melewatkan bagian paling romantis dalam
"Aku harus ke rumah Aurora sekarang!"Dengan langkah gontai dan kepala yang masih terasa agak pening, Farah memaksakan diri keluar dari kamar.Ia menuruni anak tangga dengan perlahan, lalu melangkah ke area halaman samping tempat biasa mobil-mobil keluarganya diparkir.Dari kejauhan, tampak Biru sedang sibuk membersihkan sisa-sisa busa sabun di bodi mobil sedan dengan selembar kain plas chamois."Biru, antar aku ke rumah Aurora," ucap Farah pelan begitu langkahnya berhenti di dekat pria itu.Biru seketika menghentikan aktivitas. Ia menoleh, menatap Farah yang tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Guratan cemas langsung tercetak jelas di wajah tegas pengawal pribadinya itu."Gimana kondisi kamu? Kamu baik-baik saja?" tanya Biru dengan suara rendah yang penuh perhatian. "Wajah kamu keliatan pucat. Kamu sakit, hmmm?"Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan reflek merangkul pinggang Farah dengan lembut, berniat menyangga tubuh gadis itu yang tampak sedikit limbung.Tatapan mata biru mi







